Sabtu, Januari 21, 2006

link para peziarah

[maaf, untuk yang belum masuk link di sini. ingatan saya pendek. mohon diingatkan jika ada yang terlewat atau salah penyebutan nama]

adiez
http://jarikaki.blogspot.com/

al-fayyadl
http://fayyadl.wordpress.com/

agung dwi hartanto
http://bukukuno.blogspot.com/

ahmad cahyanto
http://sukucree.blogspot.com/

amrodhi
http://amrodhi.blogs.friendster.com/my_blog/

andre moller
http://dalang.se

argus
http://www.argusbandung.blogspot.com/

arief gunawan
http://debukaki.blogspot.com/

arka
http://arkahadipustaka.blogspot.com/

arya perdana
http://aryaperdhana.wordpress.com/

ashar erwe
http://gusbutet.blogspot.com

astri kusuma
http://astrikusuma.com

billy antoro
http://billyantoro.multiply.com

bima putra
http://bitra.blogspot.com/

budiman
http://catatanlelaki.blogspot.com/


dian hapsari
http://dianhapsari.wordpress.com

deni ardiansyah
http://hidupdarihidupku.blogspot.com/

doddi ahmad fauji
http://gugahjanari.blogspot.com

ella devianti
http://errasgarden.blogdrive.com/

endah perca
http://perca.blogdrive.com/

engkos kosnadi
http://ramaprabu.multiply.com/

eri irawan
http://jelangfajar.blogspot.com/

fahmi amrullah
http://fahmi-amrulloh.blogspot.com/

fahrie salam
http://www.riesalam.blogspot.com/

famela syafira
http://www.cyapila.com/blog/

firman firdaus
http://daus.trala.la/

gilang parahita
http://www.berandaestrijawi.blogspot.com/

helienatiens
http://herlinatiens.wordpress.com/

hernadi tanzil
http://www.bukuygkubaca.blogspot.com/

ikram putra
http://kramput.blogspot.com/

iman brotoseno
http://blog.imanbrotoseno.com/

indrian koto
http://indriankoto.blogspot.com/

ira komang
http://irapuspitaningsih.blogspot.com/

karmin
http://fanabis.blogsome.com

laras(ing)ati
http://betina-liar.blogspot.com/

maharani indri
http://gitareja.blogspot.com

maulida
http://jurnalida.blogspot.com/

megono sangit
http://megonosangit.blogspot.com/

muhidin m dahlan
http://akubuku.blogspot.com/

okky madasari
http://madasari.blogspot.com/

panjoel
http://rayamerayalah.blogspot.com/

pitopoenya
http://pitopoenya.blogspot.com/

rhoma yuliantri
http://rhomayuliantri.blogspot.com

syaiful bari
http://ejakata.wordpress.com

taufik rahzen
http://jurnalrepublik.blogspot.com

tengku dhani iqbal
http://tengkudhaniiqbal.wordpress.com

topan
http://dewa-api.blogspot.com

widiyanto
http://www.wiwidk.blogspot.com/

yuti ariani
http://yutiariani.blogspot.com/

Selengkapnya......

Rabu, Januari 18, 2006

Bukan Panglima dari Segala Burung Rajawali

Pada 31 Oktober 1948, di sebuah Minggu yang terik, sebuah tragedi mengenaskan terjadi. Musso, Sekertaris Jenderal PKI, ditembak mati di sebuah kamar mandi. Mayatnya lantas dibawa ke Ponorogo. Di sana, mayat yang disimbahi darah dan luka itu dipertontonkan. Dan…. dibakar!

Tragis sekali. Padahal, 2,5 bulan sebelumnya, tepatnya pada 13 Agustus 1948, Musso yang baru kembali ke Indonesia setelah 13 tahun lamanya hidup di Sovyet, berjumpa dengan Presiden Soekarno dalam suasana hangat dan akrab. Seorang wartawan yang menyaksikan perjumpaan keduanya memberi testimoni: “Bung Karno memeluk Musso dan Musso memeluk Soekarno. Mata berlinang. Kegembiraan ketika itu rupanya tidak dapat mereka keluarkan dengan kata-kata.”

Kala itu, Soekarno memuji Musso sebagai “jago pencak yang suka berkelahi, …yang kalau berpidato akan nyincing lengan bajunya”. Sebelum berpisah, seusai menyerahkan buku Sarinah sebagai kenang-kenangan, Soekarno berharap agar Musso sudi membantunya melancarkan revolusi nasional yang lajunya masih terpatah-patah. Mendengar permintaan itu, Musso membalas dengan jawaban singkat, lugas dan sungguh menggetarkan: “Itu memang kewajiban saya. Ik kom hier om orde te scheppen (Saya kemari untuk membereskannya).”

Sejarah ternyata tidak terhampar seperti yang dikehendaki aktor-aktornya. 2,5 bulan berselang, Soekarno dan Musso malah saling memunggungi, saling memaki. Ujung dari semua lakon itu sungguh pahit bagi Musso: ia menjadi “korban” kecamuk revolusi yang ia pernah sesumbar hendak membereskannya. Ternyata, Musso sendiri yang “dibereskan” oleh revolusi.

Sewaktu merefleksikan tragika Kudeta Madiun yang memakan banyak korban, termasuk Musso dan Amir Syarifuddin, Jenderal Simatupang dalam memoirnya Laporan dari Banaran, menulis: “Saya yakin bahwa do’a yang terakhir dari anak-anak itu (prajurit dan pemuda yang terlibat dalam Madiun Affair) semua adalah untuk kebahagian dan kebesaran tanah air yang satu juga.”

Saya jadi ingat Aristoteles. Nilai manusia, sebutnya, “bukanlah ditentukan oleh kehancuran hidup dan cita-citanya tetapi oleh perjuangannya mempertahankan harkat kemanusiaannya.” Itu pula yang jadi soal kenapa biografi Musso, dan semua yang ditelan dan dikalahkan proses sejarah secara kejam, menjadi menarik dan justru berharga untuk dipelajari.

Risalah Jalan Baru: Sebuah Jalan Terjal
Setelah 13 tahun hidup di Sovyet, Musso datang ke Indonesia persis ketika kelompok Sayap Kiri (PKI, Partai Buruh Indonesia dan Partai Sosialis) yang tergabung dalam FDR (Front Demokratik Rakyat) sedang dilanda krisis akibat Amir Syarifuddin meletakkan jabatan PM (Perdana Menteri).

Dalam situasi krisis itu, kedatangan Musso diharapkan bisa membangkitkan kembali Sayap Kiri/FDR dari krisis internal yang semakin akut. Dan dengan segera, tidak sampai seputaran siklus hujan-kemarau, Musso berhasil mengendalikan Sayap Kiri. Berkat reputasinya sebagai “alumni” pemberontakan PKI 1926 yang telah berjasa membangkitkan PKI dari “liang lahat sejarah” lewat aktivitas bawah tanahnya pada 1935, Musso sontak tampil di depan panggung dengan sungguh superior. Peran yang dilakoninya tak ubahnya seperti “Peniup seruling dalam cerita Grimms dan tokoh-tokoh lain (termasuk Amir Syarifuddin) mengikutinya sebagai anak-anak yang patuh”.

Dua minggu setelah kedatangannya, tepatnya pada 26-27 Agustus, Musso menghadiri Konfrensi PKI di Yogya. Di situ Musso mengajukan sebuah risalah yang kelak terkenal sebagai Jalan Baru Musso; Risalah ini tak bisa dilewati begitu saja oleh siapapun yang hendak mempelajari Indonesia pada masa-masa itu. Karena keberhasilannya dalam mempengaruhi peta politik, Jalan Baru tampaknya lebih signifikan secara historis ketimbang, misal, Perjuangan Kita-nya Syahrir (terbit November 1945) maupun dua risalah Tan Malaka: Moeslihat (terbit 2 Desember 1945) dan Gerpolek (terbit 1948).

Di risalahnya itu, kegagalan gerakan buruh dianggap Musso sebagai akibat orang-orang komunis yang bergerak di bawah tanah tidak mendirikan sebuah partai komunis tunggal begitu proklamasi dikumandangkan, malah mendirikan Partai Sosialis, Partai Buruh dan PKI sendiri.

Selanjutnya, demikian Musso, tiga partai Marxis yang tergabung dalam kelompok Sayap Kiri terpaksa memasuki jalur politik reformis dan kompromis. Penandatanganan Perjanjian Renville yang dilakukan pemerintahan Sayap Kiri pimpinan Amir Syarifuddin membawa Indonesia ke tubir jurang kolonialisme jilid II.

Semua keruwetan itu berujung pada blunder mundurnya Amir Syarifuddin dari kursi PM. Seperti yang pernah digariskan Lenin, Musso menganggap menyerahkan begitu saja kekuasaan kepada kelompok reformis dan kompromis sebagai hal yang tak bisa ditolerir. Ini kian memperlemah posisi kelompok Sayap Kiri yang saat itu tergabung dalam wadah Front Demokratik Rakyat (FDR).

Untuk menuntaskanya, Musso menawarkan dua ide. Pertama, secepatnya mendirikan sebuah partai tunggal dengan nama Partai Komunis Indonesia (PKI) yang membawahi semua gerakan buruh. Semua anggota Partai Sosialis dan Partai Buruh harus secepatnya mendaftar menjadi anggota PKI.

Ide Musso tentang partai tunggal dengan nama PKI langsung terealisir dalam tempo yang sungguh singkat. Seperti dipaparkan George M.T. Kahin (1995: 349), tak sampai tiga hari, Partai Buruh Indonesia dan Partai Sosialis menyatakan bergabung (fusi) dengan PKI. Pada 1 September, komposisi kepengurusan PKI hasil fusi langsung terbentuk. Musso terpilih sebagai Sekertaris Jenderal PKI, sedang Amir Syarifuddin menjadi Sekretariat Pertahanan.

Jalan Baru tampaknya sudah on the track. Salah satu pokok terpenting Jalan Baru telah terealisir. Selanjutnya, tinggal memikirkan bagaimana cara membentuk Front Nasional yang mewadahi kekuatan-kekuatan utama di Indonesia yaitu PNI dan Masyumi.

Seperti yang akan kita lihat sebentar lagi, semua rencana itu ternyata membentur tembok. Gagal total. Musso akhirnya harus mengakui, dirinya ternyata belum sepenuhnya memahami peta politik Indonesia dan psiko-sosial rakyat Indonesia.

Di Ujung Integritas
Ide Musso selanjutnya adalah Front Nasional. Musso berkeyakinan, untuk menuntaskan revolusi, kelompok Sayap Kiri dan gerakan buruh tak bisa melakukannya sendirian, melainkan harus bekerjasama dengan partai dan organisasi lain yang progresif dan anti-imperialisme. Musso menyarankan agar PKI memimpin upaya pembentukan Front Nasional dengan cara meyakinkan partai-partai lain akan arti penting Front Nasional.

Ide Front Nasional ternyata mati prematur. Pada 10 September, Masyumi menolak ajakan PKI untuk mendirikan Front Nasional. Enam hari kemudian, PNI juga menampik ajakan PKI.

Kendati PNI dan Masyumi pernah melakukan oposisi kepada pemerintah (Syahrir), oposisi yang dilakukan keduanya berbeda jauh dengan konfrontasi. Dalam kamus Komunisme Sovyet, di mana Musso belasan tahun hidup di sana, oposisi memang persis dengan konfrontasi. Tapi Indonesia dan Sovyet tidak identik. Di sini, Musso gagal memetakan medan. Dan ini bukan kegagalannya yang terakhir.

Mengetahui ide Front Nasional tak bisa lagi diharapkan, Musso akhirnya memfokuskan diri untuk mengobarkan semangat massa lewat jargon-jargon komunis. Musso melakukan turne dengan menemui langsung massa lewat vergadering-vergadering (rapat umum) di daerah yang dianggap menjadi kantong gerakan Kiri: Surakarta, Madiun, Kediri, Jombang, Bojonegoro, Cepu dan terakhir di Purwodadi.

Ternyata, Purwodadi menjadi tempat terakhir Musso melakukan vergadering. Hari itu juga, Musso dan segenap petinggi PKI menyadari bahwa prakarsa untuk melakukan revolusi telah terlepas dari tangan mereka. Ketika 18 September mereka tiba di Madiun, Musso dan elit PKI lainnya menemukan kenyataan bahwa organissi PKI setempat, dengan dipimpin unsur Pesindo (organ pemuda Partai Sosialis) dan Divisi IV TNI yang pro PKI, telah melancarkan kudeta bersenjata dan merebut kekuasaan di Madiun. Musso dihadapkan pada fait accompli: dia ternyata tak sepenuhnya bisa mengendalikan keadaan.

Menghadapi kenyataan demikian, tak ada jalan lain bagi Musso selain menyatakan dukungannya pada Kudeta Madiun. Situasi ternyata menjadi kian sulit karena kali ini, pemerintah tak mau lagi berkompromi. Di corong radio, pada malam 19 September, Soekarno berpidato dan menuduh Musso telah mendirikan pemerintahan Sovyet. Soekarno lantas mengajukan dua pilihan: “Ikut Musso dengan PKI-nya yang akan membawa bangkrutnya cita-cita Indonesia Merdeka, atau ikut Soekarno-Hatta yang…. akan memimpin RI yang merdeka, tidak dijajah oleh negara apa pun.”

Musso tak kalah gertak. Di hari yang sama, juga di corong radio, ia mencaci Soekarno-Hatta sebagai “pengkhianat jahanam” dan “pedagang romusha”. Dangan lantang dan Musso berpidato: “Kami yakin rakyat akan berkata: Musso selalu mengabdi rakyat Indonesia.”

Siapapun yang pernah membaca naskah pidato Musso itu akan menangkap kesan betapa ia sungguh percaya diri. Tak ada kesan gentar, apalagi takut. Artikulasinya mantap. Tanpa metafor. Dan ofensif. Lewat pidatonya itu, Musso seakan hendak menunjukkan “kelasnya” sebagai seorang kawakan di medan revolusi.

Saya membayangkan, ketika berkoar di depan corong radio itu, Musso seakan sedang memfersonifikasi dirinya sebagai, pinjam sekuplet sajaknya Asrul Sani, “…panglima dari segala burung rajawali. Aku tutup segala kota, aku sebar segala api, Aku jadikan belantara jadi hutan mati.”

Tetapi, menjelang 20 September, Musso akhirnya menyadari dirinya bukanlah “panglima dari segala burung rajawali”. Pengaruhnya ternyata sama sekali tak ada apa-apanya dibanding pengaruh Soekarno-Hatta.

Dalam artikelnya yang dimuat keesokan harinya (21 September), tampak ada getar kekhawatiran. Nadanya ganti bercorak defensif. Musso berusaha keras mencari simpati rakyat dengan berkali-kali menyatakan bahwa kudeta Madiun bukan untuk mendirikan pemerintahan Sovyet. Padahal, pada pidato sehari sebelumnya di corong radio, Musso sama sekali tak menolak tuduhan Soekarno ihwal pembentukan pemerintahan Sovyet. Anehnya lagi, di artikel yang sama, Musso justru mengatakan jika kudeta Madiun berhasil, barulah akan didirikan pemerintahan Sovyet.

Paradoks. Musso berusaha mengendalikan keadaan, tetapi jelas dirinya sama sekali tak memiliki kendali atas situasi. Ia berada di persimpangan. Integritas dia sebagai seorang Stalinis garis keras yang tanpa kompromi benar-benar diuji. Hasilnya, gambaran sosok Musso sebagai seorang yang keras, pemberani, dan konsisten luruh perlahan, ketika ia menampilkan sikap dan pernyataan yang penuh kontradiksi.

Seruan Musso dan pemimpin PKI lain (termasuk Amir) yang telah diperlunak juga gagal melahirkan dukungan massa. Keyakinan Musso ihwal kekuatan Sovyet di Asia yang akan mendukung setiap gerakan anti-imperilisme ternyata jauh panggang dari api. Tak ada dukungan dari Sovyet yang datang. Pelan tapi pasti, pasukan pemerintah berhasil memulihkan keadaan. Pada 30 September 1948, Madiun akhirnya jatuh ke tangan pemerintah.

“Dibakar Percikan Api”
Mempelajari riwayat Musso, juga tokoh-tokoh utama Indonesia lainnya di masa-masa awal kemerdekaan, kita akan mafhum betapa sungguh sukar dan tak mudah menjadi pemimpin pada masa-masa transisi yang penuh kecamuk. Terlampau banyak aral dan tantangan yang membentang di hadapan. Dalam setiap kesempatan, mereka harus berpikir dan bertindak cepat tetapi tetap tidak boleh gegabah dan serampangan.

Terkadang mereka harus mengkompromikan visi dan garis ideologi yang dihayatinya dengan kenyataan di lapangan yang seringkali pahit dan menyesakkan. Termasuk jika harus saling berhadapan dengan orang yang dihormati, orang yang dulunya barangkali adalah sahabat dekat. Seperti ketika Soekarno berhadapan dengan Kartosuwiryo dan Musso yang pernah bersamanya sewaktu mondok di kediaman Cokroaminoto.

Dalam Orang-orang di Persimpangan Kiri Jalan (1997: 273), Soe Hok Gie menuliskan refleksinya atas peristiwa berdarah Kudeta Madiun: “Radikalisme ini seperti perlombaan mobil di lereng gunung yang makin lama makin menyempit. Pastilah suatu hari roda-roda yang berputar ini akan saling bersinggungan dan dari percikan api ini semuanya akan dibakar.”

Musso jelas merasakan dan mengalami semua dilema-dilema itu. Dan seperti yang telah kita lihat, Musso pada akhirnya berada di pihak yang “kalah”, dan benar-benar (dalam kata-kata Hok Gie) “dibakar oleh percikan api akibat gesekan roda radikalisme”.

Dengan perasaan tak menentu, Musso menyaksikan rencana dan program-programnya tanggal satu persatu. Perasaan tak menentu itu juga yang kiranya berkecamuk di benak Musso ketika pada 31 Oktober ia berjalan sendiri tanpa pengawal. Di hari Minggu yang mengenaskan itu, ia menemukan sebuah mobil yang ditumpangi pasukan TNI dan berniat menggunakannya. Ia berhasil melumpuhkan prajurit TNI yang berjaga di mobil sasaran.

Sial, mobil itu ternyata tak bisa distater. Prajurit TNI malah berhasil menguasai keadaan dan balik menodong Musso. Tapi Musso tak bergeming. Dengan keberanian yang penuh, Musso berteriak lantang: “Engkau tahu siapa saya? Saya Musso. Engkau baru kemarin jadi prajurit dan berani meminta saya menyerah pada engkau. Lebih baik mati daripada menyerah, walau bagaimana saya tetap merah putih.”

Prajurit TNI itu kalah wibawa dan malah melarikan diri ke desa terdekat. Tapi pasukan TNI pimpinan Kapt. Sumadi keburu datang. Musso lantas bersembunyi di sebuah kamar mandi. Ia menolak menyerah. Baku tembak tak terhindarkan. Akhirnya Musso tertembak mati. Mayatnya di bawa ke Ponorogo, dipertontonkan dan kemudian dibakar.

Kita tidak akan tahu apa yang ada di kepala Musso saat itu. Bisa jadi, yang dilakukan Musso di detik-detik terakhir hidupnya tadi adalah sebuah upaya untuk menjaga sisa-sisa integritasnya dengan kukuh (mungkin keras kepala). Ketika Musso mengumumkan bahwa Kudeta Madiun bukan untuk mendirikan negara model Sovyet, Musso sadar bahwa dirinya sedang berkompromi dengan kenyataan. Pendek kata, itu cuma sekadar taktik.

Tapi ketika taktik itu tak berbuah bagus, Musso menyadari dirinya telah kehilangan dua hal sekaligus: karir politik dan integritas sebagai seorang Stalinis garis keras. Maka, ketika Musso menampik untuk menyerah di kamar mandi yang telah terkepung, hal itu bisa dimengerti sebagai upaya terakhir untuk menyelamatkan sisa integritas yang sebelumnya telah memiuh entah ke mana.

Kita tahu, upaya terakhir itu membawanya pada sebuah kematian yang tragis dan mengenaskan. Tapi bagi Musso, aktivis yang bolak-balik menelan kepahitan dan kegagalan, upaya itu pasti bukanlah kesia-siaan.

Selengkapnya......

Selasa, Januari 17, 2006

Elegi Kesunyian Bastian Sableng

[Bastian Tito. Anda kenal nama itu? Kalau anda tidak kenal, atau lupa, saya beritahu: Dia adalah pengarang cerita silat legednaris Wiro Sableng. Cerita silat itu pernah begitu populer. Ia pernah difilmkan. Pernah pula disinetronkan. Bastian sendiri sudah melahirkan ratusan judul serial Wiro Sableng. Ia legendaris tentu saja. Tapi tidak berarti ia dikenang. Buktinya, ketika ia wafat pada 2 Januari 2006, sangat sedikit yang tahu. Tak ada media atau situs berita yang memberitakannya. Hanya ada 3 buah posting pendek di sebuah milis saja yang mengabarkan kematiannya. Saya menulis esai pendek nan sederhana itu untuk mengenang Bastian, seorang pengarang yang dengan caranya sendiri telah mengasuh dan mengembangkan minat baca saya ketika kecil dulu. Dulu sekali....]

Bastian Tito, saya kira, adalah contoh termutakhir tentang bagaimana sebuah produksi wacana (discourse) sastra telah meminggirkan sebuah proses kreatif berikut karya dan pengarangnya ke pojokkan sejarah (sastra) yang senyap dan kedap akses.

Hingga kematiannya pada 2 Januari silam, namanya tak tertera dalam kanon sejarah sastra, baik dalam khasanag sastra serius maupun sastra populer dan cerita silat. Padahal, karakter Wiro Sableng sungguh populer dan mungkin menjadi karakter tokoh cerita silat yang paling banyak dikenal. Popularitasnya hanya bisa disaingi oleh karakter Barda Mandrawata alias Si Buta dari Gua Hantu rekaan Ganes TH.

Padahal, dari segi produktifitas (Bastian menulis lebih dari 150 serial cerita Wiro Sableng dan beberapa cerita lain), jumlah khalayak yang menggilainya hingga intensitas kemunculan Wiro Sableng di layar lebar dan TV, Bastian jelas (salah satu) raksasa dalam khasanah cerita silat nusantara. Ia laik disebut legenda dalam genre itu.

Dari Penokohan hingga Persepsi atas Waktu
Saya masing ingat, di pengujung tahun 80-an (semasa saya SD) hingga tengahan 90-an (masa SMP) nama Bastian Tito dan Wiro Sableng dibaca oleh banyak remaja. Jika pun ada yang tidak gemar atau tidak pernah membacanya, setidaknya mereka pasti tahu dan pernah mendengar. Pada kurun yang kurang lebih berhimpitan itu pula, cerita Wiro Sableng beroleh sedikit keistimewaan karena diangkat ke layar lebar beberapa kali. Di tengahan 90-an, serial Wiro Sableng bahkan hadir saban Minggu di sebuah stasiun TV swasta dalam versi sinetron.

Sebagai bacaan yang mudah dijangkau dan bisa didapat dengan harga murah (seribu perak), Wiro Sableng menjadi alternatif bacaan bagi anak-anak kampung yang tidak bisa menjangkau kisah-kisah, misal, Empat Sekawan-nya Enid Blyton. Dalam level tertentu, Wiro Sableng menjadi pemuas dahaga anak-anak pinggiran akan bacaan yang menggoda dan terjangkau.

Selain soal mudah didapat dan murah, cerita Wiro Sableng memang punya kekuatan yang memungkinkannya disukai secara luas, terutama oleh anak-anak dan remaja tanggung. Salah satunya terletak pada kekuatan humornya. Ia hadir untuk menjembatani kerinduan akan cerita silat yang bermutu sekaligus mengakomodasi hasrat remaja dan pemuda tanggung akan bacaan yang bisa memancing gelak tawa. Masa keemasan cerita Wiro Sableng memang ada di era transisi mulai surutnya kejayaan Khoo Ping Hoo dan mulai menguatnya cerita remaja yang penuh tawa dan canda yang dipantik oleh kehadiran Lupus-nya Hilman.

Ciri lain yang menjadi kekhasan Wiro Sableng (dan mungkin juga kekuatannya) adalah pada penokohan. Bastian Tito dengan jeli (selalu) memunculkan tokoh-tokoh dengan karakter-karakter unik, yang keunikannya sudah terperikan dengan baik sejak dari nama dan gelar tokohnya dan terutama lewat laku tindak masing-masing tokoh. Wiro Sableng dikhaskan selalu menggaruk-garuk kepala dan cengar-cengir; Sinto Gendeng dengan bau pesing dan tiga tusuk konde yang menancap di batok kepalanya; Kakek Segala Tahu dengan mata tanpa warna hitam dan suara dari kaleng rombeng yang selalu ia jinjing, dll.

Karakter tokoh-tokohnya pun tidak selalu hitam putih. Di luar Wiro Sableng yang nyaris selalu lurus (walaupun bertabiat mata keranjang), tokoh-tokoh golongan putih seringkali digambarkan punya kecenderungan (sedikit) hitam. Sinto Gendeng digambarkan punya prilaku hobi membunuh musuhnya dengan amat keji, Tua Gila yang pada masa mudainya doyan meniduri perempuan, kakak beradik Dewa Sedih dan Dewa Ketawa yang mencla-mencle hingga Sabai Nan Rancak yang menjadi kompleks pribadinya karena dendam yang barlarat-larat.

Strategi literer Bastian yang paling menonjol yaitu dalam hal waktu, baik waktu dalam sebagai setting cerita maupun dalam memersepsikan waktu. Berbeda dengan cerita-cerita Khoo Ping Hoo atau SH Mintardja yang lebih jelas setting waktunya, Bastian tak pernah secara eksplisit menyebutkan pada masa apa Wiro melanglangi rimba persilatan. Sesekali Bastian menggunakan setting waktu yang bisa dilacak (misalnya pada masa kerajaan Pajajaran dalam seri Maut Bernyanyi di Pajajaran), tetapi pembaca tetap akan kesulitan melacak karena nama Pajajaran yang disebut itu tidak mencirikan kerajaan Pajajaran-nya Prabu Siliwangi.

Ini memungkinkan Bastian lebih leluasa mengeksplorasi imajinasi. Dalam rangkaian serial Latanahsilam, Wiro Sableng dikisahkan terlempar pada masa 1200 tahun silam dari kehidupan Wiro yang sesungguhnya. Di negeri Latanahsilam itu, Wiro bertemu dengan tokoh-tokoh unik dengan ciri-ciri fisik yang juga unik. Misalnya tokoh Hantu Jati Landak yang merupakan perpaduan karakter tumbuhan (badannya mirip kayu jati yang lurus, kaku dan kokoh) dan hewan (dengan kulit dipenuhi duri mirip landak). Dua bentuk eksplorasi Bastian sukar kita temukan pada cerita silat lain.

Dalam hal pemerian waktu dan jarak, Bastian (saya kurang tahu jika Bastian “mencurinya” dari penulis lain) menggunakan satuan yang lebih kontekstual dengan logika cerita, seperti sepeminuman teh, sepenanakan nasi, sepelemparan tombak, sepelemparan batu, dll.

Bastian juga sering membuat seri muhibah Wiro Sableng ke luar Jawa (Sumatera, Madura, Bali) bahkan hingga ke luar negeri (Jepang dan Cina). Itu bisa kita baca pada seri Pendekar dari Gunung Fuji maupun Sepasang Manusia Bonsai. Dari sana lah saya pertama kali mengenal apa itu sake, katana, pangilan san (kakak), tatami, dll.

Ada perserawungan lintas budaya di sana. Tiap kali Wiro ber-muhibah ke luar Jawa, Bastian dengan pas tanpa berlebihan memerikan sejumlah ciri unik kebudayaan non Jawa yang didatangi Wiro, dari mulai kata-kata yang sering diucapkan, jenis senjata, alat musik hingga beberapa bentuk kesusastraannya. Salah satu bentuk “multikulturalisme” ala Bastian yang menarik bisa dibaca dalam seri Gerhana di Gajah Mungkur yang mengisahkan bagaimana semua pendekar kelas satu tanah Jawa dan Andalas (Sumatera) berkumpul dan saling membuka tabir dirinya masing-masing yang ternyata saling berhubungan satu sama lain.

Dan Bastian juga tahu mengukur kekuatan baca para penggemarnya. Ia bisa membatasi imajinasinya sehingga tidak sampai membuat cerita Wiro Sableng terlalu panjang maupun terlampau pendek. Inilah ciri lain Bastian. Ia sangat jarang menulis lebih dari 130 halaman. Paling banyak Bastian mengakhiri kisahnya pada halaman 128. Saya mencatat Bastian hanya sekali menulis cerita Wiro Sableng hingga lebih dari 140 halaman, tepatnya 148, yaitu dalam seri Tiga Setan Darah dan Cambuk Api Angin (itu pun bisa dimaklumi karena ada dua pribadi antagonis yang harus “dihabisi” Wiro).

Tanggal 2, Bulan 1, dan paduan 212
Paduan angka itu menjadi trade mark Wiro Sableng si Pendekar Kapak Maut Naga Geni 212. Angka 212 dipilih dengan argumen yang cukup filosofis. Seperti yang dijelaskan dalam seri pertama Wiro Sableng (Empat Brewok dari Gua Sanggreng), 212 menunjukkan bahwa dunia ini dbangun di atas hamparan dualisme (baik-buruk, panas-dingin, air-api, bumi-langit, laki-perempuan, dll) yang kesemuanya tetap berasal dan akan kembali pada satu sumber: Tuhan yang Maha Esa.

Dan uniknya, Bastian Tito menjadi mendiang juga pada angka dua dan satu, tepatnya pada tanggal dua bulan satu (Januari) tahun 2006. Ini sebuah kebetulan yang sungguh-sungguh pas (“saya berandai-andai bagaimana jika Bastian dipanggil pulang pada tanggal 21 bulan 2”).

Tetapi, jika kita meranking peringkat Bastian dalam indeks pengarang cerita silat maupun cerita populer, Bastian tidak masuk peringkat dua apalagi satu. Bastian Tito jauh lebih “apes” ketimbang Asmaraman Khoo Ping Hoo, misalnya. Ketika suplemen khusus buku sebuah koran nasional terbit sekira dua bulan silam dengan mengangkat topik cerita silat, nama Bastian hanya muncul sekali. Ia tenggelam di antara tebaran nama-nama pengarang cerita silat lainnya. Dalam buku Sastra Peranakan Tionghoa yang ditulis Leo Suryadinata, lagi-lagi, nama Bastian Tito juga tak terendus jejaknya.

Ketika beredar kabar kematian Bastian Tito, penulis seratusan judul cerita silat pendekar Kapak Maut Naga Geni 212 Wiro Sableng, saya langsung berpikir untuk menulis sebuah elegi. Tetapi saya memutuskan untuk menunda menulis. Saya pikir, tidak lucu saya menulis elegi jika benar tidaknya kematian Bastian saja belum saya dapat. Dan susahnya minta ampun mencari berita kematian Bastian. Tak ada media atau situs berita yang mengabarkannya. Saya hanya menemukannya di sebuah milis lewat tiga posting yang panjangnya hanya satu paragraf tanpa informasi jelas di mana dan kenapa Bastian wafat. Saya baru (makin) yakin setelah pada Minggu kemarin sebuah koran nasional memuat obituari kematian Bastian dalam salah satu helai halamannya.

Bagitulah. Jadi harap maklum jika ternyata anda, bung Bastian, ternyata belum meninggal. Jika memang anda masih hidup, tolong nikahkan saja Wiro dengan Bidadari Angin Timur yang jelita nan wangi, jangan dengan Ratu Duyung yang posesif itu.

Selengkapnya......

Kerikil Tajam yang Terhempas


Disebut-sebut sebagai “obor bagi perjuangan keadilan dan HAM”, Yap Thiam Hien sebetulnya lebih pas dijuluki “kerikil tajam yang terhempas”.

Indonesia pernah melahirkan sejumlah pribadi yang tak hanya mencintainya “setengah-mati-separuh-hidup” melainkan juga berhasil memerankan diri sebagai sebuah “kerikil tajam” yang mengganggu, menjengkelkan, sekaligus kerap memancing decak kagum dan haru. Kerikil menjadi tajam dan mengganggu jika ia menyempil di dalam sepasang terompah. Untuk mengganggu laju gerak kaki si pemakai terompah, kerikil memang tak perlu besar dan lancip. Ia hanya perlu berada di sebuah sudut dengan pas. Mungkin di tengah-tengah. Mungkin cukup di dekat tumit.

Dan di dalam sejarah modern Indonesia yang sering tak ramah kepada aturan, tata hukum dan kemanusiaan, Yap adalah salah satu kerikil tajam yang mengganggu dan menjengkelkan itu. Dia paham, di sini dan di mana pun, tegaknya hukum dan HAM bukanlah tujuan. Ia hanya sebuah jalan yang dengan itu orang-orang seperti dirinya percaya Indonesia akan menjadi sebuah bangsa yang berintegritas dan beradab. Dan Yap dengan sadar, karena ia memang seorang mesteer of rechten, ahli hukum, mencoba berbuat sebisanya dengan bergerilya di matra yang ia kenali betul medannya: hukum dan peradilan.

Ia barangkali adalah “obor bagi perjuangan keadilan dan HAM”, tetapi dengan itulah ia mengambil peran historis sebagai “kerikil tajam” bagi negeri yang hingga kematian menjemputnya masih belum juga sepenuhnya ramah pada keadilan dan hak-hak kemanusiaan. Ia, dalam perannya sebagai kerikil, sungguh-sungguh menggangu laju gerak rezim yang sedang kencang-kencangnya berlari mengejar setoran.

Advokat Kepala Batu
Jika hukum, keadilan dan hak asasi adalah sebuah agama, sebut Todung Mulya Lubis suatu ketika, “Yap pasti akan memeluknya.”

Siauw Giok Tjhan, mantan petinggi Baperki, pernah bersaksi. Seperti kita tahu, Yap dan Siauw pernah berseberangan dalam hal bagaimana menempatkan posisi peranakan Tionghoa dalam konstelasi kebangsaan Indonesia. Siauw, yang menguasai Baperki dan didukung Soekarno, mengusung konsep integrasi, sedangkan Yap mengampanyekan gagasan asimilasi.

Ketika G30S meletus ribuan orang yang dianggap terlibat PKI dan dekat dengan kekuasaan Orde Lama ditangkapi, termasuk Siauw. Tetapi reaksi Yap sungguh jauh dari reaksioner. Ia bukannya bersyukur dan bertepuk tangan menyadari bahwa salah satu rival terberatnya di BAPERKI telah dijebloskan ke penjara. Ia malah meradang. Baginya, orang harus dihormati hak-haknya. Tak peduli dia punya keyakinan atau ideologi apapun. Dan Yap tak tinggal diam. Ia mendatangi Kodam Jaya dan bertanya: “Saya (juga) orang Baperki, kenapa tidak ditangkap?”

Hal yang sama ia tunjukkan ketika dengan sukarela ia menjadi pembela Soebandrio, Wakil Perdana Menteri di masa Soekarno, yang dituduh terlibat dalam persitiwa G30S. Tak terbayangkan betapa tak mudahnya menjadi seorang Yap: seorang beretnis menoritas yang keras kepala bertekad membela seorang yang oleh masyarakat kadung dianggap sebagai pentolan G30S yang pantas digantung.

Tetapi Yap jalan terus dengan prinsip-pirinsipnya. Bagi Yap, hukum harus tegak setegak-tegaknya karena dengan itulah yang kuat tak bisa sekenanya bertingkah dan yang lemah bisa hidup dengan tenang tanpa harus takut diinjak dan ditindas.

Itulah sebabnya kenapa tiap kali ia didatangi oleh seseorang yang memintanya menjadi advokat, Yap selalu menyodori para calon kliennya dengan sebuah syarat yang menohok: “Jika saudara hendak menang perkara, jangan pilih saya sebagai pengacara anda, karena kita pasti akan kalah. Tapi jika saudara merasa cukup dan puas mengemukakan kebenaran saudara, maka saya mau menjadi pembela saudara.”

Konsistensi Yap itu sudah teruji oleh zaman, bukan hanya ketika Yap tak memunyai kedudukan saja, melainkan juga ketika Yap sedang menduduki sebuah posisi yang strategis.

Simak saja portofolio Yap ketika menjadi anggota Konstituante mewakili Baperki. Dalam sidang Konstituante 12 Mei 1959, Yap menolak pemberlakuan kembali UUD 1945. Sikap Yap itu tidak hanya berseberangan dengan semua anggota Konstituante yang menyepakati diberlakukannya kembali UD 1945, melainkan juga dengan Baperki, organ yang diwakilinya yang ketika itu mulai merapat ke Presiden Soekarno. Bagi Yap jelas, UUDS 1950 jauh lebih menjamin penegakan HAM ketimbang UUD 1945.

Yap tak pernah surut langkah kendati pihak yang ia tentang makin hari makin kuat saja kekuatan dan kekuasaannya. Ia bahkan menulis sebuah artikel yang isinya menuntut agar Seokarno membebaskan sejumlah tahanan politik seperti Natsir, Roem, Sjahrir, Mochtar Lubis, Subadio dan HJ Princen. Beberapa tahun kemudian ia melakukan hal yang sama kepada pemerintah Orde Baru agar membebaskan sejumlah anggota PKI yang dipenjara tanpa melalui proses pengadilan.

Dalam hal membela prinsip keadilan, Yap adalah kepala batu. Sebagai seorang advokat, ia seperti batu karang di tepian laut. Kukuh. Tak tergoyahkan.

Kerikil Tajam yang Terhempas
Fiat Justitia Ruat Caelum. Tegakkan keadilan sekalipun langit akan runtuh. Yap adalah seorang praktisi hukum yang tahu benar pahitnya menjadi orang yang menegakkan prinsip menggetarkan itu dengan tanpa cadang.

Sebagai praktisi hukum yang tak pernah pandang bulu, Yap tentu saja punya banyak seteru. Sikapnya yang tak pernah jera mengritik pemerintah (baik Orde Baru dan orde Lama) yang menginjak-injak hukum dan keadilan membuat Yap selalu berada dalam pengawasan rezim. Hasilnya jelas: Yap tiga kali ditangkap dan dipenjarakan.

Pada akhirnya Yap memang menjadi tipikal dari advokad model lama yang menjunjung tinggi keadilan sekalipun hendak runtuh dan selalu menolak menjadi calo hukum yang rela melakukan apa saja demi memenangkan perkara kliennya. Ia rela firma-nya sepi dari klien. Sampai-sampai ada seorang advokat yang pernah menyindirnya dengan kalimat: “Jika ingin kalah berperkara, datanglah ke firma-nya Yap.”

Tak mudah menjadi seorang Yap atau menjadi anggota keluarganya. Khing, istri terkasihnya, tahu betul bagaimana sukarnya menjadi istri seorang Yap Thiam Hien. Sudah secara politik selalu terancam, secara ekonomi pun keluarga Yap selalu berada dalam kondisi serba kekurangan.

Ketika Yap ditahan dalam kasus Malari, Khing menguras sisa tabungan keluarga untuk membeli sebuah mobil untuk dijalankan sebagai taksi jam-jaman. Tak jarang Khing menukar sejumlah barang yang dimilikinya, termasuk minuman keras bingkisan Natal dan Tahun Baru, untuk mendapatkan sejumlah barang kebutuhan sehari-hari.
Di senja usianya, Yap dipaksa untuk terus-menerus menelan kepahitan ketika melihat dunia peradilan di Indonesia yang makin amburadul. Di tahun-tahun terakhir hidupnya, sekitar pertangahan dasawarsan 1980, Yap menyaksikan dengan masygul munculnya sebuah fenomena baru yang disebut dengan mafia peradilan.

Seperti yang digambarkan Daniel Lev dalan obituari yang dimuat di majalah Indonesia Review, di usianya yang makin renta, Yap merasa ia telah hidup di dunia yang tak pernah memberinya kesempatan untuk mengubah keadaan. Sebagai sosok yang berambisi mengubah dunia melalui dunia peradilan, Yap harus terhempas ke dalam labirin kekecewaan, berpindah dari kekecewaan yang satu ke kekecewaan yang lain.

Yap memang kerikil yang tajam. Tetapi ia, pada masanya, juga menjadi kerikil yang terhempas.

Selengkapnya......

Minggu, Januari 15, 2006

Manifesto Minigrafi!

[Tragis adalah sifat dari kejadian yang menyedihkan, tetapi tragedi adalah pergumulan dengan nasib yang tidak dimenangkan….]

Belakangan saya demikian menikmati menulis (tentang) orang. Saya sudah menulis sepenggal atau berpenggal-penggal) kehidupan sejumlah nama, dari yang sudah mendiang hingga yang masih hidup. Dari mulai Inggit Garnasih, Sartono Kartodirdjo, Musso, Aidit, Mubyarto, Kartini, Arne Naess, Leo Tolstoy, Vandana Shiva hingga Bastian Tito. Dan saya sungguh menikmatinya.

Tiap kali menulis tentang orang, saya seperti merasa sedang berkenalan, bercakap-cakap serta berbagi keluh dan kesah dengan orang yang kehidupan dan pikirannya sedang saya tulis itu. Ada semacam perasaan hidup. Maksudnya, saya lebih merasa hidup tiap kali menulis tentang orang (saya tak menyebutnya tokoh). Sesuatu yang kerap hilang tiap kali saya menulis tentang sebuah tema.

Saya ingin mengisahkan sebuah perbincangan dengan seorang lelaki paruh baya. Di suatu malam yang tak terlampau dingin, di sebuah petak rumah mewah di bilangan Menteng, TR (saya biasa menyebut lelaki par baya dengan sebutan itu) berbicara tentang laku tindak kaum muda seangkatanku (sebagai info, yuswa saya sudah 23). Ia bilang, kecenderungan utama kaum muda sekarang adalah terlampau letterlijk (ini istilah saya) atau terlalu literer (dalam istilah TR). Maksudnya, kaum muda sekarang lebih banyak belajar kepada teks. Buku. Bacaan. Atau sebut saja teori. Ini berbeda, katanya, dengan kaum seangkatannya dulu yang, selain pemamah buku, juga kerap belajar secara langsung dengan sejumlah pribadi yang dianggap laik dijadikan guru.

TR berbicara itu tentu saja seraya menjlentrehkan konteks. Konteksnya begini: hari ini adalah hari ketika informasi hadir dengan kecepatan tinggi (dalam hitungan sekon) dan dengan intensitas yang demikian massif. Dan semua itu bisa diperoleh dari banyak medium: buku yang sudah tak lagi tersensor, TV yang makin bebas memberitakan apa saja, dan tentu saja mantra bernama internet yang siap menyediakan data apa pun dalam sekali klik. Ini tentu saja berbeda dengan zaman, sebut saja, dasawarsa 80-an atau awal 90-an ketika informasi demikian sukar didapat. Buku tak banyak. Kalau pun ada, tak semua tema tersedia. Tema-tema yang menurut rezim pernguasa merupakan tema jahanam dipastikan akan sukar didapat. Media massa jelas tak bisa diandalkan, selain karena jumlahnya yang terbatas, juga karena semuanya pasti telah lewat sensor. Maka ketika itu penting untuk mendatangi sejumlah pribadi. Mendekatinya. Dan belajar kepada mereka. Belajar apa saja. Dari mulai soal kerasnya hidup dan tentu saja tentang pelbagai teori dan wacana yang menonjok langit.

Saya tak ingin berbicara tentang kaum muda dalam arti keseluruhan angkatan muda. Tidak. Saya tak ingin menyederhanakan soal. Saya ingin berbicara dalam konteks diri saya sendiri. Dalam konteks itulah, “khotbah” TR bagi saya lebih merupakan tonjokkan yang persis mengarah ke ulu hati. Bukan ulu hati angkatan muda. Tapi ulu hati saya sendiri. Ya… diri sendiri! Sudah lama saya sadar betapa saya sebetulnya sangat minim dengan perjalanan sosial dan perkenalan sosial. Saya lebih sering melakukan perjalanan intelektual dan perkenalan intelektual dengan banyak pribadi lewat media teks. Apakah lewat buku. TV. Media massa atau dari internet.

Tentu saja ada yang kurang dari hanya sekadar perjalanan dan perjumpaan intelektual yang umumnya lebih banyak dilakukan di kamar kos yang sempit. Ada nuansa yang tak begitu penuh. Terkadang saya menyebutnya sebagai kering. Ide memang penting, bahkan ide itu, kata Soedjatmoko, mempunyai kaki, tapi tetap saja makin lama saya makin sadar betapa pentingnya arti belajar langsung dari sejumlah pribadi, bukan kepada idenya saja, melainkan belajar langsung kepada orangnya. Belajar langsung kepada orang itu mengandaikan satu hal: bahwa kita tak hanya belajar tentang ide-ide yang ia punya, melainkan juga belajar tentang kehidupannya.

Menulis tentang orang adalah salah satu medium paling pas untuk mengetahui bagaimana sebuah ide itu coba dibumikan ke dalam sejarah. Tiap kali kita memelajari dan menulis tentang orang, kita sebetulnya sedang memelajari itu semua. Asumsi itu tentu saja mengandaikan sebuah preposisi: Bahwa orang bertindak dan memilih sesuatu tentu didahului dengan ide terlebih dahulu (saya tentu saja sedang tidak menafikan adanya tindakan manusia yang digerakkan oleh insting). Dalam laku tindak seorang manusia, ide tak lagi berbentuk wangi dan suci. Ia sudah bau oleh keringat, air mata dan mungkin juga darah.

Memelajari dan menulis orang, sekali lagi, sama saja dengan mencoba memahami hubungan antara ide dan tindakan, ide dan sejarah (realitas), bagaimana ketegangan antara ide dengan realitas hidup yang keras dan pejal, bila mana ide terpaksa tunduk kepada kenyataan dan kompromi, dan apa akibatnya jika ide yang sudah dipeluk dengan erat oleh seseorang itu ternyata bertabrakan dengan laku tindak orang tersebut.

Itulah sebabnya tiap kali menulis orang (saya baru sempat menulis orang-orang yang sudah menghasilkan karya, terutama mereka yang meninggalkan warisan teks, dan belum sempat memelajari dan menulis orang-orang yang tak pernah meninggalkan teks, semisal seorang pemain sirkus) saya selalu mencoba menghindari untuk melulu menuliskan ide-idenya saja (tentu saja saya kerap gagal). Jika itu terjadi, apa bedanya menulis orang dengan menulis sebuah tema?

Saya sangat ingin menulis orang dengan melukiskan pelbagai ketegangan antara ide yang dipercayai dan dengan kenyataan yang dilakukan tokoh yang saya tulis. Antara ide dan kenyataan. Pendek kata, saya berupaya menuliskan ketegangan-ketegangan internal atau mungkin retakan-retakan mental.

Saya penah membaca dua tulisan Daniel Dhakidae: tentang sosok Soe Hok Gie dan sosok Bung Hatta. Dua tulisan itu begitu memikat. Ia tak terjebak menuliskan ide-ide yang dipikirkan dan dicetuskan dua pribadi itu. Daniel justru menuliskan ketegangan atau retakan hubungan antara ide yang diyakini masing-masing tokoh dengan kenyataan yang terjadi. Dan dua sosok itu pun menjadi seutuhnya manusia. Lengkap dengan dilema, kegagalan dan kegetirannya sebagai manusia. Saya pernah tiru gaya Daniel. Ketika itu saya memilih RA Kartini sebagai “kelinci percobaan”. Tak terlalu berhasil sebetulnya. Tapi lucunya, tulisan itu dimuat di Koran Tempo sehalaman penuh.

Tentu saja saya tak terlalu berhasil. Penyebab utamanya adalah saya kekurangan bahan-bahan tentang kehidupan sehari-hari tokoh-tokoh yang saya tulis itu. Kehidupan sehari-hari itu bisa dalam bentuk memoir, biografi, autobiografi, wawancara atau kesaksian orang yang pernah kenal dan dekat dengan orang tersebut. Tanpa bahan-bahan itu, saya seringkali hanya bisa menuliskan ide-ide orang itu. Kalau pun bahan-bahan itu berlimpah, kebanyakan itu tak terakses, maklum saya bego dalam urusan bahasa asing (Tuhan, tolonglah saya….).

Saya berpikir, dengan memelajari dan menulis orang dengan cara itu, saya bisa melakukan “perjumpaan sosial” dengan orang tersebut, jadi tak semata perjumpaan intelektual. Ini untuk menyiasati minimnya pengalaman saya berinteraksi dengan banyak orang dari puspa ragam karakter, suku bangsa, agama hingga ras.

Saya berjanji dalam hati untuk sesering mungkin berjalan-jalan ke tempat baru yang jauh yang saya tak pernah mengunjunginya. Saya berharap bisa bertemu dengan banyak orang yang saya bisa jadikan guru. Tak peduli dia mungkin bukan sosok terkenal. Yang bisa saya petik kisah hidupnya. Dan bisa saya tulis pula pribadi dan kehidupannya. Yang dengan itu saya juga bisa membagi pengalaman kepada orang lain.

Untuk itulah saya juga membuka kemungkinan untuk menulis tentang tokoh-tokoh fiksi. Tokoh fiksi di situ bisa seorang tokoh dalam sebuah novel, cerita pendek, film, bahkan bisa juga orang-orang yang hanya bisa kita temukan dalam mitos, sage, fabel bahkan legenda.

Saya juga tak menutup kemungkinan untuk memposting rupa-rupa tulisan dengan gaya yang puspa warna. Sesekali mungkin akan ada posting yang isinya hasil wawancara dengan seseorang. Laporan hasil perbincangan dengan seseorang.

Saya berharap itu bisa menjadi tamasya yang menyegarkan. Semacam olah batin. Saya berharap dengan itu saya bisa makin kaya warna.

Blog ini, yang saya buat sangat terlambat setelah boom blog telah lama lewat, saya harapkan bisa menjadi tempat saya belajar menulis orang. Saya tak berniat untuk menulis biografi yang canggih. Biasa saja. Semampu saya bisa. Saya tak bermaksud menulis biografi yang ilmiah, obyektif dengan metodologi yang bisa diukur. Tidak. Saya hanya ingin menulis biografi. Itu saja. Jadi jangan heran jika saya juga mengandalkan pancaindera. Semacam cerapan (yang bercorak) subyektif. Ya… saya menulis biografi seseorang dari sudut pandang saya. Si A atau B atau X menurut saya.

Yang harus saya camkan baik-baik adalah bagaimana caranya agar tulisan-tulisan yang berisi tentang kehidupan orang lain di blog ini tidak terjerembab menjadi berhimpun-himpun gosip murahan. Saya tak ingin blog ini menjadi tempat bergunjing. Jadi, maafkan saya, jika dalam tulisan-tulisan tertentu, saya mungkin akan memakai inisial. Bukan apa-apa, sebab saya tak ingin, sekali lagi, blog ini menjadi TPG alias Tempat Pembuangan Gunjing.

Tetapi saya juga tak berniat menulis biografi yang panjang. Itu terlalu berat untuk saya, seorang yang masih belajar menulis dengan tersaruk-saruk ini. Saya hanya akan menulis biografi yang pendek-pendek saja. Mungkin tak lebih dari 2500 kata. Semacam mini biografi.

Dan saya menyebutnya MINIGRAFI.

Selengkapnya......