Kasihmu sunyi
Menunggu seorang diri
Lalu waktu - bukan giliranku
Matahari - bukan kawanku
-- Amir Hamzah, "Padamu Jua"
Selama tiga hari saya menikmati hidup yang hening dan kadang terasa begitu meditatif sebelum sepucuk imel berisi tuduhan yang nyelonong tanpa melakukan klarifikasi lebih dulu berhasil membuat pertahananku jebol dan dadaku kembali meledak.
Saya menjawab imel itu tanpa basa-basi, juga tanpa metafora. Jika ada yang sedikit perlu disesali, barangkali, karena saya menjawab imel itu pada saat kepala masih terasa beruap dan otak saya masih dalam keadaan murka. Tentu saja tak ada kata-kata kasar apalagi makian. Tapi, jawaban saya yang keras, sudah cukup menjelaskan betapa saya tak cukup tenang merespons keadaan.
Betapa tipisnya selisih antara keheningan dan kemarahan.
Tahun 2007 memang menjadi tahun yang hebat, penuh gejolak personal, naik turun emosi yang begitu cepat, semangat yang menggelegak, kenakalan yang liar, dan kadang sentimentalitas yang mendadak muncul dengan lembutnya.
Di tahun ini saya terlibat dalam sejumlah perdebatan yang panjang dan sengit, polemik yang mulanya antara saya sendiri dengan seseorang, tapi dengan cepat berbelok menjadi sengketa diskursif yang melibatkan institusi. Sesekali muncul hardikan yang sedikit sarkas, tuduhan yang tidak masuk akal, serta prasangka yang berlebihan.
Ada beberapa nama yang sebelumnya saya anggap sebagai “mentor” di tahun ini berubah menjadi sparring partner dalam sebuah sengketa gagasan.
Tak pernah saya diam tanpa melakukan “serangan balasan” tiap kali ada yang “menyerang”. Agresi dihadapi dengan agresi. Sikap santun saya sambut dengan tak kalah santunnya. Sepanjang tahun 2007 ini saya bisa dengan cepat bersalin rupa dari seorang yang santun menjadi seorang yang begitu agresif. Begitu pula sebaliknya.
Saya menutup tahun ini dengan menulis resensi buku di sebuah surat kabar yang isinya menganggap buruk sebuah buku yang ditulis seorang begawan, orang yang diam-diam pernah saya anggap sebagai mentor, yang oleh penulis-penulis resensi lainnya buku dia itu dipuja-puji setinggi bintang.
Tiba-tiba saja saya menyadari betapa saya begitu percaya diri. Tanpa sedikit pun rasa jirih, apalagi takut dan minder, saya membuka perdebatan, menantang muka lawan muka beberapa nama yang mungkin Anda kenal atau pernah Anda dengar, nama-nama yang cukup mentereng dan punya reputasi yang tidak enteng.
Saya sampai pada gagasan bahwa sebuah perdebatan yang saya ikuti dengan penuh semangat selalu berhasil menginjeksi energiku menjadi bertambah lipatannya. Saya selalu merasa makin kuat dan tangguh. Makin tangguh lawan debatnya, saya makin pula merasa bertambah kuat.
Saya ingat, pilihan macam itu saya unduh dari sikap Musashi. Kira-kira di pengujung 2006, saya menyelesaikan novel Musashi. Saat itu juga saya merasa perlu mengikuti jejaknya: mendatangi beberapa pendekar dan menantangnya “berkelahi”.
Ya, di pengujung warsa ini, jumlah “kawan” dan “musuh” saya ternyata jumlahnya nyaris berimbang. Seseorang yang pernah menjadi kawan yang begitu akrab tiba-tiba menjelma menjadi sosok yang begitu berjarak, sejumlah nama yang tadinya begitu asing mak mbedundu bisa menjadi karib yang begitu intim atau seseorang yang tadinya aku panggil dengan begitu mesra mendadak menjadi pribadi yang tak mengenakkan untuk dikenang.
Blog ini membuat jumlah nama yang mesti kuingat kian bertambah. Relasi makin meluas. Pembacaku juga makin berlipat. Beberapa menghubungiku secara personal. Ada yang minta masukan soal tulisan-tulisannya, ada yang sekadar memuji, tak jarang ada yang memaki dan mencercaku sebagai pribadi yang keras kepala dan sombong gak ketulungan, tapi satu dua orang menghubungiku untuk menawari pekerjaan yang sayangnya belum bisa aku penuhi. Di ujung tahun ini pula aku ditawari sebuah situs berita untuk menjadi kolomnis tetap selama Piala Eropa berlangsung di bulan Juli besok; satu-satunya tawaran yang tak mungkin bisa aku tolak.
Jumlah hari di tahun 2007, tentu saja, sama jumlahnya dengan tahun-tahun yang lain. Tapi peristiwa demi peristiwa, keputusan demi keputusan serta tindakan demi tindakan yang kuambil membuat tahun ini rasanya memuai menjadi lebih panjang tapi sekaligus rasanya begitu padat.
Di tahun inilah saya berhasil menyelesaikan dilema soal studi yang beberapa tahun sebelumnya saya biarkan berlarut-larut. Di tahun ini pula aku berani bicara muka lawan muka dengan ibuku dalam status sebagai manusia yang punya hak dan kewajiban yang mandiri, dan bukan dalam status sebagai anak sulung dan anak lelaki satu-satunya.
Di tahun ini pula saya mencapai tingkat produktifitas menulis yang nyaris gila-gilaan. Hampir tiap hari saya menulis dan tak ada hari tanpa menulis: menulis untuk media massa, menulis untuk blog, menulis untuk pekerjaan, menulis bagian-bagian dari buku dan novelku sampai menulis untuk beberapa milis yang saya ikuti.
SJanuari 2007 hingga Desember 2007, saya sudah menulis sebanyak 395 naskah.
Tulisan-tulisan itu berbagai macam bentuknya: esai, resensi buku, puisi, cerpen, beberapa bagian novel dan buku, naskah skenario film dan naskah-naskah personal yang lebih banyak aku pajang di blog. Naskah terpanjang yang saya hasilkan adalah esai sepanjang 27.157 kata yang merupakan seperempat bagian dari buku yang sedang aku garap dengan mencicil.
Saya lebih sering menulis ketimbang berak dan makan, apalagi pacaran. Aktivitas menulis hanya dikalahkan oleh aktivitas merokok. Sehari saya menghisap rokok –minimal-- sebanyak 3 bungkus. Jadi, jumlah bungkus rokok yang kuhabiskan selama setahun hampir kira-kira mendekati angka 1000 bungkus. Jika satu bungkus di rata-rata seharga 7000 ribu rupiah (saya merokok A-Mild yang harganya di kisaran 8-9 ribu), berarti saya sudah membakar duit berjuta-juta. Anjrit!
Di tahun ini pula jumlah kota yang saya singgahi berlipat-lipat jumlahnya dibanding tahun-tahun sebelumnya. Ada sekitar 27 kota yang saya singgahi. Saya mesti berganti sandal eiger sebanyak 4 kali dan jumlah ransel yang saya miliki pun bertambah menjadi empat biji.
Maka cukup pantas kiranya jika bagi saya tahun 2007 merupakan tahun tergila sekaligus tahun terhebat sepanjang saya hidup. Dan itu berlangsung persis pada saat saya menginjak usia yang ke-25 tahun. Usia saya sudah seperempat abad. Jika angka harapan hidup manusia Indonesia rata-rata mencapai 65 tahun, itu artinya sudah sepertiga masa hidup saya habiskan.
Jika ada yang perlu saya sesali di tahun 2007 ini adalah betapa minimnya waktu yang dihabiskan untuk membaca. Ya, saya jarang sekali membaca dengan ekstensif. Buku-buku yang dibaca lebih banyak digerakkan oleh kepentingan pragmatis: untuk menyelesaikan tulisan. Saya lebih sering membaca dengan teknik skimming di tahun 2007 ini. Mungkin jumlah buku yang dibaca dengan keakraban seperti bercakap-cakap dengan seorang karib atau seorang kekasih jumlahnya tak mencapai 20 biji.
Beberapa kali saya terantuk batu dan jatuh tersungkur oleh sejumlah sebab dan alasan. Tapi saya tak mau dan tak sudi jatuh tersungkur lama-lama. Cepat-cepatlah bangkit. Ayo kibas-kibaskan celana dan baju yang kotor oleh debu dan keringat, lalu kenakan ransel dan segeralah mulai perjalanan dan pertarungan berikutnya.
Saya tak tahu seperti apa hidup saya di tahun 2008. Di tengah kesehatan yang tak setangguh empat tahun sebelumnya, paru-paru yang makin boyak, berat badan yang hanya tersisa 55 kg, mata yang makin memerah karena jarang tidur, dan maag yang lumayan mengganggu, tahun 2008 pastilah akan menjadi tahun yang tak mudah.
Tapi itu semua mesti dihadapi dengan dada yang membusung. Hidup terlalu pendek untuk dirayakan dengan sentimentil apalagi dengan sikap pengecut. Dan, satu lagi, hidup terlalu penting untuk dijalani dengan mengikuti opini orang. Itu akan menjadi hidup yang meletihkan.
Ya, inilah saya di tahun 2007. Kita lihat, apa saya masih bisa berkarya hingga Desember tahun berikutnya. Kau, jika mau, bisa menjadi saksinya.
Selamat Tahun Baru 2008!