"Baik bagi seorang laki-laki untuk tidak menyentuh seorang perempuan.” Kata-kata itu kita temukan dalam buku “Confesiones” yang ditulis St. Augustine, lelaki yang ditahbiskan menjadi seorang Santa (Orang Suci) karena ide-idenya yang mengalasdasari doktrin iman Kristiani sepanjang Abad Tengah.
Tapi dengan membaca otobiografinya itu(yang ditulis setelah diangkat jadi Uskup), kita jadi tahu semasa hidupnya Augustine ‘tak pernah’ benar-benar menjadi orang suci. Ia akui, dirinya pernah berkubang dalam laku seksual tak terkekang, yang membuahkan anak bernama Adeodatus!
Hanya saja, semua buku dan literatur yang memelajari biografi dan pemikiran Agustine, termasuk Confessiones sendiri, tak mampu memberi jawaban ihwal Siapa perempuan yang kemudian melahirkan anak bernama Adeodatus itu?
Kotak pandora itu mulai terkuak melalui sebuah koinsidensi yang menyenangkan. Jostein Gaarder (penulis buku “Dunia Sophie”) pada 1995 tanpa sengaja menemukan setumpuk naskah tua di kios buku kecil di Buenos Aires, Argentina. Selidik punya selidik, naskah tua berlabelkan “Codex Floriae” itu ternyata surat-surat yang ditujukan kepada St. Augustine. Maka, terkuaklah rahasia besar itu!
Floria Aemilia, si penulis naskah “Codex Floriae”, tak lain adalah kekasih Augustine yang melahirkan Adeodatus. Floria menulis surat panjang ini setelah ia diberi kesempatan oleh seorang Romo untuk membaca “Confessiones”, otobiografi Augustine yang berisi pengakuan ihwal perjalanan hidup, dari mulai masa kecilnya, remaja, petualangan seeksualnya, termasuk hubungan romannya dengan perempuan yang melahirkan Adeodatus. Hal inilah yang memancing Floria untuk menulis surat.
Maka jika “Confessiones” merupakan ‘pengakuan’ Augustine, maka “Codex Floriae” bisa dibaca sebagai sebuah ‘pengakuan balik’.
Pengakuan balik’ Floria ini oleh Jostein Gaarder lantas diterjemahkan dari bahasa Latin. Tak cuma menerjemahkan, Gaarder juga berhasil melacak asal-usul puluhan kalimat dan kutipan yang dicuplik Floria dari khasanah Yunani dan Romawi klasik. Terjemahan yang dilakukan setelah melewati riset serius itulah yang lantas diterbitkan oleh Gaarder menjadi sebuah buku yang diberinya judul “Vita Brevis”.
Lewat “Vita Brevis” inilah, rahasia terdalam hubungan Augustine dengan Floria terkuak. Keduanya bertemu ketika Augustine sedang menyelesaikan pendidikan di Sekolah Retorika di Carthage. Cerita cinta itu pun dimulai dan berlanjut menjadi sebuah romansa luar biasa yang melibatkan segenap kekuatan raga, jiwa dan intelektual. Delapan belas bulan kemudian, Adeodatus pun lahir.
Lambat laun, kekuatan cinta St. Augustine kepada Floria mulai koyak moyak. Augustine (yang dipanggil Floria dengan nama Aurel) jatuh cinta pada pengabdian pada Tuhan. Akhirnya Augustine mengirim Floria ke Afrika tanpa Adeodatus. Sang anak diambil dan diasuh langsung oleh Augustine. Floria bahkan tak diizinkan mengucapkan selamat tinggal kepada anaknya. Floria jelas menanggungg lara yang demikian menikam: ia dipisahkan sekaligus dari lelaki yang dicintainya dan putra terkasihnya.
Dari “Confessiones”, kita tahu Augustine makin merapat ke jalan Tuhan. Akhirnya ia pun dibaptis. Selesaikah petualangan Augustine? Ternyata tidak. Augustine sendiri masih mengirimi Floria tiga pucuk surat yang mengakui dirinya tak mampu melupakan Floria. Tak cukup berkirim surat, keduanya masih sempat bertemu kembali, dan merajut ulang kemesraan itu di sebuah kamar yang khusus disewa Augustine untuk tempat tinggal Floria.
Sebagai seorang terpelajar, Floria sadar roman cintanya patah bukan karena adanya perempuan yang disiapkan Monika untuk menjadi istri Augustine. Lewat pengamatan yang tajam, Floria menulis dengan kata-kata penuh tenaga: “Sainganku adalah sebuah prinsip filsafat…. Sainganku bukan hanya sainganku sendiri. Ia adalah saingan semua perempuan, ia adalah malaikat maut bagi cinta itu sendiri.”
Dalam “Confessiones”, Augustine memang menempatkan perempuan sebagai penggoda yang harus dijauhi. Hubungan dirinya dengan Floria pun dianggap sebagai kutukan, penuh dosa dan harus dihentikan. Floria balik menuduh Augustine egois. Floria marah. Dengan telengas, ia menghajar pendirian teologis Augustine dengan kata-kata: Aku tidak percaya pada Tuhan yang menyia-nyiakan hidup seorang perempuan demi menyelamatkan nyawa seorang laki-laki.
Kendati cukup sophisticated dan lincah berargumentasi dalam menantang arus pemikiran Augustine, “Vita Brevis” pada awal dan pada akhirnya memang sebuah surat cinta. Polemik teologi yang disemai Floria tak lebih dan tak kurang adalah sebuah ikhtiar terakhir seorang perempuan terpelajar untuk mengajak kekasihnya pulang kembali ke ‘jalan Venus’; sebuah jalan yang dalam keyakinan Floria sama sekali bukan kubangan penuh dosa; sebuah jalan yang penuh gelegak dinamika kesenangan, kenikmatan sekaligus kepedihan.
Sebuah jalan di mana Tuhan juga bersemayam.
Jumat, Februari 16, 2007
Rhapsody Cinta Terlarang
Diposting oleh zen di 10:30 PM 3 komentar
Label: Personal
Kekerashatian yang Feminin
Obituari Pejuang Buta
Kita tak tahu persis kapan dan di mana foto Nyak Dien ini diambil. Keterangan yang didapat hanya menunjukkan foto itu diambil setelah ia tertangkap pasukan kolonial pimpinan van Heutzs.
Menyaksikan dengan seksama foto itu, kita dipaksa untuk mengernyit. Bagaimana bisa seorang pejuang yang gigih bisa tampak sesangsai itu?
Kita tak melihat raut wajah yang gagah dan keras hati, seperti yang sering kita lihat pada gambar-gambar Njak Dien yang kerap kita tatap di buku-buku sejarah resmi.
Wajah itu menunduk. Tapi cukup jelas ia tak sedang diam. Di wajahnya yang pucat, hitam dan letih itu, ada nuansa seperti sedang menangis, sekaligus menguar pula aroma kejengkelan yang sebisa mungkin ditahannya. Jika pun menangis, foto itu juga menegaskan, Njak Dien tak sedang menangis yang merengek, tapi lebih pas seperti menangis dengan jengkel, mungkin setengah menjerit.
Tapi jika pun benar Njak Dien menangis dan menjerit jengkel, posisi tangan Njak Dien ternyata mengabarkan sejumlah hal: tangisan kejengkelan Njak Dien ternyata seperti sedang berdo'a. Pasrah pada nasib yang tak mampu ia taklukkan. Bagi seorang buta, perempuan janda yang ditinggal mendiang dua suaminya, seorang pemimpin yang telah menjadi pesakitan, do'a barangkali cara mudah mengakui kerendahan diri. Mungkin juga kegagalan diri.
Foto itu berbicara banyak ternyata, tentang Njak Dien yang perempuan, yang mungkin mudah menangis, sekaligus Njak Dien yang maskulin, yang menjerit jengkel dan marah, berikut ekspresi tangan Njak Dien yang seperti sedang berdo'a, menunjukkan ia seorang yang sedang "sumeleh", pasrah, mungkin juga bertakwa.
Tjut Njak Dien adalah putri dari seorang da’i dari Sumatera Barat yang merantau ke Aceh dan kemudian menikahi seorang wanita yang berasal dari keluarga bangsawan terpandang dari kampung Lapagar, Aceh. Nanta Muda Seutia, ayah Tjut Njak Dien, lantas diangkat menjadi ulebalang di wilayah VI Mukim.
Ketika beranjak remaja, ia dinikahkan dengan Teuku Cik Ibrahim Lamnga, salah seorang pemimpin perlawanan rakyat Aceh atas pendudukan Belanda. Mereka rela rumah mereka dijadikan markas perjuangan, dan Teuku Cik Ibrahim Lamnga sebagai pemimpinnya.
Pada 28 Desember 1875 Belanda kembali menyerang Aceh secara besar-besaran dan membuat situasi Aceh semakin memanas. Tjut Njak Dien, anak mereka, dan ibu Tjut Njak Dien yang sudah tua, dibawa ke tempat yang aman. Sementara Teuku Cik Ibrahim Lamnga dan pasukannya terus bertempur mempertahankan wilayah VI Mukim. Pada bulan Juni 1878 di Gle Tarum terjadi perang besar melawan Belanda. Dalam perang itu Teuku Cik Ibrahim Lamnga meninggal dunia. Jenazahnya segera diusung ke tempat Tjut Njak Dien berada.
Sejak saat itu, Tjut Njak Dien bertekad akan meneruskan perjuangan suaminya mengusir Belanda dari tanah Aceh. Dalam perjuangannya, ia berkenalan dan jatuh cinta pada seorang pemuda yang bernama Teuku Umar. Akhirnya pada tahun 1880 Teuku Umar melamar Tjut Njak Dien. Pernikahan itu disambut gembira oleh kedua belah pihak. Bersatunya dua pemimpin perlawanan itu berarti menyatukan dua pasukan. Jumlah pasukan itu semakin banyak dan kuat. Sayang, persediaan persenjataan mereka semakin sedikit.
Teuku Umar mencari jalan agar mendapatkan senjata dari Belanda. Dia lantas berpura-pura bersedia menjadi kaki-tangan Belanda untuk membasmi perlawanan rakyat Aceh. Tentu saja Belanda menyambut baik. Teuku Umar kemudian diserahi pasukan dan persenjataan. Selama proses itu berlangsung, Teuku Umar terus menyelundupkan senjata ke pasukan yang sekarang dipimpin istrinya.
Pada 10 Februari 1898, Belanda mengetahui letak persembunyian Teuku Umar. Jendral van Heutsz, komandan pendudukan Belanda di tanah Aceh, segera menyerang pasukan Teuku Umar tepat di Ulong Kala sebelum mencapai kota Meulaboh. Dalam gelap malam itulah Teuku Umar wafat.
Untuk kali kedua, Tjut Njak Dien menjadi janda. Dan untuk kali kedua pula, Tjut Njak Dien bertekad tetap angkat senjata. Dia melanjutkan taktik perang gerilya dalam melancarkan perlawanannya. Dan Belanda tak mampu meringkusnya.
Tjut Njak Dien baru bisa diringkus setelah Pang Laat, pengikut setia Tjut Njak Dien, membocorkan persembunyiannya. Pang Laat merasa tak tega melihat bagaimana Tjut Njak Dien yang sudah mulai menua dan mulai mengalami kebutaan masih harus terus-terusan memimpin perang. Pang Laat berharap, dengan ditangkap, Tjut Njak Dien bisa disembuhkan dari deraan sakit dan usia yang merembang senja.
Membaca riwayat Tjut Nyak Dien, kita seperti sedang membaca sebuah epos. Tjut Njak Dien adalah prototipe perempuan Srikandi seperti bisa kita temukan dalam epos Mahabharata. Dalam Mahabharata versi India, Srikandi digambarkan sebagai wadam yang menjadi istri Arjuna. Sebagai istri, Srikandi tak diragukan kesetiannya. Dan sebagai satria yang terlibat dalam perang besar Bharatayudha, Srikandi menjadi salah satu penentu kemenangan Pandawa dengan keberhasilannya menewaskan Bhisma yang berpihak pada Kurawa.
Seperti Srikandi, di jelujur riwayat Tjut Njak Dien, kita saksikan bagaimana feminitas dan maskulinitas seperti melebur. Kesetiaan feminin dan kekerashatian maskulin berpadu-padan dengan sedemikian rupa sehingga Tjut Njak Dien hadir dalam ruang imajinasi bangsa Indonesia dengan begitu impresifnya.
Sejarah kita mencatat banyak sosok perempuan hebat. Tetapi dalam hal tersebut, keunikan Tjut Njak Dien bisa dibilang tak ada padanannya dalam sejarah perlawanan rakyat Nusantara terhadap penjajahan Belanda.
Diposting oleh zen di 4:23 AM 0 komentar
Kamis, Januari 25, 2007
Luka-luka Kawabata (3)
Kisah-kisah yang sering menggambarkan batin yang terluka, yang dihayati dengan sunyi, hening, liris dan terkadang suram itu seperti menjadi pantulan dari luka yang mengeram dalam struktur kesadaran generasi Jepang yang sempat menyaksikan akibat merusak dari perang Dunia II yang melibatkan Jepang dalam baku bunuh yang membikin (rakyat) Jepang tidak hanya kikuk berhadapan dengan Barat, melainkan juga canggung menghadapi bangsa-bangsa Asia lain yang pernah merasakan getirnya laku bengis tentara Jepang.
Lewat pidato yang dibacakan di depan Komite Nobel Sastra pada 1994, Kenzaburo Oe seakan sedang menapaktilasi struktur kesadaran generasi pengarang Jepang pasca perang, dan tentu bisa dibaca pula sebagai pembacaannya terhadap Kawabata sebagai eksponen terpenting generasi post-war litteratur.
Di pidato berjudul Japan, the Ambigous and Myself (bandingkan dengan judul pidato Nobel Kawabata: Japan, the Beuatiful and Myself), Oe bertutur tentang bagaimana perihnya derita dan beban warisan masa lalu yang mesti mereka tanggung dan bayar. Mereka adalah generasi pengarang yang sangat terluka sekalipun penuh harapan untuk bisa lahir kembali.
Mereka mencoba dengan sakit luarbiasa untuk memoles kekejaman biadab yang dilakukan pasukan Jepang di negara-negara Asia dan sekaligus juga dibebani tanggungjawab untuk menjembatani jurang yang sangat dalam antara Jepang dengan negara yang pernah dilukai Jepang.
Kisah-kisah Kawabata, terutama yang lahir pasca perang, kaya dengan gambaran ihwal luka, kesedihan dan kepedihan manusia yang tak tertanggungkan, luka mendalam yang hanya diekspresikan dengan diam-diam, liris, tak banyak kata. Dari sana gamblang tergambar bagaimana generasi pengarang Jepang pasca perang menghayati rasa malu, luka dan beban sekaligus. Dan dari sanalah mereka, tentu saja Kawabata juga, menghadirkan banyak karakter manusia yang mudah terluka perasaannya.
Kawabata, dan para pengarang angkatan post-war litterature, seperti sedang membagi luka kolektif bangsa Jepang. Tetapi mereka tak hanya mengerang-ngerang. Dengan fiksi-fiksinya, mereka mencoba memulai proyek penyembuhan jiwa-jiwa yang koyak. Sastra bagi Oe, seperti juga Virginia Wolf, adalah salah satu cara yang paling mungkin sehingga derita bisa tertanggungkan.
Kenzabure Oe barangkali adalah satu dari mereka yang betul-betul bisa menanggung luka dan beban tadi, dan kemudian bangkit. Bunuh diri diam-diamnya Kawabata dan aksi bunuh diri super spektakuler dari Mishima pada 1970, menunjukkan bahwa tidak semua dari mereka betul-betul bisa bangkit dari luka dan beban (dalam bahasa Oe disebut sebagai “ambiguitas”) yang yang seringkali tak tertanggungkan.
Dalam hal Kawabata, puncak dari rangkaian kisah tragis yang dihayati dengan cara yang subtil dan hening itu (tragika seperti dalam kehidupan masa kecilnya yang abnormal dan sebatang kara atau dalam kesadaran kolektif bangsa Jepang maupun dalam fiksi-fiksinya) ditunjukkan dalam caranya mengakhiri hidup: bunuh diri tanpa meninggalkan jejak dan isyarat. Pada suatu malam yang hening di bulan April. Di kamar pribadinya yang terkunci rapat-rapat.
Diposting oleh zen di 1:25 AM 2 komentar
Jumat, Januari 19, 2007
Luka-luka Kawabata (2)
Jika diberi pilihan untuk memilih tempat tinggalnya setelah mati, Kawabata kemungkinan akan memilih tempat-tempat yang dingin, sunyi, hening sekaligus mencekam. Persis seperti cara ia menempuh kematian. Serupa dengan tema dan bangunan suasana yang sering ia munculkan dalam sejumlah karyanya.
Saya teringat Buah Delima. Cerpen yang ditulis Kawabata pada 1964 itu berkisah ihwal sepasang muda-mudi yang dipaksa berlerai cintanya oleh kecamuk perang yang tak bisa ditenggang. Di sebuah siang yang terik tapi senyap, disaksikan ibunda si gadis, keduanya bersemuka terakhir kali. Tak banyak yang terucap di siang itu. Cuma ada ucap pamit sekadarnya. Beberapa kerjap selepas kekasihnya pergi, gadis itu menemukan buah delima yang disuguhkannya ternyata tak dihabiskan kekasihnya. Hanya secuil bagian yang termakan.
Kisah itu sungguh menyenangkan dibaca karena Kawabata berhasil menyuguhkan roman cinta tanpa sekalipun memunculkan kata “cinta”. Tapi pembaca tahu, pasangan muda itu merasakannya kendati tak terucap. Terasa tapi tak terkata. Dan cinta yang merasuk itu dimanifestasikan lewat sebuah gerak yang begitu liris: si gadis, disertai pecahnya bilur-bilur tangis yang menyayat, dengan senang hati memakan sisa delima itu.
Kawabata, saya kira, memang amat senang mengeskplorasi konflik psikologi yang dihamparkan dengan halus, jauh dari meledak-ledak. Dalam banyak kasus, konflik dihadirkan sebagai bayang yang merasuk-mendalam, sesuatu yang subtil.
Di novel Beauty and Sadness, misalnya, konflik psikologis yang dipaparnya terasa demikian halus karena di puncak sebuah konflik atau perdebatan, Kawabata selalu mengimbuhinya dengan deskripsi latar yang detail dan indah dengan cara melukiskan bentang alam Jepang yang eksotik oleh salju dan tebaran kuil-kuil tua yang masih punya aura.
Obsesi Kawabata pada keheningan di tengah sebuah konflik yang nyaris memuncak terlihat pula pada adegan ketika Oki, tokoh utama yan berfrofesi sebagai novelis, bersua kembali dengan mantan selingkuhannya, Otoko. Dalam perjumpaan yang sudah ditunggu-tunggu lama, keduanya malah menghabiskan waktu hanya dengan mendiskusikan lukisan. Hanya sebiji kalimat Otoko yang memertautkan pertemuan itu dengan masa silam: ‘Sudah lama sekali….”. Cuma itu. Lain tidak.
Tapi jejalin diksi dan deskripsi latar yang disemai Kawabata berhasil membawa imaji pembaca untuk sampai pada kesimpulan: keduanya masih saling mencintai dan merindukan, sekalipun (lagi-lagi) mereka tak membicarakannya. Tentu saja, dalam usia mereka yang makin senja, paling tidak dalam kasus Oki dan Otoko, cinta dan kerinduan adalah perkara yang sulit, rumit, sumir, tetapi justru mewujud dalam bentuk yang intens dan mendalam.
Tuturan ihwal rasa sepi, hening serta gelombang emosi yang pasang surut yang dihayati secara personal dam diimbuhi oleh kepekaannya menangkap nuansa dan aura Jepang lama lewat pemeriannya yang khas terhadap ritual-ritual Jepang (misal: pemerian detail acara minum teh dalam The Thousand Cranes) atau dengan mendeskripsikan kuil-kuil tua Jepang (seperti dipaparkan dengann baik dalam Beauty and Sadness), terasa kian mengena karena ia juga bertutur dengan cara yang amat liris. Komplit sudah.
Itulah sebabnya dalam khasanah kesusasteraan Jepang ia dikenal sebagai “…narrative mastership, which with great sensibility expresses the essence of the Japanese mind."
Diposting oleh zen di 1:21 AM 0 komentar
Selasa, Januari 16, 2007
Luka-luka Kawabata (1)
Publik sastra Jepang tampaknya tak akan melupakan tanggal 16 April. Pada hari itulah, persisnya pada 1972, salah seorang putra terbaik yang pernah dilahirkan kesusatraan Jepang, ditemukan tewas tanpa meninggalkan inskripsi, tanpa saksi, dan tanpa testimoni. Yasunari Kawabata bunuh diri diam-diam.
Kawabata pergi berselang empat tahun setelah ia menangguk penghargaan Nobel Sastra, sebuah penghargaan yang tidak hanya melambungkan namanya ke langit-langit dunia sastra, tetapi juga memantik perhatian dunia terhadap khasanah kesusatraan Jepang modern. Terutama karena Kawabata-lah dunia mengenal sastra Jepang tak hanya dengan sosok Matsuo Basho dan haiku ciptaanya.
Bersama dengan eks-muridnya, Mishima, dan juga Tunichiro Tanizaki, Kobo Abe, Fumiko Enchi dan Kenzabure Oe (peraih Nobel Sastra 1994), Kawabata ada di deretan paling atas dari sebuah gelombang pembaharuan sastra Jepang pasca Perang Dunia II, sebuah gerakan yang kemudian dikenal dengan nama Post-war Litterature
Dalam arus pembaharuan itu, Kawabata bahkan disebut sebagai pemimpin dari gaya penulisan yang liris dan impresionis. Dalam puncak keberhasilan gaya itu, Kawabata dikenal sebagai sastrawan Jepang yang paling berhasil menciptakan banyak cerita dengan kadar sensibilitas estetik yang begitu lembut; sesuatu yang kemudian memengaruhi generasi sastrawan Jepang selanjutnya, dan bahkan memikat nama besar lain dalam jagat sastra, Gabriel Garcia Marquez, yang belakangan dipengaruhi oleh melankoli dan sensibilitas Kawabata (baca novel Marquez Memories of My Melancholy Whores).
Komite Nobel sendiri menyebut karya-karya Kawabata sebagai sebuah sumbangan berharga bagi perjumpaan spiritual antara Barat dan Timur. Tapi bagi saya, Kawabata bukan cuma berhasil memertemukan dunia spiritual Barat dan Timur. Yang sebetulnya jauh lebih menarik ketimbang penilaian Komite Nobel yang bernada seremonial itu adalah kenyataan di mana Kawabata diakui sebagai satu-satunya pengarang Jepang yang hampir terobsesi pada pencarian tapal batas antara keindahan dan brutalitas (Colliers Years Book; 1997).
Setidaknya ada dua karya Kawabata yang bisa diacu untuk hal penting itu. Kisah perselingkuhan dalam novel Beauty and Sadness bisa diacu sebagai salah satu contoh. Adegan yang menyayat itu terjadi ketika istri dari Oki, novelis yang berselingkuh, sedang mengetik naskah novel suaminya. Novel itu justru bercerita tentang perselingkuhan suaminya. Istri Oki yang sedang hamil itu juga tahu. Tapi ia nekat mengetiknya sendiri.
Yang dirasakannya kemudian adalah setiap hentakan di tuts mesin ketik rasanya seperti hunjaman-hunjaman pedang yang menohok batinnya. Begitu halaman terakhir novel itu selesai diketik, tuntas pula penderitaan sang istri: ia keguguran saat itu juga. Dengan darah yang menetes-netes dari selangkangannya.
Dalam cerita pendek Burung Kenari, Kawabata lebih jago lagi dalam mendemonstrasikan bagaimana hasil dari pencariannya terhadap batas antara brutalitas dan keindahan itu.
Di cerpen sangat pendek itu, Kawabata berkisah tentang seorang lelaki yang dengan penuh kasih memelihara seekor burung kenari yang diberikan kekasih gelapnya. Cerpen berbentuk sepucuk surat itu berisi pengakuan si lelaki tentang kebimbangan antara rasa rindu pada kekasih gelapnya dengan rasa bersalah terhadap istrinya yang begitu baik, yang bahkan ikhlas merawat burung kenari yang menjadi pengikat perselingkuhannya. Lewat surat terakhir yang ditulis persis di hari kematian istrinya, si lelaki memutuskan untuk menghentikan kisah cintanya yang terlarang.
Simbol sekaligus klimaks dari pertobatan lelaki itu dari kisah cinta yang terlarang, konflik batin, dan rasa rindu yang menggunung, dimanifestasikan Kawabata dengan ending yang nyaris brutal: diam-diam, lelaki itu berniat menyembelih hidup-hidup burung kenari yang jadi prasasti perselingkuhannya. Dan si lelaki, berniat mengubur sepasang burung itu, di liang yang sama di mana istrinya dikebumikan.
Dalam karya itulah saya kira Kawabata telah menemukan batas antara keindahan dan brutalitas. Dan ketika ia menemukan tapal batas yang dicarinya, yang ia lihat justru kaburnya batas antara brutalitas dan keindahan, persis seperti dua fragmen yang terpapar dalam dua kisah barusan.
Diposting oleh zen di 1:01 AM 0 komentar
Rabu, Januari 10, 2007
Pedang di Kanan, Keris di Kiri
Di benteng Fort Rotterdam, Makasar, Diponegoro tutup yuswa di usia 77 warsa. Di detik-detik terakhir riwayatnya, Diponegoro hanya ditemani oleh istrinya, Raden Ayu Retnaningsih.
Diponegoro memang bukan Napoleon Bonaparte. Kita tahu, jenderal mungil yang pernah menggegerkan seantero Eropa itu, pernah dibuang ke pulau Elba. Tapi ambisinya tak surut. Dengan semua-mua jaringan yang masih ia miliki, disusunnya kekuatan. Seusai meloloskan diri dari pulau Elba, Napoleon dengan segera memulihkan kekuasaannya, sebelum kemudian kembali ditangkap untuk selamanya di pulau St. Helena hingga kematiannya.
Diponegoro, tak seperti Napoleon, seperti tak berminat melakukan hal ihwal yang dilakukan Napoleon beberapa tahun sebelum Java Oorlog digelar Diponegoro. Diponegoro seperti pasrah menelan takdir.
Alih-alih menyusun rencana perlawanan kembali, Diponegoro malahan menulis babad. Kita sekarang mengenalnya sebagai Babad Diponegoro: sebuah memoar yang mengambil bentuk tembang, yang tak cuma mengisahkan perjalanan hidupnya yang pasang surut, melainkan juga mencerminkan kejernihan dalam memandang pelbagai soal dunia yang penuh sengkarut.
Diponegoro lahir pada 11 November 1785 dengan nama kecil Bandoro Raden Mas Ontowiryo. Dia adalah putra Sri Sultan Hamengkubuwana III dari selir bernama Raden Ayu Mangkorowati. Ketika dewasa, Diponegoro menolak kehendak ayahnya yang berniat menabalkannya sebagai Putra Mahkota. Bagi Diponegoro, statusnya sebagai anak seorang selir tidak memungkinkan dirinya menjadi Putra Mahkota.Dan itu tak tertawar.
Sejak kecil, Diponegoro menampakkan kecenderungan lebih menyukai dunia spiritual dan mistisisme dan cenderung menjauhi segala macam intrik politik di lingkungan Istana. Bibit perlawanan Diponegoro dimulai ketika Sri Sultan Hamengkubuwana V, yang masih berusia 3 tahun, dilantik sebagai Sultan pada 1822.
Diponegoro sebenarnya ditunjuk sebagai salah satu wali sekaligus penasihat Sultan muda itu. Tapi, Diponegoro tak bisa menolerir ketika kekuasaan di Istana justru lebih banyak dikendalikan oleh Belanda lewat kepanjangan tangan Patih Danureja. Diponegoro lebih memilih tinggal di Tegalrejo, daerah yang berjarak 4 kilometer ke arah barat dari istana. Di sinilah Perang Jawa (Java Orloog) yang menewaskan 15 ribu serdadu Belanda dan menghabiskan 15 ribu gulden itu pertama kali tergelar.
Perang yang berlangsung selama lima tahun itu dipicu pemasangan patok-patok di tanah yang menjadi hak Diponegro untuk pembangunan rel kereta api. Diponegoro murka karena sedikit pun ia tak diberitahu. Secara simbolik, Perang Jawa telah dimulai ketika Diponegoro, dengan tangannya sendiri, mencabut patok-patok itu.
Dengan ciri khas kuda putih dan pakaian serta surban serba putih, Diponegoro memimpin sendiri perlawanan bersenjata itu dari markas besarnya di Gua Selarong, Bantul. Chairil Anwar, dalam sajaknya berjudul Diponegoro, menggambarkan bagaimana Diponegoro menggelar perlawanannya yang panjang itu: “…Pedang di kanan, keris di kiri… Menyediakan api.”
Dua tahun pertama perlawanannya, Diponegoro berhasil memenangkan sejumlah pertempuran. Tapi, lambat laun, menyusul keberhasilan Belanda membujuk beberapa pengikut inti Diponegoro, perlawanan itu mulai melemah.
Dalam situasi seperti itulah Diponegoro menerima tawaran Jenderal de Kock untuk berunding di Magelang. Tepatnya pada 28 Maret 1930, ketika itu sedang memasuki bulan Ramadhan, Diponegoro ditangkap di Magelang. Adegan penangkapan Diponegoro itu diabadikan dengan sangat metaforik dalam sketsa yang digambar oleh Raden Saleh.
Kendati demikian, Diponegoro tetap diingat sebagai orang besar dalam kesadaran orang Jawa. Diponegoro dikenang sebagai pangeran yang dengan gagah berani menjunjung harga dirinya dan sekaligus menjunjung pula harga diri bangsa Jawa yang sudah seabad lebih dipermalukan Belanda.
Nama Diponegoro makin mewangi mengingat Diponegoro menggelar perlawanan itu bukan atas nama atau demi kekuasaan, karena Diponegoro sendiri sudah lama menampiknya. Itulah yang membedakan perlawanan Diponegoro dengan perlawanan yang dilakukan, misalnya, Trunojoyo atau Raden Mas Said (Mangkunegara I), sekaligus bisa menjelaskan kenapa Diponegoro bisa menangguk dukungan berlimpah dari rakyat jelata, para ulama dan beberapa petinggi istana sekaligus.
Dengan segala keterbatasannya, seperti tampak dari dukungan yang diperoleh Diponegoro, rakyat jelata terbukti punya kemampuan untuk melihat secara jernih mana perjuangan yang dialasdasari oleh ketulusan dan asketisme dan mana perjuangan yang semata demi kekuasaan. Tanpa memadang ruang dan waktu, ketulusan terbukti selalu dihargai dengan sangat tinggi oleh rakyat.
Diposting oleh zen di 9:48 AM 1 komentar
Senin, Desember 18, 2006
Sepenggal Kisah Cinta Mahatma Gandhi
Jika ada orang rela berkorban apa saja demi orang yang ia cintai, tentu bukan hal istimewa. Jika kita dengar ada orang yang ikhlas memertaruhkan segenap yang ia punya demi sebuah nilai atau ideologi yang 100% dipercayainya, kita pun tidak akan menganggapnya luar biasa.
Buku “Gandhi Cintaku” (Qanita, 2001) karya Sudhir Kakar bukanlah buku yang mengisahkan salah satu dari dua model kecintaan di atas. Buku ini justru memberi kita gambaran yang sungguh menyentuh tentang bagaimana jadinya jika dua model kecintaan itu bercampurbaur dengan cara yang subtil dan total.
Tersebutlah seorang perempuan bernama Mirabehn. Ia mencintai seseorang lelaki tua sekaligus juga mencintai sebuah nilai atau ideologi. Lelaki tua yang dicintainya adalah Mahatma Gandhi. Dan nilai atau ideologi yang dicintainya juga adalah “Mahatma Gandhi”. Ia mencintai Gandhi secara utuh, baik sosoknya sebagai manusia-lelaki sekaligus mencintai nilai-nilai dan pandangan hidup yang diperjuangkan Gandhi.
Mirabehn yang lahir pada 1892, nama asalnya Madeline Slade, mengenal Gandhi lewat biografi yang Romain Roland, pemenang Nobel Sastra 1915. Mira langsung terpikat dan bertekad pergi ke Ashram Sabharmati, kediaman Gandhi, untuk mengabdikan hidupnya.
Ini jelas bukan keputusan mudah. Bisa kita bayangkan bagaimana reaksi publik begitu mengetahui, Mirabehn, putri Sir Edmund Slade (Komandan Armada Laut Inggris di India Timur), tiba-tiba meninggalkan hidupnya yang mewah dan berkecukupan hanya untuk mengabdi pada orang yang justru menjadi penentang utama kolonialisme Inggris.
Mira berangkat ke India pada 1925. Gandhi, yang sebelumnya telah berkorespondensi dengan Mira, menyambutnya dengan istimewa. Dan sejak itu, Mira seperti menjadi anak emas Gandhi. Ia mendapat hak-hak yang tak dipunyai kebanyakan penghuni Ashram. Mira, misalnya, mendapat keleluasaan untuk menemani Gandhi di ruangannya menjelang waktu tidur.
Pelan tapi pasti, kepercayaan Gandhi kepadanya makin meninggi. Mira dipercaya untuk menjadi semacam asisten Gandhi. Bahkan, Mira pun diijinkan memijat-mijat kepala Gandhi, sebuah aktivitas yang sebelumnya hanya menjadi hak istimewa Kasturba, istri Gandhi sendiri.
Tetapi Gandhi kemudian mencopot sederet keistimewaan itu. Gandhi melakukannya bukan semata untuk meredakan kecemburuan Kasturba dan penghuni Ashram lainnya, melainkan karena Gandhi mulai khawatir kalau Mira tidak lagi mencintai “Gandhi” sebagai sebuah gugusan nilai perjuangan, melainkan mencintai dirinya sebagai manusia-lelaki. Jika dibiarkan, Mira bisa saja meninggalkan nilai-nilai “Gandhi” jika dirinya, Gandhi, telah mangkat.
Mira sendiri pun menyadari betapa ia juga mencintai Gandhi sebagai manusia. Sudhir Kakar menggambarkan bagaimana gelisahnya Mira tiap kali Gandhi berada jauh dari dirinya. Di saat-saat seperti itulah Mira tersiksa. Mira betul-betul berada dalam tekanan psikologis yang tak tertahankan.
Di puncak kegelisahan itulah muncul sosok Prithvi Singh, seorang lelaki pejuang kemerdekaan India yang radikal. Selama Prithvi di Ashram, Mira sering beroleh kesempatan berduaan dengannya. Mira pun jatuh hati pada Prithvi. Dengan dukungan Gandhi, Mira sebisa mungkin menarik perhatian sang pujaan. Malang tak bisa ditolak. Ketika Mira bersiap menanggalkan sumpahnya untuk selibat, Prithvi justru menolak menikahinya. Kendati terus berusaha meluluhkan hati Prithvi, lelaki pejuang itu tak mengubah keputusannya.
Mira terhempas dalam sekali pukul. Mira kembali mengalami pukulan luar biasa berat ketika Gandhi terbunuh. Dalam selang waktu yang agak lama, Mira hanya berdiam diri. Mengenang Gandhi. Lewat 5 tahun kemudian, ia baru kembali memulai aktivitas. Ia sempat mendirikan Gopal Ashram di Bhilangana, India, pada 1952.
Setelah beberapa kali melakukan eksperimen sosial, Mira akhirnya memilih hidup sendiri. Di sebuah tempat yang terpencil di dekat Wina, Austria. Di sana ia menyepi. Merenung. Dan terutama, Mira kembali menekuni dan memelajari musik Beethoven, sosok yang sebelum kehadiran Gandhi, pernah demikian membuat Mira terobsesi. Ia sempat melahirkan sejumlah karya tulis tentang Beethoven. Mira, dengan demikian, akhirnya kembali ke pelukan lelaki yang pertama kali membuatnya jatuh cinta. Beethoven.
Di bagian awal buku Kakar, pembaca akan mendapati perjuangan Sudhir mencari dan menemui Mira di kediamannya yang senyap dipinggiran Wina itu. Di sana, Sudhir menyaksikan betapa Mira hanya hidup berdua dengan seorang pembantunya dari India. Dan ini ironisnya: Ketika Sudhir pergi meninggalkan kediaman Mira, pembantu dari India itu berlari di sisi mobil Sudhir dan memohon agar sudi membawa dirinya kembali ke India. Sudhir tentu tak mengabulkannya. Tapi dari sana, kita beroleh sebuah petunjuk betapa akhirnsa pembantunya yang paling setia pun bahkan berniat meninggalkannya.
Di tempat itu pulalah Mira mengahabiskan sisa usianya dengan kemasygulan yang menderas. Ya... Mira menyaksikan bagaimana perjuangan Gandhi untuk mendirikan negara India modern yang damai dan berdaulat pupus oleh fanatisme ras dan agama yang dipeluk dengan gila-gilaan.
Dalam kesepian yang berlarat-larat itulah, Mira mendiang pada 20 Juni 1982.
“Gandhi Cintaku”, bagi saya, adalah buku yang dengan baik memaparkan pasang surut sebuah gelombang cinta yang datang dan menghempas susul menyusul. Keteguhan Mira untuk mengambil jalan hidup Gandhiji yang tindih menindih sedemikian rupa dengan rasa cinta platonik Mira terhadap Gandhi sebagai manusia-lelaki dipaparkan Kakar dengan wajar namun menyentuh. Lara hati yang ditanggung Mira ketika cintanya ditampik Prithvi pun digelar Kakar dengan dingin, persis sedingin sosok Mira dalam kesehariannya.
Sebagai seorang ahli di bidang psikoanalisis, Kakar tentu saja punya perangkat metodologis yang meyakinkan untuk mengetahui, mendiagnosis dan menguraikan dunia kejiwaan tokoh-tokohnya yang kebetulan memang ia kenal itu.
Selain sebagai pakar kejiwaan, Sudhir Kakar memang mengenal langsung Mira, Gandhi, Kasturba, Prithvi maupun Ashram Sabharmati dan seisi penghuninya. Kakar adalah salah seorang penghuni Ashram yang ditugasi Gandhi untuk mengajari Mira bahasa Hindi. Jadi Kakar memang tahu betul laku tokoh-tokoh itu berikut semua yang terjadi di keseharian Ashram.
Salah satu kelebihan buku ini berpangkal dari sana. Dengan membaca “Gandhi Cintaku”, kita akan mengenal sosok Gandhi secara lebih dekat. Jika di dunia Gandhi di kenal sebagai sosok tenang dan berpembawaan kalem, buku ini justru menggambarkan keseharian Gandhi sebagai seutuhnya manusia, yang bisa tertawa, melucu, cemberut, ragu, bimbang, sedih, ketakutan bahkan murka.
Di sini pula kita bisa mengetahui bahwa Gandhi, pelopor nomor wahid gerakan anti-kekerasan Ahimsha, ternyata bisa pula menampar seorang perempuan (Jerman) yang ia anggap telah berlaku keterlaluan. Penggambaran Kakar atas kedekatan Gandhi dan Mira yang “lumayan mesra” juga sukses memotret sosok Gandhi sebagai manusia besar dan sensual.
Hanya saja kita akan sedikit kesulitan untuk menempatkan posisi buku ini. Deskripsi tentang situasi Ashram dan detail prilaku tokoh-tokohnya, bisa dibilang merupakan sebuah fakta, sepanjang fakta dimengerti sebagai rangkaian kejadian yang tertangkap langsung oleh mata Kakar. Surat-surat Mira kepada Gandhi dan Prithvi dan juga sebaliknya juga faktual karena dikutip langsung dari surat-surat asli mereka yang kini tersimpan di Perpustakaan Nehru. Tetapi buku ini juga bukan sebuah tulisan reportase, apalagi buku sejarah, karena di banyak bagian, Kakar telah mengimbuhinya dengan imajinasi dan fantasinya sendiri. Beruntung di bagian awal Kakar sudah memberi catatan tentang bagian dan hal-hal mana saja yang faktual dan mana yang fiksional.
Buku ini, mungkin, lebih pas disebut sebagai karya semi-fiksi, tepatnya sebuah semi-fiksi yang menyentuh dan menggoda tentang perjuangan sejumlah anak manusia dalam memerjuangkan cinta dan keyakinan hidupnya.
Diposting oleh zen di 6:13 AM 0 komentar
Sabtu, Desember 16, 2006
Aubade Perempuan Eksil
Sutanti, istri DN Aidit, baru saja melahirkan anak pertamanya. Di hari membahagiakan itu Aidit di mana entah. Sobron jadi orang pertama keluarga Aidit di Jakarta yang datang menjenguk.
Tanti lantas menyerahkan pada Sobron ari-ari jabang bayinya untuk diurus. Tapi Sobron, kala itu masih pemuda ingusan yang baru hijrah dari Belitung dan awam benar soal primbon tata-polah orang Jawa, asal saja membuangnya ke sungai!
“Kata orang (Jawa), kalau ari-ari dibuang ke sungai, si pemiliknya akan berkelana terus,” tulis Ibaruri Putri Alam, anak sulung DN Aidit, si pemilik ari-ari yang dibuang ke sungai itu.
Dan itu pula yang senyatanya berlaku. Pada awal Oktober 1958, Ibaruri yang berusia 16 tahun dikirim Aidit ke Moskow bersama adiknya, Ilya. Ada semacam naluri politik dalam diri DN Aidit untuk menyekolahkan anak-anak perempuannya ke luar negeri sehingga jika ada deru deram politik yang membahayakan, mereka bisa menyelamatkan diri.
Sejak itu Iba dan Ilya tak pernah bisa kembali ke Indonesia, ia menjadi seorang pengungsi abadi. Keduanya sebenarnya sukses meraih gelar sarjana di Eropa Timur. Tapi gelar itu menjadi tak bermakna apa-apa ketika mereka kemudian “pindah” dan terpaksa berpindah-pindah dari satu kota ke kota lain, dari satu negeri ke negeri yang lain: Rusia, Tiongkok, Burma, Macao dan terakhir menetap di Prancis.
Baru pada April 2005 Iba bisa kembali menginjak bumi Indonesia. Tapi sebagai warga negara Prancis. Status WNI-nya tak diakui, bahkan ketika Gus Dur sebagai Presiden pernah menjaminnya.
Iba tak akan melupakan Gus Dur. Iba juga akan mengingat terus sebuah peristiwa bertarikh 2001, di sebuah musim panas yang terik di Paris. Gus Dur kala itu masih Presiden Indonesia, singgah di Paris dan menjumpai orang-orang Indonesia yang menjadi eksil. Iba diundang khusus untuk datang. Dia bahkan disediakan tempat duduk di deret paling depan, berdekatan dengan Gus Dur.
Begitu tiba, Gus Dur langsung menghampiri Iba, dan berucap: “Iba, saya belum berhasil membatalkan TAP MPRS no. XXV 1966. Saya sudah perjuangkan, tapi belum berhasil.”
Di otobiografinya ini, Ibaruri (nama yang diambil Aidit dari nama pendekar Partai Komunis Spanyol, Dolores Ibaruri) menuliskan ingatannya akan fragmen penting itu seraya mengimbuhinya dengan sebuntal kesan yang personal dan karenanya terasa cukup mengharukan:
“Aku, Ibaruri, yang sudah puluhan tahun tak pernah menginjakkan kaki di Kedutaan Besar Republik Indonesia! Kali ini dicari Presiden Indonesia in person. …Aku berterimaksih dan menjawab tidak apa-apa. …Dengan sederhana serta tulus beliau pernah meminta maaf. Dan apa yang lahir dari situ? Secara sederhana pula orang-orang PKI itu memaafkannya. Kok repot-repot.” (hal. 270)
Iba mungkin masih belum paham betapa soal maaf-memaafkan, di sini, kerap merepotkan, bagi seorang Gus Dur sekali pun. Sebab maaf, betapapun, menyiratkan masih terpacak tegaknya kesadaran ihwal arang yang mencoreng-coreng, laku yang berlancung-lancung, atau tingkah yang mengerkah-ngerkah.
Memaafkan karenanya selalu jadi medan penuh ketegangan antara “kebutuhan melupakan”, “naluri mengenangkan” dan “hasrat membayangkan masa depan”. Otobiografi Ibaruri ini adalah salah satu contoh yang cukup mengesankan bagaimana ketegangan macam itu mencuat kuat.
Kenangan berkelebatan di nyaris semua helai buku ini, hal lumrah karena sebuah otobiografi dilahirkan memang untuk, salah satunya, mengenang-ngenang.
Tapi dalam hal otobiografi orang macam Ibaruri, (yang duapertiga hidupnya dihabiskan dalam pengasingan karena menjadi korban deru deram politik yang sepenuhnya tak bisa ia mengerti) mengenang selalu menjadi problematis. Dan tidak mudah akhirnya.
Orang-orang seperti Iba inilah yang tahu benar betapa mengenang selalu membuat hidup tak bisa sepenuhnya dipahami: Mengapa harus begini kejadiannya? Kenapa harus begitu yang berlaku senyatanya? Lantas saya mesti melakukan apa?
Di titimangsa seperti itulah ketegangan antara “kebutuhan melupakan”, “naluri mengenangkan” dan “hasrat membayangkan masa depan” saling tindih-menindih, tabrak-menabrak. Iba menggugat-gugat di banyak helai halaman bukunya, soal pembantian keji orang-orang PKI, dll. Tapi Iba juga mencoba mengerti. Dan seringkali tampak ingin melupakan.
Di bawah menggunungnya daki-daki kebohongan, di sudut jiwa yang paling dalam, aku mengharap masih ada tersimpan secuil nurani yang masih polos, masih murni. …Yah, nurani… yang bepuluh-puluh tahun telah diberangus, disumbat, dipaksa bungkam seribu bahasa. Tak ingin aku berdebat tarik urat di sini. Aku hanya ingin menumplekkan jerit hatiku, marah dan tangisku,” tulis Iba (h. 384).
Dalam paragraf itu, kenangan yang membuat rasa masygul pun nongol (“kebohongan dan nurani yang dibungkam”), yang diimbuhi kesadaran kekinian untuk membikinnya sudah (“tak ingin aku berdebat”), sekaligus menyempil pula secual harapan yang kadang terasa naif (“aku mengharap masih ada tersimpan secuil nurani yang masih polos, masih murni”).
Di paragraf itulah “kebutuhan melupakan”, “naluri mengenangkan” dan “hasrat membayangkan masa depan” tampak secara eksplisit, dan lantas terhampar dengan sedemikian rupa menjadi satu kontinum kesadaran yang sinambung dan akhirnya membentuk sejarah hidup seseorang, dalam hal ini Iba, lengkap dengan kontur mentalnya yang khas.
Tetapi, terlihat pula betapa proses mengenangkan yang kerap memerihkan itu ingin dihadirkan Iba bukan penaka sebuah petaka yang hendak digusah pergi. “Biarlah ia tetap di sana dan mengendap,” begitu barangkali Iba berpikir.
Tak mengherankan jika dibalik paragraf-paragraf itu, betapa pun isinya gugatan sekali pun, saya merasa Iba seperti sedang berkompromi dengan yang silam. Dalam hal Iba, mengenang berarti juga berkompromi. Saya temukan sebentuk kepasrahan, barangkali penerimaan, atau sumeleh kata orang Jawa, bahwa hidup memang tak sepenuhnya mulus dan tak akan pernah selalu baik-baik saja. Mesti ada yang retak, split, dan bergurat-gurat luka. (Adakah kepasrahan itu disebabkan karena Iba sudah jadi seorang Budhis yang tentu paham soal determinasi takdir?)
Iba, entah para pengungsi abadi lainnya, ingin semua proses itu bisa terus berlanjut tak terputus. Dan mulus. Jangan ada lagi darah. Juga luka. Apalagi dendam. Itulah sebabnya Iba sempat menaruh harap: “Aku mengharap masih ada secuil nurani yang masih polos dan masih murni”.
Otobiografi di sini telah menjadi salah satu obyektifikasi ihwal sengitnya pertempuran antara “kebutuhan melupakan”, “naluri mengenangkan” dan “hasrat membayangkan masa depan” dalam ruang batinnya. Juga untuk melepaskan keletihan serta segenap-ganjil unek-uneknya. Sekaligus mengabarkan pada anak bangsa leluhurnya (kita, orang Indonesia) bahwa ada banyak yang terluka dalam proses panjang tumbuhnya Indonesia menjadi seperti sekarang.
Menuliskan semua-mua itu sendiri menjadi seperti proses penyembuhan bagi Iba. Seperti kata Virgina Wolf, “Derita menjadi tertanggungkan ketika ia menjelma sebuah cerita.”
Kita tidak tahu apakah derita itu sudah tertanggungkan atau belum!
Diposting oleh zen di 10:04 PM 0 komentar
Template asal oleh
headsetoptions
diadaptasi ke Blogger oleh
blog and web | dipercantik oleh udin