Kamis, Oktober 18, 2007

Mudik sebagai Negosiasi Identitas

Mudik adalah gerak sentrifugal “mendekati” apa yang dianggap sebagai asal muasal diri, sementara arus balik kembali ke rantau menjadi gerak sentripetal “menjauhi” “sumur” asal muasal.

Mustofa W. Hasyim pernah menulis cerpen berjudul Mudik. Cerpen itu bercerita tentang kehidupan menjelang lebaran di sebuah kompleks perumahan kumuh di pinggiran rel di Jakarta. Di situ digambarkan bagaimana penghuni rumah di sepanjang rel merasa gelisah tiap sebuah kereta melintas ke arah timur. Seakan ada yang bergerak-gerak dalam dada dan seperti terdengar teriakan yang memberi peringatan bahwa mereka memiliki tanah asal, punya masa lampau, kerabat yang sedang menunggu.

Gemuruh suara kereta yang bergerak ke timur, dalam cerita itu, adalah panggilan untuk kembali ke tanah asal yang primordial: kampung halaman, tanah kelahiran, rahim yang melahirkan, puak dan kerabat, teman masa kecil, dan sehimpun kenangan tentang periode kehidupan yang tak bisa lagi (di)kembali(kan).

Di situ, kampung halaman menjadi titik berangkat, semacam fondasi kedirian; sesuatu yang oleh Amin Maalouf sebut sebagai “afiliasi vertikal”. Dalam kosa kata Maalouf, “afiliasi vertikal” bisa disederhanakan sebagai primordialisme, sesuatu yang sifatnya given dan tak tertampik, datang dari “langit”, mak mbedundu –kata orang Jawa: saya lahir dari rahim siapa, di kampung mana, berjenis kelamin apa, berwarna kulit apa, berambut lurus atau kriting, berpuak apa, dll.

Di situ, kampung halaman hadir sebagai sesuatu yang berkaitan dengan asal usul tiap orang. Bagi orang Jawa, misalnya, prosesi mudik lebaran adalah manifestasi dari keinginan diri untuk merenungkan dan menelusuri sangkan paraning dumadi: mengingat-ingat kembali jejak-jejak awal sejarah dirinya dan mencoba menikmati “fiksi” mengenai (dalam kata-kata Franz Fanon) “kecantikan dan keaslian diri”.

Itulah sebabnya, prosesi mudik pasti ditingkahi kegiatan yang meleburkan para pemudik dengan sebuah himpunan bernama puak, semacam aktivitas mengumpulkan balung pisah: momen di mana puak yang tercerai-berai di tanah rantau yang terpisah-pisah, coba disatukan dan direkatkan kembali. Inilah saat di mana segenap sanak anggota puak bersemuka di ruang dan waktu yang sama.

Mudik selama sepekan, setelah hidup di rantau selama sebelas bulan, menjadi momen di mana asal usul identitas coba di-refresh, diperteguh, mungkin coba dikekalkan kembali.

Selama kurang lebih setahun lamanya, “afiliasi vertikal” itu mesti berhadapan dengan kehidupan rantau yang menawarkan afiliasi-afiliasi baru: bergabung dengan komunitas baru, membangun relasi-relasi sosial baru, bergaul dengan orang baru dari pelbagai daerah dan peradatan.

Inilah yang disebut Amin Maalouf sebagai “afiliasi horizontal” yang berarti ikatan-ikatan sosial yang bisa kita tolak, mampu kita pilih, serta bisa kita cabut kapan saja kita mau dan semua anyaman afliasi horizontal ini berlangsung dalam kendali kesadaran kita: menjadi anggota partai mana, memilih agama apa, masuk pada komunitas apa, menghayati satu kutub ideologi tertentu, dll.

Arus mudik kembali ke tanah asal dan arus balik kembali ke tanah rantau adalah periode transisi di mana negosiasi antara afiliasi horizontal dan vertikal berlangsung dengan begitu jelas.

Dengan memahami keberadaan dua model afiliasi identitas ini berikut proses negosiasi yang keras antara keduanya, membuat kita lebih memahami (1) identitas kita bukan cuma diturunkan secara vertikal dari para moyang (afiliasi vertikal), melainkan juga dibentuk pengaruh yang datang dari samping (afiliasi horizontal); sekaligus (2) memahami kalau anasir yang memengaruhi dan membentuk identitas itu juga beragam, tidak tunggal: bisa agama, bahasa, ras, etnisitas, istiadat, jenis kelamin, hingga afiliasi parpol.

Afiliasi identitas itu, antara yang horizontal dan vertikal, bernegosiasi sedemikian rupa, kerap berkompromi, tapi kadang bertarung dengan keras. Ada saat di mana afiliasi yang sifatnya horizontal lebih kuat, tapi di momen-momen tertentu afiliasi yang sifatnya vertikal lebih berpengaruh.

Mudik saat lebaran, yang sudah menjadi ritus sosial, adalah perayaan besar-besaran atas afiliasi vertikal, momen di mana semua pemudik mengakui bahwa afiliasi vertikal tetap mereka panggul ke mana-mana, di rantau yang jauh dan dalam rentang waktu yang tak sepenuhnya diketahui di mana ujungnya.

Selama setahun lamanya, mereka hidup di kota, di rantau yang jauh, membangun afiliasi vertikal, merajut ikatan-ikatan sosial yang baru, dan menatah relasi sosial dengan orang-orang yang baru. Selama prosesi itu, afiliasi vertikal kerap kali berada dalam situasi kritis, di mana ia di/terbentur(kan) dengan afiliasi horizontal.

Hasil dari perserawungan antara yang horizontal dan vertikal itulah yang mewarnai atau bahkan membentuk identitas. Tapi warna atau bentukan identitas itu sendiri tak akan pernah final, karena di lain waktu pasti ia akan mengalami benturan baru, negosiasi baru, atau mungkin pertarungan baru, dengan afiliasi horizontal yang lebih mutakhir.

Identitas, dengan demikian, adalah sebuah medan pertemuan dan saling pengaruh, saling mewarnai, dan (kadang) saling mengalahkan.

Per definisi, identitas karenanya agak sukar untuk disepadankan dengan “jati diri”; karena memang tidak ada diri yang sejati, diri yang original, diri yang esensial, diri yang ajek dan stabil; model pemahaman atas identitas yang disindir oleh Amartya Sen sebagai “identitas yang soliter”.

Dan karena itulah, identitas tidak hadir sebagai sesuatu yang tetap, tetapi sebagai sesuatu yang terus bergerak, bukan semata yang kasat tapi juga yang tak kasat, bukan hanya yang tergapai tapi juga yang tak terjangkau, bukan hanya yang terwujud tapi juga yang sedang diwujudkan sekaligus yang sudah gagal diwujudkan, bukan hanya yang berkelanjutan tapi juga yang terputus, bukan hanya kesadaran tapi juga ketidaksadaran.

Di udik itulah, di tanah asal yang jauh dari kerkahan hiruk-pikuk kota, para pemudik mencoba menjaga jarak terhadap kehidupan kota yang kompetitif, mencoba menyatu dengan–dan bukan sedang mencoba menaklukkan-- ruang dan waktu.

Maka, bagi para pemudik yang menggelar mudik setiap tahun, kehidupan bisa dimengerti ke dalam dua model: siklis atau spiral.

Kehidupan hanya menjadi siklis pada saat mudik dan arus balik tidak cukup mampu memberi perubahan yang signifikan. Sebagai gerak siklis, hidup dimengerti sebagai gerak baku menjauhi tanah asal (gerak sentriptetal) untuk kemudian kembali mendekati tanah asal (gerak sentrifugal), dan seterusnya, dan seterusnya, tanpa ada perubahan yang cukup berarti.

Sementara kehidupan menjadi satu gerak spiral ketika gerak ulang-alik mudik ke tanah asal dan arus balik kembali ke kota mampu memberi corak perubahan yang cukup berarti, menjadi bekal untuk melangkah maju setahap demi setahap menapaki jenjang kemanusiaan yang lebih baik. Mungkin juga lebih tinggi.

Hanya para pemudik itu sendiri yang tahu seperti apa gerak hidupnya: spiral atau siklis?

Selengkapnya......

Kamis, Oktober 11, 2007






to err is human, to forgive is divine
(alexander pope)




puasa adalah zakatnya rohani dan zakat adalah puasanya materi. lebaran menggenapkan keduanya. selamat lebaran. maaf lahir batin.












Selengkapnya......

Minggu, Oktober 07, 2007

Bulan di Dalam Kuburan

[cerpen pertama buat Arief Debukaki: "Rief, jika pun kita pernah menjadi anak mursal, setidaknya sekarang kita sudah sadar ihwal ke-mursal-an kita ini. Dari situ, kita sadar bahwa "bulan" selalu ada di dalam diri kita."]

Bulan tak pernah akrab dengan malam lebaran, bahkan kendati sebuah sajak pernah menulis puisi yang misterius tentang hubungan rahasia antara bulan dengan malam lebaran.

Aku sudah melewati 25 kali lebaran. Dan, sungguh, aku tak pernah melihat bulan menampakkan cahayanya di malam lebaran. Aku tidak tahu kenapa. Padahal aku sangat ingin malam lebaran disempurnakan oleh cahaya bulan. Tidak perlu cahaya yang benderang seperti saat purnama, cukuplah selarik cahayanya saja. Tapi harapan itu tak pernah terkabulkan.

Sewaktu masih ingusan, aku pernah membicarakan soal ini dengan ibu. Di kepung suara bedug dan gema takbir, aku mendekati ibu yang sedang duduk di dekat tungku. Tangan ibu begitu cekatan mengisi ketupat yang masih kosong dengan butir-butir beras.

“Kenapa kamu tidak berkumpul dengan teman-temanmu di mesjid? Kau kan senang sekali menabuh bedug. Apa kamu sudah tidak suka lagi memukul bedug?”

Aku menggeleng. Aku duduk di sebelah ibu. Tanganku memain-mainkan kayu bakar yang dilalap api tungku. Bau daging yang dijereng oleh air yang sudah dicampuri rempah-rempah menelusup diam-diam ke hidungku. Ibu, seperti juga semua ibu teman-temanku, menghabiskan malam lebaran di dapur, menanak nasi, menyiapkan ketupat, memasak opor, dan setelah itu menyetrika baju, sarung dan sajadah yang akan dibawa oleh suami dan anaknya ke lapangan besok.

“Kenapa ibu selalu di dapur kalau malam lebaran?”

Ibu menoleh sambil tersenyum. Dirangkulnya pundakku. Bau keringat dan asap tercium olehku.

“Katanya bapak dulu pintar nabuh bedug. Betul ya, Bu?”

“Kamu sendiri jadi anak yang paling pintar nabuh bedug. Coba tebak, dari siapa asalnya kepintaranmu itu? Dari bapak, kan? Tadi waktu shalat maghrib berdo’a buat bapak tidak?”

Lagi-lagi aku menggeleng. “Kenapa? Bapak sedih lho kalau kamu nggak berdo’a.”

“Arief sudah berdo’a, tapi bukan buat bapak.”

“Buat siapa?”

“Buat bulan.”

“Kok?”

“Arief berdo’a pada Tuhan supaya malam ini mengirim bulan ke langit. Arief ingin mengajak ibu ke halaman dan menunjukkan pada ibu kalau do’a Arief itu manjur. Biar ibu tahu, kalau Arief anak yang sholeh. Kan ibu sendiri yang bilang kalau do’a anak yang baik pasti dikabulkan Tuhan.”

Ibu makin merapatkan rangkulannya ke pundakku. Aku merasa badan ibu sedikit bergetar. Sayup-sayup aku dengar ibu terisak.

“Arief ingin bulan datang malam lebaran ini. Dari dulu bulan kan gak pernah kelihatan kalau malam lebaran. Siapa tahu kalau bulan datang, ibu gak sedih lagi. Soalnya kalau malam lebaran ibu suka diam saja. Ibu susah sekali senyum kalau malam lebaran.”

Kali ini ibu tidak terisak, tapi benar-benar menangis. Aku melihat bulir-bulir air mata meleleh di dua pipi ibu yang kempis.

“Arief gak mau ke mesjid, Bu. Biar Arief di sini saja. Kasihan ibu sendirian. Nanti kalau bulan muncul, aku mau mengajak ibu ke halaman.”

Ibu memegang kedua pipiku. Aku diciumnya berkali-kali. Air matanya makin deras.

“Bu, Arief gak berdoa buat bapak karena bapak jahat meninggalkan ibu di dapur sendirian tiap malam lebaran.”

Air mata ibu mengucur makin deras. Kali ini, aku sendiri yang menyekanya dengan tanganku.

******

Malam itu aku tertidur di pangkuan ibu. Di depan tungku. Sewaktu adzan subuh terdengar, aku terbangun. Aku cari ibu. Seperti yang sudah kuduga, ibu ada di dapur. Dengan mata yang masih sembab dan mulut yang menguap, aku bertanya pada ibu apakah semalam bulan muncul di langit.

“Sudah, kamu mandi sana. Agak cepat mandinya. Biar kamu bisa shalat Subuh berjamaah di mesjid. Habis itu kamu langsung pulang. Makan ketupat dan opor dulu sebelum shalat Ied. Itu sunnah, lho….”

Dari jawaban itu aku tahu bulan tak muncul malam itu. Sejak itu aku tak pernah lagi bertanya pada ibu soal bulan yang selalu menghilang di malam lebaran. Tak hanya itu, sejak itu aku tak pernah benar-benar khusyuk lagi berdo’a. Belasan tahun kemudian, hingga malam lebaran yang ke-25 ini, aku bahkan tak pernah lagi berdo’a.

Lebaran itu menjadi lebaran yang paling menyedihkan. Aku merasa Tuhan begitu pelit dan tak mau tahu. Masak minta supaya bulan muncul saja tak dikabulkan? Padahal bulan itu tidak untukku, tapi untuk ibu. Aku berdo’a agar bulan muncul karena aku pikir kehadiran bulan bisa membuat itu tersenyum di malam lebaran. Aku ingin ibu berbahagia.

Karena itu pula aku merasa sebagai anak yang tak berbakti, anak yang tak mampu membahagiakan ibunya. Doa yang tak terkabul itu membuatku merasa aku bukanlah anak yang shaleh. Sebab, jika aku anak shaleh, doa ku pasti dikabulkan Tuhan. Ibu sendiri yang bilang. Lagipula, doa itu kan untuk membahagiakan ibu?

Lebaran itu juga menjadi awal dari permusuhan diam-diam dengan bapakku yang sekali pun tak pernah aku lihat. Aku marah pada bapak yang tak bisa membuat ibu tersenyum di malam lebaran. Marah karena bapak meninggalkan ibu sendirian di dapur, di depan tungku, di setiap malam lebaran.

Setelah shalat Ied di lapangan, aku mendatangi ibu. Aku menciumnya lama sekali, lebih lama dari lebaran-lebaran sebelumnya. Aku menangis keras-keras dan terus memeluk ibu dengan sekuat-kuatnya. Ibu sepertinya sampai sesak nafas. Tapi rasa bersalah memberiku tenaga berlebih untuk memeluk ibu lebih kuat dari biasanya. Lebih lama dari biasanya.

Ibu sampai harus memaksa agar aku melepaskannya. Ibu memaksa tanganku melepaskan pelukan. Dan aku makin sedih karenanya. Aku merasa, ibu tak memaafkanku. Dan ibu juga tak memahamiku.

Seharian aku menghilang dari rumah. Seharian pula ibu mencariku.

*****

Sudah 7 lebaran aku tak pulang. Sudah 25 lebaran aku hidup. Selama itu pula aku tak pernah melihat bulan muncul di malam lebaran. Dan seperti malam-malam lebaran sebelumnya, sejak doa yang tak terkabul itu, aku tak pernah lagi berharap bulan akan muncul di malam lebaran.

Kini aku bukan anak kecil lagi. Aku sudah menjadi lelaki dewasa yang mandiri, hidup dari keringatnya sendiri, berkelana dari satu kota ke kota lainnya, dari satu pulau ke pulau lainnya. Aku telah menjadi seorang pemuda yang kepalanya dipenuhi cita-cita yang besar dan dada yang disuburkan oleh ambisi yang juga besar.

Kendati aku tetap bekerja dengan mendatangi kota dan pulau-pulau yang jauh, tapi situasi sudah mulai berubah. Aku bekerja dengan hati yang tak lagi penuh. Aku bukan lagi seorang idealis, tapi sudah menjadi seorang realis yang pahit.

Lebih-lebih, aku gagal membahagiakan ibu. Ya, aku tak pernah menjadi sarjana seperti yang ibu inginkan. Bacaan-bacaanku, cita-cita dan ambisiku membuatku menjadi orang yang begitu jengah dengan aktivitas duduk di ruang kuliah.

Aku baru sadar bahwa kuliahku tak mungkin terselamatkan di tahun ketiga kuliahku. Itu sudah cukup untuk membuatku enggan pulang ke rumah. Padahal, sudah tiga tahun itu pula aku tak pulang. Aku merasa gagal menjadi sarjana bukan dosa, tapi aku sangat tahu ibu pasti kecewa. Lagi pula, ketika itu aku berpikir bahwa ibu pasti bangga jika aku ceritakan bahwa anaknya ini sudah berhasil menyelamatkan puluhan anak dari buta aksara.

Tapi aku juga tak bisa berdusta bahwa aku memang tak tega membuat ibu tahu kegagalanku memenuhi harapannya. Aku sangat tahu, ibu bekerjakeras mencari nafkah untuk memenuhi biaya kuliahku. Kendati sejak tahun kedua kuliah aku sudah mengirim surat pada ibu untuk tak lagi mengirimiku wesel, ibu tetap saja membandel.

Dalam salah satu suratnya, ibu bilang, wesel itu adalah satu-satunya kebahagiaan ibu. “Ibu merasa bahagia tiap kali pergi ke kantor pos mengirimu wesel. Kalau kamu memang sudah bisa mencari uang sendiri, simpan saja uang kiriman ibu. Siapa tahu kamu butuh,” tulis ibu di salah satu suratnya.

Tiap kali aku membayangkan ibu berjualan di pasar, aku selalu saja merasa berdosa dan bersalah, betapa pun aku bisa menenangkan diri dengan ratusan argumen tentang betapa tidak pentingnya sekolah. Dalam hal seperti ini, rasa bersalah itu tak bisa ditawar oleh berapa pun banyaknya aforisma.

Kadang aku mengirim surat untuk sekadar menanyakan kabar dan memberitahu keberadaanku. Dari situ ibu tahu aku sering berkelana. Ibu pernah memintaku untuk menyambangi kampung halaman bapak jika aku sedang di Kalimantan. Beberapa kali aku sudah menyambangi Kalimantan, tapi aku tak pernah memenuhi permintaan ibu. Diam-diam aku masih memelihara kemarahan pada Bapak yang meninggalkan ibu dan membiarkannya sendirian membesarkanku.

Dan selama itu pula aku tak pernah pulang. Aku kehilangan semangat untuk pulang, bukan hanya karena aku tak akan pernah bisa menjadi sarjana, tapi lebih-lebih karena aku masih terusik dengan adegan ketika ibu bersikeras melepaskan pelukanku sewaktu aku menangis keras-keras sembari memeluknya di hari lebaran. Ya, hari lebaran ketika aku berdoa agar bulan muncul di malam lebaran. Aku tidak dendam karenanya. Aku hanya merasa, ada jurang pengertian di antara kami berdua.

*****

Lebaran yang ke-25 ini aku pulang untuk pertama kalinya. Tapi aku tak akan pernah bisa melihat ibu. Aku hanya bisa melihat pusaranya. Dan untuk keperluan itulah aku pulang.

Ibu wafat delapan bulan yang lalu. Telegram datang ke kontrakanku yang terakhir selang seminggu setelah aku berangkat ke Kalimantan. Selama di Kalimantan aku tak punya firasat apa-apa. Hanya saja, entah kenapa, aku memenuhi permintaan ibu untuk menyambangi kampung halaman bapak. Tentu saja aku tak menemui siapa-siapa, karena bapak memang sebatang kara sejak kecil, tak punya kerabat satu pun. Tapi, setidaknya, aku sudah pernah menginjakkan kaki di kampung di mana bapak dilahirkan. Itu pasti sudah lebih dari cukup bagi ibu karena dengan itu ibu tahu aku sudah mulai mencoba memaafkan bapak.

Dengan memanfaatkan jasa kurir yang mahal, aku mengirimi Ibu anggrek biru. Ya, itu bunga yang selalu ingin dilihatnya. Kata ibu, dulu bapak pernah berjanji akan mengajak ibu ke kampung halamannya dan akan membawa ibu ke hutan di mana anggrek biru tumbuh. Bapak tak pernah menunaikan janji.

Sekarang aku tahu, kiriman anggrek biru itu tak pernah sampai ke tangan ibu. Dia tak pernah tahu kalau aku sudah mengunjungi kampung halaman bapak. Dan itu artinya ibu juga tak akan perna tahu aku sudah mencoba berdamai dengan bapak.

Aku tiba di rumah satu jam menjelang maghrib terakhir di bulan Ramadhan. Atik, seorang anak yatim yang sejak aku SMP diangkat oleh ibu sebagai anak angkatnya, menyambutku di depan pintu. Ia memerkenalkanku pada Barkah, lelaki yang menikahinya tiga tahun lalu. Seorang bocah lelaki muncul di balik pintu dengan malu-malu.

“Iwan, salam sama Uwa Arief,” panggil Atik pada bocah itu. Ah, aku sudah punya keponakan rupanya.

Senja itu juga aku memutuskan untuk berziarah. Atik menyarankanku untuk menundanya sampai besok. Tapi aku menolak. Dorongan itu terlalu kuat. Sangat kuat. Lebih kuat daripada pelukanku pada ibu dahulu yang membuatnya terpaksa menarik tanganku karena kesulitan bernafas.

Langit sudah mulai gelap. Tapi sisa cahaya senja masih cukup untuk menuntunku pada pusara ibu yang berada persis di sebelah pusara bapak.

Aku berdiri di samping pusaranya. Anggrek biru yang kukirim dulu ternyata tumbuh dengan mekar di atas makam ibu. Mungkin Atik yang menanamnya. Sebisa dan sekuat mungkin aku mencoba tak sentimental. Kubiarkan dadaku berdetak dengan wajar. Tak ada isak. 15 menit kemudian aku beranjak pulang. Hari makin gelap.

Aku tengadahkan kepalaku, melihat langit. Dan seperti lebaran-lebaran sebelumnya, tak ada dan tak akan pernah ada bulan di langit pada malam lebaran. Tak mengapa, karena malam lebaran ini, aku sudah merasakah kehadiran bulan. Tapi tidak di atas kuburan. Bulan itu ada di dalam kuburan.

Malam ini, aku merasa dadaku begitu lapang.

Selengkapnya......

Sabtu, Oktober 06, 2007

Pledoi Si Malin Kundang

Tak enak menjadi Malin Kundang. Bukan hanya karena telanjur dikutuk menjadi batu, tetapi juga karena ia selalu disalahpahami atau bahkan tak pernah dicoba untuk dipahami.

Malin Kundang telah menjadi rujukan imajinatif tentang anak durhaka, manusia yang mursal, pendosa kelas wahid, anak celaka yang tak tahu berterimakasih. Seperti tak tersisa sedikit pun ruang permaafan, tak ada secuilpun kehendak untuk mencoba memahaminya, berikhtiar mengerti dunia batinnya, atau mencoba mengetahui dilema dan pilihan-pilihan dilematis yang ditanggungnya. Malin Kundang dibiarkan sendirian di pantai, menahan gigil yang tak tertahankan, menanggung sangsai yang tak terpetakan, memanggul kesunyian yang tak terperikan.

Seorang penyair yang saya kenal dengan baik menuliskan sebuah pledoi untuknya. Dan atas ijinnya, saya berniat memajangnya utuh di blog ini.

Seumur-umur “memelihara” blog ini, saya tak pernah memajang tulisan orang lain. Jika kali ini saya melakukannya, tulisan itu pastilah lebih dari sekadar bagus, tapi juga memiliki hubungan yang intim dengan suasana dan momen kehidupan yang sedang berlangsung sekarang, setidaknya bagi saya sendiri.

Coba simak salah satu pasase dalam sajaknya ini:

celaka? siapa yang celaka sesungguhnya?
dulu aku tak minta dilahirkan. dengan melupakanmu
aku berharap masa lalu segera padam. tapi kau tak kunjung hilang ibu.
maka, izinkan aku mencintaimu dengan kesombongan ini
agar semua terlunaskan
agar dendam terbayarkan

Penyair yang masih amat muda ini, mengajak saya –dan pada gilirannya saya mengajak Anda semua—untuk mencoba memahami Malin Kundang, mencoba mengerti dunia batinnya, mencoba mengetahui getar pikirannya.

Puisi ini saya pajang khusus buat siapa pun yang tak bisa mudik, yang tak mampu mudik, dan terutama yang tak ingin mudik. Sungkem di haribaan ibu memang laku yang menggetarkan. Tapi, memilih secara sadar untuk tidak sungkem pada ibu, pastilah jauh lebih menggetarkan, karena pilihan itu dibayangi oleh sekian rasa takut. Apalagi jika bukan rasa takut dikutuk menjadi seperti Malin Kundang, Si Anak Mursal?

Sila dibaca dan direnungkan!

Puisi Indrian Koto
Pledoi Malin Kundang

i
karena jarak mengajarkan rindu
maka, izinkan aku mengangkat sauh, ibu
sejak dulu, aku ingin karam di laut yang jauh
agar aku tak melulu diserbu sesal yang gaduh
sebagaimana kau tahu,
tanah ini menyimpan kesakitan masa lalu
bagi lelaki seperti aku

maka, aku mencipta masa depan dalam ingatan
menghijaukannya diam-diam

aku celaka ibu, kutuk saja menjadi batu
agar lunas utang sangsaiku
agar padam segala keluh
agar sejarah tak perlu mencatatku
mengekalnya di balik cadas

“duh, yang bernama keberangkatan
betapa ranum di matamu. hingga kau hapus
segala yang sisa.” sedumu di sebuah subuh.

tidak ibu, segala tempat, segala waktu
dan untuk seluruh peristiwa setelahnya, hidup
adalah belajar melupakan dan selalu ditinggalkan
lalu aku, untuk sebuah keberangkatan
kurasa bukan lagi sejarah baru.

laut itu ibu, laut itu selalu memanggilku
aku seperti mencium tanah lain di kedalamannya
jika kelak mati –di tanah mana pun – aku ingin
berkubur di karang saja
sebab laut selalu jujur, di pantai mana pun kau berdiri
akan kau rasa warna yang sama. juga camar itu.

menangislah, dan sesalilah segala bernama masa lalu
karena pagi ini aku akan menulis sejarah baru
dan kelak, semoga tangismu mengembalikan aku
pada halamanmu dan api tungku

oh, laut mengapa mengambil segala yang sisa
dan menghanyutkan ke tempat jauh?
dan aku, si celaka ini diam-diam telah membenamkan
segala riwayat bersama sauh. laut mengajarkanku
untuk membakar segala biru. dan kapal ini
segala yang bernama pelayaran adalah jalan lain
membakar ingatan.

ii
kupasrahkan hidup pada yang baru
merawatnya sebagai kelahiran lain
sebab hidup meringsek maju dan aku, lelaki yang dibalur
dendam mengeja, ibu, pada setiap sudut jalan.

ini tanah lain yang kamu percaya sebagai rumah lain
padanya aku temukan wajah bapak yang lupa kau ceritakan
–duh, mengapa aku juga tak pernah mempertanyakan?
betapa sumbingnya kisah yang kau gariskan di tubuhku.

di pantai yang lain kutanam riwayat baru di pasir yang sama pucatnya
kukirim kenangan yang bersisa kepadamu
-semoga laut akan sampai padamu dan membisikkan diam-diam
lewat sepotong malam yang kau rawat di kolong ranjang.
kuproklamirkan kesendirian ini tanpa bendera
dan tanda cinta. Dengan sisa jahitan luka
cukuplah kupetakan nasib sendiri
padanya segala masa depan kukaitkan tanpa sisa.

iii
bukankah sudah sejak lama kau kehilangan?
aku tak menumbuhkan apa yang sempat padam ibu
jika itu membuatmu nyeri, membuatmu perih
hapuslah aku dan sudahi saja si celaka ini
sebab darimu segalanya dan engkaulah yang kelak mengambilnya

“aku tak menemukan lagi anakku,
siapa yang telah menguburnya di pulau lain? ia yang sempat
memeras habis susuku menyudahi kisah tentang kami.
celaka, celakalah ia yang durhaka.”

siapa sebenarnya yang durhaka? tak kau ajarkan aku
tentang dosa dan rindu
selain patahan ranting, deru ombak, merawat dendam
“jangan tersedu, sebab lelaki dilahirkan bukan untuk itu
sebab bapakmu, dulu sambil tersedu menumpangkanmu di rahimku
tapi begitu saja ia berlalu.” katamu dulu
lalu aku belajar kejam pada yang bernama kehilangan dan masa lalu

celaka? siapa yang celaka sesungguhnya?
dulu aku tak minta dilahirkan. dengan melupakanmu
aku berharap masa lalu segera padam. tapi kau tak kunjung hilang ibu.
maka, izinkan aku mencintaimu dengan kesombongan ini
agar semua terlunaskan
agar dendam terbayarkan

“pada jejakmu yang membatu, pohonpohon tumbuh serupa lelatu
dan ibu, tak pernah sangsi anakku, atas segala nasib buruk.
jika kesenangan mengembalikan dirimu pada yang paling jahiliah
sungguh, ibu tak rela.”

tidak ada yang pulang sebenarnya, ibu
tubuhku, kapal baru yang dimuati segala baru
dengan tanah lain yang melulu biru

“bukankah ibu, tak pernah mengambil
apa pun setelah semua dilahirkan?
ia yang sungai, mengembalikan semua ke laut jua.
lalu aku, si anak hilang, kau kalungkan sumpah dan petaka.”

“setiap kehilangan adalah satu kepulangan lain
dan kau tak pernah pergi sesungguhnya.”

“keberangkatan, adalah kehilangan.
juga aku.”

“sungguh celaka.”

celakalah, enyahkan aku dari hidupmu
dari hasrat dan rasa malu

“kukembalikan kau pada segala asal
pada segala kepulangan.”

inilah aku si celaka itu
yang kekal oleh hasrat dan rasa malu.

Yogyakarta, 2007


Catatan:
Puisi ini adalah tafsir atas legenda Malin Kundang dari Sumatera Barat


Tentang Penyair
Indrian Koto, lahir 19 Februari 1983, di Teratak, sebuah desa kecil di pesisir selatan Sumatera Barat. Saat ini masih tercatat sebagai mahasiswa Fakultas Ilmu Sosial dan Humaniora UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta. Kini bergiat di Rumah Lebah dan Rumah Poetika. Karya-karyanya, baik yang berupa puisi maupun cerpen, tersebar di beberapa media massa, seperti Suara Karya, Kompas, Koran Tempo, Suara Pembaruan, Kedaulatan Rakyat, serta beberapa antologi bersama.

Selengkapnya......

Rabu, Oktober 03, 2007

Malam Lebaran

Bulan tak pernah akrab dengan malam lebaran, bahkan kendati seorang penyair pernah menulis puisi yang misterius tentang hubungan rahasia antara malam lebaran, bulan dan kuburan.

Malam Lebaran

Bulan di atas kuburan

Sajak yang muncul pertama kali di majalah Zenith pada Juni 1953 itu begitu pendek. Bukan yang terpendek, memang. Sutardji pernah menulis dua sajak yang lebih pendek. Yang pertama sajak Luka yang isinya hanya: “ha ha”. Yang kedua sajak Kalian yang isinya hanya: “Pun”. Hamid Jabbar pernah pula menulis sajak berjudul Doa Terakhir Seorang Musafir yang isinya hanya: “Amin”.

Tapi, di antara ketiga sajak itu, saya lebih menyukai sajak Malam Lebaran kepunyaan Sitor Situmorang. Saya punya kumpulan sajak lengkap Sitor dalam dua bahasa, Indonesia dan Prancis, yang dijuduli Paris La Nuits. Ada beberapa sajak Sitor yang bagus di situ, seperti Gadis Itali dan Bunga Di Atas Batu.

Tapi, entah kenapa, sajak Malam Lebaran lebih sering mampir di kepalaku. Ini tak ada urusannya dengan betapa besarnya perhatian kritikus terhadap sajak ini, sampai-sampai Pamusuk Eneste, Soebagio Sastrowardoyo, Umar Junus, dll., pernah membincangkan sajak ini.

Yang saya tahu, saya menyukai sajak itu, salah satunya karena aku pernah bertanya soal ini pada ibu.

Pada satu malam lebaran, mungkin sewaktu aku masih duduk di bangku kelas 3 SD, di tengah ritmisnya suara bedug dan syahdunya gema takbir, aku mendekati ibu yang sedang duduk di dekat tungku. Tangan ibu begitu cekatan mengisi ketupat yang masih kosong dengan butir-butir beras.

“Bu, kenapa kalau lebaran gak ada bulan ya?”

Ibu sibuk memberi penjelasan. Ibu tidak menjelaskan bagaimana dan di mana posisi bulan dan bumi di malam lebaran. Mungkin karena ia menganggap itu terlalu rumit buatku. Ibu, seingatku, menjelaskan bahwa bulan selalu muncul penuh di pertengahan “bulan”. Tapi, di awal dan akhir “bulan”, bulan tak akan pernah kelihatan. Bukannya bulan menghilang, kata ibu. Kelak, kata ibu lagi, kalau kamu sudah besar, kamu bisa melihat bulan di malam lebaran dengan teropong.

Aku tidak pernah melihat bulan di malam lebaran, baik dengan mata telanjang maupun teropong. Tapi, bertahun-tahun kemudian, aku tahu bahwa pada malam lebaran, pada 1 Syawal, bulan memang berada pada titik terjauh dari bumi. Karena itulah bulan terlalu samar untuk ditangkap mata. Dan karena itu pula, orang-orang berpolemik tentang kapan awal puasa dan kapan pula hari lebaran. Ada yang mencari tahu dengan metode ruk’yah (mencari tahu langsung dengan mata melalui bantuan teropong) atau dengan metode hisab (menggunakan kalkulasi astronomik).

Jika pun ada yang melihat bulan dengan mata telanjang, biasanya itu terjadi di sore yang masih dini, itu pun tak lama. Sewaktu malam makin penuh, seperti tengah malam dalam pengalaman Sitor, bulan hampir mustahil bisa ditemukan mata telanjang.

Karena itulah, saya yakin, malam itu Sitor tak pernah melihat bulan. Lantas, apa yang dilihat Sitor di malam lebaran ketika itu sewaktu ia sedang melintasi kuburan? Entahlah.

Jika dibacakan, sajak itu akan terasa ritmis. Huruf “n” di akhir judul dan di akhir sajak membuat sajak Sitor ini enak dibaca. Kendati ritmis dan enak di baca, huruf “n” membuat suasana ritmis itu terasa sedikit berat, mungkin karena bawaan huruf konsonan. Lain soal jika setiap larik dalam sebuah sajak berakhiran dengan huruf vokal. Suasana ringan atau mungkin riang, dalam cita rasa saya, kemungkinan akan lebih mendominasi.

Sitor, sepertinya, memang mencoba menghadirkan suasana muram dan berat. Tak hanya itu, saya juga merasakan aroma kesunyian. Tapi kesunyian di situ bukan sunyi yang terang, sunyi yang khidmat seperti yang mungkin dirasakan para hamba Tuhan yang sedang bertakzim dan berkhalwat di dekat mihrab. Sunyi di situ adalah sunyi yang sedih. Sunyi yang durja. Saya tak menangkap ada kegembiraan di sana.

Saya juga menangkap ada “kehadiran” yang justru “tak hadir”: bulan.

Seperti kata ibu saya, bulan tak menghilang karena memang bulan tak akan pernah hilang. Ia berada di tempatnya pada satu titik yang terlalu jauh untuk ditangkap oleh mata telanjang. Bulan ada di sajak itu, tapi saya jutru merasakan ketidakhadiran bulan di situ.

Bulan di sajak Sitor seperti menandai ada mimpi dan keinginan yang tak tergapai, tapi mimpi dan keinginan yang tak tergapai itu justru terus membayangi dari jauhan. Kita tak tahu apa itu. Dan kita mungkin tak perlu menghabiskan tenaga untuk memikirkan apa obsesi, mimpi dan keinginan Sitor yang tak kabul malam lebaran itu.

Bagi saya sendiri, sajak Sitor ini seperti sebuah cercah kesadaran untuk menahan diri untuk tidak terlalu bergembira di malam lebaran. Ini bukan soal puasa kita bolong-bolong atau tidak, karena lebaran sudah jamak menjadi momen bergembira bagi siapa saja, bagi yang puasa atau tidak, bagi yang muslim atau bukan.

Ini adalah soal tentang bagaimana saya mencoba memahami betapa lebaran selalu tak dinikmati dengan penuh kegembiraan oleh orang-orang lain. Oleh mereka yang bersedih karena kehilangan. Oleh mereka yang bersedih karena tak berkumpul dengan keluarganya. Oleh mereka yang tak bisa menikmati pakaian yang baik. Oleh mereka yang tak bisa mencicipi opor yang lezat. Oleh mereka yang tinggal di barak pengungsian. Oleh mereka yang….

Ah, terlalu banyak untuk disebutkan. Terlalu penuh untuk dideretkan.

Itulah sebabnya, sejauh yang saya tahu, sebaik-baiknya zakat adalah yang diberikan antara bedug maghrib dan sesaat menjelang shalat Ied. Kenapa? Karena pada saat-saat seperti itulah, pada malam lebaran itulah, kesedihan bagi yang bersedih terasa sungguh berlarat-larat.

Di titimangsa itu, zakat bukan lagi sekadar urusan beras 2,5 kilo atau duit 2,5 ribu atau juta atau milyar. Zakat di situ menjadi tetabuhan bedug yang mengingatkan siapa pun ihwal betapa banyaknya orang yang tak sangup bergembira dengan penuh di malam lebaran. Zakat memaksa kita ingat untuk tak gembira sehabis-habisnya karena nun entah di mana masih sangatlah banyak orang yang tak bisa berpesta.

Jika puasa adalah zakatnya rohani, maka sepertinya zakat adalah puasanya materi.

Seharusnya, bulan muncul di malam lebaran, seperti juga seharusnya kegembiraan menjadi milik semua orang di malam lebaran. Biar langit lebih benderang, supaya hati semua orang lebih lapang. Tapi tidak begitu kenyataannya, bukan?

Mungkin orang-orang yang tak sepenuhnya gembira itu bukan kerabat kita, bukan kekasih kita, bukan sahabat kita, bukan orang yang kenal kita. Tapi, sebaik-baiknya menghayati lebaran, bagi saya, adalah dengan membiarkan wajah-wajah sedih yang tak sepenuhnya kita kenal itu membayangi kita, memenuhi salah satu sudut hati kita, mengaliri salah satu urat nadi kita.

Ya, seperti bulan yang tak tampak di mata Sitor, tapi sebenarnya membayangi Sitor, nun di jauhan sana. Entah di mana.

Jangan-jangan, saya berpikir dalam hati, sebaik-baiknya orang yang berlebaran adalah justru tidak dengan bergembira terlalu ria.


Selengkapnya......

Rabu, September 26, 2007

Tidak Setiap....

Jika air dipanaskan, ia memuai. Jika air didinginkan, ia menjadi es. Tetapi, tidak setiap dusta jadi dosa. Dan, tidak setiap tangis jadi derita. Ada sekian banyak keniscayaan. Tapi, tidak kalah banyak pula ketidakpastian.

Sajak Sutardji pernah menjadi kawan yang khidmat menemani saya memahami ini.

Hidup adalah serentetan gelombang kejut yang kadang kala tak sepenuhnya bisa kita mengerti tapi pasti tak bisa kita elakkan. Kita tak akan mampu memprediksi secara presisi apa yang akan terjadi esok hari.

Jika hidup seumpama buku, kita hanya tahu persis isi halaman yang sudah kita baca dan tak akan pernah mampu menebak secara presisi halaman berikutnya sampai kita sendiri usai membacanya.

Sewaktu Sydney Sheldon hampir saja menenggak berbelas-belas pil tidur untuk mengakhiri hidupnya, jauh sebelum ia menjadi penulis best-seller, ayahnya datang memergokinya dan mengajak ia berjalan-jalan. Di sebuah tikungan, ayah Sydney Sheldon yang seorang salesman itu berujar dengan ringkas:

“Kalau kau benar-benar ingin bunuh diri, Sydney, aku mengerti. Tapi aku tidak suka melihatmu terburu-buru menutup bukumu dan melewatkan kesenangan yang mungkin terjadi padamu di halaman selanjutnya –halaman yang akan kau tulis.”

Dan begitulah. Sydney Sheldon memutuskan menunda rencana bunuh diri yang sudah ia persiapkan dengan matang. Kita tahu Sydney Sheldon kemudian banyak melahirkan novel-novel yang menjadi best-seller. Tapi hari itu, Sydney pastilah tak tahu –mungkin tak yakin—bahwa nasibnya akan segemilang ini.

Karena tidak setiap derita panjang hari ini sudah pasti jadi derita pula di esok hari, setidaknya seperti kata Sutardji:

JADI

tidak setiap derita
jadi luka
tidak setiap sepi
jadi duri
tidak setiap tanda
jadi makna
tidak setiap tanya
jadi ragu
tidak setiap jawab
jadi sebab
tidak setiap seru
jadi mau
tidak setiap tangan
jadi pegang
tidak setiap luka
jadi kaca
memandang Kau
pada wajahku!



Tidak perlu kita berpikir njlimet dengan merujuk dekonstruksi Derrida yang memajang papan pengumuman sedang berambisi membongkar oposisi-biner dalam semua teks filsafat Barat untuk memahami ini.

Cukuplah saya katakan: sajak itu, sehemat saya, amat pantas menjadi kawan tiap kali kita sedang dilamun pesimise yang paling menggidikkan atau sewaktu sedang dibuai optimisme yang paling memabukkan.

Pesimisme dan optimisme sejajar dalam satu hal: keduanya berangkat dari satu perhitungan bahwa ada hal-ihwal yang sudah bisa kita ramal/prediksi akan sungguh terjadi. Bedanya, pesimisme melihat ramalan/prediksi itu dengan cara yang muram dan durja, sementara optimisme menempatkan ramalan/prediksi itu dalam suasana yang terang dan penuh keyakinan.

Karena tidak setiap derita menjadi luka dan karena tidak setiap sepi jadi duri, mengapa kita mesti pesimis? Karena tidak setiap jawab jadi sebab dan tidak setiap kabar jadi tahu, kenapa kita harus optimis?

Sekali lagi, jika hidup seumpama buku, hari ini adalah halaman yang sedang kita baca, hari kemarin adalah halaman yang sudah terlewat dan hari esok adalah halaman berikutnya yang belum kita baca.

Tapi, jika perumpamaan hidup sebagai buku itu bisa diterima, saya lebih percaya buku yang jadi perumpamaan itu semestinya adalah buku puisi, dan bukan prosa.

Puisi menjadi hidup karena ambivalensi maknanya dapat ditarik ke titik yang yang satu atau ke titik yang lain, dari ujung yang satu hingga ujung yang lainnya lagi. Dari satu sajak yang sama, tiap orang dalam keadaan yang amat berbeda dan bahkan bertentangan, dapat memeroleh makna yang cocok dan relevan untuk situasi masing-masing. Denotasi bahasa prosa yang (relatif) tunggal-makna, ditranformasi menjadi konotasi bahasa yang poli-makna.

Sebuah puisi hanya bisa dimengeri dengan memadai jika kita sudah usai membaca keseluruhannya, itu pun kadang kurang cukup, karena masih dibutuhkan pembacaan berulang-ulang, dengan tingkat resepsi yang terkadang pula mesti kian ditinggikan.

Kita urai dan cecap makna dari satu larik ke larik berikutnya, dari satu bait ke bait berikutnya. Kita tak akan pernah tahu kejutan apa yang akan diberikan pada larik atau bait berikutnya. Dan, terkadang, begitu kita tiba di ujung sebuah puisi, bangunan pengertian dan makna yang sudah kita anyam pelan-pelan dari hasil pembacaan sedari kata pertama bisa jadi harus dicairkan kembali, dirombak lagi untuk kemudian kita bangun susunan pengertian baru yang bisa jadi jauh beda dengan sebelumnya.

Karena tidak setiap seru jadi mau dan tidak setiap tanda jadi makna, kenapa tidak kita jalani saja hidup ini? Mengapa tidak kita hadapi suspense atau kejutan yang akan diberikan hidup esok hari?

Menggetarkan tentu saja menunggu sesuatu dengan penuh cemas, menanti sesuatu yang tak sepenuhnya mampu kita kira-kira apa itu bentuknya. Tapi kita memang tak bisa berharap terlalu banyak pada misterium hari depan, selain menikmati saja setiap debar di setiap penantiannya.

Karena kita memang hanya bersandar pada angin, kata sebuah sajak yang lain.

Selengkapnya......

Kamis, September 13, 2007

Menjadi Pejalan Jauh Lagi (7)

: Martapura... Martapura....

Senin, 3 September 2007 (14.30-18.00)

Hujan telah benar-benar reda. Aku memberi isyarat pada ojek yang ku sewa untuk bersiap berangkat. (Aku naik ojek. Lagi banyak duit kah? Siang tadi, Kompas menghubungiku dan memberitahu esai panjangku muncul sendirian di halaman 14 hari Sabtu kemarin. Ku pikir, sesekali menyenangkan hati tak apalah. Sudah bisa dikira-kira pundi rekeningku bertambah lumayan. Hehehe….)

Martapura masih sekitar 22 pal lagi.

Aku masih sempat melihat kayu rapuh yang menopang rumah kayu di sebelah kanan mesjid. Adakah Martapura, kota yang tua itu, juga sudah mengelupas seperti kayu tadi?

Beberapa tempo lagi, aku bisa mencari jawabannya, langsung di jantung kota Martapura.

****

Martapura menyambutku dengan suara orang mengaji yang disuarkan dari mesjid.

Saya tidak tahu persis itu rekaman kaset ataukah suara langsung orang yang mengaji. Jika boleh saya mengira, sepertinya itu suara yang disuarkan langsung dari orang yang memang sedang mengaji.

Perkenalanku dengan Martapura, dengan demikian, berlangsung dengan cara yang konservatif.

Martapura, sudah sejak lama, dikenal sebagai kota yang religius. Kota ini menjadi salah satu pusat penyebaran agama Islam di Kalimantan. Hingga saat ini, Martapura masih dipenuhi puluhan pondok pesantren yang menjadi tempat belajar ribuan santri dari pelbagai penjuru Kalimantan.

Jika harus dicari di mana kota yang paling pantas disebut sebagai Serambi Mekkah di Kalimantan, tak ada yang lebih pantas selain Martapura.

Jadi, jika kedatangan saya di Martapura langsung disambut dengan suara orang mengaji, pastilah ini perkenalan yang konservatif, setidaknya koheren dengan imajinasi awal saya tentang Martapura.

Saya langsung menuju pasar Martapura. Pasar ini terletak di seberang jalan kantor bupati Martapura. Di mukanya, berdiri kokoh gerbang yang di atasnya terpacak kalimat: PASAR WADAI TRADISIONAL “MARTAPURA”. Di bagian bawah tulisan itu terlihat logo harian “Banjarmasin Post” dan tabloid “Ummah”.

Saya agak kecewa sebenarnya. Saya berharap, gerbang pasar Martapura itu mengambil bentuk arsitektur khas Martapura. Tapi yang saya lihat hanyalah gerbang yang sepenuhnya terbuat dari dari besi dan seng. Gerbang itu ditopang oleh besi-besi dan tulisan PASAR WADAI TRADISIONAL “MARTAPURA” terpacak di sebilah seng. Tak ada penanda yang bisa menghadirkan Martapura sebagai sebuah kota yang punya umur yang tak pendek.

Di sebelah kiri pasar itu berderet-deret warung makanan. Warung-warung itu didirikan tidak permanen sehingga bisa dibongkar pasang. Atapnya terbuat dari plastik terpal yang umumnya berwarna biru. Antara warung yang satu dengan warung yang lain tidak dipisahkan oleh sekat atau tembok. Warung-warung makanan itu berjejer sedemikian rupa. Sambung menyambung.

Sementara di belakang gerbang pasar, persisnya di belakang bagian kanan, berderet-deret kios-kios permanen. Beberapa saya lihat ada kios handphone yang juga menyediakan voucher pulsa. Beberapa saya jumpai juga kios-kios yang menjual pakaian, kaos dan kain-kain. Tapi 80% kios-kios permanen itu menjual permata. Ya, kios-kios permata.

Kios-kios itu menjual perhiasan-perhiasan dan cenderamata yang matanya terbuat dari permata atau tiruan dari permata, dengan pelbagai kadarnya. Tidak beda dengan kios-kios kerajinan perak di Kota Gede Yogyakarta. Bedanya, di Martapura, kios-kios itu berkumpul di satu tempat, di Pasar Martapura, dan ukuran kios itu satu sama lain hampir sama. Beberapa kios, saya lihat, sanggung menyewa lebih dari satu kios.

Di hadapan kios-kios permata itulah terletak satu ruang yang cukup luas, kira-kira seluas lapangan sepakbola. Inilah barangkali yang disebut alun-alun kota Martapura.

Tapi ruang luas itu tak bisa saya sebut alun-alun. Selain itu bias Jawa, ruang lapang di sekitar Pasar Martapura tak berbentuk ruang yang benar-benar bebas dari benda-benda laiknya lapangan alun-alun di Jawa. Ruang itu dipenuhi oleh tiang-tiang besar terbuat dari beton yang sepertinya dibuat sebagai landmark Martapura. Dan memang seperti itulah kelihatannya.

Saya perhatikan ada 13 tiang besar. Di tengah-tengah ada tiang beton yang terbesar. Di kanan dan kiri tiang yang terbesar itu berderet 12 tiang lain. 12 tiang itu terdiri dari dua ukuran yang berbeda. Tiang berukuran sedang ada di deret paling luar, baik itu di kanan maupun di kiri. Di antara tiang yang sedang dan tiang terbesar, terdapat tiang-tiang paling kecil.

Tiang-tiang itu, bisa jadi, memang mencerminkan upaya merumuskan identitas Martapura. Lihat saja, di setiap tiang itu, terpacak kaligrafi yang dibuat dengan menggunakan teknik cetak beton. Saya mencoba membaca kaligrafi di tiang-tiang tersebut. Sebagian bisa saya baca. Sebagian terbesar tak mampu saya baca. Kendati membaca al-Quran saya masih mampu, tetapi membaca kaligrafi jauh lebih sulit. Mata pelajaran khot yang saya terima dulu di Madrasah Ibtidaiyah beterbangan entah ke mana.

Saya sangat menyukai landmark Martapura ini. Komposisinya pas. Menyaksikan tiang-tiang itu dari jarak dekat dan memandanginya selekat yang saya bisa membuatku merasa seperti sedang berada di satu tempat yang jauh. Ya, jauh dari tanah asal. Tanah Jawa seperti terentang dalam jarak emosi yang tak terjangkau. Saya tak pernah meihat landmark seperti ini di Jawa. Tidak juga di Kudus atau Jombang, misalnya.

Tetapi, seperti juga gerbang pasar, tiang-tiang itu bukankah landmark yang sudah berusia lanjut. Tiang-tiang itu sepenuhnya baru. Masih mengkilap. Saya perhatikan satu-satu tiang-tiang itu. Tak ada cat yang mengelupas.

Ah, saya tak melihat sesuatu yang tua dari Martapura. Kota ini seperti tak memiliki “sejarah”. Setidaknya, seperti itulah kesan pertama yang saya lihat di jam-jam pertama kedatanganku di Martapura.

Besok, saya berjanji, untuk lebih memerhatikan manusia-manusia yang berhayat di Martapura.

Selengkapnya......

Sabtu, September 08, 2007

Menjadi Pejalan Jauh Lagi (6)

: Filsafat di Pal 19

Senin, 3 September 2007 (14.00-14.45 WITA)

Perjalananku menuju Martapura terhenti di pal 19. Kira-kira di daerah kecamatan Gambut. Ini sudah di luar Banjarmasin dan termasuk ke dalam wilayah kabupaten Banjar Baru.

Hujan deras. Sangat deras. Di kejauhan, aku melihat ada minibus yang terperosok ke ladang di tepi jalan.

Aku berteduh di sebuah mesjid yang tak terlampau besar. Di sebelah kanan, ada tempat berteduh yang sudah dipenuhi para pengojek. Tempat itu, sepertinya, memang pangkalan ojek.

Di sebelah kiri mesjid, dalam rentang jarak 15 meter, berdiri sebuah rumah yang terbuat dari kayu. Lantai rumah itu tak menempel di tanah melainkan ditopang oleh kayu-kayu besar yang sudah mulai rapuh. Di setiap sisinya, ada sekira 5 kayu besar yang ditanam. Kayu yang berada di tengah tampak sudah mulai goyah. Dari kejauhan, aku melihat kulitnya sudah mulai mengelupas. Ya, kayu itu memang tak dikupas kulitnya. Di depan rumah kayu itu, ada ruang kecil, juga terbuat dari kayu, yang digunakan sebagai kios berjualan voucher pulsa.

Aku melihat jalanan yang basah. Hujan begitu rapat. Hujan itu pula yang mengirimiku berbonggol-bonggol udara dingin yang membuatku makin undur ke belakang, selangkah demi selangkah, dan berhenti setelah punggungku membentur tembok mesjid. Aku silangkan kedua tanganku di dadaku.

Aku menoleh ke kanan. Dan, aha…. Hujan juga mengirimiku seorang perempuan cantik. Hujan pula yang sepertinya memerintahkan perempuan itu mengirimiku sepucuk senyum.

Kalau sudah begini, seperti biasa, aku nyalakan batang A-Mild ku yang pertama.

Dan percakapan itu pun dimulai. Namanya Iza, setidaknya begitulah ia mengaku. Seperti biasa juga, aku tak pernah menyebutkan nama asliku. Kali ini kupakai nama: Basiyo (karena waktu itu yang aku ingat hanya nama pelawak di Jogja).

“Saya kuliah, bang. Di Universitas Lambung Mangkurat.” (butuh 35 menit lagi dari tempat kami berteduh untuk tiba di kampus Lambung Mangkurat). “Mau kemana?”

“Ke Martapura!”

“Ada saudara di sana?”

“Nggak. Cuma main aja.”

“Dari mana memang?”

“Bandung.” (Maaf, Bandung, kau kupakai! Hehehe….)

Iza berkisah tentang kuliahnya di fakultas hukum, tentang kesulitannya mencari buku-buku kuliah, tentang dosen-dosen yang membosankan dan dua pembimbing skripsi yang kerap berseberangan. Dia mengeluhkan studinya seakan-akan tak ada yang menyenangkan dari studinya (Andai dia tahu urusan brengsekku dengan kuliah….)

“Abang dulu kuliah di mana?” (Hahahaha…. Aku tergelak dalam hati!)

“Filsafat!” Aku menjawab sekenanya. Pada seorang guru yang kutemui di warung makan di Pal 6 setengah jam lalu, aku mengaku sebagai bekas (bukan alumni, lho!) mahasiswa akuntansi.

Respons Iza sungguh mengejutkan: “Wah, kalau begitu bisa meramal, dong? Bisa menebak karakter orang, dong?”

Kali ini aku tidak tergelak. Bukan karena tidak lucu. Sungguh, respons Iza begitu lucu sebenarnya. Tapi kelucuan itu kalah oleh rasa heranku yang tak kepalang. Aku tatap matanya lekat-lekat dengan kening berkerut.

“Ada apa, bang?”

“Gak. Gak kenapa-napa.” Aku menjawab sambil nyengir kuda.
Selera bercakap-cakapku langsung memuai ke udara.

Sewaktu Iza pamit hendak pergi duluan menyusul hujan yang reda, aku masih berpikir keras: Siapa sih filsuf yang jago meramal? Oh ya, dalam sejumlah segi, Karl Marx atau Toynbee hingga Croce juga “peramal” masa depan.

Iza, akhirnya, tak senaif yang kukira. Entah dia sadar itu atau tidak.

Selengkapnya......