
Maka terjagalah saya. Sepanjang malam, sepanjang kelam. Juga malam ini. Susah benar membenamkan mata pada kelopaknya. Padahal lampu sudah dipadamkan, buku-buku sudah dirapikan, tempat tidur sudah dihamparkan dan badan sudah dibaringkan.
Butuh kesabaran untuk terus menahan diri tetap telentang di pembaringan, melawan naluri tubuh yang menjompak-jompak selalu ingin bangkit dan terjaga. Saya jadi mengerti kenapa Chairil memberi salah satu sajaknya judul: “Kesabaran”.
Aku tak bisa tidur
Orang ngomong, anjing nggonggong
Dunia jauh mengabur
Saya pernah menganggap “Kesabaran” adalah judul sajak Chairil yang paling ganjil, untuk tak menyebutnya yang terburuk. Tapi, pertarungan untuk terlelap yang selalu tergelar malam demi malam membuatku lebih mengerti kenapa Chairil memilih kata “Kesabaran” sebagai judul sajaknya. Sebab, tak mudah bagi para pengidap insomnia untuk terlelap. Butuh kesabaran tak sederhana untuk mengirim sepasang mata di bawah naungan keteduhan kelopaknya.
Mungkin saya memang bukan orang yang cukup penyabar. Jika setelah setengah jam tak juga terlelap, saya kadang menyerah, lalu bangkit dari pembaringan, menyalakan rokok, menyeduh kopi dan kemudian menyeruputnya. Lalu, seperti yang sudah-sudah dan memang selalu begitu, buku-buku menjadi sasaran pelampiasan kegagalan menaklukkan dorongan tubuh yang selalu ingin terjaga. Musyawarah buku pun tergelar. Kadang lama. Kadang singkat. Tak tentu.
Jika sudah begini, giliran otak yang minta dipuaskan. Dengan segera kening berdenyut, menyusun garis-garis tipis di jidat –tanda bahwa saya sedang memikirkan sesuatu, dari yang berat hingga yang ringan, dari yang serius sampai yang sepele, dari yang suci hingga yang jorok.
Ritus selanjutnya mudah ditebak: notebook kembali menjadi altar tempat aku menghaturkan hio berupa deretan aksara yang kujejalkan dengan paksa. Hampir semua postingan di blog ini dilahirkan di tengah ritual malam yang –sejujurnya—begitu melelahkan.
Kadang, jika tenaga masih berlebih, saya sempatkan menyusuri jalanan Jakarta dengan mengayuh sepeda berwarna kuning. Jika tidak, saya hanya berjalan kaki mengikuti arah angin: mungkin duduk-duduk di gigir jalan Veteran yang tua sembari menatap jejeran lampu merkuri yang tergantung di sesela semak Ciliwung, kadang pergi ke Stasiun Juanda menyantap mie rebus atau roti bakar, sesekali –terutama jika bulan sedang penuh—saya senang duduk di bangku taman Monas sembari membaca beberapa buku cerita dan mencuri-curi pandang pada purnama yang bulat --lalu ingat sajak Rendra “Bulan Kota Jakarta” yang ditulis pada 1955: “Bulan telah pingsan/ di atas kota Jakarta/ tapi tak seorang menatapnya”.
Tapi, semua pengalaman yang sepintas terasa menyenangkan itu sebetulnya sering terasa meletihkan, terutama pada saat di mana saya sebenarnya benar-benar ingin istirahat. Tapi kantuk selalu datang terlambat. Ia seperti sedang memusuhi saya. Sementara malam rasanya berubah menjadi pencemburu yang tak sudi jika hanya siang saja yang bisa memperkosaku. Tubuhku seperti menjadi panggung di mana waktu begitu bersemangat memamerkan kuasanya.
Inilah yang sedang saya hadapi: diperkosa siang dan digagahi malam!
Ini berakibat buruk, tentu saja. Wajah makin tirus. Mata lebih sering memerah. Berat badan saya sebenarnya tak menciut drastis, tapi hampir semua orang yang mengenalku bertahun-tahun lalu menyebutku tampak lebih kurus. Selera makan anjlok. Sudah lebih dari dua minggu rasa lapar baru datang sekitar jam 7 malam.
Anehnya, emosi saya stabil. Marah karena hal-hal yang memang menjengkelkan tentu masih kadang datang. Tapi itu tak pernah lama hinggap. Kemarahan bisa punah tak sampai sepenghisapan kretek.
Beberapa tulisan yang cukup bagus bisa saya hasilkan. Beberapa di antaranya berhasil memenuhi ekspektasi saya, standar yang saya tetapkan sendiri. Bulan ini ada empat tulisan yang muncul di koran. Itu bagus, saya kira. Sebab, beberapa bulan yang lalu, paling banter cuma sebiji yang dimuat. Karena memang sebanyak itu pula yang saya kirimkan. Sejak setahun terakhir, saya enggan sembarang mengirimkan tulisan. Jika tak memenuhi standar yang saya tetapkan, tak akan pernah saya kirimkan. Jika hanya sebiji yang dimuat dalam sebulan, artinya sebiji itu pula tulisan yang memenuhi standar pribadi yang berhasil aku buat selama sebulan. Dan sebulan ini ada empat tulisanku yang muncul di koran.
Di sini saya menjumpai paradoks. Di satu sisi saya begitu jengkel dengan susahnya saya tidur –sebentuk kejengkelan yang kadang membuat saya merasa begitu letih dan frustasi. Tapi, di tengah keletihan dan kejengkelan itu, saya kok bisa lebih jernih menulis, bisa lebih sabar menatah kata dan menyungging makna.
Malam, barangkali, tak sejahat seperti yang saya bayangkan sewaktu jengkel karena kantuk begitu enggan mendekat. Jangan-jangan, tubuh saya memang tahu benar bahwa sekaranglah saatnya saya bekerja sekuat-kuatnya. Mungkin, ya… mungkin, saya tak pandai membaca isyarat tubuh saya.
Pertaruhannya memang tidak kecil. Amat bisa jadi kelak saya akan ambruk dan mesti berbagi ranjang dengan penyakit. Membayangkan itu bukan hal yang mudah. Menyedihkan rasanya tergolek tanpa daya, menjadi tuna karya.
Tapi malam mungkin memang telah memilih saya sebagai sahabatnya. Tak ada pilihan lain: saya menerimanya!
Kebetulan ada buku yang mesti kuselesaikan secepat-cepatnya. Ini janji sekaligus kewajiban pada kantor yang sudah terlalu lama tertunda. Ada sekitar 100-an naskah sepanjang 700 kata yang mesti saya tulis untuk melunaskannya. Bukan soal mudah karena sebagian terbesar buku-buku yang kubutuhkan masih ada di Jogja, sementara saya tak punya cukup alasan untuk mendatangi kota tua itu hanya sekadar untuk mengambil buku.
Bulan depan, bulan Juni, sepertinya akan menjadi bulan yang dipenuhi oleh malam-malam panjang yang riuh. Selain hutang buku yang belum terlunaskan, Piala Eropa yang dimulai pada 8 Juni hampir pasti akan membuat saya makin akrab dengan malam. Saya tak ingin melewatkan satu pun pertandingan. Bukan semata karena saya amat senang nonton bola, tapi juga karena saya mesti menulis sejumlah esai tentang (kebudayaan) bola di sebuah surat kabar.
Saya berpikir untuk tak lagi mengutuki insomnia ini. Jika memang malam sedang mesra dengan saya, maka nikmati sajalah. Jika memang belum ngantuk, kenapa harus jengkel jika mesti terus terjaga?
“Aku menghitung prajuritku pada malam hari,” kata Napoleon.
Saya tak punya prajurit, tentu saja. Saya hanya punya kata-kata. Saya mengeluarkannya. Saya menatahnya. Saya menyunggingnya. Saya menghitungnya. Semuanya berlangsung pada malam, yang kadang terang, kadang kelam.
--------------
post-script: gambar di atas diambil pada dini hari pukul 02.20, tepat di depan kantor saya.