: Van Der Wijk di Banjarmasin
Senin, 3 September 2007 (12.15-13.30 WITA)
Aku menemukan kembali Tenggelamnya Kapal van Der Wijk di Banjarmasin. Serta merta aku ingat kembali masa kanakku.
Di jalan Niaga, ada tiga buah toko buku. Jangan bayangkan toko buku itu macam Social Agency, kios-kios di Shopping Center, kios-kios di Palasari Bandung yang kini terbakar, kios-kios di Pasar Johar Semarang atau seperti lapak-lapak di Kwitang dan Bulungan Jakarta atau toko buku di jalan Semarang, Surabaya. Apalagi dengan toko bukunya Jose Rizal di TIM atau kios Pak Ucup di Jogja.
Salah satu di antaranya berukuran sekira 3 X 5 meter. Di sana banyak sekali buku-buku pelajaran sekolah. Di kanan kiri tembok kayu ada kotak-kotak tempat bertumpuk-tumpuk poster berjejalan. Aku perhatikan, banyak sekali poster-poster itu bergambar para ulama besar di Banjar, banyak juga poster para pemain bola luar negeri, dan sama banyaknya juga dengan poster-poster berisi pelajaran matematika hingga biologi.
Di kanan kiri di lantai, bertebaran buku-buku pelajaran. Di lajur tengah, ada papan tempat menaruh buku-buku dari jenis stensilan. Freddy S, Wiro Sableng, Abdullah Harahap, Pendekar Rajawali Sakti, dan novel-novel stensilan lainnya.
Aku melangkah ke bagian dalam. Di dekat meja kasir yang sepi, ada tiang kayu yang tak terlalu besar. Di sebelah kiri tiang itu ada beberapa tumpuk buku tua yang tak berapa banyak. Aku bergerak ke arah sana. Aku mencium “ada yang tak beres” di tumpukan itu. Aku angkat tumpukan itu. (Inilah sentuhan pertamaku pada buku yang kutemukan di Kalimantan).
Tak kuingat ada buku apa saja di sana. Yang kuingat hanya: “Mudik” (antologi cerpen lebaran yang diterbitkan Bentang –aku sudah punya), beberapa novel “Sherlock Holmes” (aku sedang tak membutuhkannya), “Namaku Hiroko” (novel NH Dini –aku sudah punya bersama novel Dini lainnya “Pada Sebuah Kapal”), “Cerita Rakyat Ajisaka” (entah versi yang mana -- aku punya salah satu versinya yang bergambar), dll.
Di tumpukan itu pula aku menemukan…. Tenggelamnya Kapal van Der Wijk yang dikarang ulama cum sastrawan yang pernah menjadi ketua MUI, Haji Abdul Karim Malik Amrullah alias HAMKA.
Tenggelamnya Kapal van Der Wijk itu kondisinya sudah cukup mengenaskan. Sampulnya sudah rontok dan entah tertinggal di mana. Aku cari-cari, siapa tahu terselip, tetap saja tak kutemukan. Di tepi bawahnya sudah sedikit grepes oleh rayap. Kertasnya lembab dan dingin.
Betapa kesepiannya engkau, hai… Zaenuddin!
Seketika aku ingat ibuku. Roman inilah yang dipakai ibuku untuk mengajariku membaca. Aku diajari mengeja oleh ibu lewat roman itu. Tentu saja sebelumnya aku sudah diperkenalkan lebih dulu dengan huruf-huruf oleh ibu. Jadi roman HAMKA itu hanya dipakai untuk mengajariku mengeja. Aku ingat, roman itu hanya dipakai beberapa halaman saja. Untuk mengeja sehalaman saja butuh waktu berhari-hari.
Ibu seorang pembaca roman yang tangguh. Roman-roman lama, terutama dari zaman Balai Pustaka, macam Layar Terkembang, Siti Nurbaya, Tak Putus Dirundung Malang, Salah Asuhan hingga novel maha tebal (tapi buruk) Grotta Azzura-nya Takdir Alisjahbana (yang kelak saya habiskan semasa di SMP) dengan mudah kutemukan di rumahku yang separuh tembok dan separuhnya dari anyaman bambu itu.
Ibu adalah guru membaca yang hebat. Sebagai guru membaca, ibu selalu berhasil memikatku untuk terus membaca dan membaca lagi.
Aku ingat, di kelas 4 SD, ibu mengajakku berlomba membaca. Lomba itu selalu digelar mulai selepas shalat berjama’ah Isya. Karena namanya lomba, pasti ada hadiahnya. Ibu tahu aku sangat doyan pisang goreng. Dan itulah hadiahnya. Peraturannya begini: siapa yang tidur lebih dulu, dia dinyatakan kalah. Jika ibu tidur lebih dulu, esoknya, sepulang mengajar dari sekolah, ibu mesti membawakanku 10 potong pisang goreng berikut bubuk-bubuk gorengan terigunya. Jika aku yang kalah, aku mesti menyapu halaman rumah plus menyiram bunga.
Ibu sering sekali kalah. Aku juga kadang menyerah, tapi seingatku ibu jauh lebih sering kalah. Itulah sebabnya aku kecanduan lomba membaca. Karena aku sering menang.
Aku selalu menagih perlombaan itu. Tentu saja tidak selalu tiap hari lomba membaca itu digelar. Tapi, setidakanya, tiga kali seminggu lomba itu pasti digelar.
Kelak, setelah aku kelas 6 SD atau kalau tidak sewaktu aku sudah menginjak SMP kelas 1, aku baru sadar, bahwa ibu sering mengalah. Ya, ibu sering pura-pura tidur duluan.
Kata Ibu: “Biar kamu terus nantang lomba baca.”
Ibu tak pernah kehabisan bahan bacaan. Dia sering membawakanku buku-buku cerita dari sekolah yang diterbitkan Dinas P & K: buku-buku yang dipojok kanan atasnya selalu ada tulisan yang dipagari kotak bertuliskan keterangan bahwa buku tersebut tidak bisa diperjualbelikan.
Selain itu, ibu sering menyuruh adik bungsunya yang sekolah di Jogja untuk membelikanku majalah Bobo bekas yang dibeli kiloan dari Shopping Center. Dua bulan sekali adik bungsu ibu, yatu oomku sendiri, pulang dan membawakanku majalah Bobo bekas bertumpuk-tumpuk.
Tapi bukan Ibu yang pertama kali mengajariku membaca. Bapak-lah orangnya.
Huruf pertama yang dikenalkan bapak adalah huruf “K”, huruf kedua adalah huruf “O”, huruf ketiga adalah huruf “M”, huruf ketiga adalah huruf “A”…..
Ya, bapak berlangganan KOMPAS. Tiap siang, setelah pulang dari sekolah, bapak selalu terlihat membaca koran itu. Satu waktu, ketika aku masih berusia empat tahun, aku bertanya pada bapak sembari menunjuk banner besar di bagian atas halaman pertama KOMPAS.
“Pak, ini huruf apa?”
“Ini huruf “K””?
“Yang ini?”
“Huruf “o”.”
Dan begitu seterusnya.
Bapak memang yang mengenalkanku pertama kali dengan huruf. Ya, huruf. Sejak kecil aku tak suka angka. Itulah sebabnya aku tak mewarisi kecerdasan bapak dalam matematika.
Tapi ibulah yang mengajariku mencintai buku dan membaca. Jika hari ini aku begitu menyukai buku dan bahkan menghidupi diriku sejak semester 3 dan membiayai kuliah adikku dengan menulis, lagi-lagi aku harus berterimakasih pada ibuku.
Ku tukar “Tenggelamnya Kapal van Der Wijk” dengan lima lembar duit seribu. Harganya hanya empat ribu, sebenarnya. Tapi aku tak berniat meminta kembaliannya.
Aku melangkah keluar dan bergerak ke jalan besar dengan kedua tangan membuka-buka halaman roman itu. Hati saya riang bukan main. Di angkutan kota bercat kuning yang akan membawaku ke terminal “Pal 6” (karena terminal itu terletak di Km. 6 jln. A Yani), aku mencoba membuka-buka lagi roman itu.
Aku kemudian ingat ibuku. Ya, ibuku. Tadi pagi, ibu mengirimiku sepucuk sms:
“Zen, msh keneh (artinya: juga) lama di kalmntn? Trs kuliah anu can (artinya: yang belum) beres aman?”
Ya, perkuliahan sudah dimulai. Aku belum lagi membayar SPP, apalagi mengisi KRS. Padahal ini semesterku yang ke-14. Semester terakhirku.
Aku baru ingat: dulu, ibu tak pernah menyuruhku membaca buku pelajaran atau mengerjakan PR.
Sabtu, September 08, 2007
Menjadi Pejalan Jauh Lagi (5)
Diposting oleh zen di 12:06 PM 4 komentar
Selasa, September 04, 2007
Menjadi Pejalan Jauh Lagi (4)
: "Keperkasaan" di Banjarmasin
Minggu, 3 September 2007 (18.00-23.00)
Pernahkah melihat satu jalan dipenuhi oleh deretan lapak-lapak penjual jamu yang semuanya menawarkan “keperkasaan pria”?
Di jalan menuju arah Glodok di Jakarta, di malam hari, kita memang akan menjumpai gerobak-gerobak yang menawarkan “jamu-jamu” keperkasaan pria. Bedanya, di sana “jamu-jamu” itu sudah berbentuk pil-pil modern, macam Viagra (entah asli atau tidak) dan berjenis-jenis kondom.
Banjarmasin berbeda. 200 meter dari Losmen Niaga yang aku singgahi beberapa jam lalu, di sebelah timur gedung BNI 1946, di sebelah utara Pasar Baru, berderet lapak-lapak penjual jamu “keperkasaan pria”. Betul-betul jamu. Diracik di situ dan di minum di gelas.
Saya tiba di sana sekira pukul 18.00.
Saya hitung, ada sekira 18 lapak. Sepertinya jumlah itu lebih sedikit karena pada saat yang sama, dari kejauhan, saya masih melihat ada lapa-lapak yang baru menggelar dagangannya. Tiap-tiap lapak diisi oleh sebuah meja dan beberapa kursi. Di meja itu pula jamu-jamu diletakkan. Kadang ada meja-meja kecil untuk menaruh barang-barang yang lain. Lapak-lapak itu berada di trotoar jalan. Saat siang, di situ berjejer toko-toko yang menjual berbagai macam dagangan, dari barang elektronik hingga pakaian.
Saya duduk di lapak paling ujung barat. Beberapa meter sebelum lampu merah.
Mungkin karena saya membawa ransel yang menggembung dan penuh, penjual itu tahu saya seorang pendatang. Itulah sebabnya dia langsung berbicara dengan bahasa Indonesia tapi masih dengan aksen Banjar yang cepat.
“Jamu, bang?”
Tak langsung kujawab dia. Aku memilih mengamati dagangan-dagangannya. Aku tergelak melihat di salah satu kotak kecil terdapat pil-pil terbungkus yang bertuliskan “viagra”.
“Itu asli, bang?” tanya saya.
Dia tertawa. “Murah kok, cuma 30 ribu.”
Saya tahu itu viagra palsu.
“Mau minum jamu? Ampuh ini. Coba lah.”
“Buat apa? Saya gak bisa ngetes ampuh apa nggak kok. Nggak, ah.”
“Sampeyan dari mana?” tanya dia. (Di Banjarmasin, Banjarbaru, Martapura, Kuala Kapuas, Pulang Pisau bahkan hingga Palangkaraya, “kamu” dalam bahasa setempat adalah “sampeyan”. Sama dengan di Jogja atau Jawa Tengah atau Jawa Timur. Kata “iya” pun di sini sama dengan di Jawa yaitu “Nggih”.).
“Dari Jogja.”
Lelaki berusia sekitar 40-an yang sedang bercakap denganku ini seorang keturunan Tionghoa. Dia bilang sudah 3 tahun dia membuka lapak ini.
Di akhir percakapan, setelah menjajal keampuhan jamu yang kata dia bisa menawarkan pegal-pegal di badan, saya angkat ransel. Sebelum pergi saya bertanya:
“Di sini jualan jamu keperkasaan pria semua. Emangnya para penjual di sini “perkasa” semua ya, bang?
Dia nyengir. Tapi akhirnya ia menjawab juga sambil menunjuk penjual lainnya yang berjarak 15 meter: “Orang di sebelah sana itu sudah kawin 13 tahun tapi belum punya anak juga.”
Aku tergelak. Kali ini benar-benar tergelak!
****
Malam itu saya berputar-putar dengan berjalan kaki di wilayah Pasar Baru, melewati BNI 46, Wisma Kalteng, Robert Dept. Store, Wisma Antasari, dll. Saya lupa detail semua gedung-gedung besar yang kulewati. Satu setengah jam saya berputar-putar.
Banjarmasin malam hari tak sepanas siang. Barangkali karena pengaruh hujan yang mengguyur siang tadi. Jalanan masih becek. Saya harus menggulung jeans hitam yang kukenakan. Jalanan cukup padat. Sama seperti siang.
Banjarmasin adalah kota yang cukup sibuk. Jalanan padat. Panas. Asap. Polusi udara. Untung saja transportasi dalam kota di Banjarmasin tak menyediakan metro mini seperti di Jakarta atau Jogja dan hanya kendaraan satu pintu yang kebanyakan berjenis carry. Jika ada metro mini, saya kira, jalanan akan makin riuh.
Jalan-jalan di Banjarmasin relatif lebar. Kondisi jalan di dalam kota relatif baik. Di ruas-ruas jalan tertentu sedang digelar perbaikan jalan dan pengerukan sungai dan got-got. Jangan heran jika jalanan dipenuhi debu yang melilipi mata.
Di mana-mana berderet toko-toko besar. Saya belum sempat mampir di mall atau swalayan dan yang sejenisnya. Tapi yang saya saksikan, di Banjarmasin, banyak sekali toko-toko besar berlantai dua yang hanya menjual satu jenis saja, seperti khusus elektronik, khusus tekstil, dll. Dealer-dealer kendaraan bertebaran di mana-mana, terutama di ruas jalan A Yani yang menghubungkan Banjarmasin dengan kota-kota lain di sebelah barat, seperti Banjar Baru atau Martapura.
Di mana-mana ojek bertebaran. Jika kita berjalan kaki menyusuri ruas-ruas jalan di Banjarmasin, kita akan sering diteriaki dari kejauhan oleh ojek-ojek itu. Sangat banyak. Di pangkalan, di halte, di kios-kios penjual rokok, dan di mana-mana. Lama-lama saya hampir curiga di mana pun ada orang duduk di atas motor, pastilah itu tukang ojek. Tentu saja itu kecurigaan berlebihan yang lahir akibat rasa jengah karena keseringan diteriaki oleh tukang ojek yang menawarkan diri.
Bagaimana dengan warnet? Tak banyak yang bisa saya temukan dalam perjalanan berputar-putar itu. Seingat saya, hanya ada tiga warnet yang saya lihat. Salah satunya berada di satu ruko besar yang lantai duanya dipenuhi counter-counter toko komputer dan aksesoris-aksesorisnya. Letaknya kira-kira 400 meter di sebelah timur lapak-lapak jamu. Di sanalah saya menghabiskan waktu dari jam 20.00 sampai 21.30.
Tempatnya lumayan lebar. Di sana, tak ada meja dan kursi. Hanya lesehan. Semua monitor sudah menggunakan jenis kapsul. Koneksinya lumayan baik. Semua-mua komputer dilengkapi dengan headset dan cam. Ada 30 komputer aku lihat dengan salah satu komputer tak terpakai karena rusak. Setidaknya begitulah yang saya baca dari kertas yang ditempeli di bagian atas CPU komputer tersebut. Satu jam harganya 5000 ribu rupiah. Tapi warnet ini juga menawarkan paket malam seharga 13 ribu untuk pemakaian dari jam 23.00-06.00 pagi.
Beberapa hari kemudian, setelah berputar-putar lebih jauh, saya baru tahu bahwa nyaris semua warnet menggunakan model lesehan dan menawarkan paket-paket macam itu. Di Jogja, seperti yang beberapa saya lihat juga di Surabaya, paket-paket seperti itu jarang sekali ditemukan. Paling banter hanya “happy hours” yang menawarkan kortingan yang kadang hingga 50 persen dari harga normal.
Perjalanan saya berhenti di sebuah warung kopi yang berbentuk gerobak sepanjang dua meter. Saya duduk di sana. Seorang perempuan berusia 60-an tahun melayani saya. Di sana saya menyantap indomie rasa soto banjar. Dalam waktu cepat mangkuk sudah kosong dan isinya pindah ke perutku yang memang keroncongan. Kemudian, seperti biasa, saya memesan kopi pahit hitam.
Saya duduk mencangkung di kursi panjang itu. Juga seperti biasa, berbatang-batang A-Mild kusulap menjadi berbuntal-buntal asap dan berbiji-biji puntung. Enam batang kuhabiskan dalam acara minum kopi sendirian selama satu setengah jam itu.
Udara makin terasa dingin. Jaket hitam yang mulai kumal oleh keringat dan debu jalanan aku resleting. Aku sulut batang A-Mild terakhir. Saya berjalan kembali ke warnet yang tadi saya datangi. Saya tidak ingin ngenet lagi. Saya hanya akan menghabiskan malam di sebuah kursi panjang yang ada di depan warnet itu. Ya, saya akan merebahkan diri di sana hingga sekira jam 6 pagi.
Di sana pasti aman dan bebas dari dingin. Sebab, seperti yang saya bilang sebelumnya, warnet itu terletak di lantai dua sebuah ruko besar. Saya membelikan sebungkus rokok Dji Sam Soe untuk operator warnet yang akan saya mintai tolong mencharge laptop dan hp-ku yang jadul itu.
Tapi sebelum tidur, saya sempatkan memanfaatkan sisa batrei di laptop. Aku menulis catatan perjalananku hari ini. Catatan ini ditulis di bangku panjang itu. 45 menit aku habiskan waktu untuk itu.
Setelah itu, saya mulai lelap dengan udara malam di Banjarmasin yang terasa dingin. Ataukah dingin itu hanya akibat dari rasa sunyi? Sepertinya begitu.
Diposting oleh zen di 8:05 PM 4 komentar
Senin, September 03, 2007
Menjadi Pejalan Jauh Lagi (3)
: Menyusuri Biografi Bapak
(Minggu, 2 September 2007, antara pukul 07.00 WIB-13.00 WIB)
Aku tiba di Borneo pada pukul 07.00 WITA. Jam di hp ku tentu saja masih pukul 06.00 WIB. Aku segera menyesuaikannya dengan waktu di Borneo. Jam kupercepat satu jam. Ini upaya adaptasi saya yang pertama dengan Borneo.
Saya melangkah tanpa satu pun pemahaman yang jelas ke mana langkah pertama di Borneo diayunkan. Akhirnya aku memilih menuju wartel yang berada di sebelah utara gerbang pelabuhan Trisakti. Jaraknya sekitar 30 m.
Beberapa orang ku hubungi. Salah satunya rumahku sendiri. Ada alamat yang harus aku tanyakan pada bapak. Aku mendapatkannya: Soewaldjio d/a Basarang km. 9 Kuala Kapuas (belakang pasar).
Lengkapkah alamat itu? Sepertinya tidak karena itu alamat yang dicatat dan diingat bapak di luar kepala sejak tahun 1975 dan tak pernah lagi di-up date. Dan biarlah kali ini saya mengisahkan sebentar salah satu urusan yang akhirnya (mesti) ku urus dengan orang bernama Soewaldjio ini.
****
Saya adalah anak pertama dari seorang lelaki yang senang keluyuran ke tempat-tempat yang jauh dan baru di masa mudanya dulu. Ya, itulah bapakku.
Sekira tahun 1975, tujuh tahun sebelum aku dilahirkan, bapak pergi ke Kalimantan. Sepenuturannya, dia ingin mengetahui seperti apa kondisi para transmigran dari Jawa di Kalimantan. Bapak bilang, ini sebagai ancang-ancang jika sewaktu-waktu beberapa orang temannya akan bertransmigrasi kelak. Bapak ingin tahu seberapa memungkinkan dan seberapa meyakinkan masa depan di daerah transmigran. Bisa dibilang, bapak mencoba menjadi pembuka jalan, kendati ia sendiri bilang dirinya belum tentu ikut bertransmigrasi.
Dalam istilah bapak: mbabat alas.
Dalam salah satu perjalannya, bapak sampai di Kabupaten Kuala Kapuas di Kalimantan Tengah, tepatnya di kecamatan Basarang. Merunut alamat yang bapak berikan, letak persisnya ada di jalan Basarang km. 9. Orang-orang di Kalimantan biasa menyebut satuan kilometer dengan kata: “pal”. (Saya ingat cerita Wiro Sableng. Bastian Tito kerap sekali menggunakan satuan “pal” untuk jarak yang jauh, sementara jarak-jarak yang dekat kerap ia gunakan frase “sepelemparan tombak”)
Di tempat itulah bapak berdiam beberapa waktu. Rencana petualangan dia berhenti di Basarang. Di tempat itulah bapak ikut merintis sekolah dasar pertama. Bapak sendiri yang menjadi pengajar di sana. Kebetulan bapak lulusan Sekolah Pendidikan Guru di Jogja. Jadi, sedikit banyak, setidaknya secara formal, bapak punya kompetensi untuk itu.
Saya tidak tahu persis berapa lama bapak di sana. Terlalu ribet untuk dikisahkan lewat telpon. Satu yang pasti, bapak banyak sekali dibantu oleh orang bernama Soewaldjio ini. Di rumah dia pula bapak berdiam. Bukan cuma itu, bapak juga berhutang budi pada orang tersebut dalam satu problem penting yang memaksa bapak akhirnya angkat kaki dari Kalimantan. Kembali ke Jawa untuk kemudian berjumpa dengan perempuan yang kelak menjadi ibuku.
Bapak sepertinya menjalin asmara dengan seorang gadis setempat. Pribumi. Atau dalam kosa kata orang-orang setempat untuk menyebut orang Dayak: “Paluhur”. Saya tak tahu nama gadis itu dan bapak sendiri menolak memberi tahu. “Jika kau sampai di sana, kau pasti akan tahu siapa nama perempuan itu,” begitu kata bapak.
Mula-mula ini bukan urusan antara bapak dengan gadis tersebut. Ini urusan antara bapak dengan ayah sang gadis. Jika boleh dipersingkat, jadinya begini: Bapak diminta kawin dengan seorang gadis Dayak oleh ayah sang gadis tersebut. Dan, aha… pria Dayak itu adalah salah satu kamitua di daerah Basarang.
Saya tidak tahu pasal apa yang membikin bapak ditaksir oleh pria Dayak itu untuk dijadikan menantu. Ganteng jelas nggak. Ibu pernah cerita dulu: “Waktu mudanya, bapak mu itu sama sekali gak tampan, lagaknya ndeso, tapi dia memang punya nyali yang besar.”
Kata bapak, siapa pun pendatang yang diminta jadi menantu oleh seorang kamitua Dayak, tidak punya banyak pilihan. Hanya bisa menerima. Jika tidak, ya macam-macamlah resikonya, dari mulai terancam secara fisik hingga hal ihwal mistik Dayak yang sudah nyaris menjadi legenda itu.
Sewaktu bapak sedang memertimbangkan semuanya, bapak tiba-tiba diserang sakit. Entah kenapa. Bapak bilang tak pernah ia sakit selama itu. Soewaldjio ini yang mengurus hari ke hari kesehatan dan kebutuhan bapak. Dan dengan bantuan Soewaldjio pula, bapak sembuh setelah urusan ribet dengan sejumlah para penyembuh tradisional.
Bapak bilang kalau dia sebenarnya tidak terlalu keberatan dengan gadis itu. Sewaktu kutanya apakah gadis itu cantik atau tidak, bapak hanya nyengir. Tahu sendirilah kau, kata bapak. Tapi bapak terganggu secara kultural dengan peradatan Dayak. Njawa dia muncul sepertinya.
Bapak akhirnya memutuskan untuk kembali ke Jawa. Pindah kota atau daerah di Kalimantan, seturut nasehat Soewaldjio, tidak akan menyelesaikan masalah. Mistik lagi-lagi argumennya: selama masih di Kalimantan, kamitua itu tetap bisa berbuat banyak hal.
Bapak menemui gadis tersebut dan bilang terus terang bahwa dirinya akan kembali ke Jawa untuk sementara. Bapak berjanji akan mengirimi kabar dan jika mampu akan kembali ke Kalimantan. Bukan untuk tinggal di Kalimantan, tapi untuk menemui gadis itu kembali dan jika mungkin akan membawanya ke Jawa.
Urusan ternyata tak selesai sampai di situ. Bukan perkara mudah “minggat” dari “pengawasan” sang kamitua yang punya banyak kenalannya. Pak Soewaldjio lagi-lagi membantu Bapak. Entah dengan siasat apa, Bapak bisa keluar dari Kuala Kapuas, bergerak ke Banjarmasin dan kembali ke Jawa dengan kapal pertama yang akan berangkat ke Surabaya dari pelabuhan Trisakti.
Dalam kilas balik yang terlalu panjang untuk dikisahkan secara detail, bapak kembali ke Jawa, kembali bertualang ke Sumatera, menjadi pedagang kain di Lampung, menjadi guru honorer di Banten, dan dalam salah satu liburan di Jogja, ia bertemu dengan ibu dan menikahlah mereka di pertengahan 1980. Aku lahir dua tahun kemudian. Sebagai anak pertama dan anak lelaki satu-satunya. Itu pula yang menjadi akhir perjalanan-perjalanan panjang bapak. (Pak, mestinya kau ngerti juga kenapa anakmu ini sukar benar diajak serius ngomongin urusan jodoh. Tak maulah, setidaknya belum, hobi kelayaban ini terputus, pak.)
Bapak memintaku untuk menemui Soewaldjio. “Sampaikan terimakasih bapak padanya,” kata bapak.
“Bagaimana urusan dengan gadis itu? Siapa nama gadis itu?” tanya saya.
“Kau cari saja Pak Soewaldjio. Kau tanya apa yang kau ingin tahu. Dia bisa menceritakannya.”
“Kalau pak Soewaldjio sudah wafat?”
“Kau cari kuburnya. Kau datangi. Bacakan apa yang bisa kamu bacakan.”
"Kalau aku bisa temui gadis itu apa yang mesti ku bilang?"
"Terserah. Tapi, kau bisa memintakan maaf karena ada janji yang tak bisa bapak penuhi."
Saya diam. Kelak, jika saya bisa menemui gadis itu, kurang lebih saya akan bilang gini: "Saya tak tahu ada urusan apa kalian dulu di masa muda. Tapi saya dititipi maaf oleh bapak. Terserah maaf itu diterima atau tidak. Saya sekadar menyampaikan. Saya tak bisa membayar hutang bapak saya. Tak ada dosa turunanan di antara saya dan bapak."
Dalam hati, saya berjanji, kalimat yang sama akan saya katakan di kuburannya jika gadis tersebut sudah wafat.
Kita lihat saja, apa yang akan terjadi beberapa hari ke depan.
***
Saya tiba di Banjarmasin pukul 08.00 WITA. Saya butuh listrik. Untuk hp dan laptop. Ada sejumlah orang yang saya hubungi dan ada sejumlah catatan yang mesti segera saya susun. Tapi duit mepet. Saya cari hotel yang tampak paling jelek. Saya temukannya di pojok pasar baru.
Mereka minta bayaran 30 ribu. Saya menawarnya. Saya bilang, saya tak lama, hanya sampai sore saja. Saya minta diberi kortingan. Ibu muda yang menjadi resepsionis itu akhirnya memberi potongan harga separuh. Jadi saya hanya perlu membayar 15 ribu saja.
Losmen itu namanya Hotel Niaga. Tempat ini menarik. Di depannya ada sebuah klenteng tua, di depan sebelah kanan ada deretan kios-kios lapak yang menjual macam-macam barang. Di depan pintu ada pangkalan ojek. Suasana riuh dan juga panas.
Hotel Niaga terdiri dari dua lantai. Saya ditempatkan di lantai dua. Kamarnya kecil bukan main. Hanya berukuran 1,5 m x 2,5 m. Ada ranjang dari kayu, kasur busa, dan sepotong bantal. Di sana ada meja tulis kecil dan sebiji kipas angin. Di balik pintu ada kapstock bertangkai empat.
Saya perhatikan, ada dua lubang listrik yang bisa dipakai. Saya lega. Itu artinya hp dan laptop bisa discharge bersamaan. Tanpa cuci muka dan kamar mandi, hp saya charge dan laptop saya hidupkan.
Saya ngebut untuk menuliskan catatan perjalanan saya selama beberapa hari. Saya hitung, saya bisa menulis hingga jam 1 siang. Setelah itu saya bisa tidur selama 3 jam. Dan jam 4 saya bisa check out dari losmen ini, sesuai perjanjian saya dengan resepsionis.
Tak saya buang waktu yang tersisa. Dengan di temani segelas kopi pahit dan sebungkus rokok clasmild saya susun tiga catatan dan sebuah surat. Dua di antaranya saya posting di blog. Saya menyelesaikannya lebih cepat. Jam setengah satu semua catatan itu kelar sudah. Persis jam 12.30 WITA, saya merebahkan diri. Istirahat.
Nanti sore saya ingin ke warnet, kirim surat, posting blog dan kirim beberapa naskah esai ke beberapa koran. Malamnya, saya ingin menghabiskan waktu menelusuri jalan-jalan di Banjarmasin. Setidaknya sampai jam 10 malam. Setelah itu saya harus mencari akal, di mana saya bisa tidur dengan gratis.
Duit terlalu tipis untuk dipakai di hotel kelas jangkrik sekali pun.
Diposting oleh zen di 11:46 AM 2 komentar
Minggu, September 02, 2007
Menjadi Pejalan Jauh Lagi (2)
: Bagaskara di Laut Jawa
(Sabtu, 1 September 2007, antara pukul 13.00 WIB-18.00 WIB)
Nduk, pernahkah kau melihat pelangi kecil yang timbul-tenggelam dengan cepat? Pernahkah kau melihat langit seperti diselubungi kipas raksasa berwarna merah membara?
Aku melihatnya di atas KM Kumala dan biarlah kali ini aku mengisahkannya sedikit.
Siang itu, sekira pukul 13.00, aku melihat air laut yang dibelah oleh kapal. Kebetulan ombak mulai membesar. Kadang kapal oleng ke kiri dengan agak kuat. Agak menakutkan juga untuk orang yang baru menaiki kapal laut (feri penyeberangan tak kuhitung).
Tapi di situlah aku melihat simfoni alam yang remeh tapi menakjubkan.
Laju kapal yang membelah ombak membuat air laut menyembur ke udara. Dan di titik tertinggi semburan air itulah, ya pada air laut yang menyembur itu, aku lihat berkali-kali muncul pelangi. Durasinya pendek. Hanya hitungan detik. Kadang dua detik, kadang tiga detik kadang lima detik, untuk kemudian pelangi kecil-kecil itu lenyap. Tapi kejadian itu berulangkali muncul tiap kali ombak besar dibelah oleh laju kapal.
Aku menyaksikan rentetan pelangi kecil-kecilan sejak dari haluan hingga buritan. Kecil-kecil. Mudah hilang, tapi diganti oleh pelangi kecil lain yang datang menyusul pecahnya ombak oleh laju kapal yang mudah oleng ini. Terus begitu. Selama dua jam.
Dari pelangi ke pelangi sambung menyambung menjadi satu rangkaian kolase warna yang membuat mataku sepenuhnya dipenuhi oleh warna-warna cerah: merah, kuning, hijau….
Tiap kali melihat langit di jauhan atau lorong-lorong dek, setelah aku memerhatikan dengan lekat orkestra pelangi kecil itu, mataku serasa selalu melihat pelangi.
Nduk, kau pasti pernah melihat pelangi. Tapi pelangi yang ini berbeda. Pelangi kecil-kecilan, lebih pendek masa pertunjukkannya, dan yang pasti, kau harus menundukkan kepala untuk melihatnya karena pelangi itu ada di bawah kita, di lautan.
Ini bedanya dengan pelangi biasa yang mesti kita lihat dengan menengadahkan kepala. Karena di darat, pelangi selalu ada di ujung langit sementara di sini pelangi ada di pinggir lambung kapal.
Pelangi, nduk, pelangi. Apakah kamu pernah dengar cerita tentang pelangi sebagai jalan pulang ke kahyangan dari para bidadari yang sedang mandi di bumi? Kau pasti pernah dengar cerita Joko Tarub, pemuda yang mencuri selendang salah satu bidadari yang sedang mandi di air terjun. Jika pernah menyaksikan pelangi kecil-kecilan yang menakjubkan seperti yang aku lihat di atas KM Kumala, masihkan kau berpikir bahwa pelangi adalah jalan pulang para bidadari ke kahyangan?
Bagiku, nduk, rangkaian pelangi kecil-kecilan itu adalah “jalan pulang” kembali menjadi anak-anak. Kita, orang (yang sok) dewasa ini, kadang tak peduli dengan remeh temeh yang disediakan semesta. Kita kehilangan sifat mudah takjub yang menjadi khas anak-anak, sifat rewel yang kadang membikin penat ayah-ibunya yang dihujani pertanyaan yang mereka kira tidak penting: “Bu, pelangi tuh apa sih? Kok bisa ada pelangi? Hujan air nya dari mana, bu?
Sikap meremehkan itu, nduk, membuat kita kerap kehilangan momen untuk merenungkan sasmita yang diberikan semesta. Kepekaan pada sasmita macam itu, kadang, membuat orang bisa menjadi cukup spiritual, setidaknya dalam beberapa kerjap. Tapi selama kepekaan itu tetap dipelihara, spiritualitas beberapa kerjap itu berpeluang sambung-nyinambung dengan kerjap-kerjap pengalaman lainnya. Jika demikian, pastilah ada sedikit hal yang berubah dalam batin.
Semesta memang penuh pertanda. Tapi itu semua hanya akan menjadi gejala alam biasa jika kita tak pernah memaknainya. Semesta sebagai pertanda itulah yang membuat semesta punya kualitasnya sendiri, punya jati dirinya sendiri, semacam innerlichkeit, barangkali.
Innerlichkeit semesta itu tampil dalam caranya yang khas: sunyi, diam, tapi jelas bukan bisu. Ia tak pernah menutup diri. Jika kau berkeras memahaminya, tak perlu kau buka cangkang innerlichkeit semesta itu, sebab dia akan membukakan dirinya sendiri.
Seperti kata Rumi: “Orang yang gigih mencari, pasti akan ditemukan.”
Lewat pelangi kecil-kecilan yang berderet-deret itulah aku kembali menjadi seperti anak-anak, nduk. Tak puas-puasnya aku memelototi ombak-ombak yang dipecahkan oleh laju kapal. Tiap kali ada ombak besar yang pecah dan membuat air laut membeliak ke udara, aku berharap-harap bisa melihat pelangi kecil yang tipis. Dan jika pelangi itu benar-benar muncul, walau sebentar, aku pasti bernafas lega.
Nduk, dadaku terasa lapang. Pandangku dipenuhi warna-warna cerah, setelah sekian lama selalu pekat, seperti baju dan jeans serba hitam yang selalu kukenakan di mana pun dan pada waktu apa pun, termasuk ketika catatan ini sedang kuselesaikan.
Dan di sebelah barat, ya di sebelah barat, nduk, aku lihat langit hadir dalam ujudnya sebagai kipas raksasa yang berwarna merah membara.
Sewaktu sore mulai meremang, di ufuk barat, awan tipis dan renggang-renggang menyelubungi bagaskara yang hendak pulang. Seperti yang sering kau lihat, bagaskara di sore hari selalu tampak merah membara. Dan awan-awan yang tipis dan renggang-renggang itu, justru membuat bagaskara yang sudah tenggelam separuh ke laut itu seperti kipas raksasa. Awan-awan yang renggang itu membuat sinar bagaskara terpancar menyebar, seperti lajur-lajur kipas.
Ini jauh lebih indah ketimbang langit sore yang kau lihat jika kau sedang melakukan perjalanan dari Bandung menuju Jakarta dengan melewati tol Cipularang. Aku pernah melihatnya beberapa kali. Dari arah Bandung, aku lihat bagaskara yang membara bulat utuh. Dalam bentang alam itu, bagaskara lebih kental nuansa maskulinnya. Terlihat gagah, memang, tapi kadang justru terlihat angker karena seperti sedang menyimpan amarah, dan karenanya tampak maskulin. Seperti pemerian Dante Alighieri tentang neraka dalam karya monumentalnya, Divina Commedia, terutama di bagian pertamanya: Inferno.
Bagaskara yang kulihat sore ini, nduk, yang oleh awan-awan tipis dan renggang disulap seperti kipas raksasa yang merah membara, tampil lebih feminin. Lembut. Dan karenanya terasa akrab. Tak pernah aku merasa seakrab ini dengan bagaskara.
Lagipula, bukankah kipas lebih sering dipegang perempuan?
Ah, aku membayangkan, kipas raksasa merah membara di ufuk barat adalah kipas yang sedang kau pegang, dan entah di suatu tempat yang mana, ku bayangkan kau menatapku.
Barangkali, Tuhan Sang Pencipta Sasmita sedang menyusun kaligrafi. Ya, pelangi-pelangi kecil itu dan juga bagaskara yang tampil seperti kipas indah merah membara, pastilah kaligrafi buatannya.
Nduk, dadaku terasa penuh entah oleh apa. Aku topang wajahku dengan dua tanganku. Mataku nyalang ke arah barat.
Tiba-tiba, televisi di kantin yang aku duduki sejak siang, mengumandangkan adzan maghrib. Dan, sungguh, beberapa orang yang ada di sekitarku, yang tadinya sibuk bercakap-cakap, mendadak berhenti begitu mendengar adzan. Aku perhatikan sekeliling, mereka memang diam. Suasana sunyi. Hanya debur ombak yang terdengar begitu dekat, amat dekat.
Adzan di tengah samudera, pada saat kapal diayun-ayunkan dengan keras, terasa lebih mencucuk. Seharusnya kau ada di sini dan bersamaku mendengarkan simfoni ini.
Nduk, bagaimana kabarmu? Maaf, aku lupa menanyakannya.
Diposting oleh zen di 2:39 AM 5 komentar
Menjadi Pejalan Jauh Lagi (1)
: Pada sebuah Kapal yang Mengingatkan pada Maut
(Sabtu, 1 September 2007, antara 08.00 WIB-13.00 WIB)
“Nduk, aku berangkat. Aku naik KM Kumala.”
Aku kirim pesan singkat itu hanya beberapa saat setelah KM Kumala bergerak meninggalkan Tanjung Perak, Surabaya.
Tak sampai lima menit, balasan pun datang. Isinya sedikit membuat tawar: “Kumala itu nama temen kecilku di Belitung. Tapi dia sudah gak ada. Meninggal waktu melahirkan L Duh. Ati2, mas. Tenan lho. Ati2.”
Aku berdiri di tepi dek 3 untuk beberapa lama. Merenungkan sebentar pesan tadi. Ada yang diam-diam menyelinap ke dalam, lewat kerongkongan, masuk ke dada dan lalu sedikit membuat sesak. Di sana, aura dingin itu hinggap dengan lindap. Entah akan bersemayam berapa lama ia di sana.
Aku perhatikan lautan. Air begitu tenang. Tapi ini sementara karena masih di sekitar pantai. Kita tak pernah tahu ada berapa badai dan ombak besar yang menunggu di tengah sana. Ya, aku insyaf akan itu.
Lalu aku masuk ke kantin. Aku pesan minuman.
“Kopi hitam pahit satu, mas!”
Aku duduk di dekat tangga. Kunyalakan rokok pertamaku. Dilanjutkan batang yang kedua dan ketiga. Sekitar 45 menit kuhabiskan untuk menelan kopi pahit hitam dan tiga batang rokok yang kusulap menjadi asap dan sampah puntung.
Aku beranjak. Melangkah ke ruang informasi. Di sana, aku memesan satu kamar. Aku harus membayar 25 ribu untuk itu. Tak apalah. Aku butuh ruang yang sedikit nyaman dan aman untuk merebahkan diri beberapa waktu sekaligus bisa menjadi tempat menyimpan ranselku yang berat. Berat juga kalau ransel berisi notebook, kamera, beberapa potong pakaian, dua buah novel dan empat antologi puisi itu aku usung ke mana-mana.
Aku dapat ruang di dek 3. Kamar no. 1. Jadi, aku berada di kamar paling depan dari seantero kapal. Di sana, aku mesti berbagi ruangan dengan seorang lelaki paruh baya. Wajahnya keras. Rambutnya cepak. Badannya pendek tapi kekar. Kulitnya hitam seperti terbakar matahari.
Dan, aha… dia ternyata seorang pelaut. Jadi, di pelayaranku yang pertama, aku sekamar dengan pelaut.
“Sepertinya cuaca bagus. Ombak kecil,” katanya pelan.
Aku nyengir. Segini dibilang kecil? Padahal aku sudah merasakan ayunan ombak. Gimana di tengah laut nanti? Dasar, pelaut!
Aku melihat jendela. Di ujung sana, samar-samar daratan terlihat. Ya, itu Madura. Aku ingat disertasi Kuntowijoyo tentang pulau yang sedang kulihat dari kejauhan. Aku pernah membacanya empat tahun lalu. Aku juga ingat dengan Zawawi Imron, Si Penyair Celurit Emas. Tak akan aku lupa sajak-sajaknya yang telah memerkenalkanku pada Madura yang kering tapi rasanya selalu tampak maskulin. Aku juga ingat Muchlis Amrin, penyair muda, seorang kawanku, yang selalu mencoba tampil gagah, tapi karena itulah ia selalu tampak lucu.
****
Setelah menyantap jatah makan siang yang diantarkan ke kamar (enak juga makan tanpa harus antri dan berebutan seperti para penumpang lain), aku beranjak ke buritan. Di sana juga ada kantin ternyata. Aku pesan minuman yang sama.
“Kopi hitam pahit satu, Mas!”
Aku geli karena saat itu aku ingat James Bond, yang selalu memesan minuman dengan gayanya yang khas: “Martini, dikocok, bukan diaduk!”
Panas menyengat di buritan. Angin kencang. Ombak kian membesar. Seseorang, sepertinya salah satu petugas kapal, terdengar berkata: “Ada satu meter nih ombak.”
Aku tak tahu apa artinya ombak satu meter, apa konsekuensinya, dan tak tahu pula apakah itu sudah lebih dari cukup untuk dijadikan isyarat bahwa cuaca tidak begitu bagus dan karenanya pelayaran tidak akan mulus.
Aku duduk di salah satu bangku yang terujung. Pandang ku arahkan ke sekeliling. Tak kulihat satu pun kapal lain yang melintas berpapasan dengan KM Kumala. Hanya ada air, ombak dan awan-awan yang berarak di cakrawala.
HP jadul bergetar. Aih, masih ada juga sinyal di tengah samudera begini. Sebuah pesan singkat masuk. Aku membukanya. Terbaca kalimat: “Gak enak mencintai seorang pejalan yang senang kelayaban. Kangen ora enthek-enthek.”
Aku balas pesan pendek itu tanpa kalimat, hanya deretan huruf “h” dan “i”: Hihihi….
Dia membalas: “Dasar burung Kuda.”
Ya, tawa “hihihi” memang mirip cericit burung Kuda, setidaknya begitulah yang dikatakan Atik, perempuan cantik yang menjadi biolog di novel Burung-Burung Manyar.
Tapi Burung Kuda tak pernah melintasi samudera.
Aku mengingat-ingat perjalanan-perjalananku sebelumnya. Ah, sudah lama aku tak menggelar perjalanan panjang dan jauh, bermusyawarah dengan kota-kota yang sebelumnya belum pernah kusinggahi, mengasyiki bangku-bangku di taman kota yang kusinggahi.
Perjalanan panjang terakhirku sudah lewat tiga tahun lalu. Di pengujung 2004 silam, beberapa saat usai lebaran, aku menyusuri garis pantai selatan Jawa, dari Jogja hingga Merak. Pindah dari satu kota ke kota lain, berganti bus, singgah di pantai menjelang senja, duduk di alun-alun kota yang kudatangi selepas maghrib, dan lantas melanjutkan perjalanan menjelang tengah malam. Begitu dan terus begitu. Hingga melintasi Selat Sunda, singgah di Lampung, bergerak terus ke Barat hingga Palembang.
Dari Pelembang aku kembali ke timur. Kali ini lebih ringkas karena tak singgah di setiap kota yang dilewati. Aku hanya berhenti di Tanjungkarang, Lampung, singgah di sebuah rumah sederhana: di sanalah, seseorang yang kala itu begitu penting bagi saya berdiam. Dan sesungguhnya, untuk menemui dialah perjalanan panjang kala itu digelar.
Sejak itu aku tak pernah menggelar perjalanan panjang lagi. Sesekali aku datang ke Bandung, Semarang, Surabaya, Cilacap, Bali, Cirebon dan terutama Jakarta. Tapi kota-kota itu sudah pernah kukunjungi sebelumnya. Tak banyak yang bisa dipuaskan dari perjalanan-perjalanan pendek itu.
Ini ironi terbesarku sebenarnya. Setelah aku membuat www.pejalanjauh.blogspot.com, aku justru tak pernah berjalan jauh lagi. Memalukkan.
*****
Baiklah, aku akan berterus terang: Aku begitu terobsesi dengan perjalanan panjang karena sebuah film dan sebiji novel.
Film itu berjudul Y Tu Mama Tumbien karya Alfonso Cuaron. Film itu ku tonton jauh sebelum aku menikmati Motorcycle Diary yang mengisahkan perjalanan Guevara Muda melintasi Amerika Latin (aku jamin, film Tiga Hari Untuk Selamanya karya Riri Reza tak ada apa-apanya di banding film Y Tu Mama Tumbien ini, sementara Motorcycle Diary satu strip di bawah Y Tu Mama Tumbien).
Praktis Y Tu Mama Tumbien lah yang memengaruhiku. Film yang mengisahkan perjalanan dua orang muda dan seorang gadis dengan mengendarai mobil doyok itu membukakan mataku: aku ini benar-benar katak dalam tempurung.
Dan novel Gao Xingjian, Gunung Jiwa atau Ling Shan, menjadi pemicu kedua dari hasratku menggelar perjalanan.
Gunung Jiwa mengisahkan perjalanan Gao menelusuri sungai Yang Tze sepanjang ribuan mil. Di sana, Gao bercakap-cakap dengan tokoh “kau” yang sebenarnya adalah dirinya sendiri, semacam alter ego, barangkali. Tokoh “aku” dan “kau” berganti-ganti posisi di sana, membuatku hanyut dalam apa yang oleh para kritikus sastra sebut sebagai “stream of consciesness”. Sebenarnya, novel James Joyce, A Portrait of the Artist as A Young Man, jauh lebih baik dalam hal memaparkan teknik straem of consciesness, tapi bagi biografiku sendiri, Gunung Jiwa jauh lebih berpengaruh.
Gunung Jiwa ditulis setelah Gao divonis mengidap kanker paru-paru yang akut dan setelah dia dianggap telah terpolusi oleh kebudayaan Barat menurut rezim komunis RRC.
Di novel itulah, Gao bercakap-cakap dengan banyak sekali mitos, orang-orang baru, legenda-legenda dan terutama dengan dirinya sendiri. Di bagian akhir, saya akhirnya tahu, perjalanan itu berhasil membebaskan Gao dari banyak sekali prasangka, ketakutan, hingga frustasi.
Dari Gao, aku menemukan kesadaran bahwa perjalanan yang panjang dan jauh dengan menempuhi tempat-tempat baru yang belum dikenal, berpeluang membebaskan para pejalan dari prasangka-prasangka, ketakutan dan banyak hal lain yang bersemayam di ruang bawah sadar.
Bagi saya, Gunung Jiwa bahkan lebih baik dari The Alchemist yang banyak disebut-sebut itu, apalagi dengan A Chasing of Rumi yang dikarang Roger Houdson. Betapa pun The Alchemist mengandung banyak sekali parapgraf-paragraf cemerlang, tapi bagiku the Alchemist terlalu didaktis, sarat dengan khotbah.
Y Tu Mama Tumbein dan Gunung Jiwa mengajarkanku bahwa hakikat perjalanan tidak terletak pada kota yang hendak dituju, tapi perjalanan itulah hakikatnya. Perjalanan untuk tujuan perjalanan. Perjalanan demi perjalanan itu sendiri.
Y Tu Mama Tumbien dan Gunung Jiwa juga mengajarkanku bahwa sikap terbaik menghayati perjalanan adalah dengan memerlakukan perjalanan itu dengan dipenuhi sikap terbuka dan membuka diri pada banyak kemungkinan yang muncul. Barangkali seperti membaca puisi, di mana setiap paragraf bisa dibaca sebagai kelopak yang kita buka pelan-pelan. Itulah sebabnya aku membekali diri dengan empat antologi puisi.
Terutama pada Gao, ia selalu menemukan nilai-nilai baru pada satu tempat yang disinggahinya, tapi ia selalu menemukan nilai-nilai itu mesti ia rombak kembali sewaktu ia menemukan nilai baru di kota lain yang ia singgahi kemudian.
The Alchemist, di titimangsa ini, terasa jauh lebih prosais. Maaf, tuan Coelho.
*****
Badanku mendadak terjajar. Ombak makin besar. Aku tekuk kedua lututku dan kupeluk lutut itu di dadaku. Pelan-pelan, aku hisap rokokku yang entah batang keberapa. Ku kepulkan asapnya.
Diposting oleh zen di 2:28 AM 5 komentar
Minggu, Agustus 26, 2007
Manyar Manyar
: untuk atik
Jika boleh rindu,
ejalah namaku di sela bibirmu
Jika boleh rindu,
diam saja di situ
simpan semua gincu di dadamu
Jika tak boleh rindu,
pergi saja sesukamu
biar aku yang mencarimu
Diposting oleh zen di 6:27 AM 2 komentar
Minggu, Agustus 19, 2007
Pram Tidak Membakar Buku!
: Menanggapi Arya Gunawan dan Prahara Budaya dengan (Sedikit) Rinci
Arya, Jadi kapan sebenarnya Pram membakar buku seperti halnya Nur Mahmudi Ismail?
Sayang sekali Anda tak bisa menjawabnya dan justru berkelit dengan mengganti frase “Pram bakar buku” dengan frase “mendiamkan / menganjurkan membakar buku”.
Saya sudah menduga Anda tak bisa menjawabnya. Saya juga bahkan sudah bisa menduga Anda akan berkelit dengan mengganti frase “Pram membakar buku” dengan frase “Pram membiarkan/menganjurkan bakar buku”. Dugaan saya sepenuhnya presisi.
(Jujur, saya tidak yakin Anda akan mengganti frase “Pram bakar buku” dengan “Pram menganjurkan/mendiamkan pembakaran” jika saya tidak menantang Anda secara terbuka untuk berbicara mengenai perkara ini secara detail – kendati Anda bilang tulisan panjang Anda bukan karena untuk menanggapi tantangan saya).
Tapi sekadar mengingatkan, tulisan Anda (baik untuk mengkritik materi pernyataan sikap, menjawab Linda atau pun menjawab Aboeprijadi) jelas-jelas menyebutkan Pram “membakari buku-buku lawan ideologisnya”.
Dan itu dilakukan berkali-kali. Terus menerus dalam tiga tulisan Anda itu (dan baru diganti dengan “membiarkan atau menganjurkan pembakaran” dalam tulisan Anda yang terbaru setelah saya menantang Anda untuk menjawabnya dengan detail).
Kita tahu semua, seperti apa kelakuan Nur Mahmudi yang pernah Anda coblos dalam perkara ini. Dengan mudah saya bisa sebutkan kapan dan di mana kelakuan Nur Mahmudi itu terjadi. Itulah sebabnya saya menantang Anda secara terbuka. Saya jengah karena Anda terus menerus menyamakan apple to apple antara Pram dan Nur Mahmudi dalam soal bakar-membakar ini
Kita bisa berdebat soal selisih antara “membakar buku” dengan mendiamkan/menganjurkan pembakaran”. Tapi yang jelas, keduanya tidak persis.
Dengan terus-menerus mereproduksi frase “Pram membakari buku” (seperti terbaca jelas dalam 3 tulisan Anda: kritik untuk materi pernyataan sikap, jawaban pada Linda, dan jawaban pada Aboeprijadi), saya kahawatir Anda terpeleset pada “ommision of fact”. Karena Pram memang tidak membakar buku (sampai ada yang bisa membuktikannya).
Sayang bukan jika apa yang Anda sebut sebagai “memukul air di dulang terpercik wajah sendiri” ternyata berlaku pula pada Anda?
Jika memang tidak bisa membuktikan Pram membakar buku, janganlah katakan itu berkali-kali. Jika Anda hanya bisa membuktikan bahwa “Pram memberangus kebebasan berpikir” atau “mendiamkan pembakaran buku”, cukuplah Anda katakan itu saja dan tak usahlah menggunakan frase-frase berlebihan yang tak bisa dibuktikan koherensinya dengan kenyataan. Itu jauh lebih bertanggungjawab. Barangkali lebih “ilmiah”. Dan yang jelas itu jauh lebih “adil”.
Dengan terus-menerus mereproduksi frase “Pram membakari buku” pada saat sebenarnya Anda memaksudkan (dan hanya bisa membuktikan) “Pram memberangus kebebasan berpikir atau mendiamkan pembakaran buku”, Anda sama saja sedang mereproduksi jargon-jargon.
Tidak usah pula menyebut tantangan saya sebagai Agitprop seraya menulis dalam tanda kurung itu sebagai istilah PKI.
Apa pula itu maksudnya? Apakah Anda sedang mencoba membangun sebuah atribusi (diam-diam) buat saya sebagai orang yang berbahasa dengan nuansa PKI? “Tantangan berpolemik secara terbuka” tidak identik dengan Agitprop, apalagi dengan PKI. Organ-organ jaman behuela, tidak hanya PKI, biasa menggunakan istilah Agitprop, termasuk salah satu musuh besar PKI yaitu Partai Murba. Coba Anda baca Katalog Kepartaian Indonesia yang diterbitkan Kementerian Penerangan pada 1951. Janganlah mulai bikin-bikin atribusi dengan gaya stigmatisasi macam itu lah…. Biasa aja, dong!
Cara-cara Anda menyebut tantangan saya yang dinyatakan secara terbuka dengan menghubung-hubungkannya dengan “agitprop” dan “PKI” rentan membawa Anda pada laku stigmatisasi. Saya berprasangka baik Anda tidak sedang ingin membangun atribusi (diam-diam) bahwa saya “seperti PKI”, tapi cukup jelas, cara-cara macam Anda itu sering kita dengar sebelum 1998.
Jadi, Bung Arya, jika memang Anda tidak mampu membuktikan kapan dan di mana Pram membakar buku, tak usah pula Anda terus menerus mereproduksinya. Carilah parafrase/kalimat yang Anda anggap jauh lebih koheren dengan kenyataan dan yang dengan mudah pula Anda membuktikannya.
Kita tidak makin cerdas dan jernih menyikapi sejarah dengan mereproduksi terus-menerus jargon-jargon, seperti juga kita tidak bisa melawan lupa dengan cara begitu.
Orang harus membayar apa yang ia perbuat dan orang tak bisa diminta membayar apa yang tidak ia lakukan.
****
Arya,
Sekarang, mari kita omong-omong sebentar tentang buku “Prahara Budaya” yang disusun oleh DS Moeljanto dan Doktor Honoris Causa Dokter Hewan Taufiq Ismail.
Saya tidak apriori dengan “Prahara Budaya”, tapi saya tidak percaya begitu saja dengan buku “Prahara Budaya” dalam upaya memahami PKI-LEKRA-Pram.
Buku itu melulu diisi sisi keburukan PKI-LEKRA-Pram. Siapa pun yang pernah membaca buku “Prahara Budaya”, akan terjerat oleh kesan betapa ganas, bahaya, dan biadabnya PKI-Lekra-Pram. Propaganda Orde Baru tentang komunisme sebagai mahluk jahat seperti satu partitur dengan buku “Prahara Budaya”. Tidak berlebihan jika saya bilang buku itu disusun dengan cara propaganda, bukan dengan semangat ilmiah untuk menemukan “kebenaran”.
Jika ada orang yang bertanya pada saya buku apa yang berhasil membangun kesan betapa ganas dan berbahayanya Lekra-PKI-Pram, salah satu yang akan dengan tangkas saya sebutkan adalah buku “Prahara Budaya”.
Itu pula yang saya alami ketika membaca “Prahara Budaya” di awal-awal masa kuliah dulu. Kesan saya ketika itu, betapa jahat dan sama sekali tak ada nilai positifnya PKI-Lekra-Pram. Saya yang dibesarkan dalam kultur bahasa Indonesia yang baik dan benar ala Orde Baru, terperangah membaca artikel-artikel dari para pendukung PKI atau Lekra yang menggunakan gaya bahasa provokatif dan “gila-gilan”.
(Jadinya, saya pun tidak heran jika Arya Gunawan – yang juga dibesarkan dalam kultur pendidikan yang memuja bahasa Indonesia yang baik dan benar -- menanggapi subjek postingan saya yang berjudul TANTANGAN TERBUKA BUAT ARYA GUNAWAN dengan memberi komentar sebagai tulisan “bernuansa agitprov” dan pada saat yang sama masih merasa perlu menulis dalam tanda kurung “ini tentu saja istilah PKI”. Karena saya menggunakan gaya bahasa bernuansa Agitprop yang merupakan istilah PKI dan dengan demikian saya -– secara tidak langsung — dianggap “bernuansa PKI”. Bah, macam mana pula kejernihan membaca sejarah dan melawan alpa dilakukan dengan gaya pukul rata macam begini, Bung?)
Belakangan, setelah saya membacai langsung koran Harian Rakyat (milik PKI), Bintang Timur (yang lembar budayanya, Lentera, dipegang oleh Pram), Abadi (milik Masjumi) atau Duta Masjarakat (milik NU) apalagi Indonesia Raja pimpinan Mochtar Loebis, saya baru sadar bahwa gaya bahasa macam itu memang menjadi “cara wicara” (type of speech) ketika itu. Gaya bahasa macam itu memang mencerminkan dengan baik semangat zaman ketika itu yang dipenuhi semangat berpolemik, tantang menantang, hantam menghantam.
Doktor Honoris Causa Dokter Hewan Taufiq Ismail dengan baik sekali membangun kesan bahwa bahasa itu sebagai cermin kepribadian ganas PKI-Lekra, yang ia sebut sebagai gaya bahasa “caci-maki” dan “propaganda”, tetapi pada saat yang sama Doktor Honoris Causa Dokter Hewan Taufiq Ismail juga menggunakan gaya bahasa yang tidak kalah agitatifnya, seperti “mesin penyerangan untuk Manikebu”, dll.
Doktor Honoris Causa Dokter Hewan Taufiq Ismail tidak pernah menyebut-nyebut bahwa jika pun harus dicari orang yang dimintai pertanggungjawaban atas gaya bahasa yang agresif dan agitatif itu, Soekarno tidak bisa tidak tersangkut-paut dalam perkara ini. Soekarno adalah orang yang punya kemampuan membentuk “cara-wicara” dan gaya bahasa. “Prahara Budaya” tak pernah menjelaskan konteks ini secara jernih.
Arya benar bahwa “Prahara Budaya” memuat tulisan-tulisan langsung para pelaku sejarah ketika itu. Tapi, keberadaan tulisan para pelaku sejarah, tidak serta merta membuat “Prahara Budaya” menjadi cukup berwibawa untuk dijadikan rujukan memahami sepakterjang PKI-Lekra-Pram secara utuh dan proporsional.
Sebabnya, “Prahara Budaya” hanya memajang tulisan-tulisan para pelaku sejarah ketika itu dengan penyuntingan yang tidak begitu jelas teknik dan metodenya. Sementara pada saat yang sama, Doktor Honoris Causa Dokter Hewan Taufiq Ismail dan DS Moeljanto bisa dengan leluasa menuliskan kesimpulan, tafsir, dan pernyataan-pernyataan apa pun yang ingin ia suarakan.
Ini kentara, saya contohkan salah satunya, pada pengantar dia pada bagian kelima “Prahara Budaya” yang ia upayakan untuk bisa mencitrakan betapa para penyair Lekra memang menghamba pada Lenin dan Komunisme dan bahkan dianggap sudah tahu peristiwa 1 Oktober 1965.
Dia menyebut puisi penyair Mawie yang berjudul “Kutunggu Bumi Memerah Darah” yang dimuat pada Maret 1965 sebagai bukti (saya kutipkan tulisan Doktor Honoris Causa Dokter Hewan Taufiq Ismail) “karena rupanya dia sudah tahu sebelumnya”. Maksudnya, penyair Mawie dianggap sudah tahu bahwa akan terjadi pertumpahan darah pada 1 Oktober 1965.
Ini propaganda, saya kira, karena terlalu berlebihan menyebut Mawie tahu akan terjadi pertumpahan darah pada 1 Oktober 1965, apalagi Doktor Honoris Causa Dokter Hewan Taufiq Ismail tidak pernah menjelaskan argumen atas tuduhannya itu dalam sebiji kalimat pun. Dengan memvonis penyair Mawie sudah tahu peristiwa 1 Oktober 1965 jauh-jauh hari sebelumnya, kita dikesankan untuk percaya bahwa mereka semua memang terlibat, atau setidaknya, tahu.
Jika saja Doktor Honoris Causa Dokter Hewan Taufiq Ismail mau adil, dia harus katakan bahwa puisi dengan nuansa “merah-darah” tidak ada hubungannya dengan peristiwa 1 Oktober karena para penyair yang bersimpati dengan Lekra sudah terbiasa menggunakan metafora macam itu bertahun-tahun jauh sebelum 1965.
Itu bisa dibaca dari puisi Njoto berjudul “Merah Kesumba” yang diterbitkan pada Maret 1961 atau puisi Roemandung berjudul “Darah Merah di Wadjah Duka” yang ditulis di Pematangsiantar pada April 1958 dan diterbitkan Harian Rakjat pada 7 Juli 1962.
Sayangnya ini tak dimuat oleh Doktor Honoris Causa Dokter Hewan Taufiq Ismail di “Prahara Budaya”. Bukankah menggelikan jika mereka disebut tahu bahwa beberapa tahun ke depan akan terjadi peristiwa 1 Oktober 1965.
Saya dulu percaya bahwa setiap orang-orang Lekra memang terlibat dalam peristiwa 1 Oktober 1965, ya karena buku “Prahara Budaya” ini. Untung saja saya punya kesempatan untuk menelusuri sumber-sumber asli koran-koran pada zaman itu dan lebih teliti serta berhati-hati memamah “Prahara Budaya”.
Bagaimana dengan orang-orang yang tak punya akses pada sumber-sumber itu? Kasihan sekali jika mereka percaya bahwa para Mawie dan para penyair Lekra sudah tahu jauh-jauh hari peristiwa berdarah 1 Oktober 1965.
“Prahara Budaya” tidak cukup adil memberi tempat dan menggambarkan PKI-Lekra-Pram. Doktor Honoris Causa Dokter Hewan Taufiq Ismail dan DS Moeljanto hanya memajang tulisan-tulisan yang menggambarkan wajah seram PKI-Lekra-Pram dan menggiring pembaca untuk sampai pada kesimpulan itu dengan menerakan komentar-komentarnya sendiri.
Hanya dengan membaca “Prahara Budaya”, kita hanya akan mendapat cerita keganasan PKI yang menggerebek mesjid di Kanigoro tanpa akan pernah tahu bahwa PKI yang sama pernah membangun dan merehab belasan mesjid di Sumatera pada 1964. Hanya dengan membaca “Prahara Budaya”, kita hanya akan mendapat gambaran PKI-Lekra-Pram sebagai subyek-subyek yang membakari buku dan memberangus kebebasan berpikir orang-orang Manikebu (dalam istilah Pram) atau Manifestan (dalam istilah Wiratmo Soekito).
Hanya dengan membaca “Prahara Budaya”, kita tidak akan pernah menyadari satu hal penting: bahwa PKI-Lekra-Pram juga sepaham dengan Doktor Honoris Causa Dokter Hewan Taufiq Ismail dalam soal moralitas.
Belakangan saya membacai koran-koran lama, termasuk Harian Rakyat dan Bintang Timur. Salah satu hal yang baru saya sadari, dan tak akan pernah Anda sadari jika hanya membaca Prahara Budaya, adalah bahwa PKI-Lekra adalah organ yang getol sekali mengampanyekan soal moralitas, seperti juga Doktor Honoris Causa Dokter Hewan Taufiq Ismail di hari-hari belakangan.
Hanya membaca “Prahara Budaya”, kita akan kehilangan kesempatan untuk menyadari bahwa PKI-Lekra amat getol mengampanyekan anti buku-buku cabul, majalah-majalah cabul, film-film cabul, sastra cabul hingga pakaian-pakaian cabul.
Wakil CC PKI Njoto ketika pada 29 Desember 1954 naik mimbar di gedung bioskop Radjekwesi Bodjonegoro, Jawa Timur. Sebagaimana digambarkan Harian Rakjat edisi 5 Februari 1955, malam itu Njoto tak mengepit berlembar-lembar kertas pidato, sebagaimana Doktor Honoris Causa Dokter Hewan Taufiq Ismail lakukan di Taman Ismail Marzuki ketika berpidato ihwal Gerakan Syahwat Merdeka (GSM) atau pun di ruang auditorium UNY sewaktu menerima gelar Doktor Honoris Causa dalam bidang Pendidikan Sastra.
Njoto, malam itu, berbicara mengenai sikap PKI atas demoralisasi masyarakat, khususnya bagi anak-anak pelajar. Njoto bilang: “PKI menjokong setiap usaha jang akan memberantas demoralisasi, tidak sadja dikalangan peladjar, tetapi dikalangan manapun. Sekarang ini, tidak sedikit orang jang suka meremehkan pengaruh jg ditimbulkan oleh film2 tjabul, buku2 tjabul dan musik tjabul. Ibu2 dan bapak2, djuga guru2, lebih daripada saja tentu tahu betapa merusaknja barang2 tjabul itu bagi watak dan sifat anak2 kita. Pengaruh jang djelek itu sudah demikian meluasnja, sehingga tidak sedikit anak2 kita jang menanggalkan pakaiannja jg nasional, pakaiannya jang normal, dan lebih suka memakai tjelana jang saja sebut sadja ,,tjelana potlot”.”
Dalam usaha membendung keganasan “barang2 tjabul” itu PKI jauh lebih keras tindakannya. Njoto dalam pidato yang sama tak lupa berjanji merencanakan suatu mosi menuntut pelarangan segala sesuatu yang cabul kepada Parlemen. Ikatan Pemuda Pelajar Indonesia (IPPI) lantas memfasilitasi sarasehan besar “Demoralisasi Peladjar” yang digelar selama sepekan pada 27 Februari s/d 5 Maret 1955 di Jogjakarta.
Lekra cabang Jogja pernah membuat program melakukan sweeping atas pemakai baju-baju norak nekolim atau you-can-see. Bagi PKI dan eksponen Lekra, pakaian-pakaian cabul semacam you-can-see dan bikini, film cabul, sastra cabul, maupun majalah cabul bukan soal sepele. Ia adalah bagian dari arus revolusi kebudayaan yang mesti dibersihkan dari perikehidupan masyarakat.
Dan mereka konsisten dengan sikap penentangan itu. Ada sekira sepuluh tahun rentang antara pidato Njoto dan tindakan Panglima Daerah Angkatan Kepolisian X Jawa Timur di Surabaya, Drs Soemarsono, yang menyerukan bahwa “disamping terhadap lagu2 ngak-ngik-ngok sebangsa the beatle, rok n roll, AKRI akan mengambil tindakan tegas terhadap mode2 pakaian jang berbau nekolim”.
Pada 8 Juli 1961, Harian Rakjat bersikap keras terhadap film-film Amerika yang dianggap dipenuhi adegan mesum, seks dan mengajarkan kekerasan. Tulisan yang secara jelas menerangkan sikap PKI dalam hal tulisan dan tayangan seks dan kekerasan itu terpajang manis dalam judul “Hanja Menghendaki Sex dan Kekerasan”.
Majalah-majalah yang dianggap cabul seperti Playboy dirazia yang dalam bahasa kartun Harian Rakjat edisi 8 Agustus 1965 merupakan sampah-sampah berbau Amerika yang sepantasnya dibuang. Sejalan dengan itu, Badan Kontak Organisasi Wanita Indonesia Djawa Timur (BKOWI) di Surabaya juga mengeluarkan pernyataan menertibkan peredaran buku-buku dan majalah yang tak sesuai dengan kepribadian nasional. Keluarnya pernyataan itu merupakan respons langsung dari beredarnya kisah-kisah bergambar saru nan mesum yang tak pantas dilihat, “Keluarga Miring” No 8, 9, 10 terbitan Semarang tahun 1965.
Standar moral PKI, dalam hal beginian, relatif keras. Soedjojono, pelukis yang oleh Claire H0lt dalam studinya tentang sejarah seni di Indonesia maupun dalam disertasi Farida Soemargono di Ecolo des Hautes Estudes en Scien Sociales (Paris) disebut sebagai penubuh gagasan realisme (sosialis) Indonesia dalam seni rupa Indonesia ketika ia bergelut di Jogjakarta pada akhir 1930-an hingga awal 1950-an (kurang lebih seperti posisi Pram sebagai penganjur realisme sosialisme dalam kesusastraan), sampai harus dipecat karena menolak meminta maaf dan ampun setelah ia berpoligami dengan menikahi istri mudanya yang bernama Rose Pandanwangi (sama bukan dengan Partai Bulan Bintang yang berazas Islam ketika memecat Zaenal Maarif gara-gara berpoligami?). Sikap Aidit tergolong keras dalam perkara moral macam beginian.
Apakah pernah Doktor Honoris Causa Dokter Hewan Taufiq Ismail mengakui “sumbangan” PKI-Lekra dalam perkara beginian? Apakah ada pengungkapan wajah lain PKI-Lekra dalam perkara beginian dalam buku “Prahara Budaya”?
Apakah Doktor Honoris Causa Dokter Hewan Taufiq Ismail kesulitan menemukan klping-kliping seperti itu? Saya pastikan tidak mungkin.
Jika Doktor Honoris Causa Dokter Hewan Taufiq Ismail dengan mudah menampilkan kliping-kliping tulisan yang dengan telanjang menganjurkan pengganjangan terhadap Menikebu, jika mau dia juga bisa dengan mudah menemukan dan menampilkan sikap moral PKI-Lekra dalam soal seks, gambar mesum, film porno dan kekerasan. Kampanye pengganjangan Manikebu sama banyaknya dengan pengganjangan bikini, playboy, film porno, buku cabul, majalah cabul (Anda akan menyadarinya jika menyambangi langsung koran-koran pada masa itu, terutama Harian Rakyat dan Bintang Timur).
Lantas kenapa yang beginian tidak diberi tempat dalam “Prahara Budaya”? Bagi saya, cukup jelas, “Prahara Budaya” memang diabdikan untuk menggelar kampanye untuk membangun citra yang buruk terhadap PKI-Lekra-Pram.
Apakah pernah orang-orang berpikir bahwa PKI-Lekra punya standar moral yang jelas dalam perkara kecabulan? Tidak bukan? Orang hanya tahu keburukan dan keganasan PKI-Lekra. Dan buku “Prahara Budaya”, bagi saya, adalah salah satu eksponen terpenting dari proyek besar stigmatisasi itu.
Buku “Prahara Budaya” memang tidak meyakinkan untuk menjelaskan keutuhan sepakterjang PKI-Lekra-Pram. “Prahara Budaya” baru meyakinkan dalam hal menggambarkan keburukan dan keganasan PKI-Lekra-Pram.
*****
Arya,
Saya menemukan kesejajaran sikap dan standar moral PKI-Lekra dengan polah Doktor Honoris Causa Dokter Hewan Taufiq Ismail hari-hari belakangan ini yang juga doyan betul mempropagandakan sikap anti-karya sastra cabul, novel cabul, film cabul dan majalah cabul melalui peristilahan (dengan gaya menggunakan akronim yang tidak beda dengan PKI-Lekra-Pram), macam SMS (Sastra Mazhab Syahwat), GSM (Gerakan Syahwat Merdeka) atau FAK (Fiksi Alat Kelamin).
Ketika ditanya soal penggunaan akronim-akronim macam itu, GM (dalam komentarnya atas Pernyataan Ode Kampung) berkomentar dingin: “Sepertinya akronim-akronim lagi naik daun sekarang.”
Bedanya, Doktor Honoris Causa Dokter Hewan Taufiq Ismail mengalasdasari dengan dalil-dalil kitab suci sementara PKI-Lekra mengalasdasari dirinya dengan dalil-dalil revolusi anti-Nekolim yang dimuntahkan dengan begitu bersemangat di banyak sekali kesempatan oleh Bung Karno.
Jika dulu Njoto atau Aidit atau PKI atau Lekra saling bajak-membajak dengan pemerintah c.q Soekarno untuk melakukan apa yang disebut GM sebagai “memberangus kebebasan berpikir”, itu pula yang sepertinya sedang diusahakan oleh Doktor Honoris Causa Dokter Hewan Taufiq Ismail yang datang ke Parlemen untuk meminta kurikulum 2004 yang menghilangkan kata PKI dalam peristiwa 1965 untuk dibatalkan, dalam kosa kata PKI: “diganjang”. (Untuk mengetahui keterlibatan Taufiq Ismail dalam upaya membatalkan kurikulum 2004 bisa dibaca di sini dan di sini)
Anda bisa membaca wawancara teman sekantor saya dengan sejawaran senior Anhar Gonggong yang menguak peristiwa di mana Doktor Honoris Causa Dokter Hewan Taufiq Ismail datang ke Parlemen memohon-mohon agar buku sejarah berbasis kurikulum 2004 dilarang dari peredaran. Kata Anhar Gonggong ketika itu: “Faktanya pemerintah lebih mendengar Taufiq Ismail daripada kami para sejarawan.” (komentar Anhar Gonggong selengkapnya bisa dibaca di sini)
Dari situlah asal muasal pembakaran buku pelajaran sejarah berbasis kurikulum 2004 oleh Nur Mahmudi Ismail, orang yang pernah Anda coblos dalam Pemilihan Umum di Depok tapi belakangan Anda mengaku mencabut mandat Anda padanya.
Pembakaran buku dimulai oleh sejumlah orang, termasuk Taufiq Ismail, yang menginginkan agar buku pelajaran sejarah berbasis kurikulum 2004 dihapuskan. Mereka, termasuk juga Taufiq Ismail, mengusahakan hal itu dengan banyak cara, termasuk mendatangi parlemen. Kebetulan parlemen banyak diisi oleh orang-orang yang memang alergi dengan segala macam yang berbau PKI. Kompak sudah. Klop betul.
Maka keluarlah pelarangan buku pelajaran sejarah kurikulum 2004 oleh Kejaksaan Agung. Berdasarkan itulah Nur Mahmudi membakar buku. Setelah itu, keluarlah pernyataan sikap menolak pembakaran buku. Setelah itu, Anda mengritik pernyataan sikap itu sebagai mengandung ommision of fact karena tidak mencantumkan pembakaran buku (yang katanya) dilakukan oleh Pram, seraya pada saat yang sama menyebut terus menerus buku “Prahara Budaya” yang disusun oleh Doktor Honoris Causa Dokter Hewan Taufiq Ismail, orang yang justru rajin menuntut pelarangan buku sejarah berbasis kurikulum 2004 yang jadi prolog alias asal muasal pembakaran buku oleh Nur Mahmudi.
Bagaimana bisa kita menganjurkan untuk melawan alpa dan ommision of fact dengan merekomen buku “Prahara Budaya” yang hanya menghadirkan sisi buruk PKI-Lekra-Pram seraya pada saat yang sama menghilangkan banyak hal penting dari sisi lain PKI-Lekra-Pram?
Lagipula, buku itu disusun oleh orang yang justru rajin menuntut pelarangan buku sejarah berbasis kurikulum 2004 yang kelak menjadi pangkal pembakaran buku.
Anda jangan lupa asal muasal sengkarut kelakuan Nur Mahmudi Ismail membakari buku. Karena pelarangan buku sejarah dan pembakaran buku pelajaran sejarah itu satu paket; sebab yang kedua tak mungkin terjadi tanpa kejadian yang pertama.
Apakah Anda menyebutkan peran Sang Penyusun buku “Prahara Budaya” dalam sengkarut pelarangan buku sejarah yang akhirnya berujung pada pembakaran buku sejarah? Tidak bukan?
Jika benar tuduhan Anda bahwa Pram membiarkan atau menganjurkan pembakaran buku, hal yang sama mesti Anda jelaskan di mana posisi Doktor Honoris Causa Dokter Hewan Taufiq Ismail dalam pelarangan buku sejarah yang akhirnya berujung pada pembakaran buku.
Itu baru adil namanya.
****
Arya,
Anda, seperti juga “Prahara Budaya”, tidak salah ketika menyebut adanya pembakaran buku yang tidak bisa tidak melibatkan PKI-Lekra-Pram, langsung atau tidak, berikut selisih derajat keterlibatan dan peran mereka masing-masing.
Perpustakaan USIS di Surabaya diserbu dan dibakar jam 18.30 pada 8 Desember 1964 dan diberitakan di Harian Rakjat pada terbitan 9 Desember 1965. Sebelumnya, pada 5 Desember 1964, mereka yang menamakan dirinya Front Pemuda, menyerbu gedung USIS dan lantas membakar buku-buku milik USIS di Jakarta.
Penyerbuan dan pembakaran itu dilakukan setelah mereka menghadiri Rapat Umum Setiawakan dengan Rakyat Kongo yang menolak invasi Amerika dan Belgia ke Kongo. Peristiwa ini kemudian diberitakan sebagai headline di halaman muka Harian Rakjat pada edisi Sabtu, 5 Desember 1964.
Pada hari yang sama dengan terbitnya Harian Rakjat dengan headline itu, nyaris semua surat kabar dI Jakarta juga memberitakannya. Harian Suluh Indonesia, Warta Bhakti, Duta Masjarakat, Sinar Harapan dan Bintang Timur memberitakan peristiwa USIS dan Rapat Umum Setiakawan dengan Rakjat Kongo dengan nada simpatik, sementara Merdeka (yang dipimpin oleh BM Diah, orang yang mendirikan Badan Pendukung Soekarnoisme) dan Berita Indonesia (yang didirikan salah seorang sahabat HB Jassin, Anas Ma’ruf, yang produktif menerjemahkan karya-karya Tagore, Steinbeck hingga Kabawata) bersikap antipati dengan penyerbuan dan pembakaran USIS itu.
Bagaimana sikap Lekra?
Saya belum menemukan pernyataan resmi Lekra ihwal penyerbuan dan pembakaran buku milik USIS. Yang saya temukan adalah sikap resmi Pmpinan Pusat Lekra yang menuntut penutupan USIS. Sikap resmi Lekra itu terbaca jelas di halaman muka (persisnya di pojok atas bagian kanan) Harian Rakjat dalam judul berita: “PP Lekra Dukung Tuntutan Warta Berita: Tutup USIS dan Pusat Kebudajaan AS”.
Foto pembakaran buku macam itu tidak hanya bisa didapatkan dari buku “Prahara Budaya”. Foto yang sama bisa didapatkan pula, misalnya, pada koran-koran masa itu. Juga bisa ditemukan dalam memoar yang ditulis oleh Duta Besar Amerika pada periode itu, Marshal Green, yang berjudul “Indonesia: Crisis and Transformation 1965-1968” (yang edisi terjemahannya pernah diterbitkan oleh Grafiti).
Fakta itu terlalu telanjang untuk dilewatkan begitu saja, dan saya tidak pernah berniat menggelapkan fakta itu.
Saya tidak tahu kenapa para penandatangan pernyataan sikap menolak pembakaran buku tidak menyebutkan ini (satu misteri yang membuat kawan saya, Ikram Putra, penasaran bukan main!). Biarlah para penandatangan itu yang menjawabnya, karena saya memang tidak ikut menandatangani, kendati sikap saya jelas-jelas menolak dan melawan pembakaran buku berdasar dalih apa pun.
Tetapi, jika pun mau adil dan dengan semangat untuk membicarakan sejarah secara jernih dan proporsional, mesti dijelaskan secara fair juga posisi dan dalam skala apa keterlibatan mereka, dan tidak dengan serta merta memukul rata semuanya sebagai “para pembakar buku” seperti yang dipakai Arya dalam tiga tulisan sebelumnya, yang lantas diperbaiki frasenya ditulisan Arya yang terakhir.
Gaya pukul rata ini diadopsi dari “Prahara Budaya”. Kalau pinjam istilah anak sekarang, “Prahara Budaya” banget!
Dan juga jika mau adil, “Prahara Budaya” dan juga Doktor Honoris Causa Dokter Hewan Taufiq Ismail sebaiknya menjelaskan pula sikap moral PKI-Lekra-Pram dalam hal moralitas terhadap seks, pornografi dan kekerasan; hal ihwal yang belakangan juga digembor-gemborkan oleh Doktor Honoris Causa Dokter Hewan Taufiq Ismail. Karena itu satu paket.
Jika saja Doktor Honoris Causa Dokter Hewan Taufiq Ismail menyusun “Prahara Budaya” dengan cara seperti, misalnya, Vedi R. Hadiz dan David Bourchier ketika menyusun buku “Indonesia Politics and Society: A Reader”, saya barangkali bisa lebih menghormati “Prahara Budaya”.
Buku yang disusun oleh Vedi dan Bourchier itu berisi kliping-kliping tulisan atau artikel atau manuskrip yang dianggap bisa menggambarkan dan mewakili gagasan politik yang penting selama masa Orde Baru.
Berbeda dengan “Prahara Budaya”, buku tersebut hanya menyajikan kata pengantar panjang plus anotasi dan tidak mencampurbaurkan antara opini penyusunnya dengan bahan-bahan kliping yang ditampilkan. Pembaca bisa memilah dengan baik mana yang merupakan sikap penyusun dan mana kliping aslinya. Penyuntingan memang dilakukan, tetapi penyuntingan itu dilakukan dengan tidak banyak mengubah aslinya.
****
Arya,
Sekarang mari kita omong-omong sebentar mengenai hubungan Lekra dan PKI.
Saya mencoba mengerti jika Anda, dalam tulisan terakhir, menyebut Lekra sebagai organ PKI di bidang kebudayaan dan kesenian.
Tetapi, penyebutan Lekra sebagai organ atau alat PKI tidak sepenuhnya bisa menjelaskan bagaimana sebenarnya hubungan antara PKI-Lekra. Berhenti hanya dengan menyebut Lekra sebagai organ apalagi alat PKI, bagi saya, berpeluang menghilangkan banyak detail sejarah termasuk kompleksitas hubungan antara Lekra-PKI.
Bagi saya, detail sejarah seperti itu, mau tidak mau, mesti diikutsertakan jika kita memang ingin berbuat adil dan menyajikan sejarah secara proporsional. Detail seperti itu mesti dijelaskan jika kita ingin lolos dari jeratan ommision of fact. Berhenti dengan predikat “organ atau alat PKI” saja, bagi saya, rentan untuk terjebak pada gaya berpikir “pukul rata” yang kurang kondusif bagi upaya menebarkan pemahaman sejarah yang lebih proporsional dan koheren dengan kenyataan.
Dengan semangat mengeliminasi gaya berpikir pukul rata yang mudah membawa kita pada kubangan ommision of fact, saya mencoba membagi pengetahuan dan informasi yang saya ketahui mengenai hubungan antara Lekra dan PKI.
Semua orang tahu bahwa antara Lekra dan PKI punya hubungan yang khusus. Menjadi ommision of fact jika ada yang bilang bahwa Lekra dan PKI sama sekali tak memiliki hubungan apa pun. Kedekatan keduanya terlalu telanjang untuk dilenyapkan begitu saja.
Kedekatan antara PKI-Lekra dan kedekatan keduanya dengan Soekarno begitu jelas pada periode Demokrasi Parlementer. Unsur Soekarno ini penting karena sekuat-kuatnya PKI atau Lekra, mereka tak ada artinya tanpa Soekarno. Ketiga-tiganya sama-sama doyan mereproduksi jargon-jargon revolusioner, Manifesto Politik, Neo-kolonialisme dan imperialisme dan pada semangat pada revolusi yang dibayangkan akan mamupu membebaskan Indonesia dari feodalisme dan imperialisme.
Seperti yang ditunjukkan oleh Rex Mortiner dalam studinya tentang komunisme Indonesia pada masa Soekarno, kadang ucapan PKI, ucapan pengurus Lekra atau pun ucapan Soekarno hampir-hampir tak bisa dibedakan lagi. Faktor penting Soekarno ini tak dijelaskan dengan memadai oleh “Prahara Budaya”, seakan-akan Lekra-PKI sajalah pihak yang bertanggungjawab.
Tetapi seberapa dekat sih hubungan Lekra-PKI? Apakah sedekat antara Barisan Tani Indonesia (BTI) atau Pemuda Rakyat (PR) dengan PKI? Seberapa kuat jaring komando antara PKI dengan Lekra?
Yang saya tahu, sampai munculnya Pageblug 1965, Lekra “gagal dikomuniskan” oleh Aidit dan PKI. “Gagal dikomuniskan” di situ artinya Lekra tidak pernah menjadi organ milik PKI seperti yang Anda bilang di tulisan terakhir Anda. Hal yang sama berlaku juga pada Gerwani.
Upaya mengkomuniskan Lekra atau Gerwani biasanya dilakukan dalam kongres-kongres resmi organ-organ tersebut. Jika PKI gagal mengkomuniskan mereka secara resmi, PKI biasanya lantas membentuk sendiri organ-organ yang dia inginkan.
Karena itulah PKI akhirnya membuat Konferensi Seni dan Sastra Revolusioner (KSSR) yang akhirnya menjadi organ atau onderbouw resmi PKI. Karena Gerwani “gagal dikomunsikan”, maka PKI akhirnya membentuk organ resmi yaitu Wanita Komunis.
Lekra tidak pernah menjadi onderbouw resmi PKI sebagaimana BTI, PR, CGMI, atau SOBSI, atau kalau sekarang seperti Banser bagi PKB atau Gerakan Pemuda Ka’bah bagi PPP.
Bahwa ada orang-orang komunis di tubuh LEKRA, itu jelas dan terlalu telanjang untuk dilenyapkan. Salah satu simpul hubungan antara Lekra dan PKI paling telanjang terlihat dari keberadaan Njoto di Lekra. Njoto pula salah satu orang yang ikut menggodok pendirian Lekra.
Tetapi antara Lekra dan PKI bukannya identik. Perbedaan tajam antara keduanya bukan sekali dua muncul. Sejumlah tokoh Lekra menolak campur tangan berlebihan dari partai. Instruksi-instruksi Partai yang datang seperti sabda sangat sering menjengkelkan tokoh-tokoh kunci Lekra.
Puncak perbedaan itu ya ketika PKI berniat mengkomuniskan Lekra pada 1964. Njoto sendiri, yang pernah dijuluki Brother Number Two yang merupakan Wakil Ketua CC PKI, terlibat dalam penolakan itu. Njoto pernah bilang pada koleganya di CC PKI bahwa cukuplah dirinya saja yang ada di Lekra dan tak usah sampai mengkomuniskan Lekra.
Dalam salah satu perbincangan singkat antara Muhidin M Dahlan (rekan sekantor yang sedang meneliti koran-koran kiri di masa lalu) dan saya dengan Martin Aleida di gang menuju TIM, Martin sempat kurang lebih sempat bilang: “Seandainya PKI menang, orang-orang seperti Pram dan Njoto barangkali akan dihabisi oleh PKI.”
“Kami menolak. Saya juga menolak, karena tidak bisa, misalnya, seorang Pram diperintah menjadi merah. Begitu juga yang lain. Nggak bisa,” tegas Oey Hay Djoen, orang yang saya lihat datang pada malam terakhir kehidupan Pramoedya.
Orang-orang seperti Pram, Rivai Apin, atau Soedjojono terlalu kokoh untuk diperintah ini dan itu atau disuruh menulis dan melukis begini dan begitu. Dalam kata-kata Oey, “Mereka semua sudah harimau sebelum Lekra dibentuk.”
(Barangkali ini seperti Tan Malaka, yang kendati seorang komunis, tetapi cukup jelas ia tidak bisa diperintah semau-maunya oleh Komintern. Itulah sebabnya Hatta pernah mngeluarkan komentar yang terkenal mengenai Tan Malaka sebagai orang yang tulang punggungnya terlalu keras untuk membuatnya tunduk pada Stalin.)
Uraian yang sama bisa dibaca dalam tulisan Joebar Ajoeb berjudul “Mocopat Kebudayaan”. Joebar juga menegaskan rendah dan cairnya kendali PKI terhadap Lekra.
Jangan heran juga jika kita membaca memoar Kusni Sulang (yang sekarang menggunakan nama JJ Kusni), “Di Tengah Pergolakan: Turba Lekra di Klaten”, yang bingung bukan main kenapa penelitian kesenian yang dilakukannya kok bisa dipimpin oleh DN Aidit.
Kebingungan Kusni, pernyataan Oey dan Joebar, bisa menggambarkan bahwa hubungan PKI-Lekra tidak sesederhana dan semudah seperti antara induk-semang dengan anak-semang atau antara pimpinan dan bawahan atau antara partai dengan onderbouw resminya. Bacaan-bacaan saya itu membut saya mencoba tidak gegabah menggunakan kata-kata jargon seperti “Lekra adalah organ atau alat PKI”.
Stephen Miller, seorang sarjana dan peneliti dari Australia, penggambaran Lekra sebagai alat PKI tidak realistis karena seakan-akan ada jalur komando yang berasal langsung dari Moskow atau Peking melalui Politbiro PKI lalu diteruskan ke Pimpinan Pusat Lekra. Miller menyebutkan bahwa gaya “pukul rata” menyebut Lekra sebagai alat PKI dibangun secara sistematis dan dipertahankan dengan terus menerus oleh Orde Baru.
Keith Foulcher (”Social Commitment in Litterature and the Arts”) sendiri berkesimpulan bahwa Lekra bukanlah organ apalagi alat PKI. Foulcher menyebut Lekra memang sealiran politik dengan PKI. Sementara Saskia Wieringa (“Penghancuran Gerakan Perempuan di Indonesia”) mencoba menggambarkan kerumitan hubungan itu dengan menggunakan istilah “Keluarga Komunis”. Istilah Keluarga Komunis itu oleh Antariksa (“Tuan Tanah Kawin Muda: Hubungan Seni Rupa-Lekra”) disebut sebagai penggambaran yang lebih pas bagi hubungan-hubungan lentur daripada hubungan formal-organisatoris yang bisa diperintah semaunya.
Detail-detail seperti ini tidak akan pernah dapat kita temukan secara memadai dalam “Prahara Budaya”.
Dengan caranya yang tersamar, “Prahara Budaya” menulis PKI dan Lekra dengan cara “PKI/LEKRA”. Pilihan menggunakan tanda hubung “/” punya implikasi linguistik yang tidak sederhana karena tanda “/” bisa diartikan bahwa dua entitas yang dipisah oleh tanda “/” itu sama persis atau bahkan identik, ketimbang tanda hubung “—“ yang bagi saya relatif lebih bisa menggambarkan bagaimana PKI dan Lekra beriringan dalam sejumlah hal tapi keduanya tidak kembar identik.
PKI pernah ditulis dengan cara itu oleh Soe Hok Gie dalam studinya tentang Peristiwa Madiun 1948. Gie menulis “PKI/FDR” (Front Demokratik Rakyat). Tapi cukup jelas, FDR yang terdiri dari sejumlah partai-partai kiri pada waktu itu secara resmi memang mengabungkan diri kepada PKI yang waktu itu baru saja diambil alih oleh Musso yang baru kembali dari Sovyet. Pilihan Gie untuk menggandengkan PKI dengan FDR menjadi “PKI/FDR” bisa saya terima karena konteks dan argumennya begitu jelas dan tak mungkin saya tolak.
Saya tidak sedang membangun kampanye positif bagi Lekra, PKI, Pram. Saya hanya mencoba membagi detail yang saya ketahui dari bacaan-bacaan yang saya miliki. Karena bagi saya, membaca detail-detail seperti ini merupakan kerja yang satu paket dengan upaya kita bersama untuk melawan ommision of fact.
PKI dan Lekra dan juga Pram memang tak bisa cuci tangan dari kampanye menyingkirkan karya-karya para penulis Manikebu. “Prahara Budaya” dengan begitu bersemangat sudah mencoba menjlentrehkan soal ini.
Tetapi, tiap kali menyebutkan itu, kita mesti menambahinya dengan keterangan dalam tanda kurung sejumlah detail yang mesti diketahui supaya kita semua tidak terangsang untuk terus-menerus menggunakan gaya dan frase-frase penuh jargon yang mencerminkan gaya berpikir pukul rata.
Bagi saya, membuka diri pada detail-detail begituan memungkinkan kita untuk tidak secara enteng-entengan menggunakan gaya berpikir “pukul rata”, seperti ketika Anda menyebut tantangan terbuka saya sebagai bergaya Agitprop dan menekankan dalam tanda kurung bahwa Agitprop adalah “istilah milik PKI”, pada saat partai Murba dan partai lain sebenarnya biasa menggunakan istilah Agitprop.
Itulah sebabnya saya menantang Anda untuk berbicara secara detail mengenai apa yang oleh Anda reproduksi terus-terusan dalam 3 tulisan sebelumnya sebagai pembakaran buku yang dilakukan oleh Pram. Karena saya percaya bahwa upaya untuk lolos dari jeratan ommision of fact dan propaganda sejarah bisa dimulai, salah satunya, dengan berbicara secara detail mengenai perkara-perkara yang kontroversial. Mungkin melelahkan dan tidak semua orang mau dan punya waktu untuk berpikir dan membaca detail-detail seperti ini.
Itulah yang termuat dalam buku sejarah kurikulum 2004, yang memaparkan detail lima versi mengenai siapa sebenarnya otak peristiwa 1 Oktober 1965. Ini bagus saya kira. Sayangnya, kurikulum 2004 ini lantas dilarang menyusul desakan banyak pihak, termasuk Taufiq Ismail. Dan dari pelarangan itulah pembakaran buku menjadi dimungkinkan.
Jika saja Anda mengritik pernyataan sikap dengan menggunakan kalimat (misalnya) “kenapa pembakaran perpustakaan USIS oleh organ-organ yang berafiliasi dengan PKI” tidak dimasukkan, saya tentu tidak akan pernah menantang Anda untuk berbicara secara detail. Tapi karena tiba-tiba Anda memilih untuk “mengaburkan” kenyataan sejarah yang kaya detail itu dengan frase-frase bergaya pukul rata seperti “Pram membakari buku-buku lawan ideologisnya”, maka muncullah saya untuk menantang Anda berbicara secara detail.
Pernyataan GM bahwa penting untuk mengakui kesalahan dan meminta maaf pada kesalahan yang diperbuat, bagi saya, lebih tepat disodorkan pada mereka-mereka yang terlibat dan menjadi pelaku sejarah, entah itu GM, Taufiq Ismail, Ajip Rosidi, Kusni Sulang, Hersri Setiawan, Martin Aleida, dll. Urusan merekalah itu mau mengakui dosa, meminta maaf atau meminta ampun atau apa pun yang mereka maui. Kita juga tidak bisa memaksa.
Saya tidak ada urusan dengan itu karena tugas generasi sekarang bukan mengurusi orang-orang tua yang kadang menjengkelkan dan terus menerus mereproduksi dendam di antara mereka sendiri (seperti yang ditunjukkan oleh Ajip Rosidi ketika mengungkit-ngungkit kelakuan AS Dharta di harian Pikiran Rakyat pada saat Dharta baru saja meninggal beberapa bulan silam, yang langsung disambut dengan tulisan pelaku sejarah lainnya, Martin Aleida).
Jika Anda menyebut rekonsiliasi, saya tentu saja tidak akan ikut-ikutan karena saya tidak berkonflik dengan siapa pun. Rekonsiliasi itu ya urusan mereka yang memang berkonflik dan mungkin masih saja membawa dendam hingga masa tuanya.
Tugas generasi sekarang, barangkali saya atau Anda atau siapa pun yang memang berminat, adalah membicarakan sejarah penuh dendam dan sengkarut itu dengan cara yang jernih, membuka diri pada banyak detail, dan mau menerima tafsir lain dari yang kita percayai.
Kita tidak perlu menunggu rekonsiliasi dan saling peluk-pelukan nan mengharukan dari orang-orang tua kita itu untuk bisa mengambil sikap dan pendirian dengan cara yang jernih dan logis terhadap sengkarut ini.
****
Arya,
Saya sepakat dengan Anda dalam hal melawan alpa dan melawan ommision of fact.
Untuk perkara anti pembakaran buku dan penolakan ommision of fact, saya setuju dengan Anda tanpa perlu saya tahu apakah Anda pengagum atau pembenci Pram, apakah Anda pembaca karya-karya Pram atau bukan, apakah Anda menamai anak keduanya dengan mengadopsi nama fiksi buatan Pram atau Borges atau siapa pun. Itu semua gak penting bagi saya.
Jika Anda mengajak saya untuk terlibat dalam upaya melawan alpa dan ommision of fact, saya dengan senang hati ikut bergabung, tapi tentu saja saya tidak akan merekomendasikan “Prahara Budaya” jika saya ditanya buku apa yang bisa menjelaskan secara utuh dan proporsional peran PKI-Lekra-Pram.
Jika pun saya menyebutkan buku “Prahara Budaya”, pada saat yang sama saya akan menyebutkan buku Antariksa berjudul “Tuan Tanah Kawin Muda: Hubungan Seni Rupa-Lekra”, buku Keith Foulcher berjudul ”Social Commitment in Litterature and the Arts” atau bukunya Saskia Eleonora Wieringa yang berjudul “Penghancuran Gerakan Perempuan di Indonesia” dan tulisan-tulisan para aktivis Lekra (seperti Kusni atau Hersri Setiawan) sebagai buku-buku pembanding.
Ini bukan sikap apriori seperti yang Anda tuduhkan pada Tossi atau Coen H Pontoh atau Budi Setiyono hanya karena mereka menyarankan Anda bersikap kritis terhadap “Prahara Budaya”. Saya sampai pada sikap seperti ini terhadap “Prahara Budaya” setelah saya membacanya dan membandingkannya dengan sumber-sumber lain.
Doktor Honoris Causa Dokter Hewan Taufiq Ismail boleh-boleh saja menulis apa saja yang ia percayai dan yang ingin ia percayai. Kita tidak bisa dan tak boleh melarangnya seperti juga saya tak bisa dan tidak akan pernah melarang buku “Prahara Budaya”. Tapi saya pun boleh mengambil sikap untuk tidak memercayai begitu saja “Prahara Budaya”, satu anjuran yang sudah disampaikan oleh Budi Setiyono dan Coen H Pontoh, yang sepertinya tidak begitu Anda simak dengan baik-baik.
Tentu saja saya bisa salah. Tentu saja saya bisa meleset. Tentu saja saya bisa keliru. Salah/meleset/keliru bukan hal tabu dalam polemik, yang tabu itu justru berdusta dan menutup-nutupi apa yang kita ketahui sebagai kenyataan dan kebenaran.
Arya, semoga kita selalu diberkahi sikap adil sejak dari pikiran.
Salam hormat,
Zen Rachmat Sugito (orang yang Anda bilang menggunakan bahasa “bernuansa Agitprop” yang kata Anda merupakan “istilah milik PKI”)
Diposting oleh zen di 12:57 PM 3 komentar
Kamis, Agustus 16, 2007
Naskah "Asli" Proklamasi yang Tak Jadi Dibacakan
Tanpa bermaksud ikut-ikutan Roy Suryo, saya posting naskah Pernyataan Kemerdekaan (Proklamasi) yang "asli". Istilah "asli" di sini maksudnya naskah inilah yang awalnya direncanakan akan dibacakan pada pernyataan kemerdekaan. Naskah ini dibahas dan disepakati oleh anggota BPUPKI pada 14 Juli 1945 (tanggal yang bertepatan dengan Revolusi Prancis), selama kira-kira 76 menit, dari jam 13.30 -- 14.46.
Naskah ini tidak jadi dibacakan karena pada dinihari 17 Agustus 1945, pada saat Soekarno-Hatta, dkk., berkumpul di kediaman Marsekal Maeda untuk membahas pernyataan kemerdekaan, tidak ada satu pun orang yang hadir membawa naskah Pernyataan Kemerdekaan yang disusun di BPUPKI.
Itulah sebabnya muncul naskah Proklamasi yang begitu pendek dan ringkas yang berbunyi: "Kami bangsa Indonesia dengan ini menjatakan kemerdekaan Indonesia. Hal-hal jang mengenai pemindahan kekoeasaan d.l.l., diselenggarakan dengan tjara seksama dan dalam tempo jang sesingkat-singkatnja."
Berikut di bawah ini saya ketik ulang naskah Proklamasi yang tidak jadi dibacakan itu:
==========================================
"Bahwa sesungguhnya kemerdekaan itu ialah hak segala bangsa, dan oleh sebab itu makan penjajahan di atas dunia harus dihapuskan, karena tidak sesuai dengan peri-kemanusiaan dan peri-keadilan. Bangsa Indonesia di zaman dahulu telah mempunyai riwayat mulia dan bahagia, yang batas-batasnya meliputi seluruh kepulauan Indonesia sampai ke Papua, malah melampaui ke daratan Asa sampai ke batas-batas tanah Siam; negara merdeka, yang dalam perhubungan perdamaian dan persahabatan dengan negara-negara merdeka di daratan Asia, menyambut tiap-tiap bang sayang datang dengan kemurahan hati.
Kedatangan bangsa-bangsa Barat di Indonesia, membawalah bencana kepada bangsa Indonesia itu. Lebih dari tiga abad meringkuklah bangsa Indonesia di bawah kekuasaan Belanda dengan haluan politik jahat: memecah-mecah persatuan kita, mengina, menginjak-injak rasa kehormatan kita, menghina, menghisap-memeras kekayaan kita untuk kepentingan bangsa Belanda sendiri.
Perkosaan yang jahat itu tidak dapat persambungan dalam dunia seterusnya, yang di dalamnya bertambah-tambah kehebatan perlombaan imperialisme Barat, berebut kekayaan segenap dunia. Dan lama-kelamaan bangkitlah kembali dengan sehebat-hebanya semangat perlawanan bangsa Indonesia, yang memang tak pernah padam dan tak pernah dipadamkan, dalam lebih 3 abad perkosaan oleh imperialisme Belanda itu. Sejarah kolonialisme Belanda di Indonesa adalah sejarah berpuluh-puluh pemberontakan bangsa Indonesia melawan imperialisme Belanda itu. Bergeloralah lagi di dalam kalbu bangsa Indonesia tekad yang berkobar-kobar berbangkit kembali sebagai satu bangsa yang merdeka dalam satu negara yang merdeka, melahirkanlah pergerakan teratur dalam bangsa Indonesia, yang didasarkanatas cita-cita keadilan dan kemausiaan, menuntut pengakuan hak kemerdeaan tiap-tiap bangsa. Tidak tercegah, tidak tertahan tumbuhnya, meluas dan mendalam pergerakan ni dalam segenap lapisan dan segenap barisan bangsa Indonesia, betapa pun kerasnya, betapa pun buasnya betapa pun ganasnya kekuatan pemerintah Belanda berkhtiar mencegah dan menindasnya.
Di saat memuncaknya gelagat pergerakan itu yang seperti barat saat kelahiran anak dari kandungan ibunya, maka Tuhan Yan Maha Kuasa telah membelokkan perjaanan riwayat dunia, mengalih/memindahakn perimbangan kekuasaan di muka bumi, istimewa di daerah lautan Teduh, untuk membantu pembinaan kelahiran itu.
Tuntutan Dai Nippo Teikoku, bertentangan denan tujuan-tujuan imperialisme Barat, yaitu tuntutan hak kemerdekaan Asia atas dasar persamaan ha bangsa-bangsa, serta politik ang dengan tegas dan tepat dijalankan olehnya, menuju pembangunan negara-negara merdeka dan lingkungan kemakmuran bersama Asia Timur Raya, akhirnya telah menyebabkan Dai Nipoon Teikoku metnyatakan perang kepada Amerika Serikat dan Inggris. Perang Asia Timur Raya ini, yang berkebetulan dengan saat memuncaknya perjuangan kemerdekaan bangsa Indonesa dan pergerakan kmerdekaan bangsa-bangsa Asia yang lain, menjadilah sebagai puncak pertemuan perjuangan kemerdekaan segala bangsa Asia di daratan dan di kepulauan Asia.
Dengan mengakui dan menghargai tnggi keutamaan niat dan tujuan Dai Nipoon Teikoku dengan Perang Asia Timur Raya itu, maka tiap-tiap bangsa dalam lingkungan Asia Tmur Raya atas dasar pembelaan bersama, wajiblah menyumbangkan sepenuhnya tenaganya dengan tekad yang sebulat-bulatnya, kepada perjuangan bersama itu, sebagai jaminan yang seteguh-teguhnya untuk keselamatan kemerdekaannya masing-masing.
Maka sekarang, telah sampailah perjuangan pergerakan kemerdekaan Indonesia kepada saat yang berbahagia, dengan selamat sentausa menghantarkan rakyat Indonesia, adil dan makmur, yang hidup sebagai anggota sejati dalam kekeluargaan Asia Timur Raya. Di depan pintu gerbang Negara Indonesia itula rakyat Indonesia menyatakan hormat dan terima kasih kepada semua pahlawan-pahlawan kemerdekaannya yang telah mangkat.
Atas berkat rahmat Allah yang Maha Kuasa, berdasar atas segala alasan yang tersebut di atas itu, dan didorong oleh keinginan luhur supaya bertangung-jawab atas nasib sendiri, berkehidupan kebangsaan yang bebas, mulia, terhormat, maka rakyat Indonesia dengan ini:
MENYATAKAN KEMERDEKAAN.
==========================================
*post-scriptum: "Naskah pernyataan kemerdekaan ini disusun pada siang hari 14 Juli 1945. Soekarno membacakan draft-nya, dan kemudian ditanggapi dan dimintai perubahan oleh sejumlah anggota. Naskah ini diambil dari buku Risalah Sidang Badan Penyelidik Usaha-usaha Kemerdekaan Indonesia (BPUPKI) yang diterbitkan Sekretariat Negara pada 1980. Sayangnya, buku ini tidak mencantumkan naskah Pernyataan Kemerdekaan yang sudah direvisi oleh anggota BPUPKI dan hanya berisi draftnya berikut dialog dan debat soal perubahan tata kalimatnya. Jadi saya sendiri yang memasukkan usulan perubahan tata kalimat dari anggota BPUPKI pada draft yang dibacakan Soekarno. Ini bukan perkara mudah, karena dialog lisan sungguh sukar diikuti, dan saya membuka diri pada kemungkinan koreksi."
Diposting oleh zen di 11:03 PM 9 komentar
Template asal oleh
headsetoptions
diadaptasi ke Blogger oleh
blog and web | dipercantik oleh udin