Jika ada orang rela berkorban apa saja demi orang yang ia cintai, tentu bukan hal istimewa. Jika kita dengar ada orang yang ikhlas memertaruhkan segenap yang ia punya demi sebuah nilai atau ideologi yang 100% dipercayainya, kita pun tidak akan menganggapnya luar biasa.
Buku “Gandhi Cintaku” (Qanita, 2001) karya Sudhir Kakar bukanlah buku yang mengisahkan salah satu dari dua model kecintaan di atas. Buku ini justru memberi kita gambaran yang sungguh menyentuh tentang bagaimana jadinya jika dua model kecintaan itu bercampurbaur dengan cara yang subtil dan total.
Tersebutlah seorang perempuan bernama Mirabehn. Ia mencintai seseorang lelaki tua sekaligus juga mencintai sebuah nilai atau ideologi. Lelaki tua yang dicintainya adalah Mahatma Gandhi. Dan nilai atau ideologi yang dicintainya juga adalah “Mahatma Gandhi”. Ia mencintai Gandhi secara utuh, baik sosoknya sebagai manusia-lelaki sekaligus mencintai nilai-nilai dan pandangan hidup yang diperjuangkan Gandhi.
Mirabehn yang lahir pada 1892, nama asalnya Madeline Slade, mengenal Gandhi lewat biografi yang Romain Roland, pemenang Nobel Sastra 1915. Mira langsung terpikat dan bertekad pergi ke Ashram Sabharmati, kediaman Gandhi, untuk mengabdikan hidupnya.
Ini jelas bukan keputusan mudah. Bisa kita bayangkan bagaimana reaksi publik begitu mengetahui, Mirabehn, putri Sir Edmund Slade (Komandan Armada Laut Inggris di India Timur), tiba-tiba meninggalkan hidupnya yang mewah dan berkecukupan hanya untuk mengabdi pada orang yang justru menjadi penentang utama kolonialisme Inggris.
Mira berangkat ke India pada 1925. Gandhi, yang sebelumnya telah berkorespondensi dengan Mira, menyambutnya dengan istimewa. Dan sejak itu, Mira seperti menjadi anak emas Gandhi. Ia mendapat hak-hak yang tak dipunyai kebanyakan penghuni Ashram. Mira, misalnya, mendapat keleluasaan untuk menemani Gandhi di ruangannya menjelang waktu tidur.
Pelan tapi pasti, kepercayaan Gandhi kepadanya makin meninggi. Mira dipercaya untuk menjadi semacam asisten Gandhi. Bahkan, Mira pun diijinkan memijat-mijat kepala Gandhi, sebuah aktivitas yang sebelumnya hanya menjadi hak istimewa Kasturba, istri Gandhi sendiri.
Tetapi Gandhi kemudian mencopot sederet keistimewaan itu. Gandhi melakukannya bukan semata untuk meredakan kecemburuan Kasturba dan penghuni Ashram lainnya, melainkan karena Gandhi mulai khawatir kalau Mira tidak lagi mencintai “Gandhi” sebagai sebuah gugusan nilai perjuangan, melainkan mencintai dirinya sebagai manusia-lelaki. Jika dibiarkan, Mira bisa saja meninggalkan nilai-nilai “Gandhi” jika dirinya, Gandhi, telah mangkat.
Mira sendiri pun menyadari betapa ia juga mencintai Gandhi sebagai manusia. Sudhir Kakar menggambarkan bagaimana gelisahnya Mira tiap kali Gandhi berada jauh dari dirinya. Di saat-saat seperti itulah Mira tersiksa. Mira betul-betul berada dalam tekanan psikologis yang tak tertahankan.
Di puncak kegelisahan itulah muncul sosok Prithvi Singh, seorang lelaki pejuang kemerdekaan India yang radikal. Selama Prithvi di Ashram, Mira sering beroleh kesempatan berduaan dengannya. Mira pun jatuh hati pada Prithvi. Dengan dukungan Gandhi, Mira sebisa mungkin menarik perhatian sang pujaan. Malang tak bisa ditolak. Ketika Mira bersiap menanggalkan sumpahnya untuk selibat, Prithvi justru menolak menikahinya. Kendati terus berusaha meluluhkan hati Prithvi, lelaki pejuang itu tak mengubah keputusannya.
Mira terhempas dalam sekali pukul. Mira kembali mengalami pukulan luar biasa berat ketika Gandhi terbunuh. Dalam selang waktu yang agak lama, Mira hanya berdiam diri. Mengenang Gandhi. Lewat 5 tahun kemudian, ia baru kembali memulai aktivitas. Ia sempat mendirikan Gopal Ashram di Bhilangana, India, pada 1952.
Setelah beberapa kali melakukan eksperimen sosial, Mira akhirnya memilih hidup sendiri. Di sebuah tempat yang terpencil di dekat Wina, Austria. Di sana ia menyepi. Merenung. Dan terutama, Mira kembali menekuni dan memelajari musik Beethoven, sosok yang sebelum kehadiran Gandhi, pernah demikian membuat Mira terobsesi. Ia sempat melahirkan sejumlah karya tulis tentang Beethoven. Mira, dengan demikian, akhirnya kembali ke pelukan lelaki yang pertama kali membuatnya jatuh cinta. Beethoven.
Di bagian awal buku Kakar, pembaca akan mendapati perjuangan Sudhir mencari dan menemui Mira di kediamannya yang senyap dipinggiran Wina itu. Di sana, Sudhir menyaksikan betapa Mira hanya hidup berdua dengan seorang pembantunya dari India. Dan ini ironisnya: Ketika Sudhir pergi meninggalkan kediaman Mira, pembantu dari India itu berlari di sisi mobil Sudhir dan memohon agar sudi membawa dirinya kembali ke India. Sudhir tentu tak mengabulkannya. Tapi dari sana, kita beroleh sebuah petunjuk betapa akhirnsa pembantunya yang paling setia pun bahkan berniat meninggalkannya.
Di tempat itu pulalah Mira mengahabiskan sisa usianya dengan kemasygulan yang menderas. Ya... Mira menyaksikan bagaimana perjuangan Gandhi untuk mendirikan negara India modern yang damai dan berdaulat pupus oleh fanatisme ras dan agama yang dipeluk dengan gila-gilaan.
Dalam kesepian yang berlarat-larat itulah, Mira mendiang pada 20 Juni 1982.
“Gandhi Cintaku”, bagi saya, adalah buku yang dengan baik memaparkan pasang surut sebuah gelombang cinta yang datang dan menghempas susul menyusul. Keteguhan Mira untuk mengambil jalan hidup Gandhiji yang tindih menindih sedemikian rupa dengan rasa cinta platonik Mira terhadap Gandhi sebagai manusia-lelaki dipaparkan Kakar dengan wajar namun menyentuh. Lara hati yang ditanggung Mira ketika cintanya ditampik Prithvi pun digelar Kakar dengan dingin, persis sedingin sosok Mira dalam kesehariannya.
Sebagai seorang ahli di bidang psikoanalisis, Kakar tentu saja punya perangkat metodologis yang meyakinkan untuk mengetahui, mendiagnosis dan menguraikan dunia kejiwaan tokoh-tokohnya yang kebetulan memang ia kenal itu.
Selain sebagai pakar kejiwaan, Sudhir Kakar memang mengenal langsung Mira, Gandhi, Kasturba, Prithvi maupun Ashram Sabharmati dan seisi penghuninya. Kakar adalah salah seorang penghuni Ashram yang ditugasi Gandhi untuk mengajari Mira bahasa Hindi. Jadi Kakar memang tahu betul laku tokoh-tokoh itu berikut semua yang terjadi di keseharian Ashram.
Salah satu kelebihan buku ini berpangkal dari sana. Dengan membaca “Gandhi Cintaku”, kita akan mengenal sosok Gandhi secara lebih dekat. Jika di dunia Gandhi di kenal sebagai sosok tenang dan berpembawaan kalem, buku ini justru menggambarkan keseharian Gandhi sebagai seutuhnya manusia, yang bisa tertawa, melucu, cemberut, ragu, bimbang, sedih, ketakutan bahkan murka.
Di sini pula kita bisa mengetahui bahwa Gandhi, pelopor nomor wahid gerakan anti-kekerasan Ahimsha, ternyata bisa pula menampar seorang perempuan (Jerman) yang ia anggap telah berlaku keterlaluan. Penggambaran Kakar atas kedekatan Gandhi dan Mira yang “lumayan mesra” juga sukses memotret sosok Gandhi sebagai manusia besar dan sensual.
Hanya saja kita akan sedikit kesulitan untuk menempatkan posisi buku ini. Deskripsi tentang situasi Ashram dan detail prilaku tokoh-tokohnya, bisa dibilang merupakan sebuah fakta, sepanjang fakta dimengerti sebagai rangkaian kejadian yang tertangkap langsung oleh mata Kakar. Surat-surat Mira kepada Gandhi dan Prithvi dan juga sebaliknya juga faktual karena dikutip langsung dari surat-surat asli mereka yang kini tersimpan di Perpustakaan Nehru. Tetapi buku ini juga bukan sebuah tulisan reportase, apalagi buku sejarah, karena di banyak bagian, Kakar telah mengimbuhinya dengan imajinasi dan fantasinya sendiri. Beruntung di bagian awal Kakar sudah memberi catatan tentang bagian dan hal-hal mana saja yang faktual dan mana yang fiksional.
Buku ini, mungkin, lebih pas disebut sebagai karya semi-fiksi, tepatnya sebuah semi-fiksi yang menyentuh dan menggoda tentang perjuangan sejumlah anak manusia dalam memerjuangkan cinta dan keyakinan hidupnya.
Senin, Desember 18, 2006
Sepenggal Kisah Cinta Mahatma Gandhi
Diposting oleh zen di 6:13 AM 0 komentar
Sabtu, Desember 16, 2006
Aubade Perempuan Eksil
Sutanti, istri DN Aidit, baru saja melahirkan anak pertamanya. Di hari membahagiakan itu Aidit di mana entah. Sobron jadi orang pertama keluarga Aidit di Jakarta yang datang menjenguk.
Tanti lantas menyerahkan pada Sobron ari-ari jabang bayinya untuk diurus. Tapi Sobron, kala itu masih pemuda ingusan yang baru hijrah dari Belitung dan awam benar soal primbon tata-polah orang Jawa, asal saja membuangnya ke sungai!
“Kata orang (Jawa), kalau ari-ari dibuang ke sungai, si pemiliknya akan berkelana terus,” tulis Ibaruri Putri Alam, anak sulung DN Aidit, si pemilik ari-ari yang dibuang ke sungai itu.
Dan itu pula yang senyatanya berlaku. Pada awal Oktober 1958, Ibaruri yang berusia 16 tahun dikirim Aidit ke Moskow bersama adiknya, Ilya. Ada semacam naluri politik dalam diri DN Aidit untuk menyekolahkan anak-anak perempuannya ke luar negeri sehingga jika ada deru deram politik yang membahayakan, mereka bisa menyelamatkan diri.
Sejak itu Iba dan Ilya tak pernah bisa kembali ke Indonesia, ia menjadi seorang pengungsi abadi. Keduanya sebenarnya sukses meraih gelar sarjana di Eropa Timur. Tapi gelar itu menjadi tak bermakna apa-apa ketika mereka kemudian “pindah” dan terpaksa berpindah-pindah dari satu kota ke kota lain, dari satu negeri ke negeri yang lain: Rusia, Tiongkok, Burma, Macao dan terakhir menetap di Prancis.
Baru pada April 2005 Iba bisa kembali menginjak bumi Indonesia. Tapi sebagai warga negara Prancis. Status WNI-nya tak diakui, bahkan ketika Gus Dur sebagai Presiden pernah menjaminnya.
Iba tak akan melupakan Gus Dur. Iba juga akan mengingat terus sebuah peristiwa bertarikh 2001, di sebuah musim panas yang terik di Paris. Gus Dur kala itu masih Presiden Indonesia, singgah di Paris dan menjumpai orang-orang Indonesia yang menjadi eksil. Iba diundang khusus untuk datang. Dia bahkan disediakan tempat duduk di deret paling depan, berdekatan dengan Gus Dur.
Begitu tiba, Gus Dur langsung menghampiri Iba, dan berucap: “Iba, saya belum berhasil membatalkan TAP MPRS no. XXV 1966. Saya sudah perjuangkan, tapi belum berhasil.”
Di otobiografinya ini, Ibaruri (nama yang diambil Aidit dari nama pendekar Partai Komunis Spanyol, Dolores Ibaruri) menuliskan ingatannya akan fragmen penting itu seraya mengimbuhinya dengan sebuntal kesan yang personal dan karenanya terasa cukup mengharukan:
“Aku, Ibaruri, yang sudah puluhan tahun tak pernah menginjakkan kaki di Kedutaan Besar Republik Indonesia! Kali ini dicari Presiden Indonesia in person. …Aku berterimaksih dan menjawab tidak apa-apa. …Dengan sederhana serta tulus beliau pernah meminta maaf. Dan apa yang lahir dari situ? Secara sederhana pula orang-orang PKI itu memaafkannya. Kok repot-repot.” (hal. 270)
Iba mungkin masih belum paham betapa soal maaf-memaafkan, di sini, kerap merepotkan, bagi seorang Gus Dur sekali pun. Sebab maaf, betapapun, menyiratkan masih terpacak tegaknya kesadaran ihwal arang yang mencoreng-coreng, laku yang berlancung-lancung, atau tingkah yang mengerkah-ngerkah.
Memaafkan karenanya selalu jadi medan penuh ketegangan antara “kebutuhan melupakan”, “naluri mengenangkan” dan “hasrat membayangkan masa depan”. Otobiografi Ibaruri ini adalah salah satu contoh yang cukup mengesankan bagaimana ketegangan macam itu mencuat kuat.
Kenangan berkelebatan di nyaris semua helai buku ini, hal lumrah karena sebuah otobiografi dilahirkan memang untuk, salah satunya, mengenang-ngenang.
Tapi dalam hal otobiografi orang macam Ibaruri, (yang duapertiga hidupnya dihabiskan dalam pengasingan karena menjadi korban deru deram politik yang sepenuhnya tak bisa ia mengerti) mengenang selalu menjadi problematis. Dan tidak mudah akhirnya.
Orang-orang seperti Iba inilah yang tahu benar betapa mengenang selalu membuat hidup tak bisa sepenuhnya dipahami: Mengapa harus begini kejadiannya? Kenapa harus begitu yang berlaku senyatanya? Lantas saya mesti melakukan apa?
Di titimangsa seperti itulah ketegangan antara “kebutuhan melupakan”, “naluri mengenangkan” dan “hasrat membayangkan masa depan” saling tindih-menindih, tabrak-menabrak. Iba menggugat-gugat di banyak helai halaman bukunya, soal pembantian keji orang-orang PKI, dll. Tapi Iba juga mencoba mengerti. Dan seringkali tampak ingin melupakan.
Di bawah menggunungnya daki-daki kebohongan, di sudut jiwa yang paling dalam, aku mengharap masih ada tersimpan secuil nurani yang masih polos, masih murni. …Yah, nurani… yang bepuluh-puluh tahun telah diberangus, disumbat, dipaksa bungkam seribu bahasa. Tak ingin aku berdebat tarik urat di sini. Aku hanya ingin menumplekkan jerit hatiku, marah dan tangisku,” tulis Iba (h. 384).
Dalam paragraf itu, kenangan yang membuat rasa masygul pun nongol (“kebohongan dan nurani yang dibungkam”), yang diimbuhi kesadaran kekinian untuk membikinnya sudah (“tak ingin aku berdebat”), sekaligus menyempil pula secual harapan yang kadang terasa naif (“aku mengharap masih ada tersimpan secuil nurani yang masih polos, masih murni”).
Di paragraf itulah “kebutuhan melupakan”, “naluri mengenangkan” dan “hasrat membayangkan masa depan” tampak secara eksplisit, dan lantas terhampar dengan sedemikian rupa menjadi satu kontinum kesadaran yang sinambung dan akhirnya membentuk sejarah hidup seseorang, dalam hal ini Iba, lengkap dengan kontur mentalnya yang khas.
Tetapi, terlihat pula betapa proses mengenangkan yang kerap memerihkan itu ingin dihadirkan Iba bukan penaka sebuah petaka yang hendak digusah pergi. “Biarlah ia tetap di sana dan mengendap,” begitu barangkali Iba berpikir.
Tak mengherankan jika dibalik paragraf-paragraf itu, betapa pun isinya gugatan sekali pun, saya merasa Iba seperti sedang berkompromi dengan yang silam. Dalam hal Iba, mengenang berarti juga berkompromi. Saya temukan sebentuk kepasrahan, barangkali penerimaan, atau sumeleh kata orang Jawa, bahwa hidup memang tak sepenuhnya mulus dan tak akan pernah selalu baik-baik saja. Mesti ada yang retak, split, dan bergurat-gurat luka. (Adakah kepasrahan itu disebabkan karena Iba sudah jadi seorang Budhis yang tentu paham soal determinasi takdir?)
Iba, entah para pengungsi abadi lainnya, ingin semua proses itu bisa terus berlanjut tak terputus. Dan mulus. Jangan ada lagi darah. Juga luka. Apalagi dendam. Itulah sebabnya Iba sempat menaruh harap: “Aku mengharap masih ada secuil nurani yang masih polos dan masih murni”.
Otobiografi di sini telah menjadi salah satu obyektifikasi ihwal sengitnya pertempuran antara “kebutuhan melupakan”, “naluri mengenangkan” dan “hasrat membayangkan masa depan” dalam ruang batinnya. Juga untuk melepaskan keletihan serta segenap-ganjil unek-uneknya. Sekaligus mengabarkan pada anak bangsa leluhurnya (kita, orang Indonesia) bahwa ada banyak yang terluka dalam proses panjang tumbuhnya Indonesia menjadi seperti sekarang.
Menuliskan semua-mua itu sendiri menjadi seperti proses penyembuhan bagi Iba. Seperti kata Virgina Wolf, “Derita menjadi tertanggungkan ketika ia menjelma sebuah cerita.”
Kita tidak tahu apakah derita itu sudah tertanggungkan atau belum!
Diposting oleh zen di 10:04 PM 0 komentar
Senin, November 20, 2006
Hello Stranger!
My stranger, suatu saat kau akan mengerti bahwa pada awalnya siapa pun adalah orang asing buatmu. Termasuk juga aku.
Malam itu kau bilang bahwa dirimu pernah dekat dengan sejumlah lelaki pada masa-masa yang berbeda. Kalian akrab. Mungkin sering jalan bersama, nonton bersama atau makan bersama. Tetapi, seiring tergelincirnya waktu, berbarengan dengan detik-detik yang berlalu, kedekatan itu perlahan memudar.
“Akhirnya dia kembali menjadi orang asing lagi buatku,” katamu malam itu.
Tetapi bukan itu yang ku maksudkan dengan “orang asing”. Seseorang menjadi orang asing, seperti kau yang menjadi orang asing buatku dan seperti aku yang menjadi orang buatmu, lebih karena kita memang tak pernah bisa mengenal seseorang sebaik kita mengenal diri sendiri.
Misalkan saja, sekali lagi misalnya, garis tangan mengharuskan kita menjadi sepasang pencinta yang seutuhnya sekali pun, yang hidup rukun sampai kakek nenek sekali pun, kita tetap tak akan bisa mengenal satu sama lain seutuhnya. Pada momen-momen tertentu aku akan kembali menjadi orang asing buatmu, seperti pada momen tertentu kau juga akan kembali menjadi orang asing buatku. Bahkan kendati kita selalu berdekatan setiap detik sekali pun.
Sudah menjadi takdir, masing-masing orang tak mungkin mengenal orang lain sebaik kita mengenal diri sendiri. Sebab setiap orang selalu punya rahasia kecil yang tetap disimpannya rapi nun di sebuah pojokkan sunyi. Entah di mana pojokkan sunyi itu. Mungkin dalam hati. Mungkin tersimpan rapi dalam sebuah catatan harian yang lusuh.
Kita berdua adalah dua orang asing yang mungkin coba saling mengenal. Kita mungkin adalah orang asing yang coba mengetahui lapis demi lapis identitas masing-masing. Dari mulai nama, tinggi badan, berat badan, hobi, zodiak, film favorit, musik kesukaan, tempat kerja, pernah pacaran berapa kali, hingga di mana pertama kali bercinta. Tetapi, sekali lagi, pada akhirnya kita akan sadar bahwa ada sejumlah hal yang sebaiknya tidak kita bagi. Bukan karena kita tak mau membaginya, tetapi mungkin karena kita tahu memang akan lebih baik jika beberapa hal itu tetap menjadi rahasia.
Sekarang, coba bayangkan bagaimana jika perjumpaan kita beberapa malam lalu juga merupakan perjumpaan kita yang terakhir. Bukan karena kita tak mau lagi bersua, tetapi bayangkan saja seumpama ternyata saya harus mati hari ini. Apa yang akan kau lakukan, my stranger?
Di tangga sebuah bioskop tua di Jakarta, pada sebuah malam yang tak begitu riuh, kau bilang padaku bahwa akan menjadi sesuatu yang “mengesankan” jika seseorang yang baru sekali kita jumpai ternyata ditakdirkan untuk langsung mati.
Aku mengingat ucapanmu itu. Dan aku terkesan. Apakah kau sadar, my stranger, bahwa kau memilih menggunakan kata “mengesankan” ketimbang “menyedihkan” saat kau membayangkan jika seseorang yang baru pertama kau jumpai tiba-tiba direnggut nyawanya? Kenapa kau memilih menggunakan kata “mengesankan” ketimbang “menyedihkan”? Adakah beda antara “mengesankan” dan “menyedihkan”? Dan apa konsekuensinya?
Aku tak tahu jawabanya. Mestinya kau lebih tahu jawabannya karena kau sendiri yang mengucapkannya. Tetapi, biarlah itu menjadi rahasia kecilmu.
Keesokan harinya, setelah semalaman kita berjumpa dan bercakap-cakap banyak hal, kau mengirimu sepucuk pesan pendek (sandek). Kau bilang: “qt ktemu lg kpn ya? hmm...”
Beberapa jam kemudian saya membalasnya dengan mengirim sepucuk sandek juga. Dan kau membalasnya kembali dengan sepucuk jawaban yang sudah bisa saya tebak apa isinya: “hmm... kucoba. lihat, sejauh mana kenyamananku dgn si stranger pejalanjauh ini.”
Aku tak begitu mengerti apa yang kau maksud dengan nyaman. Apakah nyaman sama dengan aman? Apakah merasa aman juga bisa diartikan dengan nyaman? Jika merasa aman saja belum cukup untuk membuatmu nyaman, faktor apalagi yang bisa membuatmu nyaman?
Hmmm... ternyata masih teramat banyak hal yang belum ku mengerti darimu, seperti juga masih banyak hal tentangku yang belum kau pahami. Lagi pula, mungkin kita tak sedang mencoba saling memahami. Mungkin perjumpaan dan percakaan yang kita gelar sepanjang malam sekadar siasat untuk menikmati dan menghabiskan malam dengan cara tak biasa.
Tetapi baiklah, karena kau mengirimkan sandek dengan isi seperti itu, baiklah, aku punya sebuah pertanyaan untukmu: Bisakah kita nyaman dengan sesuatu yang asing? Dan apakah pernah kau merasa nyaman dengan sesuatu yang asing?
Kalau aku ditanya hal yang sama, aku mungkin akan menjawab: “Ya, aku bisa merasa nyaman dengan sesuatu yang asing. Ya, aku juga sering merasa nyaman dengan sesuatu asing.”
Aku bisa merasa nyaman dengan sesuatu yang asing karena kita sebenarnya hidup pada sebuah panggung yang awalnya asing buat kita. Bukankah sewaktu dilahirkan kita hadir pada sebuah dunia yang tak kita kenal? Dan bukankah kita juga belum mengenal sepenuhnya dunia? Seperti juga kita tidak tahu seperti apa besok, lusa, minggu depan, bulan depan dan tahun depan.
Masa depan dan hari esok adalah sebuah terra incognita, sehamparan area yang tak teraba, tak terjamah, dan hanya bisa kita kira-kira. Sebagian terbesar dari kita, termasuk aku dan kamu barangkali, seringali merasa cemas pada apa yang akan terjadi esok. Kita kadang merasa ngeri pada apa yang akan terjadi lusa.
Rasa cemas itu tak mungkin kita kikis habis karena kecemasan sebenarnya justru menjadi kompor yang bisa membakar kreativitas manusia . Kita adalah mahluk yang diberi anugerah memiliki kecerdasan dan mempunyai kemampuan untuk memikirkan waktu, masa lalu, masa kini dan masa depan. Tetapi kecerdasan itu, kemampuan kita untuk memahami masa lalu, masa kini dan masa datang itulah yang justru melahirkan rasa cemas.
Orang-orang yang selalu tergeragap tiap kali menghadapi sesuatu yang asing adalah orang-orang yang tidak siap hidup. Kesiapan untuk hidup bukan hanya mengandaikan kesiapan kita dalam menyusun rencana dan agenda, tetapi juga meniscayakan kita untuk selau bersiap dengan sesuatu yang mengejutkan, bersiap dengan sesuatu yang datang tiba-tiba, dengan sesuatu yang datang tanpa warta.
Karena itulah kita mengenal dan membuat apa yang sebut agenda, jadwal kerja, schedule, ambisi, cita-cita dan rutinitas. Semua itu adalah kreativitas kita untuk membuat masa depan yang tak teraba, gelap dan mungkin dipenuhi kejutan menjadi lebih sederhana. Semua itu adalah cara kita untuk membuat masa depan yang tak terjamah itu menjadi bisa sedikit kita kendalikan.
Kita sebenarnya selalu bersandar pada apa yang mungkin kekal dan mungkin tak kekal. Kita bersandar pada mungkin. Kita bersandar kepada angin.
Apakah dengan begitu randezvous kita malam lalu menjadi sesuatu yang sia-sia?
Hmmm... mari kita jawab sama-sama. Tidak harus hari ini. Mungkin esok atau lusa. Atau mungkin bulan depan. Atau tahun depan. Sekarang, kita nikmati saja apa yang terjadi. Termasuk menikmati orang asing dan rasa asing, sebelum akhirnya kita mungkin mengambil sikap untuk menganggap semuanya hanya sekadar kenangan.
My stranger, begitulah kira-kira.
Diposting oleh zen di 4:31 AM 0 komentar
Jumat, Agustus 25, 2006
Yang Terhempas dan yang Jatuh
Menyimak kembali tonggak-tonggak perjalanan Ali Sastroamidjojo sebagai politisi, kita seperti menyaksikan serentetan kisah kebangkitan dan kejatuhan yang datang susul-menyusul.
Sebagai politisi, ia punya portofolio yang mengesankan. Dialah ketua umum terlama Partai Nasional Indonesia, partai terbesar di 25 tahun pertama Indonesia yang juga menjadi pemenang Pemilu 1955.
Posisi yang tak kalah signifikan juga ia lakoni semasa sistem politik Indonesia berbentuk demokrasi liberal. Pada masa yang dipenuhi pertarungan ideologis yang sengit itu, masa di mana kabinet jatuh-bangun dalam waktu yang seringkali begitu pendek, Ali pernah dua kali memimpin kabinet Indonesia. Kepemimpinannya yang pertama (dikenal dengan nama Kabinet Ali I) bahkan dicatat sebagai kabinet yang paling lama memerintah, yaitu lebih dari dua tahun, dari 30 Juli 1953 sampai 12 Agustus 1955.
Kabinet yang sebetulnya kokoh itu akhirnya jatuh juga, setelah NU, pendukung utama kabinet Ali I, mendesak agar kabinet dibubarkan akibat resistensi yang begitu tinggi dari banyak kalangam, terutama dari TNI AD, atas kebijakan mengangkat Kol. Bambang Utoyo sebagai KSAD.
Seusai Pemilu 1955 yang dimenangkan oleh PNI, Ali kembali dipercaya memimpin kabinet (masyhur dengan sebutan Kabinet Ali II). Kabinet ini didukung oleh tiga urutan teratas pemenang pemilu (PNI, Masyumi dan NU), dan secual dukungan PKI (nomer 4) yang memang tak dikehendaki oleh Masyumi dan NU. Kabinet yang berkuasa selama setahun ini (24 Maret 1956-14 Maret 1957) ini mencatat sebuah prestasi yaitu membentuk sebuah badan perancang pembangunan jangka panjang yang disebut Biro Perancang Negara (sekarang Bapenas).
Namun, lagi-lagi salah satunya karena persoalan di tubuh militer, yaitu munculnya sikap-sikap membangkang pemimpin militer daerah (munculnya Dewan Banteng dan Dewan Gajah), Ali akhirnya mengembalikan mandatnya. Kejatuhan ini juga menjadi akhir dari kekuasaan partai politik di Indonesia, karena sejak itulah, golongan fungsional (di masa Orde Baru: Golkar) makin menguasai peta politik Indonesia.
Yang hingga kini masih menjadi tarik menarik adalah soal posisi dan sikap Ali terhadap PKI semasa Demokrasi Terpimpin. Ali sering disebut membangun relasi yang intens dengan CC PKI. Banyak yang percaya, Ali sering termakan oleh Surachman, salah satu petinggi PNI Pusat, yang memang dekat dengan PKI. Banyak yang mengingatkan Ali, tapi tampaknya Ali telanjur percaya benar dengan Surachman.
Kebetulan bandul politik Soekarno pada masa Demokrasi Terpimpin berayun makin ke kiri. Marhaenisme, ideologi resmi PNI, kemudian ditafsirkan sebagai marxisme yang diterapkan di Indonesia. Klop sudah.
Maka ketika terjadi pageblug 1965, PNI yang di pusat memang dekat PKI dan sekaligus penyokong ideologis Soekarno, mau tak mau terkena imbasnya. Pun juga Ali. Namanya, juga PNI, makin merosot saja seiring dengan munculnya nama-nama baru di pusat lingkaran politik di Jakarta, terutama dengan moncernya Soeharto.
Kembali kita menyaksikan ironi kehidupan orang-orang besar yang dilahirkan negeri ini. Seperti juga Tan Malaka, Sjahrir hingga Amir Sjarifuddin, satu per satu dikerek ke ketinggian dunia politik Indonesia, tetapi satu demi satu pula jatuh berdebam dengan cara yang acap tragis.
Tampaknya mereka tak menyesal. Semua-mua paham resiko bercengkerama dengan dunia politik. Mereka pernah berniat memberi warna putih, sesuatu yang suci dan tulus, bagi panggung politik yang kerap dianggap bau. Tapi sering pula, seperti yang kita saksikan dalam riwayat politik Ali, mereka yang akhirnya terperciki bau tak enak dari dunia politik yang memang membutuhkan sejenis daya tahan yang mumpuni.
Diposting oleh zen di 7:49 AM 0 komentar
Di Ujung Garis Asia-Afrika
Pertanyaan itu menjadi retoris karena Ali sesungguhnya sudah menyiapkan jawaban jauh-jauh hari sebelumnya, selarik jawaban yang kelak terbukti menjadi batu tapal paling dini dari apa yang sekarang kita kenal sebagai Konferensi Asia Afrika yang melahirkan Dasa Sila Bandung yang termasyhur itu.
“Kita sekarang,” terang Ali seakan menjawab pertanyaan yang diajukannya sendiri, “Berada di persimpangan jalan sejarah umat manusia…. (Dan) Indonesia mengajukan usulan untuk mengadakan pertemuan lain yang lebih luas, antara negara-negara Afrika dan Asia. Saya percaya bahwa masalah-masalah itu tidak terjadi hanya di negara-negara Asia yang terwakili di sini, tetapi juga sama pentingnya bagi negara-negara Afrika dan Asia lainnya.”
Dari momen itulah Ali sedang mulai menapakkan jejaknya di lembar-lembar gemilang sejarah diplomasi Indonesia. Betapa tidak, sendirian ia mencoba meyakinkan empat koleganya, U Nu (Burma), Nehru (India), John Kotelawala (Srilanka), dan Ali Bogra (Pakistan), ihwal arti penting sebuah pertemuan resmi antara negara-negara di Asia dan Afrika dalam merumuskan sikap dan pendirian negeri-negeri bekas jajahan atas konstelasi politik mondial yang makin mengutub pada dua poros kekuatan (Amerika dan Sovyet).
U Nu dan Bogra meragu, kendati tak menampik. Pesimisme menguar dengan kuatnya dari Kotelawala dan terutama Nehru. Pemimpin kharismatik dari India itu menyebut gagasan memertemukan negara-negara bekas jajahan dari dua benua adalah gagasan yang terlampau muykil direalisasikan.
Tapi Ali tak surut. Gigih ia lobi empat kompatriotnya itu. Satu per satu luluh. Dan usulan Ali pun akhirnya masuk sebagai butir kesepakatan konferensi, kendati hanya butir nomer buncit; satu hal yang menunjukkan betapa usulan Ali masih dianggap tak terlampau serius.
Tapi Ali tak ingin gagal. Bersama Soenario yang menjadi Menteri Luar Negeri, Ali ngebut bekerja. Melobi satu demi satu negara-negara yang hendak diundang. Sebagian besar menyambut baik, kendati beberapa negara masih tak menjawab, satu dua bahkan menampik. Salah satunya adalah India. Nehru tampaknya masih belum teryakinkan.
Untuk hal-hal macam itu, Ali sendiri yang membereskan. Ia, misalnya terbang ke New Delhi, khusus untuk menemui Nehru pada 25 September 1954. Kali ini Nehru sukses dibujuknya. Keduanya bahkan mengeluarkan pernyataan ihwal arti pentingnya pertemuan negara-negara di Asia dan Afrika.
Tapi masalah belum sepenuhnya usai. Lima pemimpin itu sepakat bertemu sekali lagi di Jakarta pada 28 Desember 1954. Di situlah selisih pendapat lagi-lagi muncul. Dari mulai pembahasan agenda konferensi hingga negara mana saja yang akan diundang. Ali, lagi-lagi, menjadi juru runding yang sabar yang mampu “menjinakkan” ego nasional” masing-masing pemimpin.
Akhirnya, konferensi menyepakati mengundang 25 negara. Delegasi yang diundang setingkat perdana menteri. Juga menetapkan waktu KAA pada pekan terakhir April 1955. Lima negara sponsor membentuk sekretariat bersama. Roeslan Abdoelgani memegang ketua nasional. Sedang Sanusi Hardjaninata, Gubernur Jawa Barat, mengetuai panitia lokal.
Berkat kerja keras panitia, maka KAA bisa direalisasikanpada 18 April 1955, di Gedung Merdeka, Bandung. Presiden Soekarno membuka KAA dengan pidatonya yang berapi-api. Setelah pembukaan, pleno dibuka dipimpin Nehru. Dalam kesempatan itu PM Ali Sastroamidjojo terpilih menjadi ketua konferensi. Sidang diskors pada pukul 13.00, dan dibuka kembali 15.00.
Mengenang kembali momen-momen itu, tak terlampau berlebihan jika disebut Konferensi Asia-Afrika nyaris tak mungkin terlaksana tanpa kemampuan Ali bersiasat dan berdiplomasi. Apa yang dilakukan oleh Ali bisa dibilang sebagai salah satu milestone paling cemerlang dari sejarah diplomasi Indonesia yang lebih banyak kedodorannya ketimbang kuatnya. Prestasi Ali itu, mungkin hanya bisa disaingi oleh keberhasilan Agus Salim mendapatkan dukungan negara-negara Timur Tengah untuk perjuangan kemerdekaan Indonesia di tahun-tahun genting revolusi Indonesia (1945-1949).
Tetapi nama Ali seperti raib dari narasi emas Konferensi Asia Afrika (KAA). Sedikit orang yang mengerti posisi dan peran strategis Ali dalam KAA. Pertemuan para kepala negara se-Asia dan Afrika setahun silam untuk memeringati 50 tahun KAA di Bandung juga tak sukses membangkitkan kembali nama Ali dari “liang lahat” masa lalu.
Ali akhirnya masuk barisan orang-orang besar yang dilupakan oleh bangsanya sendiri. Satu hal yang sepertinya bukan barang baru di negeri yang justru dilahirkan dan dibesarkan oleh para tetua bangsa yang kelak justru kita lupakan. Selengkapnya......
Diposting oleh zen di 7:40 AM 0 komentar
Laut dan Ironi Anak Pedalaman
Pramoedya boleh saja meninju-ninju orang-orang pedalaman yang tak mencintai laut dan tak sadar arti penting laut. Pram boleh jengkel pada penguasa-penguasa di pedalaman (Sultan Agung dan keturunannya) yang lebih memilih menghancurkan kota-kota pelabuhan dan membikin-bikin mitos Ratu Laut Kidul ketimbang membangun visi maritim yang kuat. Tapi Pram, mau tidak mau, mesti menelan ironi itu: justru dari dua anak pedalaman itulah visi maritim yang mumpuni diwariskan.
Dalam hal Djuanda, siapa yang tak kenal Deklarasi Djuanda? Anak-anak sekolahan mungkin kenal Djuanda karena deklarasi itu, bukan sebagai Menteri Pertama atau salah dua orang, bersama Leimena, yang terus-terusan berada di Kabinet dari sebermula Indonesia lahir hingga kematiannya. Tetapi kenapa Deklarasi Djuanda itu penting bagi konsep ke-Indonesia-an?
Berdasarkan Ordonansi Lautan Teritorial dan Lingkungan Laut Larangan tahun 1939, dinyatakan bahwa lebar laut teritorial Hindia Belanda, dan Indonesia akhirnyam adalah 3 mil laut. Artinya, lewat angka 3 mil itu, laut di antara pulau-pulau yang belasan ribu jumlahnya menjadi area yang terbuka. Ini menyulitkan kepabeanan dan jelas membahayakan pertahanan negara.
Deklarasi Djuanda, yang dilansir pada 13 Desember 1957 ketika Djuanda memimpin kabinet sebagai Perdana Menteri, menjawab persoalan itu lewat konsepsi archipelago state (negara kepulauan). Inti konsep itu: batas teritorial sebuah negara kepulauan ditarik 12 mil dari garis pantai terluar sebuah negara. Efeknya, laut yang ada di antara pulau-pulau di dalam (misal: Laut Jawa antara Jawa dan Kalimantan) menjadi kedaulatan negara kepulauan tersebut.
Deklarasi Djuanda akhirnya menjadi jawaban tuntas ihwal bagaimana laut yang mengepung belasan ribu pulau Indonesia bukan lagi menjadi batas yang memisahkan satu pulau dengan yang lain. Laut justru menjadi medium yang memperantarai pulau-pulau yang berjauhan itu. Dalam hal perumusan konsepsi Negara Kesatuan Republik Indonesia, Deklarasi Djuanda adalah konvensi yang secara konkrit mengejawantahkan kesatuan tumpah-darah yang sudah ditancapkan oleh Sumpah Pemuda 1928 itu.
Djuanda memang bukan seorang ahli hukum laut. Tapi Djuanda-lah, mungkin melebihi Perdana menteri Ali Sastroamidjojo yang pertama kali membentuk tim Interdepartemen Pembaharuan Hukum Laut, pemimpin Indonesia yang pada masanya paham benar betapa laut bisa menjadi problem bagi konsepsi negara kesatuan jika konvensi atau hukum laut yang mengaturnya secara formal menyekat-nyekat hamparan kepulauan nusantara lewat batas 3 mil lautnya itu. Pada masa Djuanda menjadi Perdana Menteri itulah sebuah tim dibentuk untuk merumuskan sebuah hukum laut yang memungkinkan konsep negara kesatuan bagi negeri yang terdiri dari ribuan pulau seperti Indonesia betul-betul terejawantah di atas kertas hukum.
Djuanda. Ya, hukum itu disahkan dengan menyertakan namanya. Deklarasi Djuanda. Dia sendiri lahir di Tasikmalaya, daerah yang kurang lebih berada di tengah antara gunung Ciremai di Utara dan pantai Pangandaran di selatan. Djuanda bukan anak pantai yang sedari kecil bergelut dengan ombak dan asin angin laut. Dia anak desa, anak pedalaman.
Tapi seperti yang sepintas sudah coba ditunjukkan, anak pedalaman inilah yang punya andil besar dalam membangun visi maritim dari negeri kepulauan ini.
Diposting oleh zen di 7:37 AM 0 komentar
Setelah Hatta, Datang Djuanda
Sejak 1 Desember 1956, Hatta tak lagi menjadi wakil presiden. Kepergian Hatta jelas meninggalkan sebuah lubang besar: Siapa yang menjadi sekondan Soekarno dalam membangun Indonesia secara rasional, terencana dan sistematis?
Seperginya Hatta, Seoakarno sadar, ia butuh sekondan yang bisa mengimbangi corak berpolitik dirinya yang political minded. Soekarno menemukannya pada sosok Ir Djuanda Kartawidjaja (1911-1963). Beberapa saat setelah Dekrit Presiden dilansir pada 1959, Djuanda langsung diangkat sebagai Menteri Pertama, jabatan yang selevel dengan posisi Perdana Menteri, hingga akhir hayatnya pada 1963.
Djuanda mengingatkan orang pada peran dan poisi Hatta di pucuk pimpinan nasional di awal-awal terbentuknya Indonesia. “Duet Soekarno-Djuanda di awal-awal Demokrasi Terpimpin,” kata Maladi, mantan Menteri Olahraga dan Penerangan di era itu, “Seolah-olah menggantikan dwitunggal Soekarno-Hatta.”
Selama kurun itulah Djuanda mendampingi Seokarno mengerjakan administrasi negara dan pemerintahan, perencanaan negara, dan pelbagai detail yang tak mungkin bisa digarap Soekarno yang lebih suka menghabiskan energi dan kharis yang dipunyainya untuk “berpolitik-tingkat-tinggi”.
Ketika menyebut duet Soekarno-Djuanda sebagai dwitunggal Seokarno-Hatta jilid II, Maladi mungkin melihatnya dari sisi seperti yang pernah dipakai Herberth Feith untuk melakukan kategorisasi kepemimpinan nasional: Soekarno sebagai tipe solidarity maker yang menggeber energinya untuk meningkatkan tensi nasionalisme kebanggaan nasional sementara Djuanda sebagai tipe administrator yang menggerakkan roda pemerintahan day to day.
Jika kita lihat pengalamannya di pemerintahan, Djuanda memang orang yang berpengalaman dalam hal administratif. Ia adalah pemegang rekor sebagai orang yang paling sering menjadi menteri: 17 kali. Ia menempati pelbagai pos, dari yang “teknis”, “apolitis” hingga “politis”: Menteri Perhubungan, Dirjen Biro Perancang Negara, hingga Menteri Keuangan.
Di luar jabatan-jabatan itu, sangat sedikit yang tahu kalau Djuanda-lah yang membangun sistem nasional transportasi darat, laut, dan udara. Juga hanya segelintir yang paham kalau Djuanda adalah pemrakarsa maskapai penerbangan nasional Garuda, Akademi Penerbangan di Curug dan Akademi Pelayaran di Jakarta. Nihil yang tahu bahwa Djuanda adalah salah satu pelopor perancangan dan perencanaan pembangunan nasional yang detail dan sistematis lewat Rencana Lima Tahun yang juga diistilahkan lain sebagai Rencana Djuanda (1955-1960). Dan pada masa kepemimpinannya pula lahir Deklarasi Djuanda yang termasyhur itu, sebua konsep hukum laut yang mengenalkan prinsip archipelago state (negara kepulauan).
Djuanda sendiri tentu saja bukannya tak punya nila. Oleh semantara orang, misalnya Rosihan Anwar, Djuanda dianggap tak bisa cuci tangan dari kebijakan Soekarno yang membredel koran, menangkapi tokoh-tokoh yang tak sejalan, dan membubarkan partai-partai.
Tetapi di sini pun kita masih bisa mengajukan sebuah catatan: klik kiri (Soebandrio cs.) baru bisa memenjarakan Sjahrir, Soebadio Sastrosatomo, hingga Mochtar Lubis ketika Djuanda sudah mulai sakit-sakitan dan kerap meninggalkan tugas keseharian untuk istirah dan perawatan. Selama Djuanda masih menjadi Menteri Pertama, keinginan untuk memenjarakan lawan-lawan Soekarno itu bisa ia rem.
Dalam hal itu, kata Jenderal AH Nasution, Djuanda tak bisa digantikan. “Pada saat mengantarkan jenazah Djuanda, saya berbicara dengan Leimena yang mengenangkan bagaimana gigihnya Djuanda dan bagaimana penderitaan batin yang ia derita ketika sekuatnya mengupayakan stabilitas, tapi oleh rekan-rekan menteri lain diserang dalam rapat-rapat umum,” kenang Nasution.
Posisi Djuanda sebagai Menteri Pertama memang istimewa. Posisi itu diincar oleh banyak orang, termasuk oleh “klik kiri” yang menginginkan agar Soebandrio bisa menggantikan Djuanda. Soekarno tahu itu. Ketika Djuanda wafat, Soekarno tak pernah lagi mengangkat Menteri Pertama/Perdana Menteri. Jabatan itu ia emban sendiri. Sementara Soebandrio hanya diberi “jatah” Wakil Perdana Menteri saja.
Tetapi arus sejarah memang sedang bergerak kiri. Soekarno tetap tak bisa sepenuhnya membendung pasangnya kekuatan kiri. Wajar jika Roeslan Abdoelgani menyatakan bahwa kematian Djuanda menjadi a turning point of Indonesia, sebuah titik balik yang memungkinkan Soekarno makin alpa pada detail dan memberi peluang lebar bagi “klik kiri” (terutama PKI) untuk bisa leluasa memainkan peran. Semuanya, kita tahu, berujung pada tragika 1965.
Mestikah diherankan jika ada seorang wartawan Amerika, seperti dikutip oleh Taufik Abdullah (2001), bilang: “Nanti orang akan menyadari… betapa besar kerugian Indonesia dengan kematian Djuanda.”
Djuanda selalu tak dianggap. Dilupakan. Tetapi ijuga terang, bangsa dan negara ini tumbuh dan berkembang karena wajah-wajah yang membiarkan diri mereka sekan-akan tak bernama, mereka yang bersedia menghadapi masalah riil dengan hati terbuka dan pikiran yang jernih; sekelompok orang yang tak bermain dalam wilayah romantisme dan glamor sejarah.
Djuanda adalah pemuka dari para anonim (dalam) sejarah Indonesia.
Diposting oleh zen di 7:30 AM 1 komentar
Kamis, Mei 11, 2006
Stella, Aku Hendak Merebut Kemerdekaanku (4)
Kemerdekaan dan kebebasan memang mempesona, merawankan hati. Di sana terpacak sebuah harapan akan kehidupan yang jauh lebih baik. Tapi, kita semua tahu, kemerdekaan juga membawa konsekuensi-konsekuensi tak terduga yang mau tidak mau mutlak dihadapi. Konsekuensi itulah yang membikin orang yang telah bebas dan merdeka, terkadang rindu pada situasi di mana ia masih belum bebas, ketika ia belum merdeka. Inilah yang oleh Erich Fromm maksudkan sebagai “lari dari kebebasan”.
Alih-alih pergi sekolah ke Belanda, Kartini lebih memilih untuk menerima tawaran Abendanon untuk mendirikan sekolah tanpa harus menunggu punya ijazah guru. Kartini sama sekali tidak lupa pada semua cita dan impian yang dianyamnya sejak kecil untuk sekolah setinggi-tingginya. Ia memang lebih memilih mendirikan sekolah karena ia tahu, pergi ke Belanda akan mendatangkan konsekuensi-konsekuensi tak terduga yang mungkin tak pernah ia bayangkan.
Maka, membatalkan kepergian ke Belanda adalah blunder. Ia melepaskan begitu saja terbentangnya sebuah masa yang penuh dengan kemungkinan-kemungkinan yang tak terduga, yang sebenarnya ia bisa (seperti yang sebelumnya telah dengan baik ia lakukan) bekerja keras untuk memperjuangkan keyakinan dan mimpi-mimpinya. Tinggal di Jepara membuat medan kemungkinan itu menjadi kian sempit.
Puncak dari semua tragik Kartini terjadi saat ia menerima lamaran R.M Djoyoadiningrat. Dua pendirinnya yang paling liat (sekolah setinggi-tingginya dan anti poligami) roboh sudah. Ia terpesona dengan kemungkinan suaminya itu akan mendukung segenap cita dan keyakinannya. Ia leka. Lengah.
Padahal, ia tahu benar, begitu menjadi istri Bupati Rembang, ia harus mengurus rumah tangga dan mendidik enam anak tirinya. Ia memang diperbolehkan mendirikan sekolah. Tapi, sekadar mendirikan sekolah terlampau remeh untuk perempuan sebesar Kartini. Bukankah semasa gadis saja ia sudah mampu mendirikan sekolah?
Menarik jika kita sebut Fatima Mernissi. Pada seorang seorang bibinya, Mernissi kecil pernah bertanya di posisi mana dirinya berada. Seperti terpapar di paragraf terakhir memoir Mernissi, Dream of Trespass: Tales from Girlhood, sang bibi menjawab: “Jika kamu tidak dapat keluar rumah, kamu ada di pihak yang lemah.”
Kartini pada akhirnya memang ada di pihak yang lemah. Ia hanya anasir yang punya kecerdasan, keberanian dan tekad yang besar, di tengah kehidupan dan dunia yang masih terlampau perkasa untuk ditundukkan. Visi yang ditebarnya bergerak amat cepat, meninggalkan dunia tempat ia hidup yang masih bergerak dengan amat lambat. Masalahnya, dunia itu hanya ada satu. Tidak bisa tidak, ia harus hidup di sana, sepahit apa pun itu. Maka, ketika ia menyadari bahwa dirinya sudah tak berjejak lagi di bumi, ia dengan pahit kembali pulang ke dunianya.
Memikirkan kepahitan itu, saya teringat Soe Hok Gie. Di catatan hariannya, Gie menulis: “Aku mungkin bukan lagi seorang idealis, melainkan seorang realis yang pahit.”
Kartini tahu ia tak akan berhasil. Tapi karena layar sudah ia bentangkan, cita sudah ia pancangkan, maka ia pun berusaha semampunya. Kartini dengan demikian menjadi prototipe manusia baru dari sebuah generasi yang terjepit. Sebuah generasi, pinjam kata-kata Sjahrir, “yang apabila diam akan menjadi generasi yang hilang, dan apabila bergerak akan menjadi generasi yang kalah.“
Peran dan kontribusi Kartini tentu tak akan lumer seinci pun kendati tulisan ini menghadirkannya tidak sekemilau dan secemerlang yang biasa kita bayangkan tentangnya. Tulisan ini justru mencoba menghadirkannya sebagai manusia seutuhnya, manusia dengan cita-cita besar yang dipaksa sejarah untuk bertempur dengan berlaksa aral dan kesukaran.
Zaman ini memang layak memberinya hormat, sebuah standing ovation yang tulus untuk sebuah “keyakinan yang dipercayai dan kemudian ia perjuangkan”, sekalipun ia mengerti betapa tak terpermanainya hambatan dan kesukaran yang kelak ia hadapi. Beberapa yang diupayakannya memang menuai hasil bagus, tapi jangan lupa, ia juga akrab dengan rentetan kegagalan dan kepedihan.
Inilah yang membuat saya dengan senang hati menghormati segala jerih-payah yang telah ditorehkannya; sebuah torehan kerja yang membikin Pramoedya Ananta Toer, dalam Panggil Aku Kartini Saja (2003: 14), memberinya predikat sebagai “Pemikir modern Indonesia pertama-tama, yang tanpanya, penyusunan sejarah modern Indonesia tidaklah mungkin.”(Tamat)
Diposting oleh zen di 9:25 AM 0 komentar
Template asal oleh
headsetoptions
diadaptasi ke Blogger oleh
blog and web | dipercantik oleh udin
