Jumat, Maret 16, 2007

Sartika Anak Durhaka?

Pada 16 Januari 1904, di Paseban Barat Pendopo Kabupaten Bandung, berdiri Sakola Istri. Dalam bahasa Sunda, “istri” artinya “perempuan”. Jadi, Sakola Istri berarti Sekolah Perempuan. Sekolah itu berdiri atas inisiatif Dewi Sartika yang disokong oleh Bupati Bandung, Martanegara, dan C. Den Hammer, pejabat Inspektur Pengajaran Hindia Belanda.

Sepertinya cukup mudah bagi Sartika mendirikan Sakola Istri. Padahal, di balik pendirian Sakola Istri yang bernilai historis tinggi itu, kita bisa menyaksikan bagaimana cita-cita, visi, ambisi, pembatasan oleh peradatan dan kekangan keluarga bertaut dan bertumbukan dengan kerasnya.

Sartika, bersama Kartini, adalah simbol dari sejenis pertautan dan tumbukan yang menguras mental itu. Tetapi kedunya berbeda mengambil sikap.

Di awal-awal pendiriannya, Sekolah Istri sudah mendapat sambutan besa dari masyarakat sekitar. Pada tahun pertama saja, ada 60 siswi yang sebagian besar berasal dari masyarak kebanyakan. Ketika itu, Sartika hanya dibantu oleh dua pengajar lainnya, yaitu Ny. Poerwa dan Nyi. Oewid.

Sakola Istri bukan pengalaman pertama bagi Sartika. Pada 1902, ketika baru berusia 18 tahun, Sartika sudah memulai karirnya sebagai pendidik kaum perempuan dengan mengelar sekolah informal yang mengajarkan pelajaran membaca, menulis dan berhitung. Ketika itu, murid sekolahnya hanya perempuan-perempuan yang masih termasuk sanak keluarganya sendiri.

Kegiatan belajar yang digelar Sartika ternyata tercium den Hammer. Mulanya ia memerhatikan kegiatan Sartika dengan penuh syak wasangka. Namun lambat laun, Hammer menganggapnya sebagai hal positif. Menyadari usaha mendirikan sekolah perempuan ternyata bukan perkara mudah, Hammer meminta agar Sartika menghubungi Martanegara, bupati Bandung, untuk menjajagi kemungkinan Martanegara bisa memeri sokongan yang mungkin bisa banyak membantu terealisasinya gagasan sekolah khusus perempuan di lingkungan Bandung.

Di sinilah Sartika menghadapi dilema moral terberatnya. Sartika masih ingat bagaimana ayahnya, Raden Somanagara, dihukum buang ke Ternate karena dengan tegas menolak pengangkatan Martanegara sebagai Bupati Bandung.

Sartika paham benar, bahwa Martanegara, bupati yang lumayan berpikiran maju, bisa memberi bantuan yang berharga dan signifikan karena bagaimana pun ia adalah penguasa wilayah Bandung. Tapi Sartika juga sangat paham, menerima dengan serta merta usulan untuk menghadap Martanegara seraya meminta bantuannya, bisa melukai perasaan ayah dan ibunya. Bagaimana mungkin Sartika bisa meminta bantuan orang yang, bisa dibilang, menjadi salah satu sebab utama pembuangan ayahnya?

Pilihan yang diambil Sartika akan menjelaskan perbedaan secara signifikan struktur mental Sartika dengan Kartini, terkhusus dalam hal relasi anak-ayah di antara keduanya.

Seperti kita tahu, beberapa bulan menjelang kepergiannya sekolah ke negeri Belanda, Kartini bertemu dengan orang yang selama ini sudah ia anggap tak ubahnya orang tua sendiri: pasangan Abendanon. Seusai perjumpaan dan pembicaraan dengan pasangan Abendanon pada 24 Januari 1903, Kartini merobohkan impian yang sudah dianyamnya sejak kecil: pembatalan kepergiannya ke negeri Belanda!

Dalam pertemuan itu, Mr. Abendanon dan istrinya (yang kelak berjasa menerbitkan kumpulan surat-surat Kartini) menyarankan agar Kartini membatalkan kepergiannya. Alasan yang diajukan pasangan Abendanon diantaranya keadaan ayahnya yang tua dan sakit-sakitan, situasi negeri Belanda yang bisa mendatangkan kesulitan hingga kemungkinan tidak diterima masyarakat karena akan dianggap sebagai noni Belanda

Di situ, tampak bagaimana Kartini betul-betul menjadi anak biologis dan anak batin ayahnya, sampai-sampai kondisi ayahnya bisa memupuskan salah satu cita-cita terbesar Kartini.

Dan kita tahu, pemusnahan cita-cita untuk sekolah ke Belanda ini menjadi awal dari rangkaian tragika yang kelak akan dialami Kartini (Untuk mengetahui lebih lengkap soal dilema keluarga yang dihadapi Kartini, sila telusuri empat esai Kartini yang ada di arsip bulan Mei 2006).

Sartika, kurang lebih juga mengalami dilema yang tidak kalah peliknya. Tetapi berbeda dengan Kartini, Sartika akhirnya mengambil keputusan untuk menghadap Martanegara. Dan dari sanalah akhirnya Sakola Istri bisa berdiri. Dari pilihan itu, kita tahu, Sartika ternyata mampu melampaui beban-beban moral dan mental yang terkait dengan ikatan darah. Keluarga dan puak dilampaui sedemikan rupa dan tampak seperti tak menjadi beban bagi Sartika.

Kita tak tahu persis bagaimana reaksi yang muncul dari keluarga Sartika, terkhusus reaksi dari ayahnya. Tapi kita bisa mengira-ngira, Sartika tentu saja sudah siap menanggung resiko yang muncul akibat pilihannya itu. Dan dari situlah kualitas Sartika sebagai manusia yang terikat dengan pelbagai ikatan primordial dan moral mencuat.

Di titik ini, pada salah satu momen sejarah paling krusial yang pernah dihadapai Sartika ini, kita menjadi paham: Sartika adalah salah satu ikon yang cukup pas menggambarkan bagaimana pertautan antara cita-cita, ambisi, keluarga dan puak bertumbukan dengan sedemikian rupa.

Apakah dengan itu Sartika menjadi seorang anak durhaka? Saya tidak tahu, seperti halnya saya tidak tahu apakah Sartika menyempatkan diri "matur" atau berbicara pada ayahnya di pembuangan. Yang saya tahu, Sartika mengambil sikap untuk terus melaju dengan cita-citanya, mengabaikan kemungkinan hal itu bisa melukai ayahnya.

Pilihan yang akhirnya diambil oleh Sartika menunjukkan dengan begitu baiknya bagaimana mentalitas kebanyakan para pemimpin nasional di kurun-kurun genting itu: mentalitas deontologis.

Berbeda dengan mentalitas teleologis yang lebih bertumpu pada etika baik-buruk, mentalitas deontologis dialasdasari oleh etika benar-salah. Dengan etika baik-buruk, yang diutamakan adalah tujuannya. Bagi seorang saudagar, langkah niaga yang diambilnya adalah baik jika berhasil mendatangkan laba, tak penting langkah niaga itu benar atau salah. Sedangkan etika benar-salah lebih mengutamakan penilaian yang hitam putih. Apa pun akibatnya, jika itu salah, tak mungkin suatu langkah diambil.

Setiap calon pelopor pasti pernah menghadapi bertimbun-timbun dilema dan problem kediriannya. Para calon pelopor yang berhasil menjadi pelopor adalah archetype manusia yang mampu mengatasi dan menjawab dilema-dilemanya secara cepat, tepat, dan penuh perhitungan. Dan ketika perhitungan itu ternyata meleset, para pelopor yang tangguh biasanya juga sudah tahu resiko yang kelak akan ditanggungnya sendirian itu.

Itulah kira-kira standar yang dimiliki oleh para pemberani, seperti yang pernah dibayangkan John F. Kennedy ketika menulis Profiles in Courages. Ernest Hemingay menyebutnya sebagai grace under pressure: semacam aura yang memancar dari orang-orang yang tidak kehilangan keanggunannya sekali pun berada di bawah tekanan dan ketakutan yang berbongkah-bongkah.

Selengkapnya......

Selasa, Maret 06, 2007

Nama sebagai Museum

Pada 23 Februari 1928, Raden Mas Soewardi Soerjaningrat secara resmi menanggalkan nama kecilnya. Sepucuk nama yang menerakan dengan eksplisit status kebangsawanan itu digantinya menjadi Ki Hajar Dewantara.

Nama itu ditemukan dalam rangkaian-rangkaian diskusi dengan para tokoh lainya. Soewardi diakui peserta diskusi sebagai yang paling mahir dalam tema berkaitan dengan pendidikan, keguruan dan pengajaran. Suatu hari, R.M. Soetatmo Soeryakoesoemo (anggota Volksraad dari Boedi Oetomo) yang memimpin diskusi dengan spontan memanggil Soewardi dengan sebutan Ki Ajar.Dari situlah nama Ki Hajar ditemukan.

Tapi, beberapa waktu setelah nama itu resmi digunakan, Ki Hajar justru seperti kehilangan radikalismenya yang menghentak. Nama Ki Hajar tak ubahnya seperti museum bagi radikalisme Soewardi Soerjaningrat.

Nama, seperti yang kita lihat barusan, bisa menunjukkan siapa dan seperti apa kualitas seseorang yang mengenakannya. Tapi dalam hal Ki Hajar, soal tak berhenti di situ. Pilihan untuk menggunakan nama Ki Hajar ternyata menunjukkan dengan amat benderang jalan hidup seorang Soewardi yang telah bersalin nama: dalam dunia pengajaran dan pendidikan-lah akhirnya Ki Hajar menemukan trek yang bisa digelutinya habis-habisan; jalan hidup yang menjadi salah satu model perjuangan dan pergerakan yang diyakininya tidak kalah serius dan tak kalah penting dengan melakukan pemogokan.

Tetapi karena nama juga mencerminkan masa lalu, maka mengganti nama bisa dimengerti sebagai sebuah penyikapan atas sejarah, semacam evaluasi atas masa silam, setidaknya masa silam dirinya. Dan bagi Ki Hajar, itu berarti sebuah penyikapan terhadap puaknya, keluarga bangsawan Pakualaman.

Dengan mengganti nama, dihilangkan pula gelar “Raden Mas” yang sebelumnya menempel manis di depan nama kecilnya. Jika Raden Mas dimengerti sebagai penanda paling verbal atas feodalisme, bisakah langkah mengganti “Raden Mas” dengan “Ki” sebagai bentuk penolakan atas feodalisme?

Dalam kasus Ki Hajar, jawabannya bisa jadi: “ya”. Begitu Taman Siswa berdiri, persembahan terpenting Ki Hajar untuk Indonesia, Ki Hajar menerapkan etos kesetaraan dalam pengembangan Taman Siswa. Semua pengajar laki-laki mesti mengenakan nama “Ki”. Sementara yang perempuan mesti menggunakan nama “Nyi”. Kebijakan itu tak pandang bulu, bahkan kendati seorang diantaranya bergelar Kanjeng Gusti Pangerah Haryo.

Jika demikian, seorang yang radikal-kah Ki Hajar? Sepertinya bukan. Dan sekali lagi, di sinilah salah satu ironi dari kehidupan dan pemikirannya bersarang.

Semasa masih memasang gelar Raden Mas di namanya, Ki Hajar merupakan seorang aktivis yang bersemangat. Di Bandung, dia menghidupkan Indische Partij. Dia pula yang menulis “Ik eens Nederland Was” atau "Seandainya Saya Seorang Belanda", pamflet yang dengan telengas menghardik cara berpikir pemerintah kolonial. Pamflet itu bisa dibilang menjadi puncak dari sikap radikal Ki Hajar.

Hingga tahun penerbitannya dan bertahun-tahun kemudian, brosur Seandainya Saya Orang Belanda menjadi tulisan paling tajam dan menohok kolonialisme Belanda persis di jantungnya yang pernah ditulis dan diterbitkan di Hindia-Belanda. Dan yang lebih mengejutkan, tulisan itu lahir bukan dari pena seorang Tjiptomangoenkoesoemo yang saat itu dianggap sebagai bumiputera yang paling galak terhadap pemerintah kolonial, melainkan buah pena seorang aristokrat dari Kraton Pakualaman Yogyakarta: Soewardi Soerjaningrat.

Brosur Seandainya Saya Orang Belanda (selanjutnya hanya akan sata sebut Seandainya...)ditulis dengan bahasa yang halus dengan struktur kalimat yang sempurna betul. Brosur itu sendiri pada dasarnya adalah sebuah sindiran yang tajam yang mana sindiran itu di separuh bagian di antaranya digelontorkan dengan sebuah pengandaian yang, selain cerdas, juga begitu halus. Barulah ketika sampai di seperempat akhir tulisannya, Soewardi menanggalkan semua kehalusan sindir-menyindir dan merengsek maju dengan gaya bahasa yang menjompak-jompak dan meninju langit.

Di awal-awal, pembaca akan sukar menebak mau ke mana arah tulisan Soewardi. Tetapi menginjak pada paragraf keempat, arah yang ingin disasar itu pelan-pelan mulai menyingsing. Dia menulis: “…Sebagaimana halnya orang Belanda yang nasionalis sejati mencintaii tanah airnya, saya pun mencintai tanah air sendiri, lebih dari apa yang dapat saya gambarkan dengan kata-kata. Alangkah gembiranya hati, alangkah nikmatnya dapat turut memeringati hari nasional yang demikian penting artinya.”

Dengan sejumlah pengandaian yang jelas-jelas superlatif, Soewardi memaparkan apa yang akan ia lakukan jika dirinya merupakan seorang Belanda yang sedang merayakan kemedekaan negeri yang sungguh dicintainya setengah mati-separuh hidup itu. Ia berandai bahwa dirinya niscaya akan “berseru-seru dengan hati gembira”, “dengan tak jemu menyanyikan ‘Wilhelmus’ dan Wien Nederland Bloed’”, “akan memanjatkan do’a di gereja”, dll.

Memasuki seperempat halaman brosurnya, Soewardi makin tegas menunjukkan sikap. Ketegasan itu dimulai dengan sebuah parafrase yang begitu sopan dan tertata: “Saya berpendapat, kiranya kurang sopan, rasanya memalukan dan tidak layak jika kita -- dalam angan-angan saya, saya masih seorang Belanda—mengajak orang-orang pribumi turut bersorak-sorak dalam perayaan hari kemerdekaan kita.”

Masih dengan pengandaian sebagai orang Belanda, Soewardi mengajak orang Belanda untuk berpikir: Tidakkah mengajak rakyat Hindia-Belanda yang terjajah untuk merayakan kemerdekaan tuannya akan membawa rakyat Hindia-Belanda membayangkan saat-saat menggembirakan hati rakyat Belanda sewaktu bebas dari kangkangan Napoleon?

Sejak itulah nada tulisan Soewardi makin galak, kendati ia masih terus mengandaikan diri sebagai orang Belanda. Ia misalnya sudah menulis bahwa Belanda dengan demikian sudah menghina pribumi dengan mengajaknya merayakan kemerdekaan penjajahnya, dan itu diperparah dengan mengajak mereka memberikan sumbangan uang sukarela untuk biaya perayaan itu.

Selanjutnya, masih dengan pengandaian sebagai orang Belanda, Soewardi membayangkan dirinya akan melakukan protes terhadap gagasan perayaan kemerdekaan di negeri jajahan. Ia mengandaikan dirinya akan menulis di surat-surat kabar bahwa betapa berbahanya mengadakan pesta kemerdekaan di negeri jajahan. Dalam analisinya, hal itu selain akan melukai rakyat Hindia-Belanda, pesta perayaan itu akan membikin rakyat Hindia-Belanda, dalam kata-kata Soewardi sendiri, “berbuat yang tidak-tidak”.

Pada seperempat bagian akhir tulisannya, persisnya 9 paragraf menjelang tulisannya berakhir, Soewardi menulis sebuah kalimat dengan nada seperti seorang ksatria, barangkali seperti seorang Scarlet Pimpernal dalam cerita Barones Orczy, yang baru saja membuka topengnya dan berujar: “Syukur alhamadulillah, saya bukan seorang orang Belanda.”

Persis setelah kalimat yang membelokkan tulisan Soewardi ke arah yang lebih tegas itu, Soewardi lantas menulis dengan nada bak seorang ksatria, laiknya Scarlet Pimpernal yang sedang membuka rahasia senjatanya, kalimat berbunyi: “Sekarang sebaiknya kita kesampingkan saja segala ironi.”

“Ironi” di situ, seperti sependakuannya sendiri, digunakan memang untuk menohok, menghajar, sistem kolonial dan subsistemnya yakni berupa himbauan agar rakyat Hindia-Belanda ikut dalam pesta perayaan kemerdekaan penjajahnya sekaligus secara sukarela mengumbangkan uang.

Setelah kalimat itu, nada tulisan Soewardi makin jelas. Ada dua pokok yang disampaikan Soewardi secara tegas dan lugas di akhir tulisannya yang paling legendaris itu. Pertama, penolakan tegas dan tanpa kompromi akan ide perayaan kemerdekaan Belanda di Hindia-Belanda. Kedua, tuntutan agar segera dibentuk sebuah badan perwakilan rakyat, semacam parlemen barangkali.

***
Begitu terbit, brosur itu langsung mendapat sambutan luas dan hangat dari suratkabar-suratkabar. Harian de Expres pimpinan Douwes Dekker bahkan menyiarkannya secara lengkap.

Seminggu kemudian, persisnya pada 20 Juli 1913, pemerintah kolonial mengumukan pelarangan atas brosur itu. Aparat kejaksaan lantas menyita brosur tersebut dari berbagai toko buku dan kantor-kantor surat kabar. Sedang percetakannya, de Eerste Bandoengsche Publicatiemaatschappij, digerebek, namun di sana hanya ditemukan sejumlah kecil eksemplar brosur karena sudah tersebar nyaris di kota-kota penting di antero Jawa. Soewardi sendiri, plus Tjipto, Douwes Dekker (yang bertanggungjawab atas pemuatan di de Express yang dipimpinnya) dan Abdoel Moeis (yang menerjemahkannya ke dalam bahas Melayu ditangkap dan diiinterogasi).

Brosur itu kemudian dicatat oleh Schavitri Scherer sebagai esei paling berkesan, tajam dan provokatif yang pernah diusun sampai pada waktu penerbitannya. Pandangan-pandangan yang diungkapkannya mendahului setiap gagasan yang dikemukakan oleh cendekiawan-cendekaiwan Jawa lain yang palling sadar politik sekali pun.

Daya ledak tulisan itu bukan semata karena nada provokatifnya melainkan juga karena implikasi-implikasi politiknya yang lebih luas, dan karena artikel itu diterjemahkan ke dalam bahasa Melayu dan kemudian dibagikan sebagai surat selebaran terpisah yang memungkinkan orang-orang yang tak dapat berbahasa Belanda membacanya.

Sebetulnya bukan sekali ini muncul kritik pedas. Hanya saja, kritik itu, kendati provokatif, seringkali hanya sebagai kapandaian mengemukakan gagasan belaka dan bukan aksi pengerahana rakyat. Tetapi dengan menggunakan peringatan 100 tahun kemerdekaan Belanda sebagai titik tekan untuk menarik massa dan lebih jauh lagi dengan menerjemahkannya ke dalam Melayu, Soewardi sedang memastikan suatu jumlah pendukung yang lebih luas.

Dan lewat brosur Soewardi-lah pemerintah kolonial disadarkan bahwa perlawanan sudah menemukan bentuknya yang baru dan tegas. Hanya sejak brosur Soewardi terbit sajalah pemerintah benar-benar secara sungguh-sungguh menganggap kritik-kritik sebagai sebuah ancaman berat terhadap kemantapan pemerintah kolonial. Sebelumnya, paling banter gagasan-gagasan galak itu hanya beredar di kalangan terbatas saja.

Tapi pamflet itu, dan dalam beberapa hal juga nama Ki Hajar, seperti menjadi museum bagi radikalisme Soewardi muda. Begitu berganti nama menjadi Ki Hajar, lebih persis lagi setelah pembuangannya ke Belanda, dia berubah kooperatif. Ironisnya, kakak kandung Ki Hajar, Surjopranoto, yang tak pernah menanggalkan gelar Raden Mas, justru dicatat sebagai salah satu aktivis pergerakan paling radikal yang pernah dilahirkan negeri ini. Sampai-sampai Surjopranoto dijuluki “Raja Boycott”.

Soewardi lebih memilih lapangan kebudayaan ketimbang aktivitas politik. Dan di lapangan itulah Ki Hajar menoleh kembali pada warisan kebudayaa Jawa, meninggalkan garis radikal seperti yang ia pergelarkan di masa mudanya. Meninggalkan garis itu lewat sebuah kepergian yang tak mungkin kembali.

Selengkapnya......

Sjahrir dan Kutukan Dewi Clio

Soetan Sjahrir (lahir 5 Maret 1909) wafat pada 1966 dalam status yang sungguh tak mengenakkan: sebagai tahanan politik!

Kematian Bung Sjahrir sepertinya menjadi tonggak di mana negeri ini seperti mulai dikutuk oleh Dewi Clio, Sang Dewi Sejarah dalam mitologi Yunani, untuk selalu punya persoalan dengan masa silam.

Kutukan ini menyebabkan masa silam seringkali hadir menjelma sebagai bayang-bayang hitam yang mengancam. Semacam tulah yang menyebarkan wabah kutuk: setiap orang yang “pernah bersalah” tidak akan dihukum lewat sebuah proses hukum yang adil yang memungkinkan si tertuduh untuk membela diri, melainkan akan dihukum oleh sebuah proses pengulangan sejarah yang perih dan tak tertolak.

Seperti terpapar dengan detail dalam Sjahrir: Politics and Exile in Indonesia, karya sejarawan Ceko, Rudolf Mrazek, pada 18 Agustus 1962 mantan raja Gianyar akan dingaben dalam sebuah upacara besar. Anak Agung Gede Agung, putra Sang Raja, mengundang sejumlah karibnya: Soetan Sjahrir, Moh Hatta, Roem, Sultan Hamid dari Pontianak, Soebadio Sastrosatomo plus ribuan tamu dan penonton lain yang hadirtentu saja.

Tapi Anak Agung, dalam kata-katanya sendiri, melakukan faux pas, semacam blunder dalam bersikap dan mengambil keputusan: dia tak mengundang Soekarno. Sadar akan kekeliruannya, Anak Agung segera mengundang Soekarno. Tetapi Soekarno tampaknya sudah merasa dihina karena tak diundang. Soekarno, menurut Anak Agung sendiri, akhirnya merasa kecewa.

Lantas pada7 Januari 1962, Soekarno yang sedang melakukan perjalanan di Makasar untuk kampanye Irian Barat, dilempari granat. 3 orang tewas, 28 penonton luka. Soekarno dan rombongan sendiri selamat.

Delapan hari berselang, dua orang Belanda ditangkap. Sejak itulah mulai beredar desas-desus bahwa peristiwa itu diakibatkan oleh apa yang disebut sebagai “Bali Connection”: sebutan untuk komplotan politik yang terdiri dari orang-orang yang berkumpul pada upacara ngaben Raja Gianyar.

Akhirnya pada 16 Januari 1962, Sjahrir, Anak Agung, Soebadio, Sultan Hamid, Roem dan beberapa pemimpin Masyumi lainnya, ditangkap.

Tak begitu jelas siapa yang bermain dalam isu “Bali Connection”. Ada yang menyebut Soebandrio, tetapi jenderal Nasution juga disebut. Akhirnya, tidak bisa tidak, Soekarno pun tersangkut.

Dan Soekarno, dua tahun kemudian, seperti terlacak dalam autobiografi yang disusun Cindy Adams, mengakuinya. Soakerno menyebut penangkapan Sjahrir sebagai “hukum revolusi”: pukul musuh kamu, bunuh atau dibunuh. Penjarakan atau dipenjarakan.

Beberapa waktu yang lalu, kata Soekarno dengan kata-kata yang menggeletar, “Sjahrir merencanakan komplotan untuk menggulingkanku dan merenggut pemerintahan. Kini Sjahrir dalam penjara. Aku tidak menaruh dendam. Aku menyadari bahwa ini suatu permainan dua sisi yang mengerikan dan aku terlibat. Permainan untuk kelangsungan hidup.”

Dan dalam status sebagai tahanan politik itu, tanpa proses pengadilan yang fair dan terbuka, Sjahrir mengembuskan nafasnya yang terakhir. Sjahrir, lelaki yang dalam usia 36 tahun menjadi Perdana Menteri pertama, mendiang “dalam pengasingan”; sesuatu yang menurut Mrazek nyaris selalu melingkupi kehidupan dan karir politik Sjahrir.

Kematian Sjahrir bukanlah akhir dari, dalam kata-kata Soekarno, “permainan kelangsungan hidup”. Permainan baru saja dimulai. Pertaruhan justru baru saja dipanggungkan: sebuah pertaruhan soal apakah sejarah yang menentukan manusia ataukah manusia yang mengatur laju sejarah.

Dalam hal-hal para pelaku terpenting dari kemerdekaan Indonesia, “sejarah ternyata seringkali yang menentukan nasib manusia”. Kata-kata itu mesti diletakkan dalam pengertian bahwa politik ternyata bukan semata soal kemampuan mengontrol sekian pilihan dan kemungkinan, melainkan juga soal kesiapan untuk menghadapi pilihan dan kemungkinan yang sama sekali tak masuk daftar perencanaan; sesuatu yang mendadak, tiba-tiba, dan seringkali menyesakkan.

Jika ditarik ke belakang, Soekarno, Hatta dan Sjahrir pernah bahu membahu berhadapan dengan konsistensi garis perjuangan Tan Malaka yang keukueh anti perundingan dengan Belanda, sebuah konsistensi yang membuat Tan Malaka dikagumi dan dipercaya oleh banyak orang, termasuk 146 organ perjuangan yang kemudian bergabung dalam Persatuan Perjuangan (termasuk Panglima Besar Soedirman).

Untuk melenyapkan rongrongan atas strategi diplomasi yang diambil pemerintah Indonesia, triumvirat Soekarno-Hatta-Sjahrir (jika bisa disebut begitu) mesti (dalam kata-kata Ben Anderson) “menghancurkan nama baik dari, dan kepercayaan atas, diri Tan Malaka, lambang hidup dari apa yang telah mereka tinggalkan” (1988:442).

Dalam ketagangan politik itulah Tan Malaka dua kali ditangkap dan dua kali pula dipenjarakan, tanpa proses peradilan yang fair dan terbuka. Dan dengan dibungkamnya Tan Malaka, berakhir pula setiap harapan yang pernah ada bahwa Indonesia akan memilih jalan perjuangan daripada jalan diplomasi, sebuah jalan yang hanya oleh wibawa Tan Malaka sajalah bisa tampak menjadi suatu alternatif yang masuk akal.

Dan Sjahrir akhirnya harus mengalami pembungkaman, juga tanpa melalui proses peradilan yang fair dan terbuka. Dan dalam kerangka kutuk Dewi Clio, mestikah diherankan jika akhirnya Soekarno juga mengalami hal serupa: dibungkam, diberi stempel tahanan politik, dan mendiang masih dalam stempel itu.

Jika pembungkaman terhadap Sjahrir hanya menjadi puncak dari pembungkaman para elit-elit politik oleh kediktatoran Soekarno, pembungkaman Soekarno juatru menjadi puncak dari pembungkaman tragis yang menimpa ratusan ribu orang yang diduga terlibat PKI; sebuah riwayat pembungkaman terbesar dalam sejarah Indonesia.

Dan bagaimana dengan Soeharto? Tampaknya kutuk Dewi Clio belum juga enyah. Si Bapak Pembangunan itu, tampaknya juga sedang mengalami pembungkaman dalam caranya yang aneh, tetapi dalam nuansa yang tak terlalu berbeda dengan yang dialami Sjahrir dan Soekarno. Kendati pengaruhnya tak bisa dibilang kenyap, Soeharto tetap saja sedang berada dalam pengasingan dan pengucilan politik, dan tampaknya dalam situasi itulah ia kelak akan meninggalkan kita, dan dengan sebuah catatan yang mesti ditekankan: juga tanpa satu pun putusan pengadilan yang memvonisnya bersalah atau tidak!

Sialnya, kutuk tak berhenti menimpa Presiden ketiga Indonesia. Abdurrahman Wahid, Si Jenaka itu, juga mengalami hal serupa, dengan kadar yang tentu saja berbeda. Ia lengser lewat sebuah “pembungkaman politik” yang didasarkan oleh “tuduhan politik” yang, sama seperti Tan Malaka, Sjahrir, Soekarno dan Soeharto, tanpa satu pun keputusan hukum yang jelas dan pasti apakah ia terlibat atau tidak dalam korupsi Bruneigate dan Buloggate.

Dan kita akan selalu sukar memosisikan mereka. Orang-orang yang layak disebut Bapak Indonesia tetapi pergi dalam status yang membuat kita terkurung dalam situasi yang bukan hanya kikuk, melainkan barangkali malu: sebagai bangsa yang selalu saja kesulitan menempatkan para pemimpinnya yang hebat dalam posisinya yang pas.

Selengkapnya......

Kamis, Maret 01, 2007

Surat Buat Pak Kunto di Surga

[Surat imajiner ini sebetulnya sudah pernah dimuat di sebuah koran nasional dan pernah pula aku posting setahun silam. Tapi, mengingat posisi Kuntowijoyo di kepalaku dan di rak-rak bukuku, aku pasang lagi surat imajiner ini. Bergandengan dengan esai eksperimental "Stanza untuk Seorang Maha Guru"]

Pak Kunto, sudahkah anda menulis hari ini? Saya berandai-andai, orang seperti sampeyan, yang menghabiskan waktu hidup dengan terus meneliti dan menulis, pastilah juga akan tetap menulis di swargaloka sana.

Saya yakin, sampeyan adalah salah satu dari berderet-deret ilmuwan di swargaloka sana yang tak terkejut begitu menyadari betapa kehidupan setelah kematian ternyata memang ada. Dari berhimpun gagasan yang sampeyan tebarkan, saya menangkap kesan kuatnya keteguhan sikap seorang beragama (muslim) yang saleh dan taat, tetapi juga kemerdekaan berpikir yang tak pernah bisa dikekang. Bagi sebagian orang, iman yang saleh dan kebebasan berpikir yang tanpa batas mungkin dua hal yang tak bisa diperdamaikan. Tapi tidak bagi sampeyan. Itulah sebabnya kenapa saya berpikir, sampeyan pasti tak kaget begitu tahu alam akhirat itu memang ada.

Saya jadi ingat omongan seorang kyai partikelir nan mbeling yang juga karib sampeyan, Emha Ainun Najib. Emha berpidato tentang sikap asketik yang membuat sampeyan bisa terus menulis tanpa harus merokok, ngopi dan berambut gondrong. Sikap asketik itu pasti rapat hubungannya dengan kesalehan sampeyan sebagai seorang umat Tuhan yang lurus.

Sampeyan, dengan cara itu, menunjukkan kepada kami-kami yang masih belia ini, bahwa untuk menjadi penulis atau seniman besar tidak harus kumuh, pakai jeans belel dan nganeh-nganehi . Yang penting terus berkarya, berkarya dan berkarya. Jangan berhenti bahkan ketika selaput otak telah digeroti radang; penyakit yang menjadi salah satu penyebab sampeyan menjadi mendiang pada 22 Februari setahun silam.

Dan sampeyan memberi teladan dengan laku, bukan dengan kata. Dengan sikap yang biasa dan lurus (sesuatu yang jarang melekat dalam diri seniman/intelektual papan atas negeri ini), nama sampeyan melesat ke langit-langit jagat kepenulisan dengan sebuah portofolio yang jarang bisa disamai oleh penulis manapun: penulis yang telah menjajal semua jenis kepenulisan, cerpen, novel, puisi, drama, esai, artikel politik, buku teks kuliah dan buku sejarah ilmiah.

Tidak banyak yang bisa melakukan seperti yang sudah sampeyan perbuat selama 62 warsa berhayat di kolong jagat ini. Seharusnya, seorang cepenis, novelis dan penyair yang baik tidak bisa menjadi intelektual-akademisi yang baik, karena dua dunia itu mensyaratkan dua modal yang (seakan) berseberangan: dunia seni-sastra membutuhkan imajinasi yang hebat dan tanpa batas, dan ilmu sejarah mewajibkan setiap orang untuk selalu berlandaskan fakta, fakta dan fakta.

Tapi sampeyan bisa. Sebagai sastrawan, sampeyan sudah menangguk banyak sekali gelar dan hadiah. Dan sebagai ilmuwan sejarah, sampeyan adalah sejarawan kelas satu, yang barangkali, popularitas sampeyan di mata para mahasiswa sejarah di Indonesia (saya tahu karena sudah 6 tahun menjadi mahasiswa sejarah) hanya bisa dikalahkan oleh Sartono Kartodirjo, seorang empu ilmu sejarah yang diakui oleh sampeyan sebagai salah seorang guru sampeyan yang terpenting.

Dua jalan kemanusiaan itu (seni-sastra yang imajinal dan ilmu pengetahuan yang rasional) justru bisa sampeyan manfaatkan untuk menopang satu sama lain. Sebagai seorang mahaguru sejarah, sampeyan paham betul bagaimana memanfaatkan tetumpuk dokumen sejarah yang sampeyan ketahui untuk digarap-ulang menjadi sebuah cerita baru yang tidak hanya menggugah, melainkan juga kuat memendarkan realitas sosial.

Hingga kini saya masih ingat cerpen Dilarang Mencintai Bunga-bunga. Karya itu begitu memikat karena selain sampeyan bisa mendeskripsikan antagonisme antara dua jalan kemanusiaan (laku ritual-simbolis dan laku dunia kerja yang suntuk), sampeyan juga berhasil menciptakan dunia simbol yang meyakinkan: betapa dunia ini menawarkan banyak pilihan laku berhayat, yang mesti kita pilih, apakah memilih salah satu ataukah memilih keseimbangan pelbagai pilihan laku hidup itu.

Dan sebagai seorang sastrawan, sampeyan tahu betul bagaimana memaksimalkan kekuatan imaji dan luasnya pilihan yang diberikan kata-kata untuk membantu menciptakan sebuah karya akademik yang berbobot namun tetap memikat untuk disesap. Ini sesuatu yang langka. Hinga kini, karya-karya para sejarawan Indonesia begitu keringnya karena melulu berisi tetumpuk data yang gagal direkacipta ke dalam sebuah hamparan kata-kata yang lezat.

Saya masih ingat salah satu pasase yang sampeyan tulis di buku teks Pengantar Ilmu Sejarah; sebuah pasase yang menunjukkan betapa sampeyan tahu betul bagaimana caranya menulis buku ilmiah tanpa harus kehilangan sentuhan sastrawi. Pasase itu ditulis begini: “Bahasa sejarah adala bahasa yang sederhana dan langsung, persis seperti dalam bahasan sastra modern. Tidak ada bahasa yang berbunga-bunga. Tidak ada ‘rambutnya bak mayang mengurai’. Bahasa sejarah adalah bahasa sehari-hari. Kalau sejarah melukiskan para gerilyawan minum air, dia tidak akan bilang bahwa mereka mnum H20”.

Oh ya, omong-omong, sudahkah sampeyan bertanya kepada Tuhan Sang Maha Big Bos yang bertahta di arasy sana ihwal sejarah penciptaan alam semesta? Jika belum, saya ingin titip pertanyaan, betulkah alam semesta dibuat (hanya) berkat mantra sakti kun fayakun? Di bumi, para ahli fisika macam Stephen Hawking masih sibuk merumuskan theory of everything untuk mencari jawab pertanyaan itu.

Selengkapnya......

Stanza untuk Seorang Maha Guru

::Dua Tahun Mendiangnya Kuntowijoyo

Saya menjadi saksi mata sebuah peristiwa penting di padepokanku, Padepokan Gading Madyo. Kala itu, di tepian sebuah danau, saya menyaksikan Profesor Joyokunwito meresmikan berdirinya sebuah perkumpulan rahasia: Dead Historian Society.

Di bawah tatapan lima mahasiswa, mahaguru ilmu sejarah itu mengakhiri bicaranya dengan mengucapkan kalimat yang jadi jargon perkumpulan rahasia ini: “Sastra sedikit batasannya, tapi punya kesempatan yang tak terhitung jumlahnya.”

Beberapa bulan kemudian, tepatnya pada 21 Februari 2056, profesor Joyokunwito dibebaskan dari tugas mengajarnya. Ia diberhentikan dengan tidak hormat karena didakwa telah meracuni sejumlah mahasiswa dengan cara mencekoki mereka dengan kesusasteraan dan menanamkan sebuah pengertian baru yang jelas-jelas subversif: seorang sejarawan harus memiliki imajinasi yang dahsyat.

Ini sebuah dakwaan yang tidak main-main. Dalam konsideran SK Pemecatan yang dikeluarkan oleh senat, di sana tertulis “…jika faham yang dikembangkan Prof. Joyokunwito dibiarkan merajalela di kepala mahasiswa-mahasiswa sejarah, lambat laun akan meruntuhkan kesahihan ilmu sejarah --yang berabad silam pernah digelari sebagai induk segala ilmu oleh Giambatista Vico—dan mengembalikannya ke level yang tak lebih baik dari tembang-tembang dan babad-babad.”

****
Sorenya, saya dan beberapa karib yang menjadi aktivis Dead Historian Society berkumpul di tepi sebuah danau tak jauh dari padepokan, tempat di mana perkumpulan rahasia ini pertama kali dideklarasikan langsung oleh Prof. Joyokunwito. Sore ini, rencananya Prof. Joyokunwito akan pamit. Kabarnya ia akan pergi ke sebuah tempat nun jauh di seberang lautan sana. Tak ada yang tahu di mana tempat itu.

Sejak perkumpulan rahasia ini didirikan, banyak hal yang telah berubah. Beberapa kejadian fantastis yang tak pernah bisa dibayangkann oleh para pengajar di padepokan Gading Madyo terjadi. Kejadian-kejadian fantastis itu tentu saja selalu melibatkan salah satu dari lima anggota inti Dead Historian Society.

Kejadian paling menghebohkan dan fantastis terjadi sebulan yang lalu. Ketika itu, Padepokan Gading Madyo menerima sepucuk surat dari Neil Perry. Dalam surat itu, Neil menyatakan mengundurkan diri dari kampus. Yang membikin semua pengajar kebakaran jenggot adalah alasan yang diajukan Neil. Ia menceritakan rencana hidupnya: “Saya hendak pergi ke sebuah tempat yang tenang dan rimbun. Mungkin di sebuah belantara perawan. Di sana, saya akan meneliti sebuah persitiwa sejarah, tentu saja dengan bukti-bukti sejarah yang terpercaya. Tetapi saya tak akan menuliskan sebuah karya sejarah. Bukan historiografi yang akan saya tulis. Hasil riset itu akan saya tulisakan dalam sebuah novel. Dan aya akan mengirimi segenap para pengajar yang terhormat masing-masing satu eksemplar. Anggap saja itu sebagai pengganti skripsi yang tidak saya selesaikan.”

Neil membuat para pengajar gempar. Neil adalah mahasiwa jenius yang rencananya akan langsung diangkat sebagai pengajar begitu ia menyelesaikan skripsinya. Pengunduran diri Neil juga menjadi aib bagi reputasi besar Padepokan Gading Madyo sebagai perguruan ilmu sejarah terbaik di negeri ini. Bukan apa-apa, Padepokan Gading Madyo adalah perguruan yang besar karena dalam setiap penelitian yang dilakukannya, ia selalu berhasil menyingkirkan segala macam asumsi-asumsi yang bersifat subyektif. Subyektifitas adalah setan. Dan kesusastraan dan kesenian adalah ibu dari segala setan subyektivisme. Masak seorang murid jenius Padepokan Gading Madyo mengundurkan diri hanya untuk menulis novel?

Lewat sebuah penyelidikan rahasia, akhirnya keberadaan Dead Historian Society pun terbongkar. Lewat serangkaian interogasi yang melelahkan, Prof. Joyokunwito akhirnya ditetapkan sebagai tersangka. Dan lewat sidang yang tak adil, mahaguru yang telah beranjak renta ini dinyatakan bersalah.

Saya masih ingat bagaimana mahaguru yang selalu mengajar dengan memesona ini muncul pertama kali di kelas. Ia membuka kuliah pertamanya dengan dengan kalimat yang setengah menghardik: “Aku bukan penganut Leopold von Ranke!” butuh beberapa bacaan untuk memahami hardikan itu. Ranke (1795-1886) adalah sejarawan Jerman yang menjadi penubuh historiografi modern. “Sejarah hanya berurursan dengan fakta. Di luar itu, kantor kami (kantor para sejarawan) tidak melayani,“ tulis Ranke suatu ketika. Ucapan Ranke itu di kemudian hari dijadikan moto Padepokan Gading Madyo.

Kredo itu adalah anjuran bagi para sejarawan untuk menulis apa yang sebenarnya terjadi, wie es eigentlich gewesen. Ia mewakili arus utama sejarah kritis yang mengabaikan, terutama, kajian yang dilakukan para filsuf sejarah (macam Hegel dengan dialektika ruh atau Marx dengan materialisme historis atau Toynbee dan Spengler yang banyak mengkaji kontur dari alur dan perubahan sejarah) yang mengkaji ihwal yang masih pekat dengan metafisika yang spekulatif: siapa penggerak sejarah, seperti apakan alur sejarah, akan bergerak ke mana sejarah atau kapan dan di mana sejarah akan tuntas.

“Terlalu banyak yang tak tercover oleh pandangan begituan,” kata Prof. Joyokunwito meneruskan. Ia mengambil misal: soal kearifan, kebijaksanaan, dan kebenaran sema sekali tak pernah (mau) dipedulikan Ranke dkk.

Di setiap kuliahnya, ia selalu mengingatkan kelas akan arti pentingnya kesusasteraan dan kesenian. Seringkali ia juga memberi tahu betapa berbahayanya jika ilmu sejarah terjerembab pada kubangan positivisme dan teknisisme. Ia mengatakan betapa berbahayanya jika segala sesuatu melulu dianggap sebagai persoalan teknik dan metode. Teknisisme dan saintisme, katanya lagi, adalah anak kandung dari positivisme yang membikin semua-mua unsur kemanusiaan dan sosial terlupakan dan terpinggirkan dalam setiap pengambilan keputusan.

*****
Empat anggota inti Dead Historian Society, minus Neil yang telah pergi, mendengarkan uraian perpisahan dari Prof. Joyokunwito.

Ayo kita berbicara tentang sastra. Tentang prosa, novel, cerpen juga puisi. Aku ingin kalian tahu, bahwa kalian perlu mendalaminya, bukan agar kalian menjadi sastrawan atau penyair. Itu soal lain. Tetapi supaya kelak jadilah sejarawan dengan kemanusiaan yang utuh sekaligus juga menjadi manusia yang utuh, dan bukan menjadi binatang rasional: manusia yang cuma berdimensi tunggal!

Bahwa sejarah dan sastra itu berbeda, itu tak terbantah. Keduanya memiliki kekhasan. Sejarah bermaksud merekonstruksi sesuatu yang sebenarnya terjadi, menggambarkan kejadian-kejadian sebagaimana adanya. Ia karenanya harus berdasarkan bukti-bukti empirik. Peneliltian dan penyusunannya pun mutlak mengikuti prosedur dan metode ilmiah yang jelas. Dengan bukti-bukti itulah sejarawan mencari hubungan antara fakta-fakta secara memadu. Bukti-bukti sejarah itulah yang emnjadi bahan baku bagi sejarawan yang kemudian harus diproses melalui kririk sumber, interpretasi dan sintesa hingga kemudian sebuah rekonstruksi sejarah bisa disuguhkan.

Ini berbeda dengan karya sastra. Sastra tidak tunduk pada metode dan prosedur-prosedur tertentu yang telah baku. Peristiwa sejarah dan bukti-buktinya bisa menjadi bahan baku bagi sastrawan dalam menyusun karyanya. Bedanya, sastrawan menapun tak diwajibkan mempertangggungjawabkan terlebih dahulu melalui serangkaian metodenya dan prosedur laiknya sejarawan.

Kenapa saya berbicara tentang sastra dan menganjurkan kalian membaca sastra? Pertama, dengan membaca sastra, imajinasi kalian akan terlatih dan terididk dengan baik. Sastrawanlah orang yang paling jago melukiskan sebuah situasi dengan detail tapi bisa demikian menyenangkan, jauh dari kta membosankan. Dan jangan kira, sejarawan juga butuh imajinasi. Untuk bisa menggambarkan sukarnya tentara Belanda di bawah komando van Heutsz, sejarawan harus mampu membayangkan situasi belantara Aceh yang penuh dengan onak, semak, dan sungai.

Inailah bedanya sejarawan dengan pengarag. Ketika pengarang sedang memikirkan sebuah siatuasi atau suasana, ia mungkin akan berjalan dan melamun di pinggir sungai atau di atas genting. Sedangkan sejarawan, ia harus tetap kembali dan ingat dengan bukti-bukti yang telah dikumpulkan.

Kalian harus membaca sastra karena, kedua, sastra juga bisa mengajarkan retorika. Betrapa banyak karya sejarah yang terbengkalai tak bisa dibaca hanya karena ia kering akan retorika sehingga mudah membikin jenuh dan bosan. Di tahun 1960-an, ada seorang anak muda yang tekun membaca, termasuk membaca karya sastra, berhasil menyusun karya sejarah yang bermutu tentang pemberontakan PKI di Madiun. Karya sejarahnya menarik bukan hanya karena melulu dilengkapi sumber dan bukti yang memadai nan melimpah, melainkan karena ia disuguhkan lewat bahasa yang enak, bernas, dan kahirnya menjadi nikmat di baca. Nagian akrya itu yang menceritakan eksekusi mati beberapa tokoh pemberontakan itu adalah bagian paling hidup dan paling enak dibaca. Membacanya, kita seperti terlibat langsung

Alasan terakhir kenapa saya menganjurkan kalian membaca karya sastra adalah karena saya yakin, dengan itu kita bisa menjadi manusia dengan dimensi yang tak lagi tunggal. Manusia utuh berkat dua insting: instinct for conduct (isting akan bimbingan) dan instinct for beauty (insting akan keindahan). Ilmu pengetahuan saat ini, yang amat positivistik dan mengabdi pada kekuatan kapital-industrial, membikin kita menjadi binatang “rasional”. Ini saja tidak cukup. Kita butuh keindahan. Insting for beauty. Insting itu bisa didapatkan dan dilatih dari dan dengan membaca atau menikmati seni dan kesusatraan.

****
Akhirnya, pada 22 Feburari 2056, Prof. Joyokunwito benar-benar pergi. Saya sadar, mulai sore ini, saya tak akan pernah bisa menemukannya lagi. Tapi, sebagai kenang-kenangan, Prof. Joyokunwito menyerahkan segepok buku-buku tua yang telah lusuh. Ia bilang, bacalah manuskrip-manuskrip itu jika kami merindukannya. Ia juga bilang, itu adalah tulisan-tulisannya yang ia terbitkan dengan menggunakan nama samaran.

Saya dan tiga kawan lain, membuka-buka manuskrip peninggalannya. Masing-masing dari kami mendapat satu biji. Saya buka manuskrip yang menjadi jatah bagian saya itu. Sebuah buku tua yang di mukanya terpacak kalimat: Dilarang Mencintai Bunga-Bunga.

Keesokan harinya, pada 23 Ferbuari 2056, saya mulai membaca manuskrip itu. Sesampainya di halaman terakhir, saya baru sadar kalau Prof. Joyokunwito benar-benar telah lenyap ditelan bumi.

Selengkapnya......

Minggu, Februari 25, 2007

Derita yang tak Tertanggungkan oleh Cerita

Derita menjadi tertanggungkan ketika menjelma menjadi cerita. (Hannah Arendt)

Seorang petinju pada akhirnya akan sadar bahwa hidup tak bisa ditaklukkan hanya bermodalkan kepalan tangan. Riwayat Rahman Kili Kili, petinju yang Kamis lalu ditemukan gantung diri, menegaskan kembali hal yang sebetulnya sederhana itu.

Rahman memang pernah berjaya dan sempat mewakili Indonesia di Olimpade dan Kejuaran Dunia Yunior. Tapi itu semua seperti tak berarti sebab Rahman menjadi mantan petinju yang hidup di Indonesia, bukan di Amerika. Rahman bukan Joe Frazier atau Mohammad Ali. Rahman juga bukan Jim Braddock yang kisahnya pernah difilmkan oleh Ron Howard dengan judul Cinderella Man.

Rahman Kili Kili hanya seorang petinju yang pernah berjaya pada satu waktu tapi dipaksa untuk menelan kenyaataan betapa kejayaan dan kejatuhan di Indonesia begitu tipis marginnya.

Itulah sebabnya dalam panggung tinju Indonesia tak mungkin ada Cinderella Man, bahkan untuk seorang Elyas Pical sekali pun yang mencatatkan diri sebagai The Indonesian Man pertama yang meraih gelar juara dunia. Apalagi untuk seorang Rahman Kili Kili. Ring tinju baru terasa menyenangkan bagi seorang mantan petinju yang kebetulan punya cakap dan cuap yang mulus macam Syamsul Anwar Harahap.

Di sini ironi lagi-lagi menyembul: bahkan di Indonesia, ring tinju lebih menghargai mantan petinju yang cakap berkomentar ketimbang mantan petinju yang pernah jadi juara dunia.

****
Kita percaya, tak ada orang yang sesiap petinju dalam menghadapi kerasnya hidup dalam pengertian yang paling fisikal. Mereka juga dibekali kemampun membaca lawan dan menyiasatinya dengan cerdik lewat sejumlah strategi bertinju. Itulah sebabnya petinju yang hebat tak selalu mengandalkan otot, tapi juga otak.

Tapi kita patut heran, kenapa sungguh sering kita dengar para petinju dan mantan petinju punya kehidupan yang boyak, bermasalah dan dilimpahi kasus-kasus kriminal, seakan-akan mereka hanya bermodal otot yang keras dalam mengarungi hidup dan kehidupan?

Sudah lama kita terbiasa menganggap petinju sekadar manusia berotot, yang seakan-akan tak membutuhkan keteguhan mental atau kejernihan pikiran dalam membaca kekuatan dan kelemahan lawannya.

Saya pernah membaca tulisan Pablo Picasso yang bernada minor ihwal manusia-petinju. Menurutmu, apa itu seorang artis? kata Picasso, ”…Seorang lumpuh yang hanya punya matanya, seakan-akan dia seorang pelukis, atau hanya punya kupingnya kalau dia musisi, atau sebuah lyre (harpa kecil) di setiap jengkal hatinya kalau ia seorang penyair, atau kalau ia seorang petinju, maka ia hanya punya otot?”

Picasso ingin meninggikan derajat seniman (pelukis), seraya pada saat yang sama merendahkan musisi, penyair dan terutama petinju. Jangan heran jika Picasso menyebut petinju di tempat paling buncit, setelah musisi dan penyair; sebuah kenyataan yang sadar atau tak menggambarkan bagaimana seorang Picasso menilai derajat seorang petinju.

Tapi Picasso tentu saja tak sendirian. Suara Picasso adalah suara manusia zaman ini, manusia yang ditatah otaknya oleh doktrin modernisme yang mengalasdasari dirinya dengan rasionalisme. Akibatnya, hal ihwal yang sifatnya fisikal menjadi sekunder. Jangan heran jika kuli yang bertumpu pada otot, yang bekerja 12 jam sehari dengan keringat yang hampir mengering, dibayar hanya 25 ribuan. Peradaban kita adalah peradaban yang memuja rasionalisme dan pada saat yang bersamaan merendahkan otot.

Rahman Kili Kili, yang dikabarkan frustasi karena beban hidup dan ekonomi, yang hanya tahu berkelahi dan bertinju, akhirnya menyadari benar hal itu.

Jadi, jika pun hari ini kita masih senang menonton pertarungan tinju, alam bawah sadar kita sebenarnya sedang beroperasi. Ya, sedang beroperasi. Sebab tinju yang masih kadang kita saksikan itu menjadi medium tempat kita mengenali kembali salah satu naluri bar-bar manusia.

Freud dan Erich Fromm pernah berpanjang lebar mengulas naluri destruksi yang diidap manusia. Bagi Freud, ada dua naluri yang bertarung dalam kesadaran manusia yaitu naluri kehidupan (eros) dan naluri kematian (thanatos). Ciri naluri kehidupan adalah penyatuan dan integrasi. Naluri kematian berciri pemisahan dan disintegrasi.

Fromm kemudian merevisi pandangan itu dengan melansir tesis yang intinya adalah manusia pada dasarnya memegang prinsip biofilia (memuja kehidupan). Fromm akui bahwa ada pergulatan antara semangat biofilia dengan patologi nekrofilia, tapi tak pernah ada manusia yang mutlak hanya memiliki satu orientasi saja. Selalu ada semangat nekrofilis dan biofilis sekaligus.

Manusia modern mencoba melenyapkan naluri nekrofilia itu melalui sistem yang kita sebut sebagai hukum. Tapi, hukum seringkali justru hanya sanggup menyamarkan, jika tak dibilang merawat diam-diam, naluri nekrofilis itu.

Tinju yang sudah menjadi olahraga adalah kreatifitas manusia untuk terus bisa memelihara naluri destruksi tanpa manusia harus kehilangan prestisenya sebagai mahluk yang beradab; sebuah kesantunan penuh topeng dari apa yang kita banggakan sebagai peradaban modern.

Itulah sebabnya tinju juga diperlengkapi senarai aturan main yang mencoba membuat tinju menjadi olahraga yang nyaman dan beradab. Tinju barangkali tak lagi menjadi olahraga bar-bar, tapi setidaknya masih bisa kita sebut sebagai “yang paling bar-bar dari yang tidak bar-bar”.

Janganlah heran jika kita pernah mendengar komentar Joe Frazier, petinju yang pernah menaklukkan sekaligus ditaklukkan oleh Muhammad Ali. “Tiap kali sedang berada di atas ring,” kata Frazier yang putrinya juga menjadi seorang petinju profesional, “Aku (selalu) ingin memukulnya, menjauh darinya dan melihatnya sakit. Aku ingin jantungnya.”

Jika menonton tinju dipercaya sebagai salah satu cara manusia merayakan kembali naluri destruksinya dengan cara yang santun, maka menonton tinju tanpa pernah sekalipun bertinju menjadi penegasan betapa kita pada saat yang sama juga sedang mengingkari naluri bar-bar itu.

Dengan hanya menonton tinju dan bukannya bertinju, bisa jadi kita seakan hendak bersaksi: “Tinju itu memang mengasyikkan, tapi biarlah kita menonton saja, cukup orang-orang bar-bar itu yang melakukannya!”

Menonton tinju merupakan perayaan dan pelupaan sekaligus. Tapi apakah dengan itu kita menjadi makin beradab?

****
Anda masih ingat atau pernah mendengar Alfaridzi? Jika tak, akan saya ingatkan secukupnya.

Alfaridzi adalah petinju muda yang diakui punya bakat istimewa. Dalam puncak karirnya, Alfaridzi menjadi sosok populer, yang tak semata karena kemampuannya dan skill-nya dalam bertinju, tapi juga karena parasnya yang ganteng. Dengan kulit putih dan raut muka yang bersih, Alfa barangkali lebih pas menjadi model ketimbang petinju. Pada masa jayanya, Chris John yang kini menjadi sosok paling populer dalam dunia tinju profesional di Inodonesia, kalah populer, bahkan kendati ia berhasil mengkanvaskan Alfa pada satu laga.
Alfa punya nasib tak kalah tragis dari Rahman Kili Kili. Bedanya, Rahman tewas karena gantung diri, sementara Alfa tewas sehabis bertarung dengan petinju Thailand, Kongtawat Ora, pada awal April 2001. Alfa memang tak wafat di atas ring, tapi di rumah sakit, selang beberapa hari usai laga terakhirnya.

Tapi ada yang menarik dari kematian Alfa. Beberapa jam sebelum pertarungangan terakhirnya, Alfa sempat menulis di secarik kertas sebuah pasase berbunyi: “….ibu, jangankan darah dan keringat, nyawa pun akan Alfa korbankan demi keluarga.....”

Carik kertas itu diserahkan Alfa pada kekasihnya, seraya berpesan agar kertas itu diberikan pada ibunya kelak jika ia benar-benar mati di atas ring. Firasat Alfa terbukti benar dan sepenuhnya presisi.

Kita tak tahu apakah Rahman meninggalkan wasiat atau testimoni pungkasan. Yang bisa kita baca dari kesaksian saudara-saudara Rahman adalah beberapa hari terakhir sebelum kematiannya, Rahman selalu tampak murung. Rusnani, salah satu saudara Rahman memberi kesaksian kalau belakangan Rahman suka menulis buku harian dan senang membaca buku-buku agama.

Menarik untuk merenungkan hal ini. Bagaimana bisa seseorang seperti Rahman yang begitu intens membaca buku-buku agama, sangat intens ketimbang waktu-waktu sebelumnya, bisa mengambil pilihan tragis yang tak dibenarkan oleh nyaris semua agama di dunia. Apa yang terjadi? Kurang mantapkah kepastian dan janji-janji manis agama bagi para pemeluknya yang taat sampai-sampai Rahman memilih menggantung diri? Ataukah Rahman yang salah membaca dan memahami buku-buku agama? Sayang saya tak tahu jawabnya.

Kenyataan bahwa Rahman juga selalu menulis catatan harian di hari-hari terakhirnya sempat membuat saya berpikir untuk tak lagi mengutip Hannah Arendt. Ada salah satu parafrase Arendt, penulis trilogi Asal-Usul Totalitaransime, yang begitu saya suka, dan pernah saya kutip dalam salah satu tulisan.

Arendt, yang banyak menulis ihwal trauma, dendam dan luka bangsa Yahudi pasca holocaust, percaya bahwa menulis, tepatnya bercerita lewat medium tulisan, adalah salah satu model terbaik dalam swa-terapi, penyembuhan diri sendiri, dari sebuah kondisi batin yang koyak moyak oleh guncangan mental, oleh luka-luka, atau pengkhianatan. Saya dengan senang hati selalu mengutip parafrase Arendt itu: “Derita menjadi tertanggungkan ketika menjelma menjadi cerita.”

Tapi aktivitas menulis catatan harian oleh Rahman (kita belum tahu apa isinya) ternyata tak mampu menanggungkan luka dan himpitan beban mental yang menerjangnya. Kurang jujurkah Rahman dalam menulis seperti yang disyaratkan Arendt agar tulisan bisa menyembuhkann? Ataukah Arendt yang silap untuk memahami hal sederhana betapa derita kadang terlalu perkasa untuk ditanggungkan sekadar oleh sebuah cerita yang dituliskan?

Atau barangkali Arendt hanya memaksudkan hipotesanya itu bagi para penulis dan pengarang saja? Jika benar begitu, ya sudah saya akan meninggalkan Arendt, persisnya kutipan Arendt itu, karena saya yakin, luka dan derita yang ditanggung para anonima, manusia-manusia yang tak mampu menggerakkan pena untuk mencatatkan dirinya dalam sejarah, jauh lebih kompleks dan lebih berat ketimbang derita bohemian para pengarang dan penulis.

Saya sungguh ingin tahu apa yang ada di kepala Rahman, atau orang-orang yang tewas bunuh diri, di hari-hari kehidupannya. Barangkali kita akan menemukan sebuah arus pemikiran yang mengalir deras tetapi sekaligus juga tak beraturan. Saya membayangkan, isi kepala Rahman dan siapa pun yang akhirnya memutuskan bunuh diri, barangkali sama riuhnya dengan isi kepala Plato sewaktu memikirkan lebih dulu “idea” atau “realita” atau seriuh isi kepala Muhammad sewaktu dibuat pusing oleh wahyu pertama Tuhan yang praktis tak mungkin bisa ia laksanakan secara letterlijk (kalau saya jadi Muhammad yang buta aksara, barangkali saya akan jengkel jika setelah bertapa berbulan-bulan lamanya Tuhan justru datang dengan perintah “sepele” yang sialnya tak bisa saya lakukan: bacalah… bacalah… bacalah!)

Menarik juga untuk merenungkan kebiasaan lain Rahman Kili Kili di hari-hari terakhirnya. Seperti yang juga dituturkan Rusnani, Rahman dikisahkah kerap melakukan aktivtas lari, jogging, mengelilingi kampung, tiap pagi dan sore di hari-hari terakhirnya.

Jika Rahman sudah memutuskan gantung diri sewaktu ia masih berlari-lari, maka Rahman berarti sedang mengenang dan menghayati semua laku yang bertahun-tahun sebelumnya ia lakoni. Saya jadi ingat Kawabata, yang kabarnya banyak menghabiskan hari-hari terakhirnya sebelum ia bunuh diri diam-diam pada April 1972 dengan berjalan-jalan memandangi rak-rak buku di kamar kerjanya, tanpa sedikit pun menyentuh apalagi membacanya.

Agak mirip, bukan? Seorang atlet ingin mengenang kehidupan yang diakhirinya dengan berolahraga, seperti seorang penulis yang mengenang kehidupan yang akan diakhirinya dengan memandangi lekat buku-buku.

Tapi jika lari-larinya Rahman tiap pagi dan sore dilakukan sebelum ia mengambil keputusan gantung diri, maka lari-lari itulah yang barangkali sebelumnya diyakini sebagai salah satu swa-terapi. Bukankah lebih masuk akal jika seorang mantan petinju yang depresi mencoba melarikan diri dengan berolahraga ketimbang melakukan swa-terapi dengan menulis dan bercerita seperti yang pernah dengan begitu lirihnya diungkapkan Hannah Arendt. Dari sini saya mulai yakin, tampaknya bercerita sebagai aktivitas menanggungkan derita seperti yang dbilang Arendt hanya berlaku bagi para penulis dan pengarang(?).

Saya jadi ingat film Forrest Gump. Si tokoh yang punya keaenahan prilaku (diperankan dengan sempurna oleh Tom Hanks) mengalami banyak transformasi dan pencerahan ketika melakukan aktivitas lari-lari yang gila-gilaan. Sayang, Rahman tak segila Forest Gump dalam berlari-lari, jadi endingnya pun tak seindah film Forrest Gump (astaga, bahkan film secemerlang Forrest Gump pun tak kehilangan selera klasiknya yang senang mengahiri cerita dengan ending yang menyenangkan).

Ending Rahman Kili Kili tentu saja jauh dari menyenangkan.

Selengkapnya......

Rabu, Februari 21, 2007

Masa Silam yang Mengeram jadi Dendam

Sobron Aidit adalah anak Belitung yang selalu ingin pulang ke Belitung.

Kita tahu, Sobron mendiang pada Sabtu pagi (10/2) yang tenang di Paris, kota yang ia tinggali sejak 1980. Dua belas tahun setelah kedatangannya, pada 1992, Sobron menulis sajak berjudul "Parisien", sajak yang seakan menjadi altar tempat ia merayakan kekagumannya pada Paris, kotanya yang baru, rumahnya yang entah keberapa buatnya.

Pada pasase terakhir sajaknya, Sobron menulis: Paris/ mengalir aku di urat-darahmu/ bersarang aku di jantungmu.

"Parisien”, kata yang Sobron pacak sebagai judul sajaknya, adalah kata ganti untuk orang-orang Paris, mereka yang mendiami Paris. Tapi “Parisien” tak sesederhana itu karena ia juga merujuk pada orang-orang yang tak sekadar berdiam di Paris, tapi juga mengenal betul Paris, hapal bau amisnya, akrab dengan aromanya yang sensual, mengerti setiap denyutnya, sekaligus menyatu betul dengan semua kekhasannya.

Parisien adalah sebutan untuk orang yang dalam sejumlah hal mencerminkan gaya hidup Paris, seperti Dubliner untuk orang-orang Dublin yang senang menghabiskan waktu senggang dengan bercakap di bar sembari menenggak bir sampai oleng, atau New Yorker untuk orang New York yang kosmopolit dan selalu berjalan tergesa bertarung dengan waktu yang mesti ditundukkan atau Bataviase bagi orang-orang (asing di) Batavia yang hidup dengan kesantunan yang menjengkelkan khas orang Eropa zaman Victorian yang penuh basa-basi, yang keukeuh mengenakan pantalon di tengah serbuan hawa panas Batavia yang menyengat.

Mexico City, ibu kota Mexico yang menjadi salah satu kota terpengap di kolong jagat, punya istilahnya sendiri bagi orang-orang yang tinggal di sana sekaligus mengakrabi dan selalu terus ingin mengenal segala renik perubahan yang mungkin sedang mengintai kotanya: “Citambulos”. Di Mexico City, kata itu berarti “Orang-orang yang selalu senang mengelilingi Mexico City dengan berjalan kaki untuk mengenal setiap sudut kota.”

Sobron, seperti yang ia bilang di pasase terakhir sajak Parisien, mendaku betapa dirinya sudah melekat betul dengan Paris, sampai-sampai ia yakin benar kalau dirinya sudah mengalir “di urat-urat” dan “jantung” Paris.

Masalahnya, benarkah Paris juga sudah mengalir “di urat-urat” Sobron? Sudahkah Paris bersarang di jantung Sobron?

Saya tak tahu persis. Tapi siapapun yang sering membaca tulisan-tulisan Sobron, entah itu puisi, esai, artikel atau sekadar catatan-catatan ringan, yang di warsa-warsa belakangan mudah dijumpai di sejumlah milis, mudah tergoda untuk menjawab: Ah, Paris tak pernah mengisi sepenuhnya urat-urat Sobron, Paris tak pernah memenuhi jantung Sobron….

Urat-urat dan jantung Sobron lebih banyak disesaki oleh kenangan pada Belitung dan Indonesia, kampung kelahiran dan negeri asal.Sobron, seperti yang juga tampak dari semua orang Indonesia karena menjadi eksil menyusul kasus G-30-S, amat sering berbicara tentang negeri asalnya. Ia begitu kuat ingatan dalam mengisahkan ulang sejumlah hal sepele yang pernah ia alami di Indonesia, sesemangat ketika ia mengomentari perkara-perkara yang mencuat di Indonesia, selantang ketika ia berbicara tentang dosa-dosa hitam Soeharto dan Orde Baru.

Masa lalu dan kenangan yang mengawetkanya seperti menjadi sumber ilham yang tak pernah habis digosok, tapi tampak juga sekaligus sebagai beban.

“Setelah dua pekan bermalam di emperan Sungai Rein/ kembali pulang ke kampung halaman Sungai Seine/ hati ini melonjak rindu dan kangen/ setelah mendekapkan perasaan sekitar sembilan lilindi Almere, Holland./ Tapi aku tetap saja ada di busur-lengkung/ garis-garis tata-letak kampungku di Belitung.”

Sajak di atas, berjudul "Pulang", yang ditulis pada Juni 2005, dengan amat baik menggambarkan bagaimana posisi Paris di Prancis atau Alemere di Belanda di hadapan Belitung di Indonesia. Tapi lebih dari sekadar itu, sajak Pulang juga menyiratkan sejumput kejengkelan, mungkin seperti sebonggol frustasi. “Aku itu sudah berpuluh tahun di luar negeri, tapi (kenapa ingatan) aku tetap saja menancap di Belitung?” begitu kira-kira pesan utama sajak itu.

Bayangan masa silam itu bahkan tetap dibawanya ke nirwana. Wasiat ia berikan pada sanak keluarga yang ia tinggalkan adalah agar jenazahnya dikremasi, dan abunya ditabur di Beijing (tempat mendiang istrinya wafat) dan di Belitung (tanah kelahiran). Paris seperti tak berbekas, penaka bukan kota yang ia pernah dengan amat tegas bersaksi kalau dirinya sudah benar-benar larut dalam otot dan jantungnya.

Puisi-puisi yang ditulisnya, catatan-catatan yang berisi kenangan, atau pernyataan-pernyataan politiknya yang tak pernah absen menghardik Soeharto dan Orde Baru dan (nyaris) semua tulisan yang dengan rajin dan rutin yang dikirimnya ke milis-milis, merupakan penegasannya yang paling otentik akan kerinduannya pada Belitung.

Harus diakui, Sobron adalah anggota milis yang aktif, teramat aktif malah untuk ukuran lelaki setua dia, yang tiap hari harus pergi ke warnet untuk mengirim dan membalas imel-imel. Seperti kesaksian yang diberikan anaknya, sebelum meninggal Sobron jatuh di sebuah stasiun bawah tanah ketika hendak pergi ke warnet, untuk apa lagi selain menyambangi milis-milis yang ia ikuti, dan kemudian ia hujani kembali dengan puisi dan tulisan-tulisannya.

Saya membayangkan, desau angin yang sensual kota Paris atau hiruk pikuk kesibukannya di restoran Indonesia, pasti langsung lenyap tiap kali ia duduk mencangkung di depan monitor warnet. Jika sajak Parisien seperti menjadi altar tempat ia merayakan kekagumannya pada Paris, maka warnet penaka altar tempat ia justru menegaskan betapa Paris tak pernah merasuki urat dan jantungnya.

Sobron adalah anak Belitung yang selalu ingin pulang ke Belitung. Sobron bukan seorang Parisien, karena itulah ia tak ingin abu jenazahnya ditaburkan di Paris.

Tapi dari sanalah, dari puisi-puisi yang lahir dari tangan Sobron, kita juga melihat betapa status sebagai eksil ternyata tak pernah melahirkan puisi-puisi eksil, yang tertinggal tak lebih sekadar gambaran situasi eksil.

Puisi-puisi Sobron, seperti juga puisi-puisi orang-orang eksil yang lain, seperti yang bisa kita baca dalam antologi "Di Negeri Orang: Puisi Penyair Indonesia" (2002), terlalu sarat dengan klise-klise politik, gerutuan orang-orang yang dizalimi (betapa pun itu memang faktual). Puisi seperti lahir untuk mementaskan kekecewaan, kemarahan, keluhan dan kejengkelan. Bukan kekecewaan atau kejengkelan itu yang pokok, tetapi kekecewaan dan kejengkelan yang membuat puisi-puisi itu menjadi beku dan klise itu yang jadi soal.

Di tangan Sobron, puisi seperti menjadi hal sekunder, karena yang primer adalah situasi eksil dan segala macam penyebabnya yang degil dan rudin itu. Diksi yang ranum, metafora yang kaya, pengucapan yang segar atau bunyi yang berirama seperti menjadi hal yang langka.

Kita harus mafhum pada kemungkinan betapa mereka mungkin tak terlalu peduli dengan tetek bengek teknik berpuisi yang membikin pusing para penyair pemula di negeri ini. Tapi kita patut heran kenapa kebebasan yang begitu besar di tanah asing. Limpahan pustaka yang menggunung, perjumpaan dengan khasanah kebudayaan dan realitas baru, tak membuat para sastrawan eksil(?) itu bisa melahirkan karya, minimal yang tidak klise-lah?

Amat jarang kita jumpai puisi para penyair eksil itu menyatakan rasa frustasinya seindah Agam Wispi dalam sajak "Pulang"-nya yang legendaris itu: “Puisi, hanya kaulah lagi tempatku pulang/puisi, hanya kaulah lagi pacarku lerbang....”

Sajak "Pulang vers Agam Wispi memaparkan kepedihan, kekecewaan, kemarahan, dan rasa rindu untuk pulang ke tanah air yang berujung pada frutasi yang menahun, yang membuat Agam Wispi akhirnya “menyerah” dan memilih untuk menjadikan puisi sebagai satu-satunya tempat ia pulang. Kepedihan, kekecewaan dan kemarahan seperti sudah ditransendensi sedemikian rupa dalam samudera kesadaran penyairnya.

Frase macam Agam Wispi di atas, yang punya potensi menjadi frase yang melegenda dan melintasi zaman, amat sukar kita jumpai dalam puisi-puisi Sobron dan yang lain. Bukankah kepedihan dan penghinaan atau rindu yang membubung pada tanah kelahiran tak harus selalu disuarkan melalui “pamflet” yang mengambil bentuk (serupa) sajak?

Di tangan Sobron, puisi menderu-deru seperti berburu dengan waktu, seakan mengejar sehimpun deadline, seperti terikat-erat dengan sejumlah target-target yang sama sekali tak ada urusannya dengan puitika. Pengalaman batin yang nyaris sama dengan Agam Wispi, di tangan Sobron, (hanya) menjadi “Lalu kini apakah bisa kita katakan/ api kebakaran lama dulu itu sudah mau padam?/ …sedang mereka (baca: eks rezim Orde Baru) terus membangun istana-istana baru/ di atas pekuburan kita/ di atas pekuburan para keluarga dan teman-teman kita ("Daftar Ingatan", 1998).

Sobron barangkali sedang membayangkan bahwa semua yang ditulisnya adalah peringatan bahwa ada yang keliru dari masa silam yang belum sepenuhnya diperiksa. Sobron, tampaknya, seperti khawatir masa silam yang hitam itu akan segera dilupakan. Sobron tak ingin itu kejadian. Seperti yang terpantul dalam puisi-puisinya yang seperti meriam itu, ia bahkan seperti tak sabar menyaksikan bagaimana masa silam yang membuatnya naas itu untuk sesegara mungkin diperiksa. Seperti ada dendam berkarat yang belum sepenuhnya lunas.

Asahan Aidit, adik Sobron sendiri, dalam obituari kakaknya, yang saya baca dari salah sebiji milis yang saya ikuti, juga menegaskan itu. Dendam, tulis Asahan, “adalah jiwa tulisan Sobron”.

Selengkapnya......

Selasa, Februari 20, 2007

Tak Ada Dosa Turunan di Antara Kita

Ketika adikku mengabarkan kematian kakek dengan terisak dan mata sembab, sungguh aku tak merasakan apa-apa. Datar. Nyaris tanpa impresi. “Mau pulang nggak?” tanya adikku.

Aku tak segera menjawab. Masih kuingat betul, aku justru mengingat-ingat kerjaan apa yang belum kuselesaikan, acara apa dalam dua hari ke depan. Beberapa jam kemudian, sewaktu aku sudah di atas kereta Senja Utama yang akan membawaku ke Cirebon, aku baru sadar betapa aku masih sempat-sempatnya berpikir untuk pulang atau tak dan masih sempat pula mengingat-ingat kerjaan.

Cucu siapa sebenarnya aku? Dan kakekku-kah yang mangkat?

Di atas Senja Utama yang kunaiki tanpa tiket, aku duduk di gerbong restorasi. Awalnya sendirian. Setelah memasuki Wates, seorang lelaki duduk di sampingku. Tak banyak yang kulakukan. Mengirim sms ke beberapa kawan. Membatalkan beberapa acara yang sudah kuagendakan. Memesan segelas energen. Menyeruputnya sedikit demi sedikit. Melewati Kutoarjo, aku membuka tas. Ku ambil Nyanyi Sunyi Seorang Bisu I-nya Pramoedya.

Ah, mengenai buku ini, aku bisa sedikit berkisah, mungkin ada gunanya sedikit untuk menggambarkan bantunan jiwaku.

Beberapa menit sebelum kepergianku ke stasiun, aku sempatkan menyambangi kamar bacaku. Aku lihat-lihat dan memilah kira-kira buku apa yang bisa aku bawa sebagai kawan perintang waktu. Aku ingat, dua minggu sebelumnya, sewaktu aku harus mengantarkan adekku yang bungsu kembali ke Cirebon, aku sama sekali tak membawa buku. Dan betapa membosankannya duduk di kereta tanpa bacaan. Aku tak ingin mengulanginya lagi. Itulah sebabnya aku harus membawa bacaan. Dan entah kenapa aku memilih Nyanyi Sunyi Seorang Bisu dan Metamorfosis-nya Kafka.

Yang pasti, sewaktu aku memilah-milah buku, Budi, kawan sekampung yang hendak mengantarkanku ke stasiun, sempat berseru: “Cepatlah. Waktu sudah mendesak. Sempat-sempatnya kau mikirin buku.”

Ya, kenapa aku sempat-sempatnya menghabiskan waktu 5 menit untuk memilah-milah buku, terbukti gara-gara 5 menit itu aku nyaris saja ketinggalan kereta. Kenapa masih sempat mencari-cari buku? Ini bukan soal aku kutu buku atau bukan. Sedikit banyak ini menyenggol perkara prioritas: terlambat kereta dan terancam tak bisa menghadiri pemakaman atau memilih dan mencari-cari buku agar perjalanan tak membosankan.

Perjalanan yang membosankan? Ah, sial betul. Kenapa aku tak pakai frase “perjalanan menyedihkan”? Perjalanan membosankan mengesankan aku penaka sedang berwisata saja. Padahal jelas bukan. Aduh… aduh….

Hei, bung, hendak ke mana sebenarnya kau? Sekadar pulang kampung? Jalan-jalan? Atau untuk menghadiri pemakaman kakekmu?

Sepanjang perjalanan, aku memang menghabiskan waktu dengan membaca memoar Pram itu. Sesekali aku menghentikan membaca saat dorongan untuk merenungkan semuanya, merenungkan hubunganku dengan kakek, merenungkan kematian. Tapi, bisa dibilang, memoar Pram lebih banyak menyita waktuku. Memoar ini sebenarnya pernah kubaca, tapi masih ada beberapa bagian yang kulewatkan. Makanya aku berniat menghabiskannya saja di atas Senja Utama ini.

Beberapa bagian Nyanyi Sunyi berhasil menghubungkan aku dengan kakekku yang malam itu sedang terbaring ditutupi kain jarik di kediamannya, di Dawuan, Majalengka, sekira 70 km ke arah barat dari Cirebon.

Aku masih ingat Bukan Pasar Malam, novel Pram yang paling liris, yang mengisahkan perjalanan pulang Pram kembali ke Blora, menengok ayahnya yang sedang sakit keras, untuk kemudian wafat sewaktu Pram masih di Blora, tapi sayangnya saat-saat terakhir ayahnya itu tak dihadiri Pram. Tentu saja kisah ini tak sama dengan Bukan Pasar Malam. Pram kembali ke Blora untuk menengok ayahnya yang sakit keras, sementara aku pulang untuk menemui orang yang sudah menjadi jenazah. Lagi pula, Pram menemui ayahnya, sedang aku menemui (jenazah) kakekku.

Di bagian-bagian awal Nyanyi Sunyi, Pram mengisahkan keluarga besarnya. Ada beberapa halaman yang mengisahkan kakeknya, baik kakek dari pihak ibu maupun dari ayahnya. Tapi tak ada bagian yang paling menghubungkanku dengan kakekku selain bab terakhir. Oleh Pram, bab itu dijuduli: Pokok dan Tunasnya.

Di bagian itu, Pram mengulas dengan baik bagaimana hubungan antara generasi tua dan generasi muda. Pram mengurai berdasar pengalaman hidupnya sendiri, bagaimana kesenjangan mental antara yang tua dan yang muda. Yang tua jelas sudah mencatatkan prestasi-prestasi hidupnya, sementara yang muda masih mereka-reka apa yang akan dilakukannya. Tapi yang tua belum tentu lebih baik, seperti halnya yang muda belum tentu juga bisa melampaui yang tua.

Di paragraf-paragraf awal bab itu, Pram bicara ihwal para patriark keluarga, para ayah, para lelaki kepala kaluarga, yang berlaku laksana hakim, penentu mana yang benar dan yang salah, si pemberi perintah, yang kata-katanya seperti sabda seorang raja, mesti ditaati dan dituruti.

Kakekku barangali adalah salah satu dari archetype para patriark itu. Ibu selalu membangga-banggakan ayahnya, kakekku itu, sebagai peletak dasar dari pola hidup disiplin, penuh dedikasi terhadap keluarga, pekerja keras yang menghidupi empat anaknya dan 3 saudara kandungnya, karena ia sudah yatim piatu sejak remaja. Ibuku, di level itu, adalah copy dari kakekku. Persis seperti ayahnya, ibu adalah pekerja keras, yang sealu tidur paling terakhir dan bangun paling dini, untuk memasak, mencuci, menyetrika pakaian suaminya dan anak-anaknya. Ibu seorang yang penuh dedikasi pada keluarganya. Seorang pekerja keras, yang mampu menafkahi dirinya sendiri, menambahi nafkah suaminya, dengan berjualan kecil-kecilan, dll.

Tapi ibu jelas bukan seorang patriark. Bukan semata karena ia adalah ibu rumah tangga dan bukan kepala rumah tangga, tetapi tanpa tawar ibu memang tak punya watak patriark. Watak patriark kakek, sepertinya tak berbekas pada dirinya.

Kakekku seorang patriark keluarga? Sepenuturan ibu, begitulah adanya. Dia mendidik dengan keras ibu, anaknya yang tertua, melebihi anak-anaknya yang lain. Ibu kerap bercerita, bagaimana kakek kerap menyuruhnya membeli rokok ke jalan besar di tengah malam, sendirian. Dan itu tak bisa ditawar. Ibu pernah pula bercerita, bagaimana kakek membuang roman-roman yang dipinjam ibu dari perpustakaan pabrik gula. Merusak, kata kekek.

Ibu juga pernah berkisah, bagaimana kakek menghalang-halangi sekuat tenaga dan dengan semua-mua dalih keinginan ibu untuk meneruskan kuliah di IAIN Sunan Kalijaga. Khawatir pada anak perempuan yang merantau-lah, tidak punya biaya-lah, dll.

Kejadian yang sama berulang pula pada pamanku yang paling muda, adik ibu yang paling bungsu. Keinginannya untuk kuliah di STT Telkom, gratis tanpa biaya karena ditanggung beasiswa, ditentang habis-habisan. “Kalau mau kuliah, kuliah saja di IAIN. Titik,” kata paman bercerita dengan penuh masygul. Kejadian itu kerap kali diceritakan ulang oleh paman, seakan-akan waktu berbilang tahun gagal melumerkan kejengkelannya.

Hingga SMP, kakekku masih aku ingat sebagai kakek yang manis dan baik pada cucunya. Terlebih semasa SD, aku selalu menanti kedatangan kakek. Vespa tuanya selalu aku rindukan. Aku tak ingat betul apakah kakek sering mengisahkan dongeng-dongeng atau tak. Pastinya, kakek selalu membawakanku oleh-oleh banyak. Kakek selalu memberiku uang jajan. Kakek selalu memberiku uang tiap kali mau kembali ke rumahnya, uang yang langsung kuhabiskan dengan membeli mobil-mobilan atau pistol mainan.

Aku masih ingat salah satu kebiasaan kakek sewaktu bertandang ke rumah. Dia selalu membaca buku-buku cerita yang aku bawa dari perpustakaan sekolah. Dan tiap kali buku-buku itu habis dibacanya, kakek langsung memintaku untuk mencarikan buku yang lain yang belum dibacanya. Apa saja dibacanya. Bahkan dua bulan yang lalu, sewaktu aku mudik lebaran, buku yang sedianya aku berikan pada pamanku yang terbaring di rumah sakit, Misteri Shalat Subuh dan buku Fatima Az-Zahra karangan Ali Syari’ati, habis pula dibaca kakek selama ia menunggui pamanku, anak bungsunya sendiri, dirawat di rumah sakit.

Ibu bilang, dari kakeklah hobi membacanya diperoleh. Ya, ibu memang hobi membaca. Ibu sering berkisah bagaimana di masa mudanya ia melahap habis semua roman-roman Balai Pustaka yang diperolehnya atau novel-novel populer yang mudah didapatkan. Dari ibu pulalah, barangkali, kegiatan membacaku dimulai. Masih aku ingat benar, roman orang dewasa pertama yang kubaca, Tenggelamnya Kapal Van Der Wijk karangan Hamka, aku baca setelah ibu selesai membacanya. Aku membaca itu sewaktu masih SD, mungkin ketika aku masih kelas 3 SD.

Tapi kakek memang sudah menunjukkan watak partiarknya sewaktu aku masih kecil. Aku juga ingat, tiap kali kakek bertandang ke rumah, kakek selalu bekerja apa saja. Kadang-kadang, ia bahkan membersihkan genteng rumah yang dipenuhi daun-daun. Dan aku selalu harus mengikuti perintahnya. Di suruh mengambilkan sapu atau yang lain. Dan itu tak bisa dibantah.

Kakek memang pekerja keras. Jika seorang ayah mengunjungi anaknya yang sudah berkeluarga mungkin kebanyakan memita dilayani, dienakkan, disuguhi, bahkan kadang memitna ongkos pulang. Kakekku tidak. Dia selalu bekerja sewaktu anak dan menantunya pergi mengajar (ayah dan ibuku adala guru SD). Di sini, watak partiark itu lenyap begitu saja dengan serta-merta.

Tapi kakek memang seorang yang rajin memberi nasehat. Petuah. Dia tak pernah lupa untuk menasehatiku untuk jangan sekali-kali meninggalkan shalat. Dalam hal ini, kakek tak kurang watak paedagogisnya. Jika sudah begitu, aku hanya diam saja, dan kerap membiarkan nasehat itu lewat dari kiri kupingku ke kanan kupingku. Aku tak begitu suka dinasehati panjang lebar. Amat mengganggu rasanya. Tapi kakek tak pernah lupa mensehatiku. Selalu begitu. Tiap kali bertemu.

Ya, lewat tulisan Pram, aku menimbang-nimbang kakekku. Memberi penilaian, sembari mengenang-ngenang.

Pram, masih di bab penutup Nyanyi Sunyi, menulis begini: “Generasi tua memegang kata putus dalam segala-galanya. Generasi muda mengintip-ngintip dari jendelanya, menimbang-nimbang dengan takut-takut, juga mengadili dan menghukum dengan diam-diam.”

Tentu saja aku tak selengas itu. Aku mungkin menimbang-nimbang dan memberi penilaian. Tapi aku tak sedang mengadili, apalagi menghukum. Aku bukan hakim. Aku bukan seorang pendendam pula. Bagaimana pun aku cucunya, persisnya cucu lelaki pertamanya. Lagipula, tak ada yang berlebihan dari sikap kakek pada ku. Tak patut pula aku mengadili. Apalagi menghukum.

Tapi aku tidak menangis. Tidak seseunggukan seperti adikku. Apa artinya ini? Normalkah? Atau jangan-jangan Pram benar. Sikapku menghadapi kematian kakek tanpa setetes pun air mata, adakah merupakan hukuman seorang cucu buat kakeknya? Jika ya, hukuman apa? Dan atas perbuatan salah apa kakekku dihukum?

Seorang kakek tentu wajar menerima kucuran air mata dari cucunya saat ia mangkat. Tapi aku tidak menangis. Tidak sesenggukan. Ah….


******
Ketika aku sampai di kediaman kakek, aku disambut sanak keluarga yang tak tidur semalaman. Aku disambut nenek. Aku memelkanya. Dia menangis. Aku menghiburnya. “Harusnya kakekmu menunggu kedatangan ibumu pulang,” sesal nenek.

“Ya sudahlah. Ada hikmahnya juga. Mumpung ibu lagi ada di Mekkah, dari sana ibu bisa mendoakan kakek dengan sebaik-baiknya do’a. Mungkin do’a ibu bisa melapangkan jalan kakek. Bukankah do’a di Mekkah katanya punya peluang lebih besar dikabulkan,” kataku sambil mengelus-elus pundak.

Aku memasuki ruang tengah. Aku lihat ada pamanku. Ada juga paman wa Ujang, sepupu ibuku. Aku lihat kakek terbujur kaku di tengah ruangan itu. Diselimuti kain putih bergaris-garis biru. Wajahnya ditutupi jarik. Entah kenapa aku tak berniat melihat wajahnya. Aku berbincang beberapa jenak dan pamanku. Kemudian aku mengambil wudlu. Shalat subuh. Setelah itu, aku membaca surat Yaasin sebanyak dua kali.

Ya, hanya itu. Dan aku tak menangis. Tak sesenggukan, juga tidak berkaca-kaca.

Sembari menunggu penguburan kakek, aku menghabiskan waktu berbincang-bincang dengan sanak keluargaku. Berbagi kabar. Berbagi cerita. Sembari menyeruput kopi dan teh. Dan menghisap rokok tentu saja.

Ketika tiba saat penguburan, aku berjalan persis di belakang keranda kakek yang diusung bergantian. Menjelang masjid, giliranku mengusung keranda. Tak terasa berat seperti dugaanku. Biasa saja.

Sesampainya di mesjid, aku segera mengabil wudlu. Begitu pula para pelayat yang lain. Kami semua menggelar shalat jenazah. Setelah shalat usai, imam mesjid itu menyampaikan pidato singkat. Di akhir pidatonya, imam itu bertanya pada para pelayat yang hadir.

“Almarhum (ber)iman?”

Serentak menjawab: “Iman.”

“Almarhum sae (orang baik)?’

Serentak pula menjawab: “Sae.”

Imam mengulangi pertanyaan yang sama sebanyak tiga kali. Dan sebanyak itu pula pelayat yang hadir memberikan jawaban yang sama.

Setelah itu, keranda kembali diusunng. Memasuki gang pekuburan, aku kembali manandu keranda. Seingatku, akulah satu-satunya keturunan darah langsung kakek yang ikut langsung mengusung mengusung keranda.

Entah kenapa kali ini keranda itu terasa lebih berat ketimbang sebelum dishalatkan. Aku ingat film-film mistik yang sering diputar di televisi. Aku pernah menonton sala satunya, yang dikisahkan ada keranda yang begitu enteng dan wangi ketika diusung, yang kata ustadz di film itu disebutkan sebagai pertanda betapa almarhum begitu banyak berbuat baik dan penuh pahala.

Ah, kenapa keranda kakek terasa lebih berat sekarang? Keranda juga tak menguarkan aroma wangi?

Sialan. Film-film rendahan itu ternyata membuatku berpikir macam-macam. Kubuang jauh-jauh pikiran yang bukan-bukan itu. Aku konsentrasi mengusung keranda.

Sesampainya di kuburan, pekerjaan menggali kuburan ternyata belum sepenuhnya selesai. Tapi itu juga tak lama. Lima menit kemudian, kuburan sudah siap. Seseorang tiba-tiba berkata: “Mana incuna? Siap-siap incuna turun.” (Mana cucunya? Siap-siap cucunya turun.)

Mendengar itu, aku pun bersiap. Aku lepaskan sandalku. Celana jeans hitam yang kukenakan aku gulung selutut. Aku turun ke kuburan yang sudah siap itu, bersama seorang tua setempat dan suami salah satu cucu kakekku, artinya suami sepupuku. Aku berada di tengah-tengah.

Beberapa detik aku sempat memerhatikan tanah disekelilingku. Begini rasanya kuburan. Baru kali ini aku turun ke kuburan, untuk menerima jenazah yang hendak dikubur. Ini pengalaman pertama. Imaji akan maut lumayan kuat menyergap. Bulu kuduk meremang. Tapi aku tidak nervous. Tidak pula deg-degan. Kendati ini pengalaman pertamaku.

Jenazah kakek diturunkan pelahan. Aku dan dua orang lainnya menerima dengan hati-hati. Mulanya aku menahannya dengan kedua tanganku menyangga di bawah jenazah. Tapi ada orang di atas berseru, tangan kiri di atas jenazah. Aku ikuti petunjuk itu. Tangan kanan di bawah jenazah, dan tangan kiri di atas jenazah. Aku, dengan demikian, memeluk jenazah kakek.

Perlahan dan dengan sangat hati-hati, jenazah kakek diletakkan di tanah yang basah dan dingin, rumahnya yang kemudian. Agak susah menempatkannya. Beberapa kali, jenazah kakek harus digeser ke utara sedikit, untuk mengepaskannya. Wajah kakek kemudian dimiringkan, menghadap ke barat. Seseorang menurunkan tanah yang dibentuk seperti bola, mengganja pantat jenazah kakek, kaki, pundak dan kepala kakek. Supaya jenazah tetap berada dalam posisi miring. Orang tua di depanku melepaskan ikatan kain kafan jenazah bagian kepala. Sementara suami sepupuku melepaskan ikatan kafan di bagian kakinya.

Ketika ikatan kafan bagian kepala dilepas, kafan itu kemudian dibukakan sedikit. Selintas aku melihat wajah kakek, persisnya bagian mulut pipi bagian bawah dan separuh hidungnya. Sisanya tak jelas terlihat. Ah, akhirnya aku melihat wajah kakek yang terakhir kali, ya… melihatnya dengan cara yang aneh. Aku, dengan demikian, menjadi keturunannya yang terakhir yang bisa melihat wajahnya.

Setelah semua usai, aku naik sedikit, kakiku menginjak bagian teras kecil di sepertiga kedalaman kuburan, untuk tempat papan-papan kelak akan diletakkan. Satu per satu, papan diturunkan. Ternyata, papan untuk bagian kepala tak pas ukurannya. Beberapa kali di ganti papan yang lain tak muat juga. Terpaksa seseorang turun membawa linggis, melubangi sedikit dinding kuburan. Setelah itu, papan baru bisa pas. Aku menerima papan-papan itu. Aku sendiri yang meletakkannya.

Kembali aku ingat film-film mistik di televisi. Tentan seorang yang susah benar dikuburnya. Sialan. Lagi-lagi aku ingat film-film picisan itu. Jelas itu pikiran buruk. Aku membuangnya jauh-jauh. Huh!

Setelah jenazah tertutupi papan, aku menerima tikar pandan tempat alas jenazah kakek di keranda. Aku letakkan tikar itu menyelubungi papan-papan itu. Aku juga menerima dua bilah bambu, mungkin pernah digunakan untuk mengukur ukuran jenazah kakek untuk keperluan menghitung ukuran makam.

Ketika aku hendak entas dari makam yang hendak dikuburi tanah, seseorang memberikanku plastik kecil bening. “Taruh di dekat bagian kepala,” sebuah suara dari kerumunan para pelayat menyambar.

Sedetik kemudian aku perhatikan plastik itu. Aih… ternyata isinya adalah gigi palsu yang utuh, bagian atas dan bawahnya. Lengkap. Komplit. Pelan-pelan kutaruh plastik berisi gigi palsu kakek itu di atas bagian kepala jenazah kakek.

Setelah semuanya usai, aku naik ke atas. Dan dimulailah upacara penguburan itu. Aku mengambil posisi agak jauh di belakang ketika tanah-tanah hitam yang agak basah itu diturunkan sedikit demi sedikit, menguburkan jenazah kakekku, orang yang darahnya sedikit banyak mengalir di nadiku.

Ketika tanah-tanah itu mulai mengurugi makam kakek, aku ingat kembali gigi palsu itu. Huueehhhh! Perutku mendadak merasa mual. Ya, mual. Seperti ada yang hendak terlontar keluar dari mulutku. Serasa ingin muntah. Tentu saja aku tahan-tahan. Sungguh tak mengenakkan dilihat orang jika aku muntah saat makam kakek sedang mulai diurug. Apalagi jika orang tahu aku muntah karena melihat gigi palsu kakek. Sudah tak mengelurkan air mata, eh… sekalinya mengeluarkan sesuatu, malah muntahan isi perut. Uh… cucu tak diuntung. Begitu barangkali komentar mereka.

Tapi kejadian ini, lagi-lagi, memaksaku berpikir. Siapa sebenarnya lelaki yang baru saja dikubur itu? Kakekku kah? Jika ya, kenapa aku tak menangis? Kenapa aku mual sewaktu melihat gigi palsunya? Bukankah aku juga keturunannya?

Ternyata, aku orang terakhir yang pulang meninggalkan makam kakek, rumah baru kakek. Aku hitung langkah. Satu. Dua. Tiga. Empat. Lima. Enam. Tujuh.

Ya, saat itulah malaikat Munkar dan Nakir mendatangi kakek dan menanyai siapa Tuhan-nya, siapa Rasul-nya, apa agamanya. Begitulah yang pernah diceritakan kakekku dulu, semasa aku masih SD.

“Kita akan ditanyai malaikat kalau orang terakhir di penguburan sudah meinggalkan makam sejauh tujuh langkah,” kata kakek dulu.

Kakekku mengalaminya sekarang. Langsung. Entah, di sana, kakek ingat atau tidak kalau ia dulu pernah menceritakan hal yang detik ini sedang dialaminya langsung. Yang pasti, aku, cucu keduanya dan cucu laki-laki pertamanya, satu-satunya cucu yang mewarisi minatnya pada bacaan, mengingatnya dengan khidmat.


******
Malamnya, aku segera ke Cirebon, menuju stasiun, menunggui kereta Senja Utama yang akan membawaku kembali ke Jogja. Jam 10.30 malam, kereta tiba. Aku naik dan duduk di gerbong empat. Aku langsung membuka kembali Nyanyi Sunyi, membaca kembali bab terakhir buku itu, Pokok dan Tunasnya. Aku membacanya tanpa jeda. Tak sampai 15 menit, bab itu tuntas kuhabiskan.

Aku letakkan Nyanyi Sunyi di meja dekat jendela. Aku nyalakan sebatak rokok. Aku menghisapnya dalam-dalam. Pandang ku lemparkan ke arah luar. Tak ada yang tampak. Hanya hitam pekat berjelaga.

Aku pulang dengan hati yang datar. Tak begitu merasa kehilangan. Biasa saja. Di sepanjang jalan, aku tertidur, seperti tak terjadi apa-apa.

Sesampainya di tugu jam 5 pagi, aku ingat-ingat, apakah selama perjalananku sehari semalam ini aku pernah meneteskan air mata. Ternyata tak. Seingatku memang tak. Aku hanya sempat berkaca-kaca ketika tanah mulai turun mengubur jenazah kakek. Hanya itu. Tak kurang tak lebih.

Ah, aku tak seperti kata Pram, yang menulis ihwal penghakiman dan penghukuman. Aku tak sedang menghakimi. Sekali lagi, tak pula sedang menghukum. Aku hanya mengisahkan semuanya begitu saja. Apa adanya. Aku tak menangis. Tak sesunggukan. Tak begitu merasa kehilangan.

Aku, tentu saja, sedikit banyak merasa berterimakasih pada kakekku, setidaknya karena ia pernah memberiku sekerat kenangan manis semasa kecil memunyai kakek yang manis dan baik. Kendati, dengan berat hati harus pula kuberikan catatan tambahan: makin besar usiaku, makin banyak pula jejalan nasehat yang ia sampaikan buatku. Sejak itu, kakek tak lagi semenarik dulu. Dan aku pun mulai tak begitu merindukan kedatangannya di rumahku.

Saya memang bukan kakek. Banyak hal perbedaan di antara kami. Kakek adalah orang yang saleh, sementara aku, cucunya, shalat saja masih jauh lebih banyak bolongnya. Sesekali suka minum bir. Nongkrong-nongkrong. Dan jauh dari mesjid. Lagipula, tak ada keharusan seorang cucu untuk menyerupai kakeknya.

Tapi, fragmen beberapa jam penguburan kakek memaksaku berpikir ihwal apa arti keluarga dan puak bagiku. Aku ternyata memang tak terikat secara erat dengan apa yang disebut keluarga dan puak. Di momen-omen tertentu, keluarga dan puak seringkali justru menjadi beban. Pada salah satu lebaran, aku merasakan betapa tak enjoynya harus melakukan ritus mudik. Ah, betapa enaknya orang-orang yang bisa bebas menentukan di mana ia hendak berlebaran. Kala itu, aku sempat berpikir, ada baiknya aku segera menikah dan berkeluarga, setidaknya, itu bisa menghindarkan diri dari kewajiban mudik dan pulang kampung.

Aku lebih terberati oleh jejalin persahabatan dengan orang-orang yang kutemui kala aku dewasa. Kawan-awan kuliahku. Teman-temanku nongkrong. Rekan kerja. Apa yang disebut Amin Maalouf sebagai “warisan vertikal” semacam ikatan primordial yang terberi begitu saja, seperti ikatan darah dan keluarga, ternyata pelan tapi pasti tergerus oleh apa yang oleh Maalouf sebut sebagai “warisan horzontal”: anyaman identitas yang dibentuk dengan penuh kesadaran, semisal identitas perkawanan, komunitas, dll.

Belakangan aku mulai sedikit menikmati momen-momen berkumpul dengan keluarga. Tapi, ikatan primordial bernamah keluarga dan puak itu kadang masih memberatiku. Masih kadang membebaniku.

Aku tak tahu persis apa alasan yang membuatku memutuskan pulang di menit pertama ketika mendengar kabar mangkatnya kakek. Adakah itu manfestasi kehilangan dan kesedihan? Entahlah. Nyatanya aku tak menangis sesenggukan. Tak ada setetes pun air mata yang tumpah.

Aku pulang, sepertinya, untuk melaksanakan kewajiban terakhir seorang cucu pada kakeknya, apalagi ibuku, putri pertama kakek, sedang tak di Mekkah sana. Aku, terpanggil, setidaknya untuk mewakili ibu. Dan aku sudah melaksanakan itu sebaik-baiknya. Mengusungi keranda kakek, meletakkan jenazah kakek, melepas ikatan pocongnya dan meletakkan dengan hati-hati gigi palsu kakek. Akulah darah dagingnya yang terakhir yang menyentuhnya dan yang terakhir pula menatap parasnya yang tua dan letih itu.

Ya, sekadar kewajiban. Semacam tugas. Aku menuliskan kata “kewajiban” dan “tugas” dengan hati yang aneh, perpaduan antara rasa yakin dan tak bisa menerima.

Aku masih ingat ucapan seorang letnan marinir yang bertugas sebagai pengacara dalam film Rules of Engagment, yang kusaksikan di warteg sembari menunggu kedatangan kereta Senja Utama yang akan membawaku kembali ke Jogja. Di salah satu adegan, letnan itu (aku lupa namanya) mengenang kejadian yang dialami sewaktu di medan perang Vientam. Ia bukan menyesali anak-anak buahnya yang tewas. Ia menyesal sangat karena ketika ia tahu semua anak buahnya tewas, ia malah bersyukur karena dirinya ternyata selamat. Ia merasa sangat tidak terhormat ketika mengingatnya.

Kurang lebih, itu pula yang aku rasakan. Aku tak bisa menerima ketika di atas aku menulis kepulanganku semata sebagai “kewajiban” dan “tugas” seorang cucu kepada kakeknya. Tak bisa menerma, kenapa bisa aku berpikir demikian, kendati sedikit pun aku tak meragukan kesimpulanku itu.

Sekarang, kakekku yang damai, ijinkan cucumu melanjutkan hidupnya. Menghadapi problem-problem kemanusiannya. Biarlah aku menangguk semua kesalahan dan dosa yang kuperbuat, seperti halnya kau sekarang mungkin sedang memertangungjawabkan semua dosamu (kuharap tak tentu saja) dan menikmati pahala yang pernah dibuatmu.

Dalam hal ini, kita, aku dan kakek, pasti sepakat: tak ada dosa turunan di antara kita.

Selengkapnya......